Keajaiban Ramadhan di Turki

Oleh: Wouda Fiorendita Karim

Walaupun sama ramainya, tapi nampak berbeda suasana Ramadhan di Indonesia dan di Turki. Ini adalah tahun pertama Karimah tidak di kampung halaman saat bulan Ramadhan. Perempuan berpawakan pendek, berwajah cantik yang kecantikannya bertambah karena tertutup niqab. Fahri yang baru saja meminangnya 2 minggu sebelum Ramadhan dan berhjrah ke Turki untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda selama ia mengurus pernikahannya di Tanah Air. Mau tak mau 1 minggu setelahnya  Fahri harus bergegas kembali dan otomatis Karimah mengikutinya.

“Assalamualaikumm..” ucap Fahri yan sudah berdiri di depan Karimah, perempuan itu Nampak terkejut akan kedatangan suaminya. Pemandangan laut biru yang amat indah tiba-tiba tergantikan oleh sosok laki-laki yang sekarang menjadi suaminya itu.

“Waalaikumussalam.. Ya Allah mas.. kamu mengagetkanku..”

Karimah menggeser posisinya dan memberikan Fahri ruang untuk duduk menatap langit biru. Ayunan kayu yang bergerak perlahan menopang keduanya, serta mawar yang tengah mekar menghiasi pagar teras atas serta beberapa tumbuhan lain yang sangat indah menjadi saksi atas sore yang indah ini.

“Kamu itu, dari tadi mas ucapkan salam tidak dijawab, malah sibuk bengong natap laut. Padahal suaminya lebih indah ketimbang laut” Fahri berucap dengan nada agak cemburu, padahal dirinya sedang mengerjai istrinya itu. Ia tahu bahwa istrinya tengah rindu kampung halamannya. Walaupun menurut Fahri, Karimah sering sekali keluar negeri untuk wisata dan mencari referensi tulisan dan desain busana. Namun, entah kenapa saat ini Fahri merasa, Karimah tengah merindukan kampung halaman.

“Maaf ya mas, aku Cuma kangen suasana di rumah aja, biasanya sambil menunggu buka puasa, mama, adek dan Karimah membuat menu untuk takjil kalau tidak, bersama ayah pergi ngabuburit ke masjid kota dan setelah sholat Tarawih kami baru mencari makan dan berbincang-bincang hingga bosan, walaupun tak ada bosannya..”

“Ooo… jadi ceritanya homesick nih, yaudah setelah Sholat Taraweh, ayo kita jalan-jalan. Sebelumnya maaf ya dinda, selama disini kita belum pernah jalan-jalan, Cuma mengantarkanmu ke supermarket untuk belanja kebutuhan sehari-hari”

“Ga boleh gitu mas, mas enggak salah kok.. kan memang seharusnya aku dirumah menunggu mas pulang, lagipula alasan mas enggak memeperbolehkanku keluar sendirian juga demi kebaikan bersama kan”  Memang sifat pengertian yang Karimah utarakan membuat Fahri jatuh cinta kepada istrinya itu.

Fahri mengajak Karimah masuk kedalam rumah karena udara bertambah dingin dan sudah hampir memasuki waktu berbuka puasa. Seusana rumah yang minimalis dengan perkakas gaya modern dan seadanya membuat ruangan dirumah ini terlihat luas, terlebih cermin besar yang di letakkan ruang tamu yang hanya diberi sedikit sekat dengan ruang bersantai, karena menurut Fahri jarang sekali mereka menerima tamu. Kebanyakan teman Fahri akan mengajaknya makan di luar jika ingin bertemu, tapi tak jarang datang juga kerumah beramai-ramai.

Karimah menghidangkan seluruh makanan yang dibuatnya ke maja makan. Hanya makanan sederhana dan cukup untuk mereka berdua. Nasi yang menjadi hidangan pokok tak luput dari meja makan itu. Kurma dan manisan buah zaitun terhidang di dalam cawan kecil yang porsinya pas untuk mereka serta buah segar seperti anggur, apel, dan jeruk tersedia di dalam keranjang buah. Setiap hari buah dan kurma merupakan santapan wajib untuk Karimah dan Fahri, Karimah selalu membeli buah yang cukup untuk 1 minggu disaat berbelanja mingguan. Serta sup kepiting yang yang masih mengepulkan asap sangat menggoda untuk di jamah.

Fahri selalu terkagum-kagum dengan istrinya ini, dia begitu piawai dalam memasak makanan dan tentu saja rasanya tak kalah tandingannya dengan yang ada di restaurant ternama. Dini hari, Karimah selepas sholat tahajud dan bermunajad, ia membangunkan suaminya yang masih terlelap untuk sholat tahajud, kadang tanpa dibangunkan Fahri sudah bangun terlebih dahulu disaat istrinya masih sholat. Selepas itu, ia langsung bergegas ke dapur dan memasak untuk sahur. Sering kali Fahri mengatakan agar sekalian saja masak di sore hari, dan hangatkan lagi di dini hari untuk sahur. Dan Fahri ingat betul jawaban Karimah yang halus dan membuatnya terharu.

