Kedermawanan Ayu

Oleh: Ukasno

Teng… teng… bunyi bel berdering sebagai tanda pelajaran telah selesai. Semua anak-anak membereskan peralatan sekolahnya. Demikian juga dengan Ayu, ia ingin segera bisa cepat pulang kesekolah. Setelah pulang sekolah, ia sudah janjian kepada adiknya, untuk jalan-jalan ke Mall, ia ingin menemani Adiknya membeli baju baru yang akan dipakainya dihari lebaran nanti.

Setelah menyalami gurunya, Ayu bergegas menuju gerbang sekolah. Kemudian mengambil handphonenya didalam tasnya, ia ingin menelpon supir Ayahnya, untuk mengantarnya pulang. Seketika saja, nomor handphone supir ayahnya, tidak aktif. Kemudian Ayu menelpon Ayahnya, tiba-tiba saja wajah Ayu diliputi kekecewaan, ayahnya berkata, “pulang sekolah, kamu naik angkot saja, ya. mobil ayah tiba-tiba rusak. Jadi tidak bisa mengantarmu pulang kerumah.”

“uh, mana tahan.” Ayu mengeluh. Hampir saja air matanya menetes dipipinya. disiang hari ini, cuaca yang sangat panas, apalagi dia sedang berpuasa, dia harus harus berdesak-desakkan dengan orang banyak didalam angkot, belum lagi dia harus menunggu angkot itu dihalte depan sekolah. Sebenarnya, ia bisa saja menelpon taksi untuk mengantarnya pulang, tapi ayu merasa berat membayar argo taksi yang lumayan mahal. Dengan terpaksa Ayu harus naik angkot juga.

Ayu berjalan dengan tidak semangat menuju halte sekolah, diperjalanan tiba-tiba saja. “aduh!” ayu tersadar, dia merasa menabrak seseorang. Rupanya karena Ayu berjalan sambil melamun, dia tidak melihat seseorang anak yang sedang memulung sampah-sampah plastik.

“oh, maaf kan aku.” Lalu Ayu berjongkok untuk memungut botol-botol plastik yang telah jatuh dari karung anak itu.

“tidak apa-apa, biar aku saja yang memungutnya, nanti tanganmu kotor.” Kata anak itu, sambil buru-buru mencegah Ayu.

“tidak apa-apa. Aku yang salah kok.” Jawab Ayu.

Dipikiran Ayu sejak tadi, ia merasa heran, ada anak perempuan yang kayaknya sebaya dengannya, memungut sampah-sampah plastik di siang hari yang terik ini. Kemudian karena penasaran, Ayu menanyakan nama anak itu.

“Kalau boleh tahu, nama kamu siapa?” Tanya Ayu.

Anak itu tersenyum dan menjawab, “namaku, Ratna. Kalau kamu?”

“Namaku Ayu. Kamu sekolah dimana?”

Seketika saja, anak itu menunduk dan wajahnya kelihatan sedih, dan iapun menjawab, “aku putus sekolah, karena biaya. apalagi kalau aku masih bertahan untuk sekolah, siapa yang mau merawat adik-adikku. Ibuku hanya seorang penjual buah dipasar.

Ayu merasa kasihan kepada Ratna, anak yang baru dikenalnya itu. Kemudian Ayu bertanya lagi. “memangnya Ayahmu kemana?”

“Ayahku bekerja sebagai TKI di Malaysia, 2 tahun yang lalu, tapi sampai sekarang, ia tidak pernah memberi kabar. Aku selalu berdoa setiap hari, semoga ayahku baik-baik saja di sana, dan aku berharap ia segera pulang. Aku sangat rindu kepada Ayahku.” Seketika saja air matanya menetes dipipinya.

“Oh begitu, percayalah ayahmu pasti akan pulang.” Sambil mengusap pundak Ratna.

“Seperti yang kamu katakan tadi, kalau ibumu menjual buah dipasar, kenapa kamu tidak dirumah, menjaga adik-adikmu? malah kamu memulung sampah-sampah plastik ini?” tanyanya lagi.

“sebenarnya memang seperti itu, tapi aku ingin dihari raya nanti, adik-adikku bisa memakai baju baru, aku ingin membeli baju baru untuk mereka dengan hasil jerih payahku sendiri. Walaupun nanti aku tidak bisa membeli baju baru untuk diriku tapi untuk adik-adikku, akan aku usahakan.” Jawab Ratna dengan jelas.

Ayu merasa tersentuh dengan perkataan Ratna barusan, Ratna yang usianya hampir sama dengannya, sudah berpikiran seperti itu, tidak sama dengannya. Ia dengan mudahnya meminta uang sama Ayah dan ibunya untuk membelikan baju baru dihari Raya tanpa harus bekerja dulu.”

Ayu lalu berkata, “yang sabar ya, Ratna. Aku yakin kamu tidak akan seperti ini terus. Asal kamu mau berusaha dan berdoa, Insya Allah semua apa yang kamu inginkan akan dikabulkan oleh Allah AWT.

