Menanti Ramadhan

Oleh: Keyza Salsa Nabila Pahrun

“Bil, malam mau kemana?.” Tanya Azkia. “Ngak kemana-mana Kia. Kenapa?.” Tanya Salsabila. “Hm, mau ikut nonton tidak?.” Tanya Azkia. “Wah, kedengarannya seru. Boleh Ki.” Jawab Salsabila. “Yasudah aku jemput ya.” “Aku tunggu.” Salsabila dan Azkia adalah siswi disalah satu SMA yang berada di ibukota. Mereka sudah berteman sejak awal masuk SMP hingga sekarang mereka duduk di kelas dua SMA.

“Bila di depan ada teman kamu. Mau kemana?.” Tanya Ibu Bila. “Mau kerja tugas bu, di rumah Tari.” Dusta Bila. “Kenapa berangkatnya saat malam nak? Sekarang lagi marak penculikan, pemerkosaan, kamu lagi keluar rumah pakai baju kurang bahan gitu!.” Peringat sang ibu. “Lah bu, kalau sorekan Bila capek, sore masih tidur, jadi sama Azkia, kita berangkat malam. Lagian juga Bila sudah berkali-kali jalan keluar rumah pakai baju seperti ini, ngak ada yang godain kok.” “Bila! Kamu itu anak perempuan, selangkah kamu keluar rumah tanpa hijab, selangkah juga ayahmu ke neraka.” “Bila pergi dulu bu.” Pamit Bila seraya berlari menuju ke arah Azkia.

Bagaimana tidak ibunya marah? Bila hanya mengenakan celana jeans selutut, dan kemeja berwarna hitam, sedangkan rambutnya digerai. Sudah berapa kali ibunya menyuruh Bila memakai jilbab tapi tidak pernah dipatuhi Bila. “Kenapa Bil?.” Tanya Azkia. “Hm, biasa orang tua. Eh tapi aku tadi bohong ke rumah Tari.” Kata Bila. “Nanti deh, kita telfon Tari, habis nonton kita kesana.” “Oke deh.” Taksi yang membawa mereka berhenti tepat di tempat tujuan mereka. Selesai memesan tiket nonton, Bila dan Azkia langsung masuk.

“Wah! Filmnya seru banget! Kapan-kapan nonton lagi yuk!.” Ajak Bila. “Tapi gantian kamu yang bayar ya.” Pinta Azkia. “Siap deh! Gimana kalau Minggu nanti kita nonton?.” Tanya Bila. “Minggu ya? Aku Minggu ke rumah nenek, jadi kayaknya ngak bisa, kapan-kapan deh.” Pinta Azkia. “Kayaknya nanti aku nonton sendiri, tapi kalau udah balik kita nonton lagi ya.” Kata Bila. “Sip deh! Oh iya, tadi aku udah bilang ke Tari, Cuma dia lagi ngak di rumah, kita langsung pulang deh.” Ujar Azkia sambil memandang Bila. “Waduh, sampai ketahuan ibu, habislah aku.” Bila membuat kepalanya terkantuk pada dinding disebelahnya. “Kalau begitu, nanti aku turun di minimarket di persimpangan jalan deh.”

“Hati-hati Bil! Kalau ada apa-apa telfon aku aja.” Ujar Azkia. “Iya Ki, makasih loh! Sampai ketemu lagi Ki!.” Bila melambaikan tangannya hingga taksi yang ditumpangi Azkia mengecil hingga menghilang di ujung jalan. Bila berjalan dengan cepat, takut-takut ada orang iseng yang mengerjainya. Apalagi ini hampir jam 11 malam.

Jalan sudah mulai sunyi, tinggal beberapa lampu teras yang menyala, yang paling terang hanya lampu di minimarket tadi saja. “Dik, kok jalan sendiri malam-malam?.” Tanya seorang lelaki yang duduk di motor. Salsabila sebisa mungkin untuk tidak menatap gerombolan itu, lima rumah lagi akan sampai pada rumahnya. Langkahnya ia percepat. “Hati-hati kesandung dik.” Ujar salah satu diantara mereka. Salsabila berceloteh sendiri, menyalahkan orang-orang itu “Kenapa coba malam-malam masih disini? emang komplotan mereka disini?.” tanyanya pada diri sendiri, saat Salsabila melihat rumahnya pandangannya tiba-tiba gelap.

