Menyelami Hidup dengan Memberi

Oleh: Wenny Nurmalita Yanti

Sudah 18 tahun lamanya aku merasakan bulan suci Ramadhan. Aku selalu menghabiskan Bulan suci Ramadhan bersama orang tuaku. Kali ini terasa berbeda. Saat masuk perguruan tinggi ini aku abdikan hidupku untuk mengejar pendidikan. Perpisahan dengan orang tuaku memang cukup berat. Apalagi aku adalah anak kedua diantara dua bersaudara. Tapi berkat dorongan dan restu orang tua aku beranikan untuk menggapai cita-cita. Satu bulan lagi bulan suci itupun tiba. Rasanya aku sungguh merindukan pulang. Kala itu, aku terbangun ketika suasana mentari pagi itu menampar wajahku. Hari itu aku berjalan kaki untuk pergi ke kampus. Maklumlah, jarak antara kosku dengan kampus memang cukup dekat, sehingga tak seperti teman lainnya tak perlulah aku mengeluarkan uang tuk sekedar biaya transportasi.

Saat perjalanan ke kampus aku sering menikmati pemandangan orang yang berlalu lalang. Begitu menyenangkan, melihat mereka menyibukkan diri untuk bekerja, mengantar anaknya ke sekolah, belanja ke pasar ataupun hanya sekedar jogging. “Begitu sibuknya… mungkin itu yang menyebabkan mereka disebut hidup” pikirku yang terkadang lupa bahwa aku juga salah satu dari mereka. Aku memang senang memperhatikan orang lain, mungkin itu adalah salah satu hobiku yang tidak orang ketahui. Tapi bukan berarti aku mengurusi dan ikut campur kehidupan mereka. Aku hanya penikmat dari jauh. Dengan melihat mereka aku bisa bersyukur dan bisa memaknai hidup.

Saat tiba di kampus, aku menuju kelas. Tiba-tiba seseorang menyenggolku dari belakang. Aku menoleh. Dia adalah teman satu kelasku. Ayu. Seperti namanya dia memang sangat cantik, dia juga sangat populer di fakultasku. “Assalamu’alaikum Ayu…” kataku tersenyum ramah. Dia menoleh padaku tersenyum sinis lalu berjalan mendahuluiku. Aku diam sesaat, lalu mengajak berbicara dengannya mengenai tugas hari ini. Aku ingin tau reaksinya. Dia menjawab namun dengan mengambil langkah panjang sehingga aku tidak bisa menyamakan jalannya. Aku menyerah karena jaraknya sudah cukup jauh. Dia memang selalu seperti itu. Terburu-buru ketika berjalan denganku. Aku hanya mendengus perlahan tau apa maksudnya. “Setidaknya dia masih menjawab” batinku.

Aku menuju kelas dan bertemu dengan sahabatku. Dia duduk dan selalu menyediakan kursi kosong untukku. “Ainun… kemari…” kata Devi tersenyum ceria sambil melambaikan tangan padaku. Aku mengikut isyaratnya. 5 menit setelah aku duduk, dosen pun memasuki kelas dan mulai menjelaskan materi. Jarum jam menunjukkan 10.40 tanda berakhirnya mata kuliah tersebut. “Akhirnya selesai juga ya… penat sekali hatiku ini” kata Devi melebih-lebihkan.

“Kau itu Dev selalu saja penat. Ngerjain apa saja kamu semalam? pasti tidak tidur lagi?”

“Hehe biasalah tugas organisasi” jawabnya singkat. Seolah memintaku untuk maklum.

Aku hanya tersenyum. Devi memang selalu aktif dalam berorganisasi mungkin itu yang menjadikannya memiliki sifat supel pada setiap orang. Tidak seperti aku, yang sulit untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiranku. Lebih tepatnya tidak ada kesempatan. Aku yang berasal dari desa membuat sebagian temanku mengucilkanku. Tapi itu tidak masalah, Devi sudah seperti paket komplit bagiku karena dalam pertemanan aku tidak mencari kuantitas tapi kualitas.

