Ikhlas Beramal

Oleh: Herman

“Kalau kita susah masih ada yang lebih susah. Kalau kita kaya masih ada yang lebih kaya. Apa yang ada sekarang ini harus kita syukuri !” Kalimat tersebut terlontar dari seorang ibu muda bernama Anna. Dia  tinggal di ibu kota Jakarta. Menurutku sikapnya itu merupakan prinsif hidupnya. Kalau melihat pendapatannya sebenarnya tak seberapa apalagi tinggal di ibu kota yang serba mahal. Dia seorang ibu rumah tangga yang mempunyai seorang anak laki-laki baru berusia 3 tahun. Sementara suaminya hanya buruh bangunan. Dengan keadaan seperti itu dia bisa menyisihkan uang khusus untuk orang tak mampu/lebih susah darinya. Aku lebih kaget lagi setiap bulan suci Ramadhan dia sudah menyiapkan uangh sodakoh jauh sebelumnya. Sengaja dia lakukan karena pada bulan tersebut banyak pengemis yang melewati rumahnya.

Bulan suci Ramadhan adalah penuh berkah. Selama sebulan penuh dalam setahun di bulan tersebut hal-hal positif yang dilakukan akan mendapat pahala yang berlipat ganda daripada waktu-waktu yang lainnya. Sangat disayangkan jika umat Islam tak memamfaatkan momen tersebut secara optimal. Sebagai umat Islam tentu harus mampu menahan diri dari segala godaan-godaan, seperti: menahan emosi, bicara dan bertindak sembarangan. Banyak melakukan amal ibadah baik siang ataupun malam, malaikat akan mencatatnya sebagai kebajikan yang berlipat ganda.  Sebagai umat yang dermawan di bulan penuh berkah akan dicatat sebagai kebajikan yang berpahala besar. Segala yang diberikan tentunya dilakukan dengan ikhlas tanpa pamrih.

Anna seorang ibu muda tersebut sungguh perempuan solehah yang mengagumkan. Orang yang kalau diukur rata-rata pendapatannya termasuk miskin namun wawasan pengetahuan agamanya cukup dalam. Memang kekayaan bukanlah ukuran orang mengerti tentang agama. Tapi kalau dipandang secara logika orang yang hidup pas-pasan tentunya tak banyak waktu untuk belajar tentang agama. Aku sempat berfikir mungkin sebelumnya dia orang kaya atau setidaknya keturunan orang kaya. Setelah kukorek-korek dianya maupun keturunan tergolong orang yang hidup pas-pasan. Pengetahuan agama, pengetahuan tidak dimiliki orang tertentu. Hanya orang yang punya tekad kuat tentunya yang bisa menyerapnya. Seperti Firman Allah yang berbunyi, “Inna A’malu Binniyat- amal perbuatan seseorang tergantung pada niatnya.”

Di Jakarta kalau lagi bulan puasa para pengemis nampak sangat banyak. Mereka beroperasi di lampu2 merah, trotoal, jembatan layang, keliling pasar bahkan masuk ke konplek/ke perkampungan. Anna tinggal di gang- jalan kecil yang hanya cukup satu kendaraan motor. Di bulan tersebut para pengemis banyak melewatinya. Tak setiap pengemis yang lewat disantuni karena kemampuannya terbatas. Namun setidaknya satu atau dua orang ada yang diberinya hampir tiap hari. Dengan keikhlasannya tanpa basa-basi dia memberinya. Anna terkadang pula mengobrol dengannya. Kalau dengar ceritanya tentang pengemis tersebut memang membuat kasihan, iba. Salah satunya pengemis laki-laki yang nampak pincang dan penuh luka diperban. Katanya di kampungnya susah mencari pekerjaan. Dia mencari pekerjaan di Jakarta. Ketika sedang menunggu kendaraan ditabrak lari. Walau belum sembuh dia meninggalkan rumah sakit karena tak mempunyai biaya.

Awalnya apa yang diceritakan pengemis-pengemis Anna percaya saja. Tetapi belakangan diketahui bahwa pengemis-pengemis di Jakarta banyak yang berpura-pura. Pengetahuan Anna tentang perkembangan masyarakat di ibu kota terbilang minim. Televisi yang sudah rusak jarang sekali menyiarkan berita-berita. Tayangan-tayangan untuk tontonan anak  yang semata-mata diputar.  Sehari-hari dia menjadi ibu rumah tangga- memasak, mencuci, mengurus anaknya, dll. Untuk membantu pendapatan suami terkadang dia menyetrika pakaian di komplek perumahan yang tak jauh dari rumahnya. Reaksi terhadap pengemis yang berpura-pura dia tentunya kaget juga. Namun dia beramal kebajikan dengan mendermarkan sedikit rejekinya selalu dilakukan. Baginya, yang dia beri berpura-pura sengsara, miskin atau tidak bukanlah masalah. Yang terpenting niatnya ingin memberi kepada orang yang lebih susah darinya.

