Berjalan di Atas Janji-Nya

Oleh: Sakina Aini

Ibu Asna: “Pak, saya beli takjil nya pak”

Pak Maman: “Alhamdulillah..mari bu..mari, dipilih saja bu, mau yang mana”

Ibu Asna: “Saya mau kolaknya pak, ini boleh dicicipi kah pak? Saya kebetulan lagi puasa”

Pak Maman: “Oh..silahkan bu”

Ibu Asna: “Enakk sekali pak, saya ambil 5 kalo gitu”

Pak Maman: “Alhamdulillah..baik bu..baik”

Kang Andi: “Hey Man, mau kemana kamu?, tidak jualan?”

Pak Maman: “Baru saja selesai kang, saya mau kesana sebentar kang”

Kang Andi: “Kesana mana? Ahh..pergi menghamburkan uang kamu lagi untuk mereka. Bosan sekali aku melihat mu kesana, sok kaya kamu Man”

Pak Maman: “Tidaklah kang, itu kewajiban kita sebagai muslim, menyisihkan sebagian milik kita untuk yang lain”

Kang Andi: “Itu hanya untuk orang kaya Man, orang yang susah makan seperti kita ini tidak perlu melakukan itu, malah kita lah yang pantas mendapatkan sedekah dari mereka”

Pak Maman : “Selama masih bisa dan masih punya kenapa tidak kang, lagipula masih banyak orang yang lebih susah hidupnya diluar sana, sudah ya Kang, saya duluan.”

Kang Andi: “Terserah kau lah Man”

Pak Maman sampai di sebuah surau, tengok kanan-kiri sebelum akhirnya memasukan beberapa lembar uang ke dalam kotak disana, kemudian bergegas pergi.

Pak Maman: “Ini untuk nenek..dan ini untuk Ipa”

Nenek Ina: “Kamu datang lagi Man, terima kasih karena sudah selalu datang, kami tidak tahu akan membatalkan puasa dengan apa jika kamu tidak ada”

Pak Maman: “Itu bukan apa-apa nek”

Ipa: “Paman Maman, terima kasih untuk makanannya”

Pak Maman: “Terima kasih pada yang diatas nak, tetap jaga puasa mu yah”

Anak perempuan dengan baju compang camping itu mengangguk kuat

Pak Maman: “Nah..ini untuk kakek Diman, untuk Ibu Ela sama si kecil Putri”

“Semua sudah dapat kan?”

Kakek Diman: “Kurasa anak itu belum mendapatkannya Man”

Pak Maman: “Benarkah? Tapi bukankah semua selalu mendapatkannya? Apakah aku salah hitung tadi?”

Kakek Diman: “Kau tidak salah hitung, dia baru datang kemari pagi tadi dan tidak henti menangis, dia bahkan tidak mau berbicara dengan siapapun”

“Jangan takut, saya bukan orang jahat, nama saya pak Maman, namamu siapa nak? Kenapa kamu terlihat ketakutan dan menangis seperti itu?”

“Saya tersesat pak..saya saya ingin pulang, saya ingin bertemu ayah”

“Kamu tahu alamat rumah mu dimana?”

Aldi hanya menggeleng

“Tidak ada makanan yang tersisa untukmu,  bagaimana kalau kamu ikut bapak dulu sekarang, mulai besok bapak akan membantu mu mencari orang tua mu”

Anak kecil itu kembali menggeleng

Pak Maman: “Tenang saja nak, bapak bukan orang jahat, bapak juga punyak anak seusia mu dirumah, kau bisa bermain bersamanya, lagipula kau akan kelaparan jika terus disini”

Nenek Ina: “Ikuti saja paman itu nak, dia mengatakan yang sebenarnya”

Pak Maman: “Assalamualaikum”

Ibu Sari: “Waalaikumussalam, sudah pulang pak”

Pak Maman: “Iya bu, Alhamdulillah dagangan kita laku semua”

Ibu Sari: “Alhamdulillah pak”

Pak Maman: “Tapi bu, sebagian uang nya sudah bapak letakkan untuk hak orang lain”

Ibu Sari: “Lalu kenapa bapak merasa bersalah seperti itu, bukankah bapak baru saja memberikan orang lain hak nya”

Pak Maman: “Terima kasih bu, oh iya bu, ini Aldi, bapak bawa dia kemari karena dia tersesat, dia tidak tahu bagaimana caranya untuk pulang, untuk sementara biarkan dia disini sampai kita menemukan orang tuanya”

Ibu Sari : “Mari nak Aldi, kita makan bersama”

Rehan: “Hai Aldi, aku Rehan, mulai sekarang kita beteman yah”

Aldi mengangguk seraya tersenyum.

