Berkah di Bulan Penuh Berkah

Oleh: Ma’rifatul Hikmah

Sinar mentari sore hari memang sangatlah indah. Orang kota biasa menyebutnya dengan sebutan sunset. Bermain di tepi pantai saat sore memang menjadi kebiasaanku. Berlari bersama sahabat sambil mendengar deburan ombak menghantam dermaga menjadi kesenangan tersendiri bagiku. Melambai pada burung yang hendak kembali ke sarang mereka seolah kami diajaknya ikut terbang bersama. Jika bukan karena panggilan ayahku mungkin kami tidak ingat untuk pulang dan berbuka.

“Farkhah, ayo pulang cepat, waktu berbuka hampir tiba”. Seru ayah dari kejauhan.

“iya abi, farkhah juga akan pulang ini.” sambil berlari menghampiri ayah. Aku memang memanggil ayahku dengan sebutan Abi.

Kami pulang bersama ke rumah untuk berbuka. Ini adalah tahun pertama kami berpuasa tanpa kehadiran ibuku. Yah, memang rasanya ada yang kurang manakala bersahur atau berbuka yang biasanya bertiga degan ibu maka tahun ini hanya ada ayah dan aku. Ibuku meninggal tahun lalu saat aku masih duduk di bangku kelas empat sekolah dasar.

“Farkhah, tolong antarkan rantang ini ke mak sirah.” yah inilah rutinitas ayah setiap harinya apalagi di bulan Ramadhan ini. Beliau sangat gemar bersedekah.

“Iya abi.” Jawabku sambil melenggang pergi ke rumah mak sirah, si nenek janda di kampung ku.

Waktu berbuka telah tiba. Kami berdua berbuka dengan jamuan sederhana ala kadarnya. Tumis kangkung dan ikan hasil tangkapan nelayan. Lauk yang sama yang kami berikan pada mak Sirah.

**

Adzan isya’ telah dikumandangkan. Ayah bergegas ke mushola karena memang tidak ada masjid di kampung kecilku. Aku tidak berangkat bersama ayah karena teman seusiaku selalu menjemput untuk berangkat bersama.

Setelah sholat isya’ tiba-tiba hujan turun cukup deras. Aku sempat melihat ayahku berlari pulang ke rumah. Aku baru ingat kalau rumahku akan bocor jika turun hujan. Bukan hanya satu atau dua sudut yang bocor, melainkan sembilan sudut di Tempat yang berbeda. Aku tahu karena aku pernah menghitung baskom yang diletakkan ayah untuk menampung air hujan yang masuk ke dalam rumah.

Hujan sedikit reda ketika sholat tarawih selesai dikerjakan. Di ujung mushola, aku melihat ayahku Sedang menungguku dan mengajakku untuk pulang bersama. Sudah menjadi kebiasaan atau bahkan kewajiban kami untuk tadarus Al-Qur’an setelah sholat tarawih. Malam ini hujan turun lagi dan ayah kembali meninjau baskom-baskom itu.

“Abi, apa abi tidak capek ketika hujan datang abi selalu bergegas mengambil baskom.” Protesku sambil tetap memperhatikan ayahku. Namun ayah hanya tersenyum simpul ke arahku.

“Daripada abi setiap hari memberikan infak ke mushola, kenapa tidak ditabung untuk memperbaiki atap?”. Protesku sekali lagi. Namun ayah masih saja hanya tersenyum.

“Memang mushola dalam perbaikan bangunan tapi kan masih banyak orang yang lebih mampu dari kita abi, kenapa tidak biarkan mereka saja yang membantu perbaikan?.” Dan kali ini ayah menggiringku untuk duduk di ruang tamu.

“Farkha, apa farkha tidak ingat apa yang selalu umi ajarkan pada Farkha?”. Aku hanya menatap ayah dengan ekspresi bingung.

“Umi selalu mengajarkan untuk berbuat baik pada Semua orang.”Jawab sekenaku.

Ayah tersenyum penuh arti. Tapi aku tak dapat mengartikanya.

“Farkha, iya memang umi selalu mengajarkan untuk selalu berbaik hati. Dan jangan lupakan kalau umi sangat gemar sekali bersedekah.” kata Ayah selanjutnya.

“Bersedekah memang dapat berupa apapun. Bahkan senyum terhadap sesama muslim sudah termasuk sedekah. Tapi apa Farkha ingin melewatkan waktu sebaik-baiknya bersedekah yakni bulan ramadhan yang penuh berkah ini?.” tanya ayah padaku namun aku hanya diam membisu.

“Farkha, kita sudah memiliki rumah yang cukup nyaman. Apa hanya karna rumah yang bocor kau mengeluh seperti ini. Bayangkan ada banyak orang yang tinggal di jalanan yang kepanasan dan bingung mencari tempat berteduh ketika hujan. Sepatutnya kita bersyukur. Kita memiliki rumah di dunia, tapi apakah kita tau bahwa di akhirat nanti kita akan dijamin oleh Allah SWT. Mendapat rumah di Surga-Nnya?. Untuk itu ayah berusaha mendapatkan ya. Umi kan selalu menasehati Farkha dunia adalah tempat menanam dan akhirat adalah tempat memanen?. Insyaallah jika nanti ayah mendapat rezeki ,ayah akan memperbaiki atap nya. Tapi ayah tidak ingin kehilangan berkah bulan ramadhan.”. Jelas ayah . lalu ayah mengelus pucuk kepalaku. Dan dengan tatapan nya aku mengerti beliau berusaha memahamkannku.

Setelah percakapan kami tadi malam, aku berusaha mengerti perjuangan ayahku. Ramadhan tinggal tiga hari lagi. Dan kebiasaan ayah yang terus saja bersedekah tak pernah hilang. Dan ayah masih tetap mencari-cari baskom tempat tadahan air hujan. Dan ayah juga menyisikan uangnya untuk di tabung sendiri. Masih dalam bulan ramadhan, kami kedatangan tamu tak di kenal tapi untungnya ada pak RT yang menemani kami.

“Kami dari dinas pemerintah ingin menjalankan program yang di canangkan tahun ini. Pak, maksud kedatangan kami kesini adalah ingin meminta izin bapak untuk merenovasi rumah bapak. Di setiap desa kami merenovasi tiga rumah, dan bapak adalah salah satunya.” jelas tamu itu dengan sungguh – sungguh.

Dari mataku aku dapat melihat ayah menitikkan air mata, sambil menyalami mereka berucap terimakasih.

Leave a Comment

Your email address will not be published.