“Telfon orang tua kamu sekarang!.” Seorang lelaki bertubuh kekar berteriak di hadapan Salsabila. Tangan dan kakinya diikat pada kursi. Salsa bergumam sendiri. “Gimana di telfon kalau tangan di kunci begini?.” Batinnya. “Ayo cepet!.” Teriak lelaki itu lagi. “Bos, tapi itu dia mau ngambil ponsel gimana? Tangannya diikat mulutnya di kunci.” Seorang lelaki bertubuh agak kecil bersuara. “Oh benar juga ya? Hm, ambil tasnya.” Pinta lelaki itu lagi.

“Minta tebusan sepuluh juta kalau mereka bisa! Kalau ngak bisa minta lima belas juta, semakin mereka ngak bisa bayar, semakin mahalin!.” Lelaki bertubuh kekar itu berteriak pada anak buahnya yang sedang menelfon orang tua Salsabila. “Sepuluh juta deal bos, bakal mereka anter kesini, mereka ngak bawa polisi.” Ponsel dan tas Salsabila dikembalikan. “Setelah transaksi baru kasih anak itu.”

Salsabila melihat Fiko kakak laki-lakinya membawa sebuah amplop tebal, mungkin isinya uang tebusan untuknya. “Adik saya aman kan?.” Tanya Fiko. “Aman, sini uangnya!.” Mereka sontak merebut amplop itu dari tangan Fiko. “Cari kerja itu yang halal biar ngak beratin timbangan dosanya.” Fiko melirik Salsabila yang duduk dengan tangan kaki terikat pada kursi, pelipisnya memar bekas tamparan supaya Salsabila bangun, sudut bibirnya sobek. Saat mereka sibuk menghitung uang tanpa disadari, segerombolan polisi masuk.

“Kamu bohong Bila!.” Bentak Fiko. “Ibu bilang kamu ke rumah Tari! Jam 9 kakak kesana, kalian ngak ada. Tari bilang kalian ngak kerumahnya!.” Fiko menatap Salsabila dengan pandangan yang sulit diartikan. “Ibu sama ayah besarin kamu bukan jadi pembohong! Kamu kalau diculik-” “Aku udah diculik kak.” Potong Salsabila. “Dengerin kakak dulu! Kebiasaan ngak menghargai orang ya!.” “Fiko! Sudah! Bila, kamu dengerin kakak juga!.” Ibu masuk ke ruang tengah dengan senampan tteh dan kue kering. Tadinya Salsabila langsung lari ke dalam kamar saat sampai di rumah, ia tahu Ibu dan Kakaknya akan sangat marah. Kemudian ia baru turun saat kakaknya menyusulnya sehabis dirinya mandi. “Ibu kecewa sama kamu Bila, kamu bilang ke rumah Tari, padahal kamu entah kemana, kamu pergi ngak salam, kamu keluar ngak pakai jilbab, mau kamu apa Salsabila Putri?.” Tanya sang ibu. “Aku itu ingin bebas bu! Kayak Azkia, ngak disuruh pakai jilbab dan semuanya.” Salsabila berusara. “Nak, pakai jilbab itu kewajiban, ayolah kamu berubah. Masa sudah mau enam belas kali ketemu Ramadhan kamu tetap belum menjalankan kewajiban sebagai muslimah?.” “Enam belas kali sejak aku lahir, baru empat kali sejak aku Baligh.” “Udah empat tahun kamu Baligh, belum mau pakai jilbab? Nak, pakai jilbab bukan menutupi diri kita dari trend masa kini.” “Iya bu iya, tapi-” “Sudahlah bu, biar Fiko yang tangani dia.”

