Kenangan Ramadhan Terakhirku

Oleh: Amanda Vera Putri Wijayanti

Bulan Ramadhan ialah bulan yang dinanti nantikan oleh seluruh umat Islam. Pasalnya pada bulan ini bulan penuh berkah. Kebaikan, kebahagiaan bagi mereka. Begitu juga diriku. Inginku pada bulan Ramadhan kali ini memberikan  kebahagiaan bagi mereka yang kurang beruntung. Mungkin Ramadhan kali ini Ramadhan terakhir bagiku.

Kita tidak tau sampai kapan kita hidup termasuk diriku. Hanya Allahlah yang mengetahuinya. Ku harap Allah memberiku waktu lebih lama untuk mewujudkan impianku. “ Sayang, kamu sudah siap apa belum?” terdengar seseorang mengutuk kamarku. “ Sudah mah.” Jawabku. “ Kalau begitu cepat kamu keluar, diluar sudah ditunggu Audy tuh.” Ucap mamah. “ Iya mah.” Kataku. Saat akan keluar kamar, tiba – tiba kepalaku sakit dan kemudiaan aku merasakan ada cairan keluar dari hidungku. Ketika aku pegang tenyata cairan tersebut darah. Aish jangan sekarang batinku, kuambil tissue untuk membersihlkan  darah yang keluar. Ku gigit bibirku untuk mencegahku berteriak kesakitan, tanganku terus menjambak rambutku untuk mengurangkan rasa sakitnya. Kemudian aku ambil obatku yang berada didekat kasur lalu meminumnya. Kalian bingung, bertanya Tanya kenapa aku tidak puasa? Karena aku sakit. Padahal inginku berpuasa, tapi aku tidak bisa kalau sewaktu waktu penyakitku kambuh tanpa meminum obatku. Ketika sudah merasa baikkan aku keluar kamarku untuk bertemu dengan Audy.

“ Assalamualaikum audy.” Ucapku. “ Waalaikumsalam, sudah siap? ayo yang lain sudah menunggu.” Kata Audy. “ Iya sudah, ayo kita berangkat.” Jawabku. “ Mah aku berangkat dulu ya.” Pamitku kepada mamah sambil mencium telapak tangan beliau. “ Saya juga mau pamit tante.” Pamit Audy kepada mamah sambil mencium telapak tangan mamah. “ Iya hati hati dijalan y anak – anak.” Ucap mamah. “ Iya mah/tante.” Jawabku dan Audy secara serempak.

Sepanjang perjalanan kami berbincang bincang sambil sesekali tertawa apa bila ada pembicaraan yang menurut kami lucu. Tidak lama kemudian kami sampai ketempat tujuan. Ku lihat ternyata sudah banyak yang berkumpul didepan Panti Asuhan Indah Kasih. “ Assalamualaikum.” Ucapku dan Audy kompak. “ Waalaikumsalam.” Jawab mereka. “ Akhirnya datang juga kalian, ayo kita masuk kedalam.” Kata Dian. “ Ayooo….” Ucap kami serempak.

“ Assalamualaikum.” Ucap kami ketika didepan pintu masuk panti asuhan. “ Waalaikumsalam, Kalian sudah datang, ayo masuk.” Ucap wanita paruh baya, beliau adalah Ibu Panti yang bernama Bu Sarah. “ Terima Kasih Bu.” Ucap kami. “ Silakan duduk dulu anak – anak.” Kata beliau. “ Terima Kasih Bu, kami mau langsung kerja saja Bu.” Kata Elita. “ Baiklah, ayo ikut ibu kedapur.” Kata Bu Sarah sambil berjalan menuju dapur diikuti dengan kami. Sesampainya didapur, “ Silakan, Kalian bebas menggunakan apa saja yang ada didapur. Ibu tinggal dulu.” Ucap beliau. “ Baiklah Bu.” Ucap kami.

Dapur dipanti sangat luas, biasanya anak – anak panti akan memasak disini sesuai jadwal mereka. Tapi khusus hari ini kami yang akan memasak makanan untuk berbuka puasa. Kami memulai untuk memasak. Kami dibagi menjadi 2 kelompok. Elita, Dian, Fifi, Adit, Kusworo, Fuad bertugas untuk membuat makan inti untuk berbuka sedangkan Aku, Audy, Eka, Fahmi, Refangga, Vian bertugas untuk membuat takjil.