“Maaf mas, bukannya Karimah menolak permintaan mas, Karimah ingin selalu menuruti apa kata mas, tapi mas hampir setengah hari memanfaatkan waktu untuk bekerja, sehingga tidak baik Karimah menghidangkan makanan semalam, akan lebih baik menghidangkan makanan yang masih segar dan baru saja di buat bukan?”

Kala itu Fahri tak henti-hentinya mengucapkan syukur atas apa yang telah Allah berikan kepadanya, Ia selau berdoa semoga mereka berdua menjadi pasangan dunia dan akhirat.

Setelah tuntas sholat taraweh di rumah dengan sangat kusyu, Fahri dan Karimah pergi mengendarai mobil karena jarak yang di tempuh lumayan jauh. Di dalam mobil tak henti-hentinya Karimah bertanya tempat apa ini dan itu, sehingga membuat Fahri sedikit kualahan dan tertawa, karena ia merasa dirinya sedang menjadi pemandu wisata untuk anak usia 5 tahun. Tapi memang benar, Karimah tergolong masih muda untuk menikah, 20 tahun sedangkan Fahri berumur 27 tahun.

“Nah sampailah kita di pasar malam yang hanya ada di bulan Ramadhan. Ramai kan.. banyak juga turis mancanegara yang datang kemari hanya untuk mengunjungi pasar malam ini, karena memang hanya 1 tahun sekali. Jadi sangat sayang kalau dilewatkan” ucap Fahri menjelaskan

“Wahh… Mas, ayo kita beli ice cream.. tiba tiba disini aku sangat lapar” ucap Karimah yang sebenarnya memiliki hobi makan. Permintaanya disambut Fahri dengan gelak tawa. Suasana yang amat sangat ramai membuat Fahri merangkul Karimah sembari berjalan menuju kedai ice cream yang terkenal kelembutannya.

Selain ice cream, dia membeli banyak sekali kudapan kecil, Fahri hanya menuruti semua keinginannya. Disaat mereka duduk dan menghindar dari keramaian, ada seorang anak kecil yang dari kejauhan melihat Karimah memakan ice cream dan kebab. Karimah yang merasa dirinya di pandang lalu memandang anak itu dan menghampirinya. Karimah menawarinya kebab yang yang masih terbungkus itu, anak itu dengan malu menolak pemberian Karimah, sampai akhirnya Fahri datang dan berkata kepada anak itu untuk mengambilnya saja karena mereka berdua sudah kenyang, dengan bahasa Turki.

Anak laki-laki bertubuh kecil kurus dan terbalut jaket yang sudah lusuh berterima kasih banyak kepada Karimah dan Fahmi, lalu ia berlari menuju tempat yang tak jauh dari lokasi itu. Fahri dan Karimah mengikuti anak itu hingga ke taman bermain yang ada di sebrang jalan. Karimah mengkode Fahri untuk jangan terlalu mendekat, dari kejauhan tampak terlihat anak itu sedang memberikan kebab kepada seorang anak perempuan dan seorang lagi anak laki-laki yang umurnya lebih muda dari anak kecil tadi. Tampak jelas di bawah perosotan dengan beralaskan kardus anak itu membagi dua kebab dengan sama rata.

Karimah yang melihat itu sudah meneteskan air mata, tangannya menggenggam erat tangan Fahri. Hati mereka terenyuh melihat pemandangan tersebut. Fahri mengkode Karimah untuk menghapus air matanya dan menghampiri ketiga anak kecil itu. Dengan cakap menggunakan bahasa Turki, Fahri bertanya keadaan ke tiga anak tersebut. Kemana orang tuanya dan kenapa bisa ada disini malam-malam.

Anak Pertama yang bernama Husein mengatahkan bahwa mereka hilang dan tak tahu arah jalan pulang. Fahri sempat menanyakan rumahnya di daerah mana, namun Husein menjawab dengan ragu, sedangkan Karimah sudah asyik bermain dengan adik Husein yang bernama Azzahra dan berumur sekitar 3 tahunan serta Hamdi yang berumur 8 tahunan. Walaupun tak mengerti mereka berbicara apa tapi pemandangan itu layak di sebut sebagai pemandangan seorang keluarga kecil yang tengah bahagia.

