Dermaku di Balik Bulan Berkah

Oleh: Iis Anjarwasih

Alunan doa senantiasa mengiringi langkah pijakan hari. Seberkah cahaya memberi ketenangan dan wajah baru di bulan yang penuh berkah ini. Begitupun yang dilalui anak-anak Madrasah Ibtidaiyah ini. Mereka berinisiatif untuk membantu orang lain, terutama anak yatim yang tak seberuntung mereka. Mereka hanyalah segelintir anak-anak yang tak kenal kata lelah. Hanya sedikit yang mereka lakukan, tetapi tak menghalangi besarnya semangat mereka. Sedikit demi sedikit yang mereka kumpulkan. Hujan panas tak menghalangi untuk berbuat kebaikan, apalagi berbagi.

“Ridho, kemana kamu akan pergi?”

“Ahmad, sesuai rencana kita, kegiatan ini akan dimulai dengan mengumpulkan rupiah. Selain menyisihkan uang saku, kita juga harus mengumpulkan dana dari teman-teman.”

“Iya, itu yang bagus. Ayo mulai sekarang !”

“Siap.”

Ridho dan Ahmad adalah bagian dari anak-anak yang berhati besar. Mereka rela menyisihkan uang saku, tenaga, waktu, dan pikirannya untuk berbagi. Walau mereka masih kecil, tetapi semangatnya luar biasa, bahkan tak pernah kalah dengan keadaan. Hidupnya di perbatasan, tetapi semangat dan pemikirannya tidak pernah terbatas. Mereka tidak sendiri, karena selalu ada teman yang juga membantunya. Hal utama yang menyebabkan mereka berinisiatif seperti itu, karena mereka sadar dan yakin bahwa berbagi adalah keberkahan dan yang paling utama.

Hari ini, mereka akan mulai mengumpulkan uang dari teman-teman sekolahnya untuk anak-anak yatim. Respon dari teman-teman maupun guru sangat positif, bahkan mendukung kegiatan tersebut. Namun, ada beberapa yang tidak suka bahkan mengejek kegiatan tersebut.

“Kegiatan apa ini?”, tutur seorang yang tidak suka dengan kegiatan tersebut.

“Apa tadi kamu tidak mendengarkan dengan baik?” Timpal Ahmad.

“Apa yang kau katakan? Aku mendengar ya, aku tidak terima. Aku tidak mau menyumbang.” Ungkap Putra, teman yang tidak peduli dengan orang lain.

“Kalau tidak mau ya sudah tidak apa-apa, jangan dibuat susah. Kami tidak bermaksud memberatkan apalagi menyusahkan, bukan begitu?” Bijak Ridho.

“Iya, baiklah-baiklah. Ini ambillah,” ujar Putra.

“Jika tidak mau ya tidak usah nyumbang. Ini ambillah! Kami hanya menerima sumbangan dari teman-teman yang tulus dan ikhlas,” tutur Ahmad yang mulai tidak sabar.

“Apa maksudmu? Ya sudah jika tidak mau, kembalikan uangku lagi!”

“Putra, ambillah uangmu kembali. Kami tidak ingin memaksa siapapun. Apapun yang kami kumpulkan adalah untuk kebaikan, kami tidak ingin ada unsur paksaan. Ahmad, mari kita melanjutkan perjalanan.”

“Iya, mari kita pergi.”

Akhirnya Ridho berhasil mengajak Ahmad pergi dari sana. Setelah beberapa menit terjadi perdebatan dengan temannya, Putra. Memang ini bukan kali pertama yang dialami Ahmad dan Ridho. Beberapa kejadian yang hampir sama juga pernah terjadi, terutama jika masuk ke ruang kakak kelas.

Sepanjang perjalanan ke kelas, Ahmad dan Ridho saling berpendapat mengenai tanggapan teman-temannya dalam menyikapi rencana mereka.

“Ridho, kamu yakin rencana kita akan berhasil?”

“Kenapa tidak?”

“Teman-teman banyak yang tidak peduli.”

“Kenapa kamu berpikir seperti itu? Yakinlah, semua ada prosesnya. Mereka pasti akan sadar dan terketuk hatinya untuk berjuang bersama kita.”

“Baiklah, semoga benar seperti itu. Semoga mereka mau dan ikhlas membantu.”

“Amin.”

Kemudian mereka masuk kelas dan beraktivitas seperti biasanya. Mereka biasa datang ke kelas-kelas lainnya untuk melancarkan “rencana peduli” pada jam istirahat, jadi mereka bisa fokus belajar. Mereka sudah melakukannya dari kemarin, dan rencana akan memberikannya kepada yang berhak dalam dua hari ke depan. Kegigihan dan kerja keras mereka akan terbayar dengan segera. Demikian, proses perjalanan mereka untuk berbagi.

Dua hari kemudian, mereka pergi ke suatu panti asuhan. Mereka bermaksud menyampaikan hasil kerja kerasnya selama beberapa hari kemarin. Mereka juga mengadakan buka bersama dengan anak-anak yang ada di sana. Selain mereka sering mengajak anak-anak belajar bersama sejak kemarin-kemarin.

“Assalamu’alaikum…”, ucap Ahmad dan Ridho dengan sopan.

“Wa’alaikumsalam…”, jawab seorang ibu dari suatu tempat yang kami kunjungi.

“Permisi bu.”

“Iya Nak, silahkan masuk.”

“Begini bu, saya, Ahmad dan teman-teman ingin menyampaikan sedikit keberkahan di bulan ini bu. Seperti  rencana yang kemarin telah kami sampaikan kepada ibu.”

“Iya Nak. Ibu mewakili pengurus dan anak-anak yang ada disini, mengucapkan banyak terima kasih. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua.”

“Amin.”

“Iya sudah mari kita ke aula, pengurus dan anak-anak sudah menunggu kalian.”

“Iya bu, kami juga sudah membawakan beberapa buku untuk agenda belajar sore ini.”

“Buku apa yang sekarang kalian bawa?”

“Nanti ibu akan tahu.”, gurau Ahmad.

“Hhh maafkan Ahmad ya bu.”

“Tidak apa-apa Nak, ibu memakluminya.”

Tiba-tiba…..

“Assalamu’alaikum…”, ucap seorang dari luar rumah.

“Wa’alaikumsalam…”, jawab serentak.

Ibu panti kemudian menghampiri tamu tersebut dan mempersilahkannya masuk. Setelah itu, mereka tahu siapa tamu itu dan terkejut sekaligus senang mengetahuinya. Tamu tersebut adalah Kepala Sekolah bersama ibu bapak guru dari sekolah mereka. Beliau-beliau juga ingin berbagi dan buka bersama disini. Kemudian mereka melanjutkan rencana mereka bersama. Inilah sedikit dari banyaknya perjalanan anak-anak yang peduli sesama dan gigih dalam menebarkan semangat berbagi.

Leave a Comment

Your email address will not be published.