Fiko dan Salsabila berada pada sebuah taman pribadi di samping rumah mereka. “Dik, kamu bener ngak mau pakai jilbab?.” Tanya Fiko. “Hm. Pakai jilbab panas kak.” Jawab Salsabila santai. “Mau ngak rambutnya kakak bakar?.” Tanya Fiko. “Ih, kakak gila ya? Masa rambut aku dibakar.” “Kenapa memang kalau dibakar?.” “Kepala aku bakal panas kakak!.” “Di akhirat bukan hanya kepala kamu nantinya, semuanya! Semua badan kamu bakal kena api, bukan Cuma kamu, Ayah , ibu sama kakak juga bakal kena, hanya gara-gara kamu.” Jelas Fiko. “Ayah? Bakal kena api neraka? Biarin aja kak, toh dia ngak peduli sama kita! Aku rela kak ngak pakai jilbab biar dia kena akibatnya juga!.” Pekik Salsabila. “Dik, bagaimanapun darah yang ada ditubuh kamu darah dia, bahkan kata ibu, kita berdua lebih mirip ayah.” “Dia laki-laki ngak bertanggung jawab kak.” Kata Salsabila ditengah-tengah tangisnya. “Sudah, kamu pakai jilbab ya, biar sama kayak ibu. Kamu tahu ngak, cermin jodoh kita itu diri kita sendiri?.” Salsabila menggeleng. “Kamu mau kan dapat jodoh yang baik, yang bisa jaga kamu di dunia maupun akhirat, ayo berubah jadi baik.” Ajak Fiko. Salsabila mengangguk.

Memang untuk Sholat Salsabila harus diajak dan dibujuk ibu maupun kakaknya, namun akhirnya menjadi terbiasa setelah kejadian berbulan-bulan itu. Tari juga awalnya sempat amrah pada Salsabila, namun akhirnya ia maafkan, bahkan Tari ikutan Hijrah dengan Salsabila.

“Besok mulai Ramadhan ya?.” Tanya Salsabila. “Iya Bil, oh iya, sahur pertama kalian mau makan apa?.” Tanya sang Iibu. “Hm, bila makan seperti biasa bu.” “Kakak?.” “Samain aja.” Jawab Fiko. Fiko bahkan masih memandang jendela dengan tak minat, ibu dan adiknya yang memunggungi pemandangan Fiko beralih kebelakang. “A…yah?.” gumam Salsabila. “Kak, dia ayah ya?.” Tanya Salsabila saat sang ibu dan laki-laki tadi berbicara berdua di ruang tengah. “Hm.” Jawab Fiko. “Kakak berat ngak kalau dia harus tinggal sama kita?.” “Ngak, Cuma kamu sama ibu bagaimana?.” Tanya Fiko. “Entahlah kak, belum ngerasain.” Jawab Salsabila.

Laki-laki yang mereka lihat sehari sebelum Ramadhan itu kini sudah berada dirumah mereka, bercanda dan tertawa saat sore hari menunggu buka puasa, awalnya memang agak canggung. Apalagi Salsabila yang masih belum terbiasa.

“Ayah, bangun sahur!.” Ajak Salsabila, memang untuk membangunkan orang sahur adalah tugas Salsabila sedangkan ibunya memasak. “Kak bangun.” Mereka kini berkumpul pada meja makan, memakan makanan mereka dengan lahap setelah berniat untuk puasa. “Tadi Bila manggil Ayah ya?.” Tanya lelaki itu. “Hm. Aku latihan semalaman.” Jujur Salsabila. “Maaf banget sama kelakuan ayah dulu, ayah tinggalin kalian-” belum selesai sang ayah bicara, Salsabila orang yang paling pertama menolak lelaki itu untuk masuk lagi menyela “Jangan bicara begitu ayah. Kami menerima ayah kembali berarti kami sudah memaafkan segalanya yang terjadi kemarin. Jadi hiduplah dengan tenang bersama kami sekarang.” Salsabila lalu menyodorkan gelas yang sudah diisinya air kepada ayahnya.

Salsabila kini yakin, hidup bahagia bukan dengan kebebasan, namun bersama bagaimana ia bisa menjadi seorang yang dapat menerima, memaafkan, dan bersama kembali dengan serpihan keluarganya. Ramadhan hari pertama mereka lewati dengan baik, dan semakin baik untuk ramadhan-ramadhan selanjutnya. Salsabila dan Fiko bahkan tidak lagi sulit memanggil orang baru dirumah mereka dengan sebutan ayah. Hingga akhirnya keluarga kecil itu, hidup berdampingan dengan bahagia.

Leave a Comment

Your email address will not be published.