Aldi yang Baik Bakti

Oleh: Fauzia Puji Astuti

11.39 WIB

Matahari tampak sangat gembira hari ini. Tidak seperti dua hari yang lalu, saat ia sedang meracau dengan langit sampai membuat langit menangis tersedu. Tampaknya hubungan langit dan matahari diatas sana sudah membaik. Matahari kini tengah tersenyum riang dari atas sana, memancarkan cahaya dengan kekuatan tak dikira-kira hingga menimbulkan fatamorgana di jalan raya.

Aldi mengipas-ngipaskan kertas tugasnya untuk mengusir panas. Sudah dua jam dia menunggu gilirannya untuk masuk ke ruang kemahasiswaan. Hari ini adalahh hari terakhir pengumpulan berkas permohonan beasiswa dan antrian mahasiswa yang hendak mendaftar sangatlah panjang. Jika saja Aldi mengantri dari tadi pagi mungkin sekarang dia sudah bisa duduk tenang, namun kuis akuntansi pagi ini tidak mengizinkan. Alhasil Aldi baru dapat mengantri dari pukul 09.30 WIB setelah menyelesaikan kuisnya.

Menunggu itu memang melelahkan. Padahal hal yang ditunggu Aldi saat ini  sudah pasti. Butuh banyak kesabaran untuk menekan ego dalam menunggu sesuatu. Bagi Aldi juga begitu. Sudah dua jam ia menunggu dan kini tinggal tiga  orang lagi sebelum gilirannya masuk ke ruang kemahasiswaan.

Tiba-tiba ada tiga mahasiswi berjilbab modis yang memotong antrian tepat di depan Aldi. Dengan lantang salah satu dari mereka berkata bahwa setelah ini adalah giliran mereka.Tentu hal ini membuat para mahasiswa lain yang mengantri sejak tadi merasa geram, begitu juga Aldi.

“Maaf mbak, harusnya mbak mengantri seperti yang lain” ucap Aldi.

“Mas, saya tadi diantriin sama teman saya. Iya kan Lan?” jawab wanita muda itu kepada Aldi. Yang ditanya hanya tersenyum tidak enak. Aldi tidak bisa berkata-kata. Di tengah kerumunan antrian yang masih panjang dan ruangan yang sudah  panas, kesabaran Aldi mulai menipis. Aldi dan mahasiswa lain dibuat kesal dengan kelakuan mahasiswi seperti mereka. Bisa-bisanya menjadikan teman sebagai dalih untuk memotong antrian?

“Maaf ya mas, bukannya saya mau memotong antrian. Tapi memang saya sudah diantrikan oleh teman saya ini” lanjut mahasiswi tadi. Lalu mereka mengantri dengan rapih dan tanpa merasa bersalah.

Aldi hanya dapat beristighfar. Tingkat kesabarannya sedang diuji saat ini. Semua orang sama-sama lelah. Hari ini adalah hari pertama di bulan Ramadan–bulan puasa, menjaga hawa nafsu dan kesabaran adalah hal yang diutamakan dalam berpuasa. Akhirnya Aldi mengalah. Lagi pula kegitan yang sia-sia jika energy Aldi digunakan untuk berargumen dengan wanita-wanita pemotong antrian tadi. Sudah biarkan saja, anggap saja sebagai uji kesabaran. Begitu pikir Aldi.

Satu jam kemudian Aldi dapat masuk ke ruang kemahasiswaan untuk mengumpulkan berkas. Tidak lama ia di ruangan itu. Setelah ditanya-tanya tentang ini dan itu, Aldi dapat keluar dengan lega. Padahal jika antriannya tidak dipotong, Aldi dapat masuk ke ruang kemahasiswaan sebelum pukul 12, tapi tepat sebelum Aldi masuk, pintu ditutup rapat dan dilabeli tanda istirahat makan siang. Alhasil Aldi harus kembali menunggu dengan hati yang masih beristighfar.

13.02 WIB

Saat hendak mengambil wudhu, telefon Aldi berdering, ada panggilan dari bapak.

“Waalaikumsalam, baik Pak. Aldi sudah mendaftar beasiswanya. Bapak ikut doakan supaya Aldi lolos ya pak” ucap Aldi. Tidak banyak yang mereka obrolkan. Aldi adalah anak rantau dan sudah hampir satu tahun dia tidak pulang ke kampung halaman. Tidak ada rindu yang lebih berat daripada rindu kepada sanak saudara di kampung halaman. Namun karna keterbatasan biaya dan waktu Aldi harus sabar menahan rindunya kepada keluarga dan berjuang di tempat rantau dengan baik demi masa depan nya dan masa depan keluarganya.

“Maaf ya nak, kiriman bulan ini terlambat lagi. Bapak gagal panen. Tidak semua terong di lading bagus. Banyak yang tumbuh kecil dan tidak bisa dijual” sesal bapak. Aldi tidak mempermasalahkan hal itu. Dikirimi uang tiap bulan saja Aldi sudah bersyukur. Tiap tahun Aldi mendaftar beasiswa agar biaya kuliah dan biaya hidupnya dapat tertutup, dan alhamdulilah selama dua tahun ini ia selalu mendapat beasiswa.

