Berbagi Tak Boleh Pergi

Oleh: Septika Ariyanti

Sesaat lagi senja akan tiba, semburat mega telah terhampar indah di sepanjang langit. Aku masih mengayuh sepeda onthel dengan tergesa-gesa. Seharusnya aku sudah sampai di rumah dua jam yang lalu, tapi aku harus berurusan dengan teman sekelasku. Bisa dibilang hari ini aku sedang sial.

Dari kejauhan terlihat sosok ibu yang sedang berdiri di teras, celingak celinguk ke arah jalan. Aku yakin ibu pasti khawatir menunggu aku pulang. Segera ku kayuh sepeda dengan cepat.

Kringggg……kringgggg

“Ibu, aku pulang”.

Aku berteriak dan masih berada diatas sepeda. Ibu segera menghampiriku dengan wajah yang agak galak. Matanya melotot. Menarik sedikit dasternya dan berjalan cepat ke arahku.

“Darimana saja kamu, Aziiis!. Jam segini baru pulang. Ibu khawatir”.

Ibu berbicara cukup keras dihadapanku. Jujur aku agak takut dan tidak berani memandang wajah ibu. Aku memaklumi sikap ibu, karena beliau khawatir akan terjadi apa-apa padaku

“Ayo, masuk. Mandi dan ganti baju sekolahmu. Sebentar lagi sudah mau buka puasa”

Aku menuntun sepeda ku ke samping teras. Lalu masuk rumah lewat pintu belakang. Ku buka sepatu dan baju ku yang kotor bekas terkena tanah dan bergegas menuju kamar mandi.

Tak lama berselang setelah aku mandi. Kumandang azan telah terdengar di mushola yang tidak jauh dari rumah kami. Aku langsung bergegas menuju meja makan. Disana ada ibu dan adik perempuanku yang masih berusia 11 tahun mempersiapkan makanan untuk buka bersama.

“Mas, ayo, sini. Makanannya udah siap”. Adikku memanggil sembari megaduk kolak pisang yang ada di meja.

Malam ini, bapak tidak bisa ikut buka puasa dengan kami di rumah. Beliau sedang mengantar rombongan pengajian yang ada di kampung sebelah. Mungkin bapak akan sampai rumah setelah sholat tarawih selesai.

***

Pukul 06.40. Aku kaget melihat jam dinding. Segera aku loncat dari ranjang tempat tidur. Aku bangun kesiangan. Tidak biasanya aku bangun selambat ini. Hal ini terjadi karena setelah sholat Subuh aku tidur lagi. Badanku memang terasa lelah, jadi aku berpikir tidak akan ada masalah jika aku melanjutkan tidur setelah sholat.

Seketika aku ingat, ada masalah lain lagi selain aku bangun kesiangan. Baju seragam ku masih kotor, dan harus digunakan hari ini. Aku benar-benar tidak ingat untuk mencucinya. Sudah tidak ada waktu lagi untuk membersihkannya. Aku berpikiran untuk memakai seragam yang lain, tapi itu bukan seragam untuk dipakai hari ini. Aduh, aku panik sekali. Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak berangkat sekolah hari ini. Jika ibu bertanya. Akan kuberi tahu yang sebenarnya kenapa aku tidak pergi ke sekolah.

Karena hari ini aku sedang dirumah, aku segera mengerjakan perkerjaan rumah. Untuk mengurangi pekerjaan ibu. Mulai dari menyapu lantai, mencuci baju, menyiram bunga yang ada di teras, hingga memberi makan ikan-ikan peliharaan yang ada di kolam belakang.

Ketika aku sedang menjemur pakaian, terdengar suara motor ibu memasuki rumah. Ibu telah pulang setelah berjualan sayur keliling dari satu desa ke desa yang lain. Saat Ramadhan seperti ini, Ibuku pulang berjualan lebih awal agar bisa beristirahat.

