Batasan Kemampuan Ditentukan Manusia

Oleh: Satrio Luhur Pambudi

Seorang anak berkacamata duduk di kursi roda ditemani teh hanngat, angin pagi menusuk pada celah pori-pori kulitnya. Sambil menatap heningnya suasana pagi.

Suatu ketika, kakak datang menyapaku ketika aku sedang menatap bintang fajar.

’’Kamu sedang apa adik?’’ tanya kakak.

’’Aku hanya sedang melihat bintang fajar!’’ jawabku.

Lalu kakak perempuan yang bernama Layla itu menepuk dan mengusap bahuku.

’’Kamu sedang memikirkan sesuatu?’’ tanyanya sambil mengusap bahuku.

’’Jagad raya sangat luas yah kak? Berapa beras ukuran alam semesta ini?’’ tanyaku sambil melihat indahnya langit.

’’Mungkin sekitar 5 miliar lebih bintang berceceran dijagad raya ini, itu pun belum pasti. Oh ya, besok ada kontes robotika bukan? Apakah kamu ikut? Kamu kan anak yang pandai?’’ tanya kakak.

’’Iya kak.’’ jawabku penuh semangat.

Aku bergegas mandi dan setelah itu aku melanjutkan latihan untuk kontes robotika.Walaupun aku anak yang cacat, namun semangat belajarku tidak luntur sedikitpun. Waktu menunjukan pukul 14:00 WIB, aku pun pergi kerumah teman yang bernama Riyan. Dia adalah seorang pelajar SMA kelas 2, dia pandai ilmu astronomi,computer dan robotika. Ia juga sebagai patnerku dalam mengikuti kompetisi,kamipun berlatih bersama.

Suatu hari, ada sorang anak yang sangat pendiam dan lugu. Badannya kurus, pakaiannyapun  sederhana dan kotor,seakan sehabis memungut sampah. Ia ingin ikut dalam timku,dengan mengatakan

’’Menarik sekali,bolehkah saya ikut?’’ katanya.

’’Kau tiba-tiba dating dan langsung meminta ikut dalam tim kami, memangnya kamu siapa?’’ kata Riyan.

’’Bagaimana kita masukan saja dia ke tim kita? Siapa tau dia bias membantu kita. Lagi pula kita perlu 1 orang lagi untuk masuk kekontes robotika,masukan saja lah.’’ jawabku.

’’Kenapa harus dia? Kita rekrut orang lain saja!’’ kata Riyan.

Namun aku tetap merekrut anak pemulung itu, karena ketertarikannya pada dunia robotika sangat tinggi .Kesombongan Riyan menjadi meluap dan dia mengetes kecerdasan anak itu.

’’Coba kamu kerjakan tes IQ ini.’’ kata Riyan.

Anak pemulung itu mengerjakan tes IQ itu tanpa belajar terlebih dahulu, dan hasil tes IQ anak itu menunjukan angka 70.

’’Maaf, tapi kurasa kau tak punya keceerdasan yang tinggi untuk mengikuti kontes ini.’’ kata Riyan penuh kebanggan.

’’Jangan terpaku pada tes IQ, kemampuan perpikir seseoraang sangat mudah diruabah.Beri waktu anak ini belajar dalam waktu 3 jam,lalu cek kembali kemampuan anak ini apakah ada perubahan.’’ kataku

3 jam pun sudah lewat, anak pemulung itu kembali mengerjakan tes IQ itu lagi. Setelah selesai mengerjakan tes IQ itu, IQ-nya menunjukan angka 130 dan Riyan pun terpaku dalam diam.

’’Mungkin dia lebih cerdas dari pada kamu.’’ kataku membangunkan Riyan pada keterpakuannya. Setelah aku mengatakan hal itu,mereka saling berpelukan. Riyan pun meminta maaf kepada anak pemulung itu dengan rasa bersalah.

’’Saya memaafkanmu wahai sahabat,sejatinya manusia dimata Allah itu sama.’’ Kata anak pemulung itu.

Keesokan harinya, mereka bertiga mengikuti kontes robotika sebagai tim.Bayak lawan yang jago dan memiliki properti canggih.

’’Apakah kita bias memenangkan kontes ini? Banyak lawan yang mungkin jauh lebih unggul daari pada kita.’’ kata Riyan.

’’Yang terpenting dalam memenangkan kontes ini adalah keyakinan dan doa, lagi pula kita sudah latihan dengan sungguh-sungguh demi mengikuti kontes ini,insya allah kita akan menang.’’ kataku.

Singkat cerita, tim kami berhasil lolos menjadi juara 2 dengan score yang memuaskan. Walaupun juara 2 ,kami bersyukur atas kemenangan ini dan hadiah sejumlah uang Rp.7.000.000,00 kami bagi bertiga, lalu separuhnya kami sumbangkan ke masjid.

Leave a Comment

Your email address will not be published.