Arkana

Oleh: Muhammad Ikhsan Iskandar Putra

Terlihat seluruh warga berbondong-bondong menuju masjid. Tak ingin ketinggalan, seorang pemuda berjalan dengan cepat menuju sebuah masjid di sekitar rumahnya. Telat 1 menit saja ia akan terlambat mengikuti shalat Isya berjamaah. Itu dikarenakan ia baru saja sampai dirumahnya setelah bekerja seharian penuh dan bertepatan dengan kumandang azan Isya.

Sesampainya di masjid ia langsung membentangkan sajadahnya dan mengikuti gerakan iman.

Sekitar 30 menit , shalat Tarawih telah selesai dilaksanakan. Para jamaah berhamburan keluar dari masjid untuk pulang menuju rumah masing-masing.

“Tumben telat, Kan?” Seorang pemuda menghampiri pemuda yang tadi telat datang dan berjalan beriringan.

Pemuda yang telat tadi bernama Arkana Ganendra Wardana. Ia merupakan seorang pemuda berusia 19 tahun. Arkana hidup sebatang kara karena kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan ketika ia masih berumur 4 tahun.

Sedangkan, pemuda yang berjalan beriringan dengan Arkana adalah teman masa kecilnya. Ia bernama Wisnu Agung Prayoga. Wisnu adalah satu-satunya orang yang selalu bersama dengan Arkana sejak Arkana ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya untuk selama-lamanya. Itu dikarenakan Arkana tidak memiliki sanak saudara lagi di kota ini.

“Lagi ramai pengunjung tadi.”

“Ini sudah tutup restorannya?”

“Kalo belum ngapain aku pulang coba?”

“Yee santai kali. Saya kan cuman nanya.” Wisnu meninju pelan lengan Arkana.

Tak lama mereka sampai di rumah masing-masing.

“Aku duluan, Kan. Assalamualaikum.” Wisnu lebih duluan sampai dirumahnya.

“Iya. Waalaikumsalam.”

Arkana kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke rumahnya.

Ditengah perjalanan ia melihat seorang anak kecil yang meringkuk di bawah pohon dengan memegangi perutnya. Arkana segera berjalan menuju anak kecil tersebut.

“Kamu kenapa?” tanya Arkana ketika sudah berada di samping anak tersebut.

Anak kecil itu pun menoleh menatap Arkana yang berjongkok disampingnya. Seketika ia langsung menggeser duduknya menjauhi Arkana.

“Hei! Kenapa kau menjauh?” tanya Arkana heran.

“K-kau siapa?” tanya anak kecil tersebut dengan ekspresi takut.

“Aku Arkana. Dan kau tak usah takut melihatku. Aku bukanlah orang jahat.”

“Lalu kau ingin apa disini?”

“Aku hanya ingin menanyakan keadaan dirimu. Kenapa kau duduk disini?”

“Aku…”

“Katakanlah!”

“Perutku terasa sangat lapar.”

“Kau belum berbuka puasa?”

Anak kecil itu menggeleng lemah.

“Kenapa?”

“Aku tak memiliki cukup uang untuk membeli makanan.”

“Siapa namamu?”

“Dimas.”

“Kenapa kau tidak pulang kerumahmu, Dimas?”

“Aku sudah tidak memiliki keluarga lagi.”

“Kau yatim piatu?”

“Ya.” Dimas mengangguk pelan.

“Kalau begitu ikutlah denganku.”

“Kemana?”

“Sudah. Ikut saja.” Arkana berdiri dari posisi berjongkoknya.

Namun Dimas tetap berada diposisinya. Ia tidak mengikuti Arkana untuk berdiri. Dirinya terlalu takut jika Arkana berniat jahat padanya.

“Apa kau ingin mati karna kelaparan disini?” Arkana menatap tajam Dimas. Kembali Dimas menggeleng lemah.

“Kalau begitu ikutlah denganku. Percayalah. Aku tidak memiliki niat jahat sedikitpun.” Arkana berusaha meyakinkan Dimas.

Setelah cukup lama Arkana membujuk akhirnya Dimas pun menyetujui ajakan Arkana untuk ikut dengan dirinya.

Arkana membawa Dimas menuju ke rumahnya yang sederhana. Rumah tersebut merupakan satu-satunya peninggalan kedua orang tuanya. Arkana memang bukan berasal dari keluarga yang berada bahkan tergolong sangat sederhana.

“Masuk lah.” Arkana masuk ke dalam rumahnya.

Dimas mengikuti Arkana masuk kedalam rumahnya. Mereka berdua berjalan menuju dapur.

“Makanlah apapun yang kau mau.”

Dimas terlihat segan dengan perilaku Arkana terhadap dirinya.

