Berkah Ramadhan

Oleh: Nazilatul Hidayah

Lemas, lesu, itulah yang dirasakan diriku pada bulan ramadhan kali ini. Bagaimana tidak, ini pertamakalinya aku puasa pada bulan yang suci ini. Serasa jarum jam bergerak dengan sangat lambat.

Bekali-kali aku keluar masuk kamar hanya untuk melihat perpindahan jarum jam yang ada di ruang tamuku.

“Kak, masih lama tidak si?” Aku mulai gelisah dengan selalu memegang perut pertanda lapar.

“2 jam lagi.” Jawab kakakku dari arah kamarnya.

“Main saja dulu, nanti pulang kan tidak terasa sudah mahrib.” Lanjutnya.

Tanpa berfikir panjang, akupun keluar rumah berharap menemukan aktifitas yang membuatku lupa dengan rasa laparku.

“Ti gg aaa, puuuu ll luh limm a, riiii buu ru pi ah. Wah… Cuma tiga puluh lima ribu rupiah bisa dapat peci secantik itu.” Mataku menoleh dan mengeja setiap huruf yang menempel pada took baju yang memajang baju-baju muslimah khas menjelang lebaran.

Aku segera bergegas pulang kerumah dan memberitahu kepada Ibu serta Kak Rina akan keinginanku ini.

“Kak, Bu.” Aku berteriak menuju dalam rumah.

Ibu menghampiriku, disusul dengan Kak Rina.

“Assalamualaikum dulu.” Ibu menegurku.

“Assalamualaikum Bu, Kak.” Aku menuruti nasehat Ibu dan segera bersalaman dengannya dan Kakak.

“Lagian ada apa sih Dek, buru-buru?” Kakak bertanya dengan penasaran.

“Itu disana.”

“Disana ada apa?”

“Adi pingin pici bagus itu Kak.”

“Murah lagi.” Lanjutku berusaha merayu Ibu dan Kakak.

“Oooh…. Kamu mau itu.”

“Iya Kak.”

“Nabung dong.”

“Caranya Kak? Adi kan sudah libur. Nggak mungkin dapat uang saku dari Ibu. Lagian tinggal beliin saja langsung. Hehe.” Aku berfikir masih ada 1000 cara untuk mendapatkannya.

“Ya bantu-bantu Ibu jualan kuelah, Bantu di online shopnya Kakak, kumpulin baju-baju bekas kamu yang masih bagus, nanti hasil jualnya kan bisa ditabung buat beli peci.” Jelas Kak Rina.

“Ibu setuju.”

“Baiklah, siap 86.” Semangatku berkobar.

Hari demi hari aku mulai rajin membantu Kakak dan Ibu. Rupiah demi rupiah mulai terkumpul dan siap untuk menjemput si peci yang setia menungguku.

Tatapku pada peci itu sampai diperhatikan oleh Kakakku.

“Tunggu apa lagi Dek, buruan beli.” Kakakku juga gemas.

Aku mengangguk bahagia, akhirnya akan mendapatkan sesuatu yang sangat aku sukai dengan kerja kerasku sendiri. Tetapi, langkahku terhenti ketika melihat anak sebaya denganku mendekati tempat sampah. Aku mendekatinya, “cari apa?”

Dia memandangku. “Aku mau mencari menu buka buat Ibu.” Hatiku tersentuh mendengar kata-kata itu.

Aku memandang pekat uang ditanganku, dilemma hebat dalam benakku. Dan aku menarik nafas panjang-panjang kemudian, “ambilah, belikan makanan untuk ibumu.” Aku tersenyum pada dirinya.

“Aku Adi.” Sebelum ia mengeluarkan kata-kata, aku menyulurkan tangan dan mengajaknya kenalan.

“Aku Tio, terimakasih Adi.”

Senyumnya seolah menghapus semua rasa dilemaku akan peci itu. Perubahan raut sedih menjadi senang pada dirinya menciptakan kebahagian tersendiri pada diriku.

“Aku pergi dulu, sudah mau mahrib.” Tio berlari dengan sangat kencang, menuju warung makan.

Tak henti-hentinya aku tersenyum. Meski sedikit kecewa karena gagal mendapatkan peci, namun terganti dengan senyuman sesama yang lebih berharga.

“Kakak bangga Dek.” Kak Rina muncul dari belakang.

“Mungkin kamu tidak gagal mendapatkan peci itu, tapi tertunda.”

Kak Rina menyodorkan peci impianku.

“Wah terima kasih Kak.”

Mungkin ini yang disebut berkah Ramadhan.

Leave a Comment

Your email address will not be published.