Berkah di Bulan Penuh Berkah

Oleh: Desi Erdiana

Pyarr……Suara celengan ayam mengejutkanku.Ia jatuh dari lemari sesaat aku menarik dokumen perusahaanku.Suara recehan menggidik merdu  bergelintiran menari setelah 10 tahun terperangkap di ruang pengap penuh debu.Sesaat aku terpaku,bernostalgia dalam ingatan masa lalu.Mengenang kelamnya hidup dalam balutan busana putih abu-abu.”Dimana kau Agni…”Gumamku.Teman seperjuanganku meraih mimpi.Dulu kita kumpulkan uang receh bersama dan saat sukses kita berjanji mendermakan mereka bersama pula.Memang yang dikumpulkan hanya uang 500-an.Tapi dulu uang itu begitu aji-aji dimataku dan Agni.Penuh perjuangan untuk bisa mengumpulkannya.Ya,nazar kami untuk mendermakannya setelah kami sukses nanti.Namun,kebakaran 7 tahun lalu telah merenggut ponselku,satu-satunya tempat ku simpan nomer hpmu.Kau bukan orang yang suka mangkir di medsos.Kiniku kesulitan mencari keberadaanmu atau sekedar bertanya bagaimana kabarmu .Mungkin kini saatnya kudermakan uang ini meski tidak denganmu.Ya,di bulan penuh berkah ini semoga hidupmu sukses dibanding zaman dahulu.Tapi akan aku dermakan kepada siapa?Ahhh,aku pusing memikirkannya.

Jam dinding berdentang pukul 5 tepat.Haahh sebentar lagi buka….Aku bergegas mengumpulkan uang receh itu.Kumasukkan ke kantong plastik besar dan aku ikut memasukkan uang itu ke tasku.Dipikiranku,mungkin di jalanan nanti aku bisa menemukan beberapa orang yang pantas mendapatkan uang ini.Aku mulai bergegas pergi untuk membeli takjil.

Di jalan raya…..

Hari ini Jakarta macet membuatku penat menunggu.Namun,dalam hingarnya lampu merah,para pengamen jalanan ambil kesempatan untuk berperan.Memasuki jalan raya dengan gemerincing uang recehan.Hiburan sejenak mengatasi kepalaku yang penat.Namun,sesaat…seorang gadis menyanyikan lagu jadul yang nikmat membawaku kedalam alam mimpi.Ingatanku yang tajam tak bisa memungkiri.Ya….Lagu perjuanganku dan Agni.Bagaimana dia bisa tahu.10 tahun lamanya tak ku dengar lagu itu.Dan kini kudengar lagu itu dari bocah yang mungkin usianya baru 6.Aku penasaran.Setelah ia pergi,aku sibuk membuntuti.Tak terpikir lagi rasa lapar menjangkiti.Cukup air putih yang menemani untuk mengawali bukaku hari ini.Ia berjalan terus ke lorong jembatan yang baunya tak tertahan lagi.Melewati hilir sungai kumuh namun penuh penghuni.Kulihat dari belakang wanita berhijab yang berpakaian rapi tengah sibuk mengajar anak jalanan yang kira-kira jumlahnya 20-an anak dengan suara khasnya.Yahh…suara khas itu.Tidak salah lagi.”Agni…….”Aku berteriak memanggil namanya.Aku lari tergopoh-gopoh seakan tidak ingin kehilangan momen ini.Dari jauh kulihat senyummnya tak pernah berubah,meski usianya tak muda lagi.Aku peluk ia erat,sebagai pelipur rindu yang amat berat.Iapun begitu. Matanya berubah sayu ketika memelukku.Aku merindukan pelukan,pelukan hangatmu,senyummu,tawamu.Dan kulihat anak-anak tercengang,tentunya bingung tak karuan.Tapi Agni tak pernah lupa akan posisi.Saat ia bertugas jadi guru.Ia tidak ingin larut dalam haru biru.Ia memintaku duduk di karpet menemani anak-anak jalanan itu.Dan kini ia kembali berbicara.”Nah,ini sahabat yang ibu sering ceritakan pada kalian.Sahabat seperjuangan ibu saat mencari uang.Yah….salah satunya dengan cara seperti kalian menjadi seorang anak jalanan.Untuk sekolah dan makan.Nah….sekarang saya akan memberikan kesempatan pada  sahabat ibu ini untuk memberikan cerita  pada kalian bagaimana kehidupannya sekarang”.Semua anak-anak bertepuk tangan padaku.Bahkan seseorang diantara mereka girang karena akan ada sesi bercerita hari ini.Tapi,aku malah bingung.Aku bahkan belum belajar berorasi sebelum tampil di hadapan mereka.Agni tahu,aku bukan orang yang pandai bicara.Tiba-tiba ia menarik kemejaku dan berbisik.”Anggap saja mereka sahabatmu.Berbicaralah seperti saat kau bicara denganku”.Aku mencoba mengikuti sarannya.Dan benar.Ternyata,nyaman berbicara dihadapan mereka.Cukup menganggap mereka seperti sahabatku sendiri.Pantas,jika dulu dia selalu bercita-cita menjadi guru.Ternyata menjadi guru tidak semenakutkan yang aku kira.