Kami langsung mengerjakan tugas kami. Bahan – bahan yang sebelumnya kami beli menggunakan uang yang kami kumpulkan dikeluarkan untuk diolah. Mereka sibuk dengan pekerjaan masing – masing begitu juga dengan diriku. Aku bertugas untuk mengupas buah – buahhan dengan dibantu Vian, sedangkan Audy sedang membuka tutup sirup dan susu. Eka sedang menyiapkan tempat untuk es buah sedangkan Fahmi dan Refangga bertugas untuk menghanghancurkan es batu menjadi potongan kecil – kecil. “ Kak Vera.” Aku melihat ada anak yang berumur lebih muda dariku mendekat kearahku. “ Iya, Nisa ada apa?” Ucapku kepada Nisa. “ Kak, kami boleh ikut bantu?” Ucap Nisa. Aku melihat dibelakang Nisa sudah ada 5 anak yang seumuran Nisa. Akupun tersenyum kepada mereka. “ Baiklah kalau itu mau kalian.” Kataku. “ Asik, makasih y kak.” Ucap Nisa disertai senyuman. “ Baiklah adik – adikku, kakak akan membagi tugas kalian. Nisa dan Devi membantu Kakak untuk buat es buah bersama dengan Kak Eka, Kak Audy, Kak Fahmi, Kak Vian, dan Kak Refangga. Sedangkan Tika, Bagas, Elisa membantu untuk membuat makan inti bersama Kak Elita, Kak Dian, Kak Kusworo, Kak Adit, Kak Fuad, dan Kak Fifi.” Kataku. “ Siap laksanakan Kak.” Ucap mereka kompak. Mereka langsung merbaur dengan kami untuk membuat makanan. Makanan inti yang kami buat adalah ayam tepung, kering tempe, dan bihun goreng.

Kami mengerjakan tugas dengan canda tawa. Walaupun mereka sedang berpuasa tetapi mereka tetap ceria. Kulihat Adit sedang menjahili Elisa dengan mencorengkan muka Elisa dengan tepung yang kami gunakan untuk membuat ayam tepung. Elisa berseru marah dengan kelakuan Adit, Elisa merniat untuk kembalas kelakuan Adit, Adit langsung berlari menghindari Elisa. Alhasil terjadilah aksi kejar kejaran antara Adit dengan Elisa. Dilain tempat aku melihat Nisa, Fahmi, Refangga sedang berusaha membangunkan Vian yang tengah tertidur. Mereka membangunkan Vian dengan cara menyiramkan air, Vianpun langsung terbangun sedangan Nisa, Fahmi, Refangga tertawa. Akupun ikut tertawa melihat kelakuan mereka. Inginku melihat tawa dan senyum mereka lebih lama. Andai aku boleh egois, aku ingin waktuku lebih lama lagi. Sepertinya tidak mungkin, aku merasa waktuku sudah tidak banyak lagi. “ Hayo kamu melamun yah.” Kata Fifi mengaketkanku. “ Tidak, aku sedang melihat kelakuan mereka.” Jawabku sambil menunjuk kearah Adit, Elisa, Nisa, Fahmi, dan Refangga. “ Kamu sudah minum obatmu?” Tanya Fifi. Semua teman – temanku sudah tau kalau aku sakit. “ sudah tadi.” Jawabku. “ Lebih baik kamu istirahat saja, muka kamu pucat sekali.” Kata Fifi. “ Tidak apa – apa, aku baik – baik saja.” Jawabku sambil tersenyum. Sebenarnya tubuhku sangat lemas dan kepalaku juga sakit. Aku berbohong supaya mereka tidak khawatir kepadaku. Sudah cukup aku merepotkan mereka.