Aku memakai tasku siap berjalan keluar kelas. Tiba-tiba Ahmad teman sekelasku mencegatku. “Ainun… tunggu sebentar, ada hal yang ingin aku bicarakan”.  “Ada apa?,” tanyaku sedikit kaget.

“Selamat ya… kamu terpilih menjadi koordinator acara Ramadhan angkatan kita”

“Hah… jangan bercanda… aku tidak pernah diamanahi menjadi koordinator apalagi acara…” sontak diriku.

“Aku tau kamu bisa… ini acara kecil kok gak besar…” jawabnya dengan harap

Aku berpikir sejenak. Aku akhirnya mengiyakan. Aku mengatakan pada Devi apa yang barusan Ahmad bilang.

“Alhamdulillah Nun… mungkin itu kesempatan yang diberikan oleh Allah untuk mendapat rahmat-Nya. Semoga diberkahi.”

“Amiin…” Jawabku dengan nada harap cemas.

Tiba waktu bulan Ramadhan. Sayup-sayup lantunan ayat suci di 1/3 malam membuatku terbangun dari tidur yang lelap. Sahur pertama yang kulakukan tanpa orang tua membuatku terasa rindu. Selepas sahur, di teras kosku aku bercengkerama dengan teman kos sekaligus satu jurusan, Ya Devi. Kami menikmati udara pagi sembari menunggu waktu Subuh tiba. Aku termangu melihat bulan yang begitu indah. Bulat yang sempurna. Lagi-lagi aku memperhatikan ciptaan Tuhan. Terlintas dibenakku pikiranku tentang konsep acara Ramadhan untuk jurusanku. Entah apa acara yang sesuai, aku tak paham. Suara Devi membuyarkan lamunanku.

“Ainun… jalan-jalan yuk… ,”kata Devi.

“Ah iya… jalan kemana? Ini masih pagi banget bahaya lo… “kataku dengan dengan nada malas. Diapun melanjutkan “Dev aku kepikiran sama proker jurusan buat yang Ramadhan itu lo sungguh tidak punya ide. Enaknya ngapain ya? Biasanya yang kudapati di masjid-masjid sering ada takjil gratis. Tapi bukankah itu hal yang biasa dan sudah banyak orang melakukannya. Lagi pula, siapa yang datang pagi-pagi buta untuk mendapatkan takjil ya?”

“Hmm…Begini saja … besok ikut aku I’tikaf dimasjid yuk sekalian ganti suasana gitu… biar gak di kos mulu…”

Aku hanya mengangguk setuju. Keesokan malamnya kami sepakat untuk menginap di masjid. Aku membawa barang sekenanya. Hanya satu baju, dan selimut untuk menghangatkan badan. Selepas Maghrib, aku dan Devi berangkat ke masjid. Kami berdua hanya berjalan kaki karena kami memilih masjid yang tidak jauh dari kos. Setiba disana, kami salat Isya’ berjamaah lalu disusul dengan bertadarus bersama dengan para akhwat. Jam 22.00 orang-orang yang ada disana sudah mulai sedikit. Aku menggelar tikar, untuk beristirahat. Namun, jam 12.00 barulah kami bisa tidur, karena terlalu asyik membicarakan Rundown acaraku yang berganti-ganti ide. Entah Devi asyik mendengarkan atau tidak. Tapi dihadapanku dia sudah menjadi pendengar yang baik.

Waktu sahur tiba, aku dibangunkan oleh Devi. Dengan perasaan malas, aku berjalan ke toilet untuk membasuh mukaku. Mataku masih terasa berat. Setelah keluar dari toilet, aku bersandar di serambi masjid untuk menyegarkan pikiranku. Kulihat seorang wanita tua menghampiriku.  Pakaiannya lusuh dan di tangan kanannya memegang karung beras. “Permisi Nak… ,” tangannya menjulur kesamping tempat dudukku. Aku tersadar ternyata dia mengambil botol plastik yang ada di sampingku. Rupanya dia seorang pemulung. Aku merasa iba padanya. Apa yang membuatnya bekerja dengan udara malam seperti ini. Dia datangi setiap tempat sampah di masjid tersebut dan mengkerosceknya.