“Tidak usah merasa segan. Anggaplah seperti rumahmu sendiri.”

Melihat gelagat Arkana yang memang berniat baik pada dirinya membuat Dimas merasa sedikit yakin. Ia mulai mengambil piring lalu mengambil nasi secukupnya dan lauk.

Sebenarnya porsi makanan itu hanya cukup dimakan oleh satu orang saja. Arkana memang selalu memasak seperlunya saja karna memang ia hidup sendiri.

“Tinggallah bersamaku mulai sekarang. Rumahku tidak ada orang selain aku sendiri.” Dimas hanya membalas dengan angguka karna dirinya sedang asik mengunyah.

Arkana

Sudah seminggu ini Dimas tinggal bersama dengan Arkana. Sejak adanya Dimas dirumahnya ia merasa tak lagi kesepian. Dan 2 hari kemudian ia kembali membawa pulang seorang anak gadis seusia Dimas. Ia sama seperti Dimas tidak memiliki keluarga.

Sekarang Arkana sedang bekerja di sebuah restoran menjadi seorang pelayan. Karna sekarang sedang bulan Ramadan maka restoran mulai buka ketika sore menjelang.

Setelah Arkana memberikan pesanan milik seorang pengunjung, ia dipanggil oleh seorang pelayan lainnya.

“Kamu disuruh ke ruangan Pak Bos sekarang,” ujar seorang pelayan yang tadi memanggil Arkana.

“Apa apa, Win?” tanya Arkana bingung.

“Gak tau. Mending kamu cepetan kesana deh,” jawab pelayan yang dipanggil “Win”.

“Yaudah.”

Arkana segera bergegas menuju ruangan Bosnya. Setelah menaiki tangga, ia sampai di depan ruangan yang bertuliskan Ruang Manager.

Ia mengetuk pelan pintu ruangan tersebut.

“Masuk.” Sebuah suara keluar dari dalam ruangan itu.

Arkana segera masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia duduk di depan sebuah meja.

“Ada apa Bapak memanggil saya kesini?” tanya Arkana bingung.

Bapak tersebut memberikan sebuah amplop kepada Arkana.

“Apa ini?” Arkana mengernyitkan dahinya.

“Buka dan bacalah.”

Arkana segera membuka amplop tersebut. Ia terlihat serius membaca isi dari amplop tersebut.

Tak lama ia merasa kaget sekaligus bingung. “Apa maksudnya ini Pak Rahmat?” tanya Arkana kaget.

“Saya minta maaf Kana. Ini sudah keputusan dari pemilik restoran ini. Saya tidak mungkin menolak permintaannya,” ujar Pak Rahmat dengan nada penyesalan.

“Tapi apa alasannya?”

“Saya pun tidak tahu.”

“Baiklah. Saya menerima keputusannya. Permisi.” Arkana bangkit dari duduknya.

“Sekali lagi saya meminta maaf.” Arkana tidak menanggapi lagi dan ia memilih keluar dari ruangan tersebut.

Arkana

2 minggu setelah Arkana dipecat dari pekerjaannya, ia mulai memikirkan bagaimana caranya ia bisa bertahan hidup terlebih ada 2 orang anak kecil yang sekarang tinggal dengannya.

Syukurlah ia sudah mendapatkan pekerjaan baru. Ia bekerja di sebuah perusahaan milik seorang kakek tua yang beberapa hari lalu sempat ia tolong ketika terjadi perampokan. Awalnya ia menolak namun karna terus dipaksa oleh sang Kakek maka ia mau menerima pekerjaan tersebut dengan alasan balas budi.

Setelah mendapatkan pekerjaan baru, ia semakin gencar mengumpulkan anak-anak jalanan yang sudah tidak memiliki keluarga. Ia hanya ingin mereka bisa hidup dengan normal.

Sekarang rumahnya pun menjadi lebih ramai dengan hadirnya anak-anak kecil yang ia angkat menjadi adiknya.

Walaupun hidupnya yang pas-pasan dan sangat sederhana tidak membuat Arkana menjadi sesosok orang yang egois. Ia tetap peduli pada orang-orang yang bernasib sama dengan dirinya. Tidak jarang ia mengajak pengemis atau pemulung untuk berbuka puasa bareng dirumahnya. Ia juga selalu bersedekah kepada panti asuhan atau orang yanglebih membutuhkan.

Yang ia inginkan hanyalah mencari bekal untuk kehidupan selanjutnya. Apalagi saat ini sedang dalam bulan suci Ramadan yang dimana segala amal kebaikan akan dilipat gandakan. Tentu ia hanya mengharapkan balasan Surga dari Tuhan untuk dirinya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.