Dengan memasang muka melas kepada Fahri, Karimah meminta Fahri untuk membawa mereka pulang. Namun, Fahri mengatakan bahwa tidak boleh sembarang orang membawanya apalagi mereka berdua yang merupakan pendatang. Namun apa daya, Fahri juga tidak tega terhadap mereka bertiga terlebih terhadap Karimah yang sangat menginginkan seorang teman disaat Fahri bekerja. Akhirnya Fahri menawarkan mereka untuk tinggal di rumah untuk sementara waktu, dan mencarikan dimana tempat tinggal ketiga anak itu. Dengan senang hati tawaran itu di terima oleh Husein. Husein memeluk Fahri dengan sangat erat, dengan berlinang air mata tak henti-hentinya Husein mengucap kata terima kasih. Karimah memeluk Azzahra dan Hamdi dengan sangat erat. Walaupun umur mereka tergolong masih kecil, namun mereka juga ikut menangis mungkin karena melihat kakaknya Husein menangis.

Sudah hampir 1 minggu ke tiga bersaudara itu tinggal di rumah Fahri dan Karimah, kehadiran mereka bertiga membuat suasana rumah semakin menyenangkan. Sementara Fahri terus meminta bantuan polisi untuk mencari dimana rumah ketiga anak itu. Teman-temannya pun tak luput untuk membantu Fahri.

Di hari minggu yang cerah disaat keluarga kecil itu tengah menikmati piknik kecil di halaman belakang rumah, Fahri mendapat telepon dari atasannya. Dengan cepat dia menjawab telfon tersebut. Atasannya yang bernama Mohammad Hasan tersebut mengatakan bahwa ia ingin mendatangi rumahnya sekitar pukul 9 malam karena penasaran dengan 3 anak yang kini sedang diasuh oleh Fahri dan Karimah. Dengan senang hati Fahri memperbolehkannya, sedangkan Karimah yang di beritahu akan hal itu, langsung bersiap-siap untuk menjamu atasan suaminya. Cemilan ringan ia siapkan dengan sanat cepat dan cekatan.

Tidak membutuhkan waktu lama, semua kudapan terhidang diatas meja tamu, dan selang 10 menit setelah Karimah menata meja tamu, Hasan datang dengan laki-laki yang seumuran dengan Fahri bernama Ali. Fahri menyambut keduanya dan mempersilahkan duduk serta menyuruh Karimah untuk memanggil anak-anak tersebut. Sebelum Karimah masuk dan memanggil ketiga anak itu, mereka sudah berlari dan memeluk Ali dengan sangat erat.

“Dady…” teriak Azzahra yang terlihat sangat antusias. Zahra langsung datang kepangkuan ayahnya. Tampak Ali menciumi anak kesayangannya itu dengan penuh cinta, tak lupa Husein dan Hamdi yang bergantian memeluk Ali dan Hasan.

Tampak raut bahagia terlihat dari keluarga yang sempat terpisah. Karimah dan Fahri hanya menyaksikan keluarga itu dan ikut bahagia melihat pemandangan tersebut. Sampai-sampai Karimah meneteskan air mata bahagia. Ali meminta Azzahra untuk duduk di pangkuan kakeknya, Ali beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Fahri sebagai tanda terima kasih.

“Terima kasih banyak, karena kamu sudah merawat ketiga anakku. Saya tidak tahu apa yang terjadi jika kamu tidak membawa mereka tinggal bersamamu” ucap Ali dengan deraian air mata.

“Terima kasih kembali.. jika bukan karena istri saya yang meminta keluar malam itu, saya tidak akan bertemu dengan putra-putri anda” Tak juga Ali berterima kasih kepada Karimah yang sudah memperlakukan ketiga anaknya selayaknya anak sendiri. Mereka berbincang-bincang hingga larut malam, sampai-sampai Azzahra yang sedang bermain dengan Karimah, tertidur di pangkuan Karimah.

“Nampaknya mereka sangat nyaman berada disini, terlebih Azzahra yang sudah ditinggal ibunya disaat masih kecil karena perceraian, Fahri kamu harus senantiasa bersyukur mempunyai istri seperti Karimah.” Hasan mengucapkannya dengan sangat tulus, Fahri hanya tersenyum dan berterima kasih atas sanjungan itu. Semenjak itu hubungan antara keluarga Hasan dan Fahri terjalin sangat baik. Hasan menganggap Fahri sebagai anaknya, dan Ali menganggap Fahri sebagai adik kandungnya.

Bahkan Ali menawarkan tiket liburan ke Eropa bersama keluarga besarnya, namun Fahri menolaknya dengan lembut, dan dia berkata masih ada pekerjaan di kantor yang menumpuk, dan Hasan menanggapi bahwa dia memberikan libur untuk Fahri, Fahri tetap menolaknya, karena ia berpikir jika ada waktu libur, ia akan menggunakannya untuk pulang ke Tanah Air. Karena hal itu Ali mengubah liburannya ke Indonesia sekalian  mengunjungi keluarga Fahri dan Karimah.

Inilah keajaiban di bulan Rmadhan, disaat kita berbuat baik ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberikan sesuatu hal yang tak pernah kita duga.

Leave a Comment

Your email address will not be published.