“Tidak apa-apa Pak. Aldi masih punya simpanan uang” jawab Aldi. Memang benar masih ada simpanan uang, namun tidak banyak. Aldi hanya ingin membuat keluarganya tidak terlalu khawaatir dengan kondisinya di tempat yang jauh dari mereka ini.

“Kamu hati-hati ya nak disana, kalau ada apa-apa jangan lupa kabari kami yang di rumah” pinta bapak, “Aldi jangan lupa sedekah juga ya nak. Walau harta yang kita punya tidak banyak, kita tetap harus membantu sesama. Ingat Aldi, sedekah itu bukan beban, tidak akan mengurangi rezki. Rezki itu asalnya dari Allah. Jangan lupa sedekah ya nak, insyaallah sedekah kamu nanti yang akan memudahkan jalan kamu di sana, di tempat rantaumu sekarang” pinta Bapak sebelum memutuskan sambungan telefon mereka.

Keluarga Aldi bukanlah keluarga yang agamis. Bapak dan mamak Aldi adalah seorang petani yang menanggung beban dua anaknya–Aldi dan adiknya yang masih kelas lima SD. Pengasilan seorang petani itu tidak besar. Dengan luas tanah yang pas-pasan Bapak Aldi mampu untuk menyekolahkan Aldi sampai tinggi bahkan adiknya pun dapat disekolahkan. Bapak Aldi selalu mengajarkan untuk bersedekah. Harta itu milik Allah, segala hal yang ada di dunia ini milik Allah. Bapak Aldi juga sering berpesan “Jangan boros, kalau bisa jangan membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkan. Tapi, jika Aldi ingin boros memblanjakan uangnya di jalan Allah dengan bersedekah, Bapak tidak pernah melarang. Saat lapang maupun sempit, Aldi jangan lupa bersedekah. Jika tidak mampu bersedekah uang, Aldi bisa bersedekah tenaga, atau bersedekah ilmu yang Aldi punya. Jika sangat sempit kesempatan yang dipunya untuk bersedekah, Aldi bisa menggantinya dengan shalat Dhuha. Insyaallah hajat Aldi akan terpenuhi dan belajar Aldi juga akan lancar” memang terdengar seperti ceramah dari seorang ustad, tapi petuah itu terlontar dari bapak Aldi yang menjadi dasar dan pondasi Aldi untuk tetap semangat menempuh pendidikan. Aldi tidak mau mengecewakan keluarganya, dan kegitan bersedekah ini menjadi kesibukan terbaik yang menguras waktu Aldi yang jika tidak digunakan akan sia-sia.

Aldi selalu menyempatkan untuk bersedekah. Jika ada uang lebih, ia tidak lupa mengisi kotak infak di masjid kampus. Satu sore dalam seminggu selalu Aldi abdikan untuk mengajar anak-anak di panti asuhan yang disokong oleh BEM kampus sebagai bentuk kegiatan sosial. Aldi juga tidak pernah sungkan atau merasa direpotkan saat ada teman atau adik tingkat yang meminta Aldi untuk mengajari mereka. Dan jika dibutuhkan, Aldi siap membantu orang lain dengan tenaganya. Itu semua adalah sedekah. Budaya yang selalu diajarkan dan ditanamkan bapak kepada Aldi dan adiknya.

14.17 WIB

Lagi-lagi gerah meliputi Aldi. Di luar sangat panas dan di dalam kelas sangat padat. Entah mendapat ide dari mana, dosen Ekonometrika kali ini menggabungkan dua kelas menjadi satu. Pendingin ruangan masih berfungsi dengan baik, namun kapasitas siswa yang padat membuat mereka saling berebut nafas, ruangan yang harusnya nyaman dan dingin menjadi cukup ramai dan lumayan panas. Aldi memeriksa isi dompetnya saat tengah mencari pulpen di dalam tas. Hanya tersisa tiga puluh lima ribu disana. Dua lembar uang sepuluh ribu, satu lembar uang lima ribu, empat lembar uang dua  ribu dan empat buah keeping lima ratus rupiah.

“Al, nanti buka puasa bareng yuk” celetuk Rizal. Aldi nampak berpikir sebentar, apa uang yang Aldi pegang saat ini dapat mencukupi hidupnya sampai datang kiriman dari bapak?

“Kapan-kapan lah Zal. Saya lagi ngga punya uang mau makan di luar” jawab Aldi.

“Kita buka bersama di rumah saya Al, sama teman-teman yang lain juga. Nanti sore kita masak bareng-bareng. Soal bahan makanan dan lain-lain di rumah saya sudah tersedia semua. Soal transportasi, kamu bareng saya saja. Nanti pulangnya bisa bareng Randy. Jangan nolak, lah. Rame-in acara ini Al, biar seru”

“Alhamdulilah. Makasih ya Zal. Saya kira kamu ngajak makan di luar. Kalau di rumah kamu mah saya ngga nolak” jawab Aldi jenaka.

