Gemericik Kocek

Oleh: Risa Ulbani

Secerah mentari menyambut pagi. Suara bising klakson di jalanan saling bersautan, menyapa pada debu-debu yang terbawa angin. Melambai-lambai dedaunan di pinggiran seolah sedang menari dan menyihir para pengendara agar tertidur bersama terpaan angin. Polusi bersebaran dan berhamburan kesana-kemari membuat sesak para pejalan kaki.

“Bang, berhenti Bang!” teriak seorang pengamen dalam bis.

Dialah gadis bernama Nina Nur Inaya, seorang pengamen yang tiap hari kerjaannya naik-turun bis mencari pundi-pundi rupiah untuk menghidupi keluarganya. Sebagai tulang punggung keluarga, Nina hanya bisa bekerja sebagai pengamen bersama teman-temannya yang bernasib tidak jauh dengannya. Nina sadar dengan pendidikannya yang hanya sampai kelas tiga SD, mana mungkin bisa berharap lebih?

“Nin, lumayan nih hasil ngamen lo udah dapet dua puluh ribu,” kata teman ngamennya.

“Iya dit, Alhamdulillah. Kita istirahat dulu yu di masjid sana” timpal Nina kepada rekan ngamennya, Adit.

Tak berselang lama, mereka sampai di pekarangan mesjid Al-Jihad. Nina mengambil tempat duduk di sebelah kiri masjid, sedangkan Adit dan Dodi langsung membaringkan tubuh mereka di lantai masjid.

“Eh liat deh!” seru Nina kepada kedua rekannya. “Anak kecil itu lagi ngapain duduk di pinggir jalan?” tanya Nina heran.

“Nungguin Ibunya kali Nin,” jawab Dodi.

“So tau lo Dod.”

“Ya tadikan lo nanya Nin, gimana sih?”

“Kita samperin aja Nin, mungkin dia mau nyebrang,” ajak Adit kepada keduanya.

Mereka bertiga menghampiri anak kecil itu dengan langkah gontai.

“Adik lagi ngapain?” tanya Nina sambil melihat jinjingan yang digenggam anak kecil itu. “Adik jualan tisu ya? kebetulan Kakak lagi cape nih, keringetan. Boleh gak Kakak beli tisu Adik?”

“Oh Kakak mau beli tisu ini? Boleh kok, Kakak mau beli berapa?” tanya anak kecil itu.

“Hmmm…, kalau Kakak borong semuanya gimana?”

“Semuanya? Semua tisu ini, Kak?” tanya anak kecil itu tidak percaya.

“Iya semuanya, jadi berapa?”

“Dua puluh ribu, Kak”

“Oke, ini uangnya, Dik”

“Tapi Nin?” Sanggah Dodi pada Nina. Ia heran dengan Nina, dia pasti cape dari pagi sampai sekarang ngamen naik-turