Menolong itu Indah

Oleh: Dwi Andini

Sudah terhitung delapan hari aku menjalani ibadah puasa di bulan yang suci ini. Aku sangat bersyukur bisa kembali berjumpa dengan bulan Ramadhan kali ini. Temanku yang non-muslim juga banyak yang ikut berpuasa. “Aku suka banget ikutan puasa seperti kalian yang muslim. Soalnya banyak stan makanan berjejer, dan pas buka puasa bersama itu quality time nya dapet banget.” Ujar Angel, satu diantara teman non-muslimku yang ikut berpuasa.

saat ini kami sedang berjalan menuju rumah makan untuk buka puasa bersama. Bukan hanya aku dan angel, tetapi juga diikuti oleh fitri, Latifah, marcel, adrian, dan kenzi. Mereka ber enam merupakan teman kampusku, tapi yang satu prodi denganku hanya fitri, Angel, dan juga marcel. Kami mengambil prodi Ilmu kedokeran. Sedangkan latifah dan adrian mengambil prodi desain komunikasi visual. Dan Kenzi mengambil prodi Kesastraan Bahasa Indonesia. Kami saling mengenal saat masa ospek. Fitri, Adrian, dan Kenzi merupakan senior kami. Hanya berbeda dua semester.

Ketika kami sedang berjalan, kami melihat seorang anak kecil yang sedang berjualan takjil. Ia menjual bubur sum-sum, tetapi tidak ada yang bersinggah untuk sekedar membeli dagangannya. Aku pun berinisiatif untuk berjalan ke arahnya. “Kakak mau beli bubur sum-sum?” Tanya sang anak. “Iya, ini berapa dek?” Tanyaku. Melihat senyum bahagia yang terpancar dari wajahnya membuat hatiku tergerak untuk membantunya berjualan. “Andin.” Itu suara Angel yang memanggilku. Aku menoleh kebelakang dan melihat semuanya mengikutiku.

“Lo mau beli ini Din?” Tanya Adrian, “kita kan mau buka di sana.” Lanjut Kenzi sembari menunjuk sebuah rumah makan yang hendak kami tuju tadi. “Cepetan elah, ntar gak kebagian tempat.” Sambung Kenzi. “Kalau kalian mau duluan, duluan aja. Nanti aku nyusul.” Ucapku tak enak kepada mereka dan juga kepada anak yang ada di depanku saat ini. “Bentar dulu ya ,dek.” Aku mengajak teman-temanku untuk mengobrol sebentar, dan menarik mereka untuk sedikit menjauh dari tempat sang anak berjualan.

“Gini, aku dari tadi liatin anak itu jualan sendiri. Tapi gak ada yang mau beli.” Ucapku membuka percakapan. “Lah, terus kenapa?” Tanya Kenzi. “Ya, maka dari itu aku pingin bantuin dia jualan. Ada yang keberatan gak?” Tanyaku kepada mereka. Marcel mengangkat tangannya, “gue keberatan.” Ucapnya. Aku memberikan isyarat seperti bertanya kenapa. “Gak adil aja, masa dari kita bertujuh cuma lo yang mau bantuin. Gak bisa gitulah. Gue ikut.” Mendengar ucapnnya membuatku tersenyum sumringah.

“Gue juga ikut.” Ucap Latifah.

“Gue setuju!” Ucap Kenzi yang bersemangat.

“Oke juga.”Ucap Adrian.

“Aku juga harus ikut.” Ucap Angel.

“Aku juga.” Ucap Fitri mengakhiri keputusan bahwa kita akan membantu anak itu berjualan. Ingin rasanya aku melompat setinggi-tingginya saking bahagianya hatiku. Aku mengira mereka tidak akan mau membantu anak itu.

Dengan semangat empat lima, kami berjalan menuju anak tadi. “Adek, mau gak kalau kakak-kakak semua bantuin kamu jualan?” Tanyaku. Dia terlihat ragu untuk menjawab. “Memangnya kakak gak puasa? Kalau kakak puasa kan, nanti kakak yang capek.” Ucapnya. “Sekarang kakak tanya, kamu puasa gak?” Tanyaku balik. Dia mengangguk, bertanda bahwa ia berpuasa. “Nah, kamu juga lagi puasa. Kalau kamu sendiri yang jualan pasti kamu capek. Maka dari itu, kami mau bantuin kamu.” Ucapku.

“Yaudah deh, makasih banyak ya kakak-kakak.” Ucapnya sembari tersenyum bahagia. Kami semua tersenyum. “Satu cup ini berapa harganya?” Tanyaku. “satu ini harganya delapan ribu.” Jawabnya. Kamipun mulai menawarkan kepada siapapun yang lewat hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit sore hari. Untung saja dagangannya sudah habis terjual.

“Yaah, udah penuh tempatnya.” Ucpa Kenzi dengan wajah cemberutnya seperti anak kecil yang tidak diberikan balon. “Kita buka puasa dimana ni?” Tanya Latifah. “Bubur sum-sumnya juga uda habis.” Sambung Fitri. Tiba-tiba, anak tadi membawa sebuah wadah plastik besar. “Ini masih ada delapan bubur sum-sumnya.” Ucap sang anak. “Loh? Kok masih ada?” Tanya Marcel. “Iya, tadi aku simpanin buat kakak-kakak.” Ucapnya.

Kamipun mengeluarkan dua lembar uang lima puluh ribu. “Gak usah bayar kak. Itu buat kakak aja, sebagai tanda terima kasih aku sama kakak-kakak semua yang udah mau bantuin aku jualan.” Ucapnya.

“Tapi kan kamu yang rugi kalau ini kamu kasi cuma-cuma.” Ucap Angel. Aku membenarkan perkataan Angel. Sang anak terdiam, “Gini aja, kamu ambil uangnya, kita ambil makanannya. Gimana? Adil kan?” Tanya Fitri. Sang anak masih terdiam, “udah ambil aja, jadi kan win-win solution.” Ucapku. Sang anak menatap kearahku. “Itu apa kak?” Tanyanya. “Artinya, kamu untung, kami juga untung.” Ucap Marcel dengan lemah lembut.

Allahuakbar, allahuakbar.

Azan telah berkumandang, menandakan waktu berbuka telah tiba. Akhirnya keputusan telah disepakati. Kami menikmati bubur sum-sum bersama, dan memberikan uangnya kepada sang anak. Walaupun masih ada lebih, kami memilih untuk memberikannya kepada sang anak. Sungguh indah bulan Ramadhan jika diisi oleh kegiatan yang bermanfaat. Memang, kami tidak bisa menikmati berbuka bersama di rumah makan yang kami tuju. Tetapi kami bisa menikmati berbuka puasa yang lebih berkesan dengan sang anak penjual takjil. (da)

Leave a Comment

Your email address will not be published.