“Terima kasih Ayu, atas saran. Aku senang kamu mau berteman denganku, padahal aku orang miskin, sedangkan kamu tergolong orang yang berada. Balas Ratna.

“Ratna, kamu harus tahu. semua manusia itu sama dihadapan Allah. Yang membedakan adalah amal dan ketakwaannya. Jadi kamu tak perlu merasa minder denganku. Dan satu lagi, Kalau boleh tahu, rumah kamu dimana? Kalau ada waktu aku ingin mampir kerumahmu.”

Oh, rumahku. Rumahku dekat dari sini, dijalan setapak samping toko Merpati. Datanglah jalan-jalan kalau kamu punya waktu, aku pasti senang sekali.” Jawab Ratna dengan tersenyum

“iya, Insha Allah, kalau ada waktu. Aku akan mampir kerumahmu.”

Ayu kemudian teringat untuk segera pulang, ia harus cepat-cepat sampai kerumah, karena ia sudah ada janji kepada adiknya. Ayu lalu pamit kepada Ratna, dan beranjak dari tempat itu, untuk segera kehalte. tiba-tiba anak itu memanggilnya, “hei, tunggu dulu.”

Ayu menoleh, dan berkata, “ada apa, Ratna?”

“handphonemu terjatuh.” lalu menghampiri Ayu, dan memberikan handphone itu ditangannya.

Ayu ternyata tidak sadar HPnya terjatuh, kalau saja Ratna tidak melihatnya, ia pasti akan kebingungan mencari HPnya itu. Kemudian ia berucap, “terima kasih, Ratna.” Sambil berlalu pergi.

Sesampainya dirumah, ayu menemui adiknya yang bernama Tio. Ayu meminta maaf, Karena terlambat pulang kerumah, Tio memaklumi itu, karena Tio tahu, kakaknya tidak dijemput oleh supir ayahnya melainkan harus naik angkot. Tio menagih janji kakaknya, untuk menemaninya membeli baju baru. Ayu dengan senang hati, akan menemani adik kesayangannya itu, tapi sebentar sore karena Ayu ingin istirahat terlebih dahulu, kebetulan juga mobil ayah sudah bagus. Jadi ia dan Tio bisa keMall dengan mobil ayahnya tanpa harus naik angkot ataupun taksi.

Kemudian Ayu masuk kekamarnya, mengganti seragamnya kemudian mengambil air wudhu dan mendirikan shalat dzuhur. Selesai itu, ia tidak langsung berbaring diranjangnya, untuk tidur siang, ia kemudian berpikir, untuk memberikan sesuatu kepada Ratna, anak yang ditemuinya tadi didepan sekolahnya. Ia berniat ingin membelikan baju baru untuknya. Tapi dari mana ia bisa mendapatkan uang untuk membeli baju yang akan dikenakan Ratna dihari Raya. Karena tidak mendapatkan solusi, Ayu datang menemui ibunya, siapa tahu saja ibunya dapat memberikan solusi untuknya.

Ibu ayu, sedang duduk didepan TV, sambil menonton sinetron kesukaannya. Ayu lalu memeluk ibunya dari belakang, dan berkata, “ibu kenapa tidak tidur siang, malah sedang asyik nonton sinetron?” tanya Ayu.

Ibu kaget, anaknya memeluknya dari belakang, “ayu, kamu mengagetkan ibu, ibu tidak bisa tidur, jadi ibu menonton TV saja. Tumben datang menemui ibu, biasanya jam begini kamu sudah tidur siang.”

“Iya, bu. tapi Ayu juga tidak bisa tidur siang. Ada yang mau ayu cerita sama ibu. Ibu mau mendengarnya?”

“Iya, sayang. Ibu akan mendengar ceritamu. Tapi sebelum itu, ibu kira kamu mau menemani Tio berbelanja baju baru di Mall, kenapa tidak pergi?”

“Aku capek pulang dari sekolah, jadi aku menundanya. Jadi rencananya, sebentar sore saja, aku dan Tio akan kesana.”

“Oh begitu, jadi apa yang kamu mau cerita sama ibu?” tanya ibu penasaran.

“Waktu aku menuju halte yang berada didepan sekolah, aku tidak sengaja menabrak seorang anak perempuan yang sebaya denganku, ia sedang memulung sampah plastik. Aku kasihan kepadanya ibu, ia tidak sekolah karena merawat adik-adiknya dirumah. Ibunya menjual buah dipasar, dan ayahnya bekerja di Malaysia dan belum pulang juga sampai sekarang. Ia memulung sampah plastik karena ingin membelikan baju baru untuk adik-adiknya. Ia ingin melihat adik-adiknya memakai baju baru dihari lebaran nanti.”

Ibu terharu mendengar cerita anaknya, ibu lalu berkata, “kasihan sekali anak itu, diusia yang begitu muda, dia harus bekerja membantu ibunya. Padahal diusianya, ia harus mendapatkan pendidikan yang layak. Bagaimanapun keadaannya, Dia harus sekolah. Ibu punya teman, yang mempunyai yayasan membantu anak-anak tidak mampu untuk sekolah. Ibu akan menelpon teman ibu, siapa tahu temanmu itu bisa diterima sebagai anak didik yayasan yang dikelola oleh teman ibu. Kalau boleh tahu, siapa nama temanmu itu?”

