30 Hari dengan Mushaf

Oleh: Muhammad Zulfa Hikam Majid

“Bismillahirahmanirrahim…..” suara di sepertiga malam itu memberikan tanda bagiku untuk mengakhiri tidurku, suara lantunan khas dengan irama maqam nahawand syeikh favoritku itu lah yang setiap malam aku tergugah untuk mendirikan shalat tahajud. Meskipun suara yang berasal dari handphone ku itu namun rasanya beliaulah yang secara langsung membangunkan ku dengan irama merdu bacaan Surah Al-fatiah. Ya dialah syeikh Misyari Rasyid yang merupakan imam besar di negeri Makkah yang irama bacaan Alqurannya sangat aku sukai.

Aku seorang siswa SMA kelas 2 dari salah satu sekolah di daerah Surakarta, dengan usia ku yang tepat menginjak 17 tahun. Kesibukanku tidak lain hanyalah seperti siswa-siswa lain pada umumnya, belajar di sekolah, mengerjakan PR di rumah, mengikuti organisasi dan kegiatan lain yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Aku sangat menyukai mendengarkan bacaan lantunan ayat-ayat suci Alquran yang dilantukan oleh imam-imam besar dari negeri Makkah, itulah mungkin salah satu sebabnya aku menjadi siswa yang berbeda dengan siswa lain di sekolahku. Teman-teman yang satu kelas dengan aku sampai heran ketika setiap waktu luang melihat ku mendengarkan murottal yang berasal dari HP ku. hingga keheranan itu berubah menjadi rasa kurang nyaman di kalangan teman-teman ku ketika waktu istirahat aku menyempatkan membeli makanan di kantin sambil mendengarkan murottal. Mereka merasa terganggu dengan setiap kali ada waktu luang aku mendengarkan murrotal dengan tidak memakai headseat di telingaku, namun bagiku itu adalah salah satu usahaku untuk menjadi seorang hafidz di usia muda.            Di rumah aku selalu menyempatkan untuk membaca mushaf. Kalau pun dikalkulasikan dalam sehari aku bisa membaca mushaf sampai 12 kali.

Kuingat sekali ketika waktu itu terjadi pada minggu kedua bulan Juni setelah selesai mengikuti ujian kenaikan kelas dan pengumuman libur semester, aku membaca informasi pesan pada HP ku dalam sebuah grup whatsapp bernama Cinta Religi. Perhatian ku tertuju pada isi pesan di dalamnya, salah satu anggota grup itu membagikan informasi pendaftaran pondok tahfidz selama bulan ramadhan. Ya hatiku sangat gembira melebihi kegembiraan aku mendapatkan peringkat 1 di kelas ketika aku naik kelas 3. Aku berharap bisa mengikuti program itu. Namun sayangnya program pondok tahfidz itu harus diikuti selama 30 hari full sedangakan dua hari sebelum aku membaca isi pesan ini kalender akademik yang ada di sekolahku memberikan jatah libur semester selama 23 hari dan itu pun terhitung dari pengumuman liburnya. Rasa bahagia, sedih, bimbang, bingung, semuanya menjadi satu. Namun aku tidak mau kesempatan itu aku sia-siakan, aku tetap ingin mengikuti program itu. Perhatian ku tertuju pada contact person yang ada pada isi pesan tentang pondok tahfidz itu dan aku tanyakan tentang persyaratan masuknya. Beliaulah Bapak Syahdiman, Lc, seorang pengasuh program pondok tahfidz yang ingin aku ikuti. Setelah cukup panjang lebar aku berkomunikasi lewat HP dan tahu tentang syarat-syarat pendaftarannya aku mulai berinisiatif untuk meminta ijin kepada ayahku untuk bisa mengikuti porgram itu. Ayahku setuju dengan niat mulia ku ini, tidak heran jika ayahku menyetujuinya karena melihat perjuanganku untuk menjadi hafidz di usia muda sangatlah besar. Ayahku juga menyetujui perihal tentang jadwal sekolahku yang terpotong 10 hari jika aku mengikuti program itu, namun beliau menyarankan agar aku tetap meminta ijin kepada pihak sekolah agar presensi kehadiran ku tidak dianggap alfa. Dengan mendapat ijin dari ayahku keyakinan dan tekad ku sudah bulat untuk mengikuti program itu dengan full, aku yakin keyakinan yang kuat dan usaha serius serta do’a kepada Allah SWT untuk menjadi seorang hafidz bisa terealisasikan.

Hari pertama aku berangkat menuju pondok tahfidz yang ada di kota Surakarta, hari yang menentukan keberhasilan ku dalam mewujudkan tekadku. Hari itu juga merupakan hari pertama puasa Ramadhan tahun 1435 H. Dari halaman rumah ayah, ibu, dan adik-adik ku melepas kepergianku. Kulihat tampak di raut wajah mereka sedih karena mungkin liburan aku tidak bisa bersama mereka di rumah untuk saling berkumpul dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Kugendong tas yang berisi perlengkapanku dan berangkat menuju tempat aku belajar dengan motorku. Setiba disana perhatian ku tertuju pada kantor sekretariat untuk registrasi, dan membayarkan uang pendaftaran.