15.39 WIB

“Zal, ashar dulu ya sebelum ke rumah kamu” ajak Aldi dan Rizal meng-iya-kan. Akhirnya rombongan mereka pun shalat ashar dahulu sebelum berangkat. Aldi menarik lembar uang lima ribuannya dan memasukkannya ke kotak amal setelah shalat dan berdoa agar studinya lancar dan keluarganya sehat.

Di pemberhentian lampu merah depan kampus ada aksi penggalangan dana untuk korban banjir yang baru-baru ini terjadi. Aldi menarik lembar uang sepulur ribuannya untuk diberikan kepada pengumpul dana yang berkeliling ke tiap-tiap pengemudi yang berhenti.

Sampai di rumah Rizal mereka langsung mengerjakan acara masak-memasak sesuai dengan tugas yang sudah dibagi. Setelah selesai masak-memasak, Ibu Rizal meminta tolong kepada Rizal dan Aldi untuk mengantar makanan ringan dan es untuk diserahkan ke masjid. Sudah menjadi tradisi di lingkungan Rizal, setiap bulan puasa tiap-tiap rumah akan mendapat giliran untuk menyediakan makanan dan berbuka puasa di masjid. Selepas adzan maghrib mereka menyantap makanan yang sudah mereka buat dengan lahap. Diawali dengan meminum es sirup yang dicampur mentimun dan selasih sambil menyantap gorengan yang mereka goreng sendiri, lalu sholat maghrib di masjid dekat rumah Rizal. Setelah makan besar berlauk ikan nila goreng yang disambel, tumis kangkung, temped an tahu goreng juga sambal terasi, Aldi dan yang lainnya bersiap untuk pergi terawih.

“Berbagi itu tidak mengurangi harta kita. Allah Ta’ala berfirman: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki . Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui” . (Al Baqarah (2) : 261)”

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki mahupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

“Dari dua dalil diatas, Allah menerangkan keutamaan dan mafaat bersedekah. Bersedekah itu tidak memandang derajat. Baik golongan berpendapatan rendah maupun yang pendapatannya jutaan rupiah bahkan miliyaran rupiah, kita wajib untuk berbagi”

“Allah, akan melipatgandakan pahala orang-orang yang bersedekah. Jika dalam bertransaksi, bapak dan ibu, beli baju, beli makanan, belanja keperluan sekolah, semua itu memerlukan uang. Jika uang yang kita punya digunakan hanya untuk konsumsi, maka sudah. Jika habis ya habis. Tapi, jika kita menyisihkan sedikit dan berbagi dengan yang lain, insyaallah akan Allah ganti, bahkan berlipatganda”

Aldi menyimak ceramah di masjid dengan khusyu. “Sedekah itu bukan perihal jumlahnya, bukan juga untuk ria, nauzubilah. Berbagilah, bersdekah, semampu dan sesering yang kamu bisa” ceramah diakhiri dengan doa dan dilanjutkan dengan shalat tarawih.

Selesai shalat tarawih bersama, Aldi dan yang lain duduk sejenak sambil berbincang ringandi teras rumah Rizal.

22.17 WIB

Ibu Rizal membawakan beberapa keresek berisi makanan ke depan rumah, Aldi dan yang lain hendak pulang kerumah.

“Ini ngga banyak, tapi jangan lupa dihabiskan. Bisa buat sahur juga. Hati-hati ya di jalan pulang” pinta Ibu Rizal.

“Terima kasih, tante” ucap kami serempak.

Sepulang dari rumah Rizal, Aldi berbaring di kasur kosan, bersiap untuk tidur. Beberapa hari kemudian, pengumuman beasiswa yang Aldi ikuti muncul. Aldi menjadi salah satu kandidat yang lolos seleksi dan uang beasiswa akan ditransfer tiga hari kemudian setelah pengumuman.

“Alhamdulilah nak, bapak ikut seneng kamu dapat beasiswanya”

“Iya pak. Sekitar dua minggu lagi Aldi pulang pak. Sekarang Aldi masih UTS, bapak doa-in Aldi supaya bisa ngerjain soalnya waktu ujian ya pak”

“Iya nak. Nanti kalau sudah mau pulang kabari bapak. Biar bapak yang jemput di stasiun”

“Iya pak”

Akhirnya Aldi pulang kampung juga. Kebaikan dalam berbagi tidak terjadi tepat setelah kamu berbagi. Setelah bersedekah, kamu tidak akan mendapat tujuh kali lipat balasannya secara langsung. Allah akan membalasnya dengan cara yang tidak pernah kamu kira sebelumnya. Tapi yang terpenting adalah, jika bersedekah, insyaallah tidak akan merasa kurang dalam hidup. Kuncinya itu dua, bersdekah dan bersyukur.

Leave a Comment

Your email address will not be published.