Setelah beberapa jam kemudian makanan dan takjil sudah selesai dibuat. Saat ini kami sedang membuat teh untuk seluruh penghuni panti dan juga untuk kami sendiri. Setelah selesai mambuat teh, kami berkumpul diruang keluarga untuk menunggu Adzan Magrib. Diruang keluarga sudah berkumpul para penghuni panti, kamipun ikut bergabung bersama mereka. Kami menunggu berbuka dengan membaca Al – Qur’an dan dilanjutkan dengan menghafal surattan pendek. Setelah selesai mengaji kami bernyanyi bersama dengan diiringi gitar yang dimainkan oleh Refangga. Mereka beryanyi dengan ceria

Adzan Magrib bekumandan, kamipun langsung membatalkan puasa dengan meminum teh setelah berdoa bersama. Setelah itu, kami langsung memakan takjil. Setelah memakan takjil kamipun langsung sholat berjamaah dengan Vian sebagai imam. Setelah sholat kami langsung makan bersama. Tidak terasa hari ini Ramadhan berakhir, terdengar suara takbir berkumandan. Kupejamkan mataku untuk mendengarkan takbir. “ Vera kamu baik – baik saja?” Tanya Eka. “ Iya aku baik – baik saja.” Jawabku. Sebenarnya tubuhku sangat lemas dan kepalaku sakit bertambah parah tidak seperti tadi siang. Kemudian hidungku mengeluarkan cairan berbau amis. Fifi yang melihatku mimisan langsung mengambil tissue dan memberikannya kepadaku. Aku menerima tissue dari Fifi untuk membersihkan darah yang keluar dari hidungku. “ Vera dimana obatmu biar aku ambilkan?” Tanya Fuad. “ Didalam tasku.” Ucapku lirih. Fuad langsung mengambil tasku dan mengeluarkan obatku. “ Vera ini minum obat dulu.” Ucap Fuad setelah mngambil obatku dan Eka yang mengambil minum. “ Terima Kasih.” Kataku sambil menerima obat dan minum dari fuad. Aku langsung meminum obatku. Tetapi sakit kepalaku tidak kunjung sembuh malah semakin menjadi jadi. Tubuhku seketika ambruk dan semuanya menjadi gelap. “ Veraaa….” Ucap mereka panik saat melihatku pingsan.

Aku langsung dilarikan menuju rumah sakit. Sesampainya dirumah sakit, Audy langsung menghubungi kedua orang tuaku. Beberapa waktu kemudian aku sadar, kubuka mataku berlahan untuk menyesuaikan cahaya. Aku melihat ada Mamah, Papah, Kak Dimas, Audy, Eka, Dian, Elita, Fifi, Fuad, Vian, Fahmi, Refangga, Adit, dan Kuworo. “ Sayang kamu sudah sadar? Apa ada yang sakit sayang, mau mamah panggilkan dokter?” Tanya Mamah. “ Sudah mah, tidak ada yang sakit mah, aku baik – baik saja, tidak usah mah.” Ucapku lemas. “ Kamu yakin dek? Muka kamu pucat loh.” Tanya kak Dimas. “ Iya kak aku baik – baik saja.” Jawabku. “ Mah aku boleh ikut takbirran bersama anak panti?”. Lanjutku lagi. “ Tidak boleh kamu masih lemas, lebih baik kamu istirahat terlebih dahulu.” Ucap Mamah. “ Tapi mah…” Ucappanku langsung tipotong kak Dimas. “ Tidak ada tapi – tapian benar kata mamah, kamu istirahat dulu ya.” Ucap kak Dimas. Aku hiraukan kata – kata Mamah dan kak Dimas. “ Pah boleh yap ah plissss….” Kataku. “ Baiklah, tapi harus meminta izin terlebih dahulu kepada dokter, kalau misal oleh dokter di perbolehkan kamu boleh pergi, tapi kalau dokter tidak memperbolehkan kamu tidak boleh pergi. Mengerti.” Kata Papah. “ Mengerti Pah.” Papahpun langsung keluar untuk bertemu dokter dan Mamah ikut keluar. Saat didepan ruangan Vera, “ Maksud Papah apa mengizinkan Vera untuk ikut takbbiran? Vera masih lemas, bagaimana kalau Vera tambah drop nantinya pak.” Kata Mamah khawatir. “ Biarkanlah Vera bersenang senang, Kata dokterkan apapun keinginannya yang membuat dia senang itu juga akan berpengaruh juga buat kesehatannya, Papahpun juga khawatir seperti Mamah bagaimana kalau nanti kita juga ikut takut terjadi sesuatu yang tidak dinginkan dari Vera.” Jawab Papah. “ Baiklah Pah asalkan Vera bahagia.” Ucap Mamah.