Ibu mendapati aku sedang berada di samping rumah. Ia heran kenapa aku masih dirumah.

“Lho, Zis. Kamu tidak sekolah?”

“Iya, Bu. Seragam sekolah ku kotor dan aku lupa mencucinya kemarin sore”

“Sekotor apa seragam mu, Zis, sampai tidak berangkat sekolah?” Nada bicara Ibu agak meninggi

“Aku akan ceritakan ke Ibu. Ayo, kita ke dalam, bu”.

Aku dan ibu menuju ruang tamu. Kami duduk bersebelahan. Ibu sudah siap mendengar ceritaku

“ Jadi begini, Bu, ceritanya. Kemarin, ketika murid-murid yang lain sedang berada di masjid untuk melaksanakan sholat Dhuha, ada sekumpulan siswa sedang duduk-duduk di belakang sekolah. Tepatnya tidak jauh dari tempat pembuangan sampah. Di hadapan mereka terdapat beberapa botol air mineral dan juga beberapa bungkus jajanan. Mereka tidak berpuasa. Setiap waktu istirahat yang digunakan untuk sholat Dhuha, mereka segera menuju ke tempat ini”. Aku memulai cerita

“Lalu apa hubungan anak-anak itu denganmu, Zis?. Ibu memotong cerita ku

“Kemarin aku ditugaskan oleh guru untuk membuang sampah. Aku melihat mereka sedang makan-makan disana. Padahal, saat ini sedang Ramadhan. Aku mengatakan bahwa aku akan melaporkan ke guru kalau mereka tidak berpuasa. Aku tidak takut dengan mereka, meskipun mereka terkenal nakal di kelasku”

Ibu masih mendengarkan ceritaku dengan seksama

“Tanpa berpikir panjang, wali kelas kami pun memanggil mereka. Aku pun ikut serta sebagai saksi. Mereka mendapat surat peringatan untuk mendatangkan orang tua mereka ke sekolah akibat perbuatan mereka. Teman-temanku berusaha meminta wali kelas untuk tidak melaukan itu dan berjanji tidak akan mengulanginya, tetapi sia-sia”.

“Kok, ada ya anak-anak seperti itu”. Ibu merespon ceritaku. “Lalu, bagaimana kelanjutannya, Zis?”

Aku membenarkan posisi duduk ku. “Rupanya mereka dendam kepadaku, Bu. Ketika aku pulang sekolah, aku harus menuntun sepeda ku karena rantai sepedaku putus dan ban nya bocor. Ternyata, anak-anak itu telah menghadang ku tidak jauh dari gerbang sekolah. Jalan memang sudah sepi, dan ini kesempatan mereka untuk memarahi ku”.

“Apakah kalian berkelahi?. Ibu tidak bisa membayangkan kalau kalian berkelahi dan ketahuan oleh guru. Bisa-bisa ibu dipanggil ke sekolah”. Ibuku panik sendiri

Aku tersenyum mendengar komentar Ibu

“Tadinya kami hampir berkelahi, Bu. Salah satu dari temanku sudah menari kerah bajuku, tapi aku berusaha santai menghadapi mereka. Beruntungnya, ketika aku menengok ke arah gerbang, aku melihat kepala sekolah baru saja pulang dari sekolah. Beliau pulang paling akhir. Tanpa berkata-kata aku langsung menunjuk ke arah pintu gerbang kepada mereka yang siap memukulku. Mereka pun kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya mereka menjatuhkan ku ke tanah dan segera pergi”.

“Syukurlah kamu tidak kenapa-napa,Zis. Masih untung baju mu yang kotor”. Ibu berkata sambil mengelus dada.

“Iya, bu. Alhamdulillah”

***

Hari ini bapak akan buka bersama dengan kami. Ibu pun mempersiapkan makanan yang enak untuk kita semua. Aku tidak sabar menunggu bapak pulang.