Pak Maman sampai dirumahnya yang sudah penuh oleh beberapa orang

Ibu Asna : “Eh itu bapaknya”

Ibu Bella & Citra: “Benar-benar”

Pak Maman: “Ada apa bu?”

Ibu Sari: “Alhamdulillah pak, mereka semua datang kemari mau membeli takjil nya ibu”

Ibu Asna: “Iyaa, kami ketagihan dengan takjil kemarin, kami datang menghampiri tempat bapak berjualan kemarin tapi kami tidak menemukan bapak disana”

Ibu Citra: “Iya.sampai salah seorang pedagang disana memberitahu kami alamat bapak

Ibu Dendi: “Oh iya pak, untuk besok bagaimana kalau saya pesan saja, bapak antarkan ke rumah saya”

Ibu B & A & C : “Iya pak saya juga yah.. nanti ongkosnya kita yang tanggung deh”

Pak Maman: “Alhamdulillah..baik bu..baik”

Kang Andi: “Sialan tuh sih Maman, banyak banget yang ngantri beli takjil nya dia, salah kamu sih bu, kenapa bikin takjil tidak enak begini”

Ibu Lia: “Kok bapak malah nyalahin saya sih, bapak buat sendiri sana kalo bisa, lagian bapak juga ngapain pake kasih tau alamat si Maman segala ke mereka”

Kang Andi: “Tenang bu, bapak sudah tau bagaimana caranya agar takjil kita rame pembeli seperti mereka”

Ibu Lia: “Bagaimana pak?”

Kang Andi: “Kau lihat saja nanti”

1 minggu setelah hari itu

Kang Andi: “Hey Maman.. kemari sebentar, gantikan uang ku sini, dasar penipu”

Pak Maman: “Penipu apa kang? Saya tidak mengerti”

Kang Andi: “Sudah seminggu ini aku mengikuti mu meletakkan uang dalam kotak masjid, ku cari anak-anak jalanan, ku berikan uang ku pada mereka, tapi mana tak ada balasan uang yang kudapatkan. Uang ku semakin habis karena ku hamburkan seperti itu, tetap tidak ada juga pelanggan yang membeli takjil ku”

Pak Maman: “Astagfirullahalazim kang, niat akang salah, akang tidak ikhlas”

Kang Andi: “Sudah,,sudah aku tidak mau dengar, kembalikan uang ku sekarang”

Pak Maman: “Tapi kang..”

Kang Andi: “Kembalikan ku bilang ! dasar penipu”

Ibu Sari: “Kenapa bapak berikan uang itu?”

Pak Maman: “Biarkanlah bu, anggap saja itu sebagai sedekah kita”

Esok harinya saat Pak Maman ingin kembali membagikan makanan, dia bertemu seseorang dengan setelan jas yang sedang menunggunya, tanpa banyak bicara Pak Maman langsung mengajaknya ke rumah

Aldi: “Ayaaahhhhh”

Bapak Aldi: “Aldi..maafkan ayah nak, maafkan ayah karena membiarkan mu seperti ini nak, maafkan ayah karena terlalu lama datang”

Aldi: “Tidak apa-apa ayah, Bapak Maman, Ibu Suri dan Rehan sangat baik pada Aldi”

Bapak Aldi: “Saya sangat berterima kasih atas kebaikan kalian, Terima kasih sekali lagi pak, bu”

Pak Maman: “Tak apa pak, ini bukan sesuatu yang besar”

“Oh iya pak, apakah kebetulan bapak adalah seorang pedagang, saya melihat banyak sekali bungkusan takjil yang siap jual”

“Ahh..benar pak, kami menjualnya”

“Jika seperti itu, izinkan saya membalas budi dengan cara ini”

“Maksud bapak?..”

“Tadinya saya ingin membalas budi bapak dengan sejumlah uang saja, tapi saya kira cara ini lebih baik. Begini pak, saya memiliki outlite yang cukup luas di samping perusahaan saya, rencananya akan saya jual, tapi sekarang saya kira saya akan memberikannya saja pada pak Maman. Setiap hari pak Maman juga bisa menyiapkan takjil itu untuk para karyawan di perusahaan saya”

“A..e..e.tidak perlu sampai seperti itu pak, tidak perlu merasa terbebani sampai harus melakukan balas budi”

“Saya sudah mengira bapak akan menjawab seperti ini, tapi tolong pak biarkan saya mendapatkan sedikit pahala di bulan berkah ini. Jika bapak tidak bisa menerima ini sebagai balas budi maka terimalah ini sebagai sedekah saya untuk bapak”

“Saya mohon jangan menolak pak, hari ini saya belum mengeluarkan sedekah saya pak, saya mohon terima ini sebagai sedekah saya”

Pak Maman tidak bisa menjawab..air matanya keluar dalam diam

“Terima kasih Ya Allah..terima kasih”

Leave a Comment

Your email address will not be published.