Ayu merasa senang, ibunya berniat membantu Ratna agar bisa sekolah. Ayupun memeluk ibunya dan berucap, “terima kasih bu, ibu mau membantu teman Ayu, dia bernama Ratna. semoga ia bisa diterima oleh yayasan teman ibu. tapi sebelum itu, ceritaku belum selesai. Ada lagi yang aku mau sampaikan sama ibu.”

“apa itu, sayang? Katakanlah. Dan ibu usahakan, Ratna dapat diterima oleh yayasan teman ibu, tapi harus ada surat izin dari orang tua Ratna. Baru ia bisa diterima menjadi anak didik yayasan teman ibu, itu.”

“iya, bu. nanti kalau aku mampir kerumah Ratna, aku akan sampaikan. Begini ibu, aku berniat ingin memberikan baju baru buat Ratna. Tapi masalahnya, uangku tidak cukup untuk membelikan baju buat Ratna. Sebenarnya aku punya celengan dilemari, dan aku rasa kalau aku mengambilnya sedikit, mungkin bisa cukup aku membelikan sebuah baju buat Ratna, aku ikhlasmu bu, uangku dipakai buat beli baju buat Ratna. tapi aku minta persetujuan ibu dulu. Bolehkan aku mengambil uang celenganku untuk membelikan baju baru buat Ratna?”

Ibu lalu mengelus kepala anak perempuannya itu, dan berucap, “Ayu, dengarkan ibu. ibu sangat setuju, kalau itu atas kemauan Ayu sendiri. Uang itu adalah uang Ayu. Jadi Ayu berhak untuk memakainya. Ibu bangga terhadapmu, mau berbagi terhadap sesama dengan hati penuh dengan keikhlasan, apa lagi dibulan ini adalah bulan Ramadhan bulan penuh berkah. Tak perlu mahal, asal kita ikhlas memberi, bersedekah, atau berderma dibulan ini, pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Ayu sangat senang, ibunya setuju. Ayu lalu berucap. “terima kasih banyak ibu, ibu sangat mengerti Ayu, dan terima kasih atas nasihat yang ibu berikan, aku sangat sayang ibu.” Ayu memeluk erat ibunya sambil tersenyum bahagia.

Ayu, masuk kekamarnya lalu membuka lemarinya dan mengambil celengan ayamnya yang terbuat dari tanah liat. Kemudian memecahkannya, dan mengambil sebagian uang itu, untuk dicukupkan dengan uang yang dipegangnya saat ini. Ayu berniat Sisa uang hasil celengannya, untuk membelikan oleh-oleh untuk keluarga Ratna. Karena sepulang dari Mall, Ayu ingin mampir kerumah Ratna.

Selesai mengantar Tio, untuk membeli baju baru untuknya, Ayu tak lupa juga, untuk membelikan baju baru buat Ratna, dipilihkan pakaian muslim yang berwarna merah muda itu, dipikiran Ayu, pasti Ratna menyukai ini. Karena Ayu yakin, pakaian ini akan cocok dikenakan oleh Ratna karena badan Ratna hampir mirip dengan badan Ayu.

Tibalah Ayu dirumah Ratna, sambil mengucapkan salam, Ratna yang begitu kaget sekaligus senang melihat Ayu datang kerumahnya. Ratna mempersilahkan Ayu untuk duduk dan memanggil ibunya untuk berkenalan dengan Ayu. Ayu bersalaman dengan ibu Ratna. Lalu tanpa basa basi lagi, Ayu memberikan oleh-oleh berupa kue-kue dan minuman untuk keluarga Ratna, dan tak lupa memberi sebuah kado untuk Ratna, Ratna terharu menerima kado dari Ayu, ia merasa tidak berulang tahun tapi Ayu begitu ikhlas datang jauh-jauh dari rumahnya untuk memberikannya oleh-oleh untuk keluarganya dan hadiah untuknya. Ratna membuka kado itu, dan melihat isi kadonya, ia begitu senang hingga meneteskan air matanya, ia langsung memeluk Ayu, dan mengucapkan banyak terima kasih kepadanya. Baju muslim yang sangai cantik dan ia tidak sabar untuk memakainya dihari raya nanti. Ibu Ratna, sangat berterima kasih kepada ayu, yang telah peduli kepada anaknya.

Akhirnya dihari raya nanti, Ratna bisa memakai baju baru, buat Ratna hari raya tahun ini adalah hari raya yang paling bahagia untuknya, apalagi ayu berkata kepadanya bahwa ibunya akan memasukkannya sebagai anak didik diyayasan yang dikelola oleh teman ibu Ayu. Ratna sangat bahagia dan semangatnya untuk belajar timbul kembali, karena akhirnya ia bisa bersekolah lagi.

Leave a Comment

Your email address will not be published.