Di Balik Kisah Bubur Kacang Hijau

Oleh: Devita Andriyani

Sejak pertama kali kupijakkan kakiku di kota ini, langit sudah berawan. Tak berapa lama kemudian, hujan pun turun begitu deras. Riuh air yang menghempas aspal terdengar rapat sambil sesekali diselingi bunyi cipratan air dari entakkan kaki orang-orang yang berlari lalu lalang.

Hujan pagi itu seolah menyambutku yang datang dari jauh. Kedatanganku dari Karanggede, sebuah kecamatan yang berada di wilayah Boyolali, memang terasa berbeda. Baru saja sampai, aku sudah disambut dengan cuaca yang sungguh tak bersahabat. Meski demikian, aku belajar untuk selalu bersyukur.

Kepergianku ke kota Salatiga ini bukan semata-mata tanpa tujuan. Di kota kecil ini, aku ingin menimba ilmu lebih tinggi agar kelak menjadi orang bermanfaat. Melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi sudah menjadi rencanaku sejak awal.

Selepas lulus SMA memang aku sudah berencana kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga jurusan Pendidikan Agama Islam. Cita-citaku adalah menjadi seorang guru agama Islam. Impianku yang begitu tinggi itu tak pernah menyurutkan semangat, meski bapakku hanya seorang sopir truk dengan bayaran tak banyak.

Sudah hampir satu jam aku berdiri sendirian di halte. Dinginnya hujan yang membasahi bumi masih tercerap kuat pada pori-pori kulitku. Kurapatkan jaketku agar tubuhku terasa hangat meski hujan tak kunjung reda. Sabar menunggu, hanya itu yang kulakukan.

Di tengah guyuran hujan yang tak kunjung reda, ada ribuan harap dalam diriku. Harap yang selalu hadir mengisi ruang kosong hatiku dan menepis semua keresahan yang menghancurkan tangga-tangga impianku.

Hujan menemaniku hingga satu jam lebih dan aku bersyukur manakala tepat jam tujuh lewat lima belas menit hujan mulai reda. Kulangkahkan kakiku menuju kos-kosan yang akan aku tempati selama aku menimba ilmu di kota pendidikan ini.

Tujuh lewat tiga puluh menit aku sampai di kos-kosan. Pertama kali masuk di kos-kosan, aku disambut baik oleh bapak pemilik kos. Senang rasanya waktu itu aku bisa menempati kos-kosan dengan pemilik kos yang ramah dan baik hati.

Di tempat kos ini aku merebahkan diriku sejenak di kasur sambil merencanakan apa yang aku lakukan ke depannya. Sudah jauh hari aku pikirkan ingin usaha sambil kuliah. Namun aku belum tahu usaha apa  yang ingin aku kerjakan.

Belum sempat terpikirkan usaha apa yang hendak aku lakukan, bapak pemilik kos mengetuk pintu kamarku dan dengan sigap aku membuka pintu kamar. Saat itu aku melihat bapak kos membawakan bubur kacang hijau untukku.

“Nak Angga, ini bapak bawakan bubur kacang hijau untukmu. Makanlah bubur kacang hijau ini sebelum jam makan siang,” ucap bapak kos.

“Terima kasih, Pak, kok malah repot-repot,” balasku.

“Tidak Nak, memang tiap anak kos baru saya bawakan bubur kacang hijau,” kata bapak kos.       

Sejak bapak kos membawakanku bubur kacang hijau, muncullah ideku untuk merintis usaha bubur kacang hijau sambil kuliah. Aku berpikir usaha itu cocok untuk kujalankan di kota Salatiga ini. Agar semua rencana terlaksana dengan baik, aku mencari resep bubur kacang hijau yang paling enak di internet.

Baru seminggu aku di kota Salatiga, sudah berani mencoba merintis usaha baru. Usaha ini aku rintis bersama teman kuliah yang satu kos denganku. Lokasi usahaku ini letaknya tak jauh dari kos-kosan tempatku tinggal. Aku berharap usahaku ini bisa mendapat banyak pelanggan.

Belum ada satu bulan aku menjalankan usaha bubur kacang hijau ini, sudah banyak pembeli yang berdatangan. Pembeli yang datang rata-rata adalah anak-anak muda yang sering lewat depan warung bubur kacang hijauku. Senang rasanya usaha yang aku jalani ramai pembeli.

Bulan demi bulan aku lalui, usaha yang aku jalani semakin dikenal oleh banyak orang. Dari anak muda hingga orang lanjut usia suka membeli bubur kacang hijau buatanku. Usaha bubur kacang hijauku menjadi semangatku untuk membiayai kuliah di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri.

Sore hari setelah kuliah sudah menjadi rutinitasku berjualan bubur kacang hijau. Lelah tak begitu terasa saat aku berjualan. Meski jam kuliahku padat, aku tetap bersemangat. Bagiku menjadi seorang mahasiswa yang memiliki sambilan bekerja itu ada nilai plusnya. Selain belajar mengatur waktu, juga semakin menumbuhkan jiwa kewirausahaanku.

Melihat usahaku semakin maju, bapak kos memotivasiku agar usahaku semakin berkembang.

“Nak Angga, Bapak bangga melihatmu. Kamu mahasiswa yang luar biasa. Teruskan usahamu ini. Nanti jika kamu selesai kuliah, usaha ini jangan kauhentikan. Usahamu harus berkembang. Kalau bisa punya pegawai.”

“Terima kasih, pak, untuk support-nya,” ucapku padanya

Supportdari bapak kos selalu aku ingat. Dan setiap aku bangun pagi untuk kuliah rasanya selalu bersemangat. Aku pasti bisa lakukan yang terbaik untuk semua hari yang aku lalui. 

#

Hampir tiga tahun berlalu. Aku hampir menyelesaikan studi di Fakultas Pendidikan Agama Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri. Usaha bubur kacang hijauku juga semakin besar. Aku senang dengan semua pengalaman baik di kota Salatiga ini. Bertemu dengan bapak kos yang baik, menikmati jerih lelahku berjualan bubur kacang hijau, serta kuliahku di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri juga akan segera selesai. 

Semua yang terjadi dalam hidupku tak lepas dari campur tangan Allah. Meski perjuangan tiada henti harus aku lakukan, namun semua itu demi suatu cita-cita muliaku menjadi seorang guru. Hingga detik ini aku hanya bisa menaikkan doa dan pujian syukur pada Allah atas apa yang telah Dia anugerahkan di dalam hidupku.

Sumber Gambar: https://www.liputan6.com/regional/read/4558475/sarapan-sehat-dengan-bubur-kacang-padi-khas-ranah-minang

Tentang Penulis:

Devita Andriyani adalah penulis kelahiran Salatiga, 6 Desember 1985. Senang menulis dan membaca cerita pendek, puisi, dan artikel ringan. Tulisannya berupa cerpen pernah di-publish di media www.rumahlitera.com, www.modernis.co, www.dimensipers.com. Pernah juga cerpennya tergabung dalam antologi menulis cerpen berjudul “I Want to be Better” dan “Selaksa Kisah Dalam Ikhlas”. Bagi yang ingin berhubungan dengan penulis, bisa kirim surel di eunikedevita@gmail.com atau add FB: Devita Andriyani.

2 thoughts on “Di Balik Kisah Bubur Kacang Hijau”

Leave a Comment

Your email address will not be published.