Sambut Ramadhan, Rutinitas Tetap Jalan

Oleh: Ulfa Imroathul Hasanah

Tinggal menunggu hitungan hari untuk menyambutmu, mungkin tak sampai satu minggu. Hati terasa senang, bersyukur kepada Yang Maha Memberi Kenikmatan atas waktu dan kesempatan yang Dia berikan untukku. Bulan Suci Ramadhan, bulan maghfiroh, bulan ladang pahala, bulan berkah. Tak sedikit orang yang diberi kesempatan untuk bertemu bulan yang suci ini. Bulan dimana setiap orang muslim melaksanakan ibadah puasa seperti yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183 yang artinya Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. Dari ayat tersebut, jelas terkandung adanya suatu keharusan untuk melaksanakan ibadah puasa bagi setiap orang islam, baik laki-laki maupun perempuan.

Sore ini setelah pulang kerja, aku melakukan rutinitas seperti biasa. Mengurusi ternak, lalu mandi dan berangkat ke masjid untuk berbagi ilmu dengan adik-adik imut di Taman Pendidikan Al-quran (TPA). Kegiatan mengajar di TPA sudah menjadi rutinitasku selama kurang lebih empat tahun belakangan, tepatnya setelah aku lulus dari Sekolah Tinggi Agama Islam di daerah Ponorogo. Disini aku tidak sendiri, ada seorang teman pengajar juga yang dulu pernah nyantri bareng denganku. Kami bekerja sama untuk mengembangkan TPA di desa menjadi lebih baik. Kami mengajari adik-adik ini untuk belajar membaca al-qur’an, disini kami juga mengajak mereka untuk berlatih hadrah, memukul rebana dengan tangan-tangan kecil mereka. Rasanya mengasyikkan bisa menyalurkan sedikit ilmu yang kumiliki ini. Karena sebentar lagi Ramadhan, aku mengajak adik-adik TPA untuk bersih-bersih. Hal itu dapat juga menjadi pelajaran bagi mereka bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Senang rasanya, melihat senyum-senyum yang mengembang dari sudut bibir yang kecil dan imut. Inilah sebuah kenikmatan dari Sang Pencipta, bahwa berbagi itu menyenangkan. Aku memberi pengumuman kepada adik-adik bahwa lusa kita sudah memasuki bulan Ramadhan. Ada yang menarik perhatian ku disini, seorang adik yang duduk dibarisan belakang tiba-tiba berdiri sembari bersuara dengan lantang.

“Mas-mas berarti kalau puasa bisa dapat jajan?, yeayy..”

Kemudian adik yang duduk disampingnya menyahut,

“Hore…, kalau sudah puasa, berarti sebentar lagi lebaran dan bisa dapat sanguu”

Sontak semua yang ada dalam ruangan TPA ini tertawa, tak ketinggalan juga aku dan temanku pengajar.

“Sungguh menggemaskan tingkah adik-adik ini”,  kataku dalam hati

Maklumlah namanya anak-anak, jadi ya wajar saja jika mereka berkata begitu. Justru hal ini menjadi penyemangatku untuk terus mendampingi dalam setiap perkembangan bacaan Al-Quran mereka.

Tanpa kusadari, waktu berjalan cukup cepat, alat yang tertempel di dinding masjid itu terus menerus memutarkan jarumnya seakan tak pernah kenal lelah. Berjalan melingkar dari kanan ke bawah, ke kiri, ke atas, ke kanan lagi, begitu saja seterusnya hingga jarum dengan ukuran kecil itu menunjuk angka 5 dan 3. Sekarang jam 17.15 wib, ya ini waktu yang paling ditunggu adik-adik, untuk segera bergegas pulang menuju rumah masing-masing. Diantara mereka ada yang naik sepeda, berjalan, dijemput orang tua, semua terlihat gembira. Senang  rasanya, bisa melihat senyum keceriaan mereka.

Setelah mengajar di TPA aku tak segera pulang, melainkan duduk sejenak di serambi masjid, sambil berfikir kira-kira mau dibuat seperti apa sistem pendidikan di TPA ini. Cukup berat mungkin jika hanya difikir seorang diri. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang sambil berkata “Hey.. ngapain sih songgo uang”, ya itulah istilah yang biasa digunakan oleh orang-orang jawa untuk menyebut suatu kegiatan menyangga dagu dengan tangan. Aku terhentak dan secara spontan menghadap belakang. Eh… ternyata si agil, temanku mengajar di TPA.

Dia mempersilahkanku untuk adzan

“Adzan woy.. udah masuk tuh waktunya”.

“Ha?…iya iya sebentar”.

Segera ku beranjak mengambil air wudhu lalu adzan.

Selepas sholat maghrib, aku langsung pulang. Di rumah sepi, karena kedua adikku sedang merantau untuk menimba ilmu. Sekarang gantian aku yang di rumah menemani bapak dan ibuk. Semoga kedua adikku diberi kelancaran dan kemudahan dalam proses menimba ilmunya.  Ku raih kitab mulia di dalam lemariku bagian atas, lantas kubuka dan kulantunkan dengan cukup khidmat. Mencoba kuresapi setiap makna yang ada di sana. Agar dapat membuat tenang hati dalam menjalani kehidupan di dunia yang semakin fana ini. Al-Quran memang kitab mulia yang diturunkan Allah Swt kepada nabi Muhammad Saw yang menjadi pedoman untuk umat manusia dalam menjalani kehidupan. Al-Quran membahas berbagai hal mengenai peristiwa-peristiwa masa lalu, sekarang, bahkan masa depan.

Respond For " Sambut Ramadhan, Rutinitas Tetap Jalan "