Belum selesai aku bercerita,tiba-tiba adzan maghribpun berkumandang.Semuanya mulai berdiri dan mengambil kotak yang berisi takjil yang dibawa Agni.Agnipun memberiku satu kotak makanan itu kepadaku.Kamipun berdoa bersama dan berbuka bersama.Setelah selesai makan,Agni memberiku seutas pertanyaan.”Kau masih menyimpan celengan ayamnya?”Tanya Agni penasaran.”Masih….Hanya saja,tadi celengan itu pecah.Jadi sekarang hanya bersisa uangnya saja.Oh ya,sekarang apa pekerjaan tetapmu?”.”Alhamdulilah sekarang aku menjadi seorang dosen di universitas swasta.Dan pekerjaan paruh waktuku  disini.”.Ia diam sejenak kemudian melanjutkan pertanyaan lagi.”Menurutmu,kita sudah sukses belum?”.”Kalau menurutku sih, aku masih  belum sukses karena masih banyak hal yang kuperjuangkan tapi belum aku dapatkan.”.”Lalu sampai kapan kamu akan menyimpan celengan itu jika kamu belum merasa sukses?”.”Iya itu hanya pendapatku,Tapi aku pikir apa salahnya jika kita infaqkan uang ini sekarang.Lagipula,kapan lagi ada kesempatan bisa bertemu seperti ini kalau bukan sekarang.Tadi aku juga berniat untuk mendermakannya sekarang saja karena kupikir tidak ada seseorangpun yang bisa menjangkau nama sukses jika ia terus berpaku pada hal yang mereka inginkan karena manusia selalu saja banyak keinginan.Tapi aku bingung pada siapa akan aku dermakan uang ini.”.”Bagaimana jika kita dermakan uang  itu pada anak-anak ini.Dengan harapan mereka bisa menyusul kehidupan kita seperti sekarang ini.Apalagi hari ini masih di bulan ramadan.Semoga keberkahan menyelimuti kita semua.Lagipula jika kita terus menunggu esok  tak bisa menjamin kita masih hidup dan dalam keadaan bersama  lagi.”.”Yah,kamu benar mungkin anak tadi adalah petunjuk untukku agar bisa bertemu denganmu dan berbagi di sini.”.”Ya,tunggu apalagi sebelum mereka pulang.Ayo kita bagikan uangnya.Sekalian,aku punya beberapa lembar uang mungkin bisa aku tambahkan.”.”Aku juga ingin menambahkan.Semoga kita semua masih diberi kesempatan bertemu lagi ya di bulan ramadan mendatang.”.”Aminnnnnn”.Seru Agni begitu bahagia.

Leave a Comment

Your email address will not be published.