“Amar Ma’rup Nahi Mungkar, amal yang baik akan mendapat pahala yang jahat akan mendapat siksa.” Uang seribu rupiah disodakohkan dengan ikhlas pahalanya akan berlipat apalagi di bulan penuh berkah. Daripada beramal jutaan bahkan milyaran namun tak ikhlas, ada embel-embel dengan harapan. Yang sering terjadi sekarang banyak orang yang mempunyai kekakayaan, kedudukan memberi sesuatu dengan maksud tertentu. Mereka ingin mendapatkan imbalan, popularitas misalnya. Cukup banyak kita saksikan sumbangan-sumbangan orang terhormat dipublikasikan melalui siaran televisi. Dengaan ditayangkannya itu tentunya masyarakat pun akan mengetahui siapa dan berapa nilai uangnya yang disumbangkan.  Pemberian tersebut sering dilakukan pada bulan suci ramadhan. Padahal kalau mereka tulus tak perlu repot-repot mempublikasikannya. Allah Maha Tahu setiap tindak-tanduk umatnya.  Popularitas di dunia belum tentu dinilai sebagai kebajikan di akhirat.

Anna sang ibu muda yang hidupnya pas-pasan dia tak bercerita kepada siapa pun tentang yang diberikannya. Aku pun mengetahui sikap yang terpujinya bukan darinya tapi tetangganya yang kebetulan tak sengaja sering melihatnya. Tak lebih dari lima puluh ribu rupiah selama bulan Suci Ramadhan dia mendermakan uangnya. Bukan jumlah materi yang dinilai Allah SWT. Namun aku yakin karena ketulusannya Allah akan melapangkan rejekinya ketika masih di alam dunia. Pengetahuan tentang agama yang diimplementasi dalam kehidupan sehari-hari dia selalu mensyukuri nikmat yang Allah berikan. Suka duka, banyak rijeki atau tidak, sehat atau sakit dipasrakahnya kepadaNya. Keyakinan bahwa yang susah tentu ada yang lebih susah, yang kaya tentu ada yang lebih kaya karena memang apa yang dimiliki manusia tak selamanya langgeung. Hidup selalu berputar kadang di bawah kadang di atas.

Tentang pengemis-pengemis khususnya yang ada di Ibu Kota Jakarta banyak yang berpura-pura dan terlatih terutama menjelangkan dekatnya hari Raya Iedul Fitrie. Mereka ada kordinatornya dan sebelum sampai ke Jakarta mereka dapat pelatihan khusus. Pergi ke Jakarta seakan mau bermain drama. Ada yang berpura-pura cacad tubuh seolah kecelakaan maupun pembawaan, berjalan ngesod seakan tak bisa normal, banyak perban di salah satu tubuhnya  seakan ada luka besar, gaya bicara yang memelas, dll. Berbagai lakon ditampilkan untuk mengelabui para dermawan. Cara-cara tipu daya meminta-minta agar mendapat belas kasihan mereka lakukan. Sebenarnya mereka banyak yang muda-muda, kekar dan lincah untuk bekerja. Tetapi masa usianya tak dimamfaatkan dengan baik. Anna yang semakin mengetahui banyak kebohongan dari para pengemis hanya mengusap-ngusap dadanya sembari Istigfar.

Waktu terus melaju ibu muda tersebut ternyata memiliki bakat menyanyi dangdut. Berawal dari mengasuh anaknya dan anak orang lain sewaktu masih gadis lama kelamaan menjadi hobi menyanyi. Rupanya sewaktu mengasuh dia sering menonton siaran anak-anak bernyanyi. Tontonan yang digemari anak-anak mendorong dirinya ikut menonton dan menyanyi. Acara dangdutan di tempat hajatan dimana dia sering datang kondangan ke hajatan membuatnya sering bernyanyi sembari mengasuh anaknya. Lama kelamaan ia sering mengikuti kontes dan sering memenangkannya. Di kontes besar yang disiarkan di televisi swasta pernah masuk lima besar. Suaranya yang bagus dan cukup populer, dia pun sering dipanggil manggung. Job pun banyak bakan seringkali menolak tawaran show karena padatnya acara.

Anna tentunya telah menjadi orang kaya. Namun dia tak sombong. Dia tetap selalu merendah dan hidup sederhana walau sebenarnya hartanya banyak. Di sela-sela kesibukannya dia tak pernah ketinggalan menjalankan ibadah sholat lima waktu. Amal sodakoh banyak dia lakukan. Apalagi di bulan suci Ramadhan lebih dari 10 juta dia menyumbangkan hartanya. Allah memang Maha Murah Hati kepada umatnya. Sebelum ajal tiba Allah telah memberikan balasan rijki yang berlimpah atas perbuatan baiknya. Anna sesok ibu muda yang mendapat anugrah dari Illahi. Saat dirinya masih susah masih bisa berderma. Ketika menjadi orang kaya pun tak melupakannya. Dia beramal dengan penuh ikhlas jauh lebih besar jumlah hartanya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.