Dermawan di Bulan Ramadhan

Oleh: Muliana

Cuaca hari ini cerah, matahari bersinar dengan indahnya. Betapa agungnya ciptaan-Nya. Tak terasa 1 Ramadhan telah tiba. Seperti biasa anak-anak sekolah diliburkan. Walaupun sekolah diliburkan tetapi sekolah tetap mengadakan kegiatan ekstrakulikuler keagamaan yang diadakan di pagi hari.

Tie adalah murid di kelas V Sekolah Dasar Negeri 2 Lalombaa. Ia hidup sederhana dengan kedua orang tua serta adiknya. Pekerjaan ayahnya adalah seorang pedagang, sementara ibunya pengurus rumah tangga. Tie mempunyai seorang teman kelas bernama Sine. Kehidupan keluarga Tie dan Sine jauh berbeda. Keluarga Sine hidup bercukupan. Ia merupakan anak tunggal. Di suatu pagi ketika mereka berdua hendak ke Taman Pengajian Quran.

“Oh ia Tie, sebentar kalau aku belum keluar ruangan kamu tunggu aku yah?”. kata sine

“Ia nanti kita pulang sama-sama” jawab Tie

“Tapi kamu bawa payung kan?”. tanya Sine lagi

“Maaf Sine, aku lupa membawa payung”jawab Tir

“Aduh Tie, sebentar itu kita pulang jam 11 siang, matahari terik sekali. Sementara kita sedang puasa”. Kata Sine

“Ia maaf. Besok kalau kita pergi TPQ insyallah aku bawa payung” sambung Tie

Ketika mereka pulang, Tie melihat seekor kucing di jalan. Tampaknya kucing itu merang-raung kelaparan, badannya kurus tidak terawat.

“Coba lihat Sine, ada seekor kucing”. kata Tie

“Tampaknya ia kelaparan”. Jawab Sine

“Wah kasihan sekali kucing ini, oh ia Sine aku tidak membawa uang. Boleh tidak aku pinjam uang kamu. Sebentar sore aku kembalikan”. kata Sine

“Untuk apa kamu meminjam uang”. sambung Sine

“Lihatlah kucing ini sejak tadi meraung-raung kelaparan. Jangankan pergi mencari makanan, berjalan saja kucing ini sangat susah.Aku mau mbelikannya makanan diwarung depan” kata Tie

“Bagaimana kamu ini, urus saja diri kamu sendiri. Tidak usah urus kucing ini.Inikan bukan kucing kamu”jawab Sine

“Ingat Sine, bukan hanya manusia saja yang harus saling membantu. Hewan pun kalau kesusahan kita bantu sesuai dengan kemampuan kita”. Kata Tie

“Dengar baik- baik, aku tidak punya urusan dengan kucing itu”. kata Sine

“Ingat ini bulan suci Ramadhan, pahala akan bertambah kalau kita membantu sesama ciptaan Allah SWT” jawab Tie

“Terserah kamu, aku tidak peduli”. Kata Sine sambil berlalu pergi meninggalkan Tie bersama kucing yang kelaparan itu

Tie tidak tinggal diam, dia mengambil inisiatif sendiri. Ia bergegas membawa kucing tersebut pulang kerumah.

“Ibu lihatlah aku membawa kucing” kata Tie

“Dimana kamu temukan kucing malang itu nak”. kata ibu

“Di jalan bu, kucing ini sakit dan tidak bisa berjalan mencari makan”. jawab Tie

“Oh ia, ibu masih simpan sisa nasi tadi malam?”. sambung Tie

“Masih nak, tapi hanya sedikit sisa nasi tadi malam” jawab ibu

“Biarlah bu, berikan saja nanti nanti kucing ini akan makan. Oh ia bu, ibu setujukan kalau kita pelihara saja kucing ini”. kata Tie

“Ia nak, boleh saja kita pelihara kucing ini” jawab ibu

Keesokan paginya di kelas saat jam TPQ dimulai bu Lisna menceritakan kisah seorang wanita yang masuk surga karena memberi air pada seekor anjing yang kehausan. Wanita itu turun ke sumur, karena tidak ada wadah untuk mengambil air, maka wanita itu lalu membuka sepatunya dan di jadikan wadah air minum. Wanita itu harus berkali-kali naik keatas lalu turun lagi kebawah hingga anjing itu tidak haus lagi.

Mendengar kisah yang diceritakan oleh ibu Lisna, akhirnya Sine sadar akan kesalahannya yang tidak peduli dengan makhluk ciptaan Allah SWT, apalagi ini adalah bulan suci ramadhan saatnya manusia berbuat kebaikan. Akhirnya Sine pun meminta maaf kepada Tie dan sadar akan ketidakpeduliannya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.