Devi menghampiriku. “Ainun… ayo sahur bareng makanan dari takmir sudah disediakan,”kata Devi melambaikan tangan. Aku mengikuti intruksinya. Kami mengantri menuju tempat pembagian makanan untuk sahur. Wanita tua yang tadi mendengar ucapan Devi langsung bergegas menaruh karungnya bersender di dinding masjid. Dengan peluh keringat di bajunya dia pun ikut mengantri. Aku dan Devi beruntung bisa mendapatkan makanan sahur gratis. Tapi, hatiku miris tatkala beberapa orang belum kedapatan makanan, termasuk ibu pemulung yang aku temui tadi. Mereka hanya kedapatan 3 buah kurma. Aku mengurungkan niatku untuk makan. “Ainun… mau kemana?” kata Devi padaku penasaran ketika aku beranjak dari tempat dudukku sambil membawa nasi bungkus. “Tunggu sebentar Dev…” . Aku menghampiri ibu itu lalu memberikan nasi bungkus bagianku. Awalnya, ibu itu tidak menerimanya, namun aku memaksanya sehingga diapun mengambilnya.

Kulihat tangannya yang keriput itu bergetar saat mengambil nasi bungkusku. “Terimakasih anakku…”katanya dengan mata yang berkaca-kaca. Aku tersenyum lembut. Aku menoleh ke Devi “Dev ayo… kesini…” kataku. Kali ini aku yang menyuruhnya untuk mengikuti instruksiku. Kami pun makan bersama. Devi membagikan nasinya padaku. Nikmat sekali makan sepiring berdua. Aku beruntung memiliki teman yang baik. Kami sangat asyik mengobrol dengan ibu itu. Canda tawa sesekali dikeluarkan oleh kami. Ibu itu tersenyum. Tampak hangat.

Besoknya saat rapat aku sangat siap untuk mempresentasikan ideku yaitu derma ramadhan bagi-bagi makanan saat sahur tiba. Syukurlah setelah aku meyakinkan mereka, akhirnya mereka menyetujui usulan ideku. Saat hari-H kami terbagi menjadi beberapa kelompok di beberapa masjid yang sudah kami sepakati. Acara tersebut berlangsung sukses. Tidak lupa aku mengucap syukur pada Rabbku. Aku bersyukur karena bisa mengecap manisnya beribadah karena sedekah adalah ibadah. Ternyata, masih banyak sesuatu yang belum aku perhatikan selama ini. Hal yang aku pelajari kali ini yaitu tidak boleh berputus asa pada Rahmat Allah.

Keesokannya, aku masuk kampus seperti biasa. Biasa berjalan kaki. Biasa melihat orang berlalu-lalang. Biasa ya biasa, bertemu dengan Ayu kembali. Dia hanya berlalu didepanku seolah tak melihatku. “Assalamu’alaikum Ayu”. Dia menoleh, sama dengan tatapan sebelumnya, sinis. Dia berjalan lagi. Agak cepat. Aku berpikir sejenak. Kali ini aku tak akan menyerah. “Ayu… bagaimana kabarmu? Sudah ngerjain tugas belum?,” kataku yang sekarang mulai berjalan beriringan dengannya. Aku memberikan senyuman terbaikku karena memberi tidak harus dengan harta. Pandangannya aneh menatapku. Dia menjawab sekenanya. Kulakukan begitu terus ketika aku berjumpa dengannya. Lambat laun dia pun tidak terburu-buru saat bertemu denganku. Akhirnya diapun juga mendoakanku “Walaikumsalam” tuturnya.

Mereka yang menyadari ikatan kebersamaan akan terikat bersama. Mereka yang menolak ikatan kebersamaan akan hancur terpisah-pisah.

Leave a Comment

Your email address will not be published.