Derma

Oleh: Hari Dwi Safira

Aisyah Salsabila. Ya, itulah nama dari seorang gadis kecil yang sedang bermain ayunan disebuah taman bermain. Iya bermain dengan seorang anak laki-laki yang bernama Farhan Assyabil. Aisyah dan Farhan memang bertentangga, jadi tidak heran kalau mereka bermain bersama. “Farhan, tahun ini mau puasa ?” Tanya Aisyah kepada Farhan yang sedang asyik membangun istana pasir. “In Syaa Allah.” Jawab Farhan singkat.

“Kalau begitu aku juga puasa deh.” Ucap Aisyah seraya bangkit dari ayunan. “Emang tahan sampai Maghrib ?” tanya Farhan tanpa menoleh. “Iiiih Farhan kok gitu sih, dukung Aisyah dong. Kenapa malah ngomong gitu ?” Jawab Aisyah dengan mata yang berkaca-kaca. Melihat hal itu, Farhan langsung bangkit dari permainannya dan membujuk Aisyah. “iya aku dukung Aisyah kok.” Bujuk Farhan dengan sedikit takut, karena ia tidak bisa melihat Aisyah menangis.

“Yaudah kita pulang yuk, udah sore.” Ajak Farhan seraya menuntun Aisyah. Aisyah masih berumur 7 tahun sedangkan Farhan sendiri 9 tahun. Jadi saat ini, Aisyah baru duduk di kelas 1 dan Farhan kelas 3 SD. Jadi mereka masih bebas untuk bermain dan pegangan tangan. Tapi hebatnya, mereka sudah tahu batasan-batasan antaran laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. MasyaAllah.

Setelah berjalan sekitar 10 menit, akhirnya mereka sampai dirumah. “Assalamu’alaikum.” Ucap Aisyah. “Wa’alaikumussalam, udah pulang ? Makasi ya, Farhan udah nganter Aisyah. Ayo masuk dulu.” Ajak Bunda kepada Farhan. “Iya bun, besok aja saya mampir, sekarang udah sore. Takut Mama nyariin Farhan.” Jawab Farhan sopan. “Ooh, yasudah. Terimakasih ya Farhan. Hati-hati.” Ucap bunda lembut. “iya bunda, Assalamu’alaikum.” Pamit Farhan. “Wa’alaikumussalam.” Jawab Bunda dan Aisyah.

“Aisyah langsung mandi ya, terus bantuin Bunda masak.” Pinta Bunda kepada Aisyah. Aisyah mengangguk tanda mengerti. Kemudian ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihlkan diri dan mengganti pakaian, Aisyah langsung menuju ke dapur. “Bunda, udah cantik belum ?” Tanya Aisyah dengan polos. Bunda yang mendengar hal itu tersenyum kemudian menjawab, “Iya, putri Bunda udah cantik kok, cantik banget malah.” Seraya mengusap pucuk kepala Aisyah.

Mendengar hal itu, Aisyah hanya tersenyum lebar yang memperlihatkan giginya yang ompong. “Bunda, Bunda. Tahun ini Aisyah mau puasa ya ? Boleh, kan ?” Tanya Aisyah dengan wajah yang memelas. Ia berpikir Bundanya tidak akan mengizinkannya untuk berpuasa. “Kalau Aisyah mampu, kenapa enggak ?” Jawab Bunda dengan tulus seraya melirik Aisyah. Mendengar hal itu Aisyah langsung berteriak kegirangan. Melihat hal itu, bunda hanya bisa tersenyum melihat putri kecilnya itu.

Tidak terasa, bulan Ramadhan tinggal menghitung hari. Sekarang saja sudah diadakan sidang Isbat untuk menentukan awal Ramadhan. Ayah Aisyah pun sudah standby didepan televisi untuk menantikan hasil sidang itu. Setelah menunggu agak lama, akhirnya sidang Isbat pun diumumkan. “Bagaimana Yah, kapan mulai puasa ?” Tanya Bunda kepada Ayah yang sudah mematikan televisi dan menuju ke ruang makan untuk makan malam bersama Bunda dan kedua anaknya. “Alhamdulillah, lusa udah mulai puasa Bun.” Jawab ayah seraya menarik bangku dan duduk disana.

Mereka bertiga serempak membaca Hamdallah ketika mendengar hal itu. Setelah selesai menikmati makan malam bersama keluarga, kini mereka duduk di ruang keluarga untuk mengisi kekosongan yang ada. “Ayah, ayah Aisyah besok bakal puasa lo.” Ucap Aisyah tiba-tiba dengan nada semangat. Mendengar hal itu sang Ayah mengelus pucuk kepala Aisyah yang ditutupi oleh kerudung seraya berkata, “Alhamdulillah, semoga bisa sampai akhir ya.” Ucap Ayah. “Dek, Abang janji, kalo bisa puasa sampai akhir Abang bakalan kasih hadiah spesial buat Adek.” Abang juga ikut berbicara. Mendengar hal itu dari Ayah dan Abangnya, Aisyah semkain bersemangat untuk melakukan ibadah puasa.