Tidak lama kemudian dokter masuk ke ruangan dan diikuti oleh Mamah dan Papah. “ Vera dokter periksa dahulu ya.” Kata dokter. Dokter tersebut bernama Akbar beliau adalah dokter pribadi keluarga kami. Beliau juga yang selama ini yang mengobattiku apabila penyakitku kambuh. “ Baiklah dok.” Jawabku. Setelah diperiksa, “ Bagaimana dok apakah saya bisa pergi takbirran bersama anak panti?” tanyaku kepada dokter Akbar. “ Kamu boleh pergi, asalkan kamu menggunakan kursi roda supaya kamu tidak terlalu kelelahan dan juga nanti balik lagi kesini.” Jawab dokter Akbar.” Benarkah dok, baiklah dok saya mau asalkan saya boleh pergi” ucapku semangat setelah dijawab anggukan oleh dokter Akbar. Kak Dimas langsung mengambil kursi roda yang berada di UGD sedangkan dokter Akbar sedang melepas infus yang berada di tangan kiriku. Tidak lama kemudian Kak Dimas muncul dengan mendorong kursi roda. Aku langsung dibantu oleh Mamah untuk menuju ke kursi roda. Aku yang berada dikursi roda yang didorong oleh Kak Dimas langsung keluar rumah sakit diikut dengan teman – temanku dan mamah. Sedangkan Papah sedang mengambil mobil lalu menunggu diloby rumah sakit. Setelah sampai diloby kami langsung masuk ke dalam mobil yang dikendarai oleh Papah.

Setelah beberapa lama kemudian mereka sampai dipanti asuhan. Mereka segera turun dan masuk ke dalam panti. “ Assalamualaikum.” Ucap kami serentak. “ Waalaikumsalah, Vera kamu tidak apa – apa nak?” Ucap bu Sarah kaget saat melihatku. “ Iya bu, Vera tidak apa – apa.” Jawabku. “ Ayo masuk anak – anak, bu, pak.” Kata bu Sarah kamipun langsung masuk kedalam panti dan duduk di ruang tamu.” Bu adik – adik pada dimana?” Tanyaku kepada bu Sarah. “ Mereka sedang di Musola panti sedang takbirran.” Jawab bu Sarah. “ Ayo Kak kita ke Musola.” Kataku mengajak Kak Dimas. “ Baiklah Ayo.” Jawab Kak Dimas. “ Kalian juga ikut ayo.” Ajakku kepada teman – temanku dan mereka menjawab dengan anggukan. Kamipun berpamitan untuk ke Musola sedangkan Mamah dan Papah masih mengobrol dengan bu Sarah.

Tidak lama kemudian kami sudah sampai di Musola. “ Kak Vera, Kak Vera tidak apa – apa?” Tanya Nisa saat melihatku. “ Kakak tidak apa – apa Nisa, kalian sedang apa?” Tanyaku kepada Nisa. “ Kami sedang takbirran, Kakak mau ikut?” Tanya Nisa kepadaku. “ Boleh.” Jawabku. “ Ayo Kak kita gabung sama yang lain, Kakak – Kakak yang lain ikut juga y.” Ucap Nisa. Kamipun langsung bergabung dengan mereka dan bertakbirran bersama.

Tidak lama kemudian kepalaku mulai sakit lagi. “ Kak kepalaku sakit Kak.” Ucapku lirik kepada Kak Dimas. “ Kita kembali saja ya.” Kata Kak Dimas dan dijawab anggukan olehku, Aku sudah tidak tahan lagi dengan sakit kepalaku tidak lama kemudian semuanya menjadi gelap. Kak Dimas langsung membawaku kepada Mamah dan Papah kemudian langsung membawaku ke rumah sakit.

Beberapa saat kemudian aku sadar dari pingsan, Aku melihat keluargaku dan teman – temanku berkumpul, Aku tersenyum kepada Mereka. “ Maaf..ka…lau..Vera..punya..salah..sama kalian semua..” Ucapku terbata – bata. “ As-ha..du alla..ila..ha’illal..lah..wa..ash..ha..du..annamuham..madar..rasullallah.” dan mataku tertutup. Semua yang berada diruangan menangis seketika. Mereka telah kehilangan Vera untuk selamanya. Vera pergi karena sakit yang sudah lama dideritanya yaitu kanker otak. Vera pergi Tepat di malam Takbir yang keesokkan harinya mereka merayakan Idul Fitri.

Leave a Comment

Your email address will not be published.