Matahari mulai menyimpan sinarnya, jam pun menujukkan pukul 17.57 dari jam digital yang ada di masjid tempat aku melaksanakan sholat. Suara muadzin yang mengumandangkan azan khas dengan irama seperti Muzammil Hasballah seolah merasuk dalam relung hatiku paling dalam, suara yang belum pernah aku dengar sebelumnya secara langsung begitu nikmat aku mendengarnya sampai-sampai air mataku menetes.  Dalam hatiku bergumam “Ya Allah muliakanlah orang yang mengumandangkan azan itu,” karena dalam sebuah hadits yang pernah aku baca yang artinya kurang lebih “orang yang mengumandangkan azan akan memperoleh 60 kebaikan”. Dan suara azan itulah yang mengawali berbuka puasa dan solat maghrib berjama’ah serta mengawali sebelum kegiatan menghafalkan ayat-ayat Alquran.

Suara itu pun mulai terdengar setelah selesai sholat sunah ba’diyah maghrib, suara lantunan ayat-ayat suci Alquran yang sangat menyentuh hatiku. Mereka rata-rata sudah memiliki hafalan 26 juz dan dari kalangan mahasiswa. Agaknya aku canggung dengan semua ini, karena harus beradaptasi di lingkungan yang kebanyakan usianya lebih tua dari aku meskipun tidak begitu jauh. Aku sangat iri kepada mereka yang kebanyakan mahasiswa dengan jadwal yang begitu sibuknya namun hafalannya lebih banyak dari aku yang baru menginjak 15 juz. Aku pun memulai membuka mushaf yang aku bawa dan kubuka awal surah At-Taubah. Ya aku hafal 15 juz Alquran tidak dari depan halaman melainkan dari belakang terutama dari juz 30 yang mayoritas orang mudah menghafalnya. Lidah ku mulai basah dengan lantunan ayat-ayat Alquran sembari memejamkan mata hingga tak terasa suara azan isya pun terkumandangkan yan mengakhiri jadwal pertama di hari pertama.

Kegiatan pun dimulai setelah jama’ah selesai sholat isya, ada juga yang mendirikan sholat sunah ba’diyah isya sebelum memulai kegiatan. Kubuka kembali mushafku dari ayat 15 surah At-Taubah. Baca buka-tutup, baca buka-tutup, itulah metode hafalan yang dipraktikan di tempat ini. Ku ulangi itu semua hingga tak terasa jam pun menunjukan pukul 21.45 dimana kegiatan harus berlanjut dengan setoran hafalan yang didampingi oleh ustadz-ustadz disini. Aku juga heran dengan jumlah hafalanku yang dapat aku hafal dari ba’da maghrib sampai ba’da isya ini, biasanya aku di rumah bisa menghafal rata-rata 55 ayat  dalam satu hari, namun disini hanya sekitar kurang lebih 3 jam aku bisa menghafal 63 ayat. Sungguh menakjubkan, disinilah kuingat sebuah ayat dalam surah Al-Qamar: 17 yang artinya “Dan sungguh telah Kami mudahkan Al-Quran untuk dipelajari, adakah yang mau mengambil pelajaran?”. Keyakinan itu yang terus menghujam dalam hatiku ketika aku berniat dengan tekad yang kuat untuk mempelajari Al-Quran dan menghafalnya maka akan dimudahkan jalannya.

Begitulah seterusnya kegiatanku selama di pondok tahfidz. Setiap selesai sholat wajib berjamaa’ah, menjelang sahur dan ba’da imsak, dari jam 07.00 sampai jam 11.00, muroja’ah, setoran. Siklus seperti itulah kegiatan yang ku alami selama mengikuti program ini hingga mengalami puncak kebosanan di pertengahan bulan. Ya setiap kegiatan ada masa dimana mengalami masa kerajinan dan kemalasan. Memang hampir semua orang yang memiliki niat untuk mendapatkan sesuatu sangat berambisi di awal dan lambat laun seiring berjalannya waktu konsistensi itu mulai pudar. Dalam hal seperti itulah ketika aku memegang mushaf membaca surah Al_Maidah: 16 “….Dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan mereka dari gelap kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukan mereka ke jalan yang lurus”, serasa hatiku entah kenapa tersentuh bersemangat kembali melanjutkan hafalanku, ayat yang memberikan kabar gembira itulah yang kujadikan motivasi menyelesaikan sisa hafalanku menjadi 30 juz sempurna.

10 hari terakhir bulan ramadhan dimana kemuliaan malam itu seperti 1000 bulan. Semangatku kupacu kembali. Sisa-sisa ramadhan yang menjadi berkah bagiku. Sejuk dan tenang sekali melakukan ibadah disisa-sisa yang terakhir. Pikiran jernih dan suasana tenang itulah yang telah melengkapi hafalanku menjadi 30 juz, dimana target yang ingin kurealisasikan akhirnya terbukti. Pengorbanan fisik dan tenaga terbayar sudah. Perjuangan dari suara yang kupasang untuk membangunkanku di sepertiga malam, duduk berjam-jam hanya mengulang dan memahami, terbuang waktu istirahat ku yang cukup banyak terbayar di akhir. Dari awal pergi meninggalkan keluarga dan harus beradaptasi di lingkungan yang belum terjamah olehku kini kembali dengan wajah yang berseri-seri penuh dengan kepuasan dan kenikmatan. Aku berhasil memesan mahkota untuk kedua orangtuaku kelak di akhirat.. Ternyata tidak sia-sia 30 hari dengan mushaf.

Leave a Comment

Your email address will not be published.