Tidak lama kemudian, angkot bapak memasuki halaman rumah. Aku segera berlari ke dalam untuk memberitahu ibu dan adik bahwa bapak telah tiba. Kami pun bergegas menuju teras. Bapak datang dengan seorang remaja seusiaku dan itu cukup membuatku terkejut.

“Bapak, kok, bisa bertemu dengan Fandi. Bagaimana ceritanya?. Gara-gara dia hari ini aku tidak sekolah”. Aku berkata dengan nada kesal sembari menunjuk-nunjuk temanku.

“Zis, tenangkan dirimu. Bapak dan Fandi baru saja sampai. Bukannya disambut ramah malah kau kesal pada temanmu”. Bapaka berkata sembari menepuk-nepuk bahuku.

Aku pun agak menyesal berkata seperti itu, tapi aku sama sekali tidak bermaksud berkata kesal kepada bapak. Aku hanya kesal kepada Fandi

“Ayo, semuanya masuk, sebentar lagi sudah mau berbuka”

***

Setelah sholat Maghrib berjama’ah aku dan keluargaku, termasuk juga Fandi, segera bergegas menuju makan untuk menyantap makanan. Setelah kami duduk di tempat masing-masing, bapak mulai cerita bagaimana bertemu Fandi.

“Ketika di jalan menuju ke rumah, bapak melihat segerombolan preman sedang mengililingi Fandi dan suasana terlihat menegangkan. Jalan disitu memang jarang dilewati orang dan ini kesempatan mereka untuk beraksi. Lalu bapak menghampiri. Sebenarnya bapak takut juga kalau harus menghadapi preman, tetapi bapak khawatir terjadi apa-apa dengan Fandi”

Bapak menyeruput teh hangatnya dan akupun masih menunggu dengan kelanjutan cerita bapak

“Ternyata bapak telat, preman-preman itu segera kabur setelah tau bapak akan datang menghampiri. Uang Fandi pun sudah diambil oleh mereka. Bapak berniat mau mengantarnya pulang, tapi Fandi menolak karena dia tidak ingin buka puasa dirumah”

Aku ingin memotong cerita bapak, tapi itu tidak sopan. Aku tau kenapa dia tidak mau buka puasa di rumahnya sendiri, karena dia tidak berpuasa.

“Akhirnya, bapak ajak Fandi kerumah untuk berbuka. Ternyata orangtua Fandi sangat sibuk dengan pekerjaannya, sehingga jarang buka puasa dirumah”. Bapak menambahkan

“Iya, Zis. Aku tadi sudah bercerita tentang keluargaku kepada bapakmu. Awalnya aku senang, karena ada orang yang menolongku dari preman-preman dan juga menawarkan aku untuk makan bersama. Tetapi setelah tahu bahwa beliau adalah bapakmu, aku jadi malu sendiri, Zis”. Fandi bercerita tanpa menatap kami

“Fandi sudah cerita banyak tentang kejadian antara kalian berdua di sekolah. Bapak berharap ini semua bisa jadi pelajaran buat kita semua, khususnya buat Fandi. Jadilah anak yang lebih baik. Walaupun orangtuamu sibuk, kau harus tetap menunjukkan bahwa kau bisa jadi anak yang baik. Jika kau mau, kau bisa buka puasa disini dengan kami.  Menyenangkan bukan buka puasa bersama?” Bapak tersenyum

“Iya, pak, Alhamdulillah. Terimakasih sudah mau mengajak saya makan disini, sudah menolong saya. Dan untuk Azis, saya minta maaf karena sudah bersikap kasar kepadamu”. Fandi berkata ramah

Kami semua melanjutkan makan, setelah itu bersiap-siap untuk  melaksanakan sholat tarawih. Buka puasa hari ini, ku harap bisa jadi pembelajaran di masa depan khusus nya untukku, untuk selalu bisa berbagi dan berbuat baik dimanapu, kapanpun dan kepada siapapun seperti yang sudah diajarkan bapak.

Leave a Comment

Your email address will not be published.