Akhirnya, hari besok adalah hari pertama puasa. Jadi, malam ini merupakan tarawih pertama yang akan dilakukan. “Ayo Bun, cepetan. Entar telat.” Ucap Ayah. “Iya, Yah. Ini juga udah siap kok.” Jawab Bunda. Setelah berkumpul, akhirnya Aisyah dan keluarga berjalan menuju Mushalla yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sesampainya disana, Bunda memlih shaf yang ditengah. Karena memang shaf itu masih kosong. Setelah sholat Isya’ dan tarawih selesai, Bunda dan Aisyah langsung pulang kerumah, sedangkan Ayah dan Abangnya Aisyah yang bernama Rasyid diam di Mushalla untuk tadarrusan.

“Aisyah nanti bangun ya makan sahur.” Ucap Bunda ketika sudah sampai dirumah. “Bunda aja ya yang bangunin Aisyah. Aisyah kan nggak tau makan sahur jam berapa.” Jawab Aisyah dengan polosnya. Mendengar hal itu, Bunda hanya terkekeh seraya mengusap pucuk kepala Aisyah. “Yaudah, Aisyah tidur ya. Biar nanti nggak telat makan sahurnya.” Ucap Bunda lembut. Aisyah mengangguk dengan semangat, ia pun langsung menuju kamarnya.

“Aisyah, ayo Nak bangun. Makan sahur.” Ucap Bunda seraya mengguncangkan tubuh Aisyah. Aisyah hanya menggeliat dan masih menutup matanya. “Ayo Nak, nanti Imsak lo. Nggak dapet sahur.” Ucap Bunda lagi. Akhirnya, Aisyah pun bangun dengan malas. Ia langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah itu, mereka makan sahur dengan nikmat. Setelah selesai, mereka membaca Alqur’an untuk menunggu waktu Subuh.

Keesokan harinya, Aisyah terlambat bangun. Memang hari ini libur sekolah. Jadi, Aisyah bisa tidur sepuasnya. Namun, Aisyah berpikir itu pasti tidak baik untuk kesehatannya. Maka, Aisyah memutuskan untuk bangun dari tidurnya yang nyenyak. Dengan langkah gontai, ia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri kemudia mengganti pakaiannya. Setelah itu, ia kemudian menghampiri Bunda yang sedang duduk di ruang keluarga. “Bundaaaaaaa.” Panggil Aisyah dengan sedikit berteriak sehingga membuat Bunda sedikit terkejut.

“Astaghfirullah, Aisyah. Kaget Bunda.” Ucap Bunda. Aisyah hanya tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang ompong itu. “Bunda, nanti mau masak apa ?” Tanya Aisyah dengan seidikit menyelidik. “Banyak.” Jawab Bunda singkat. Aisyah hanya ber-oh ria. Setelah melewati siang yang terik dan sore yang sedikit panas, kini saatnya untuk memasak makanan berbuka. “Waaaaah, Bunda masak banyak banget. Ini siapa yang akan habisin ?” Tanya Aisyah dengan mata yang tidak beralih dari makanan. “Ya ini dibagi dong.” Jawab Bunda lembut. “Dibagi ke siapa, Bun ?” Tanya Aisyah. “Ya, ketetangga kita dong, kan kita punya banyak tetangga. Jadi, harus tetap berbagi.” Jelas bunda kepada Aisyah. Aisyah mengangguk nurut.

Akhirnya, Aisya ikut Bunda untuk membagikan makanan yang dimasak Bunda ke para tetangga. Tentu saja, Farhan juga ikut mendapatkan makanan dari Bundanya. Karena rumah Aisyah dan Farhan hanya berjarak 2 rumah. Dengan sopan Bunda menyapa satu per satu tetangga dan memberikan makanan itu. setelah selesai membagikan makanan, Aisyah dan Bunda langsung pulang ke rumah.

Di rumah Ayah dan Abang sudah pulang ke rumah. Mereka menunggu azan Maghrib dengan bercerita. Tidak terasa 10 menit lagi berbuka puasa. Mereka pun langsung menuju meja makan untuk menunggu Azan Maghrib. Setelah menunggu, Bedug pun ditabuh menandakan Adzan Maghrib dan waktu berbuka puasa.

Leave a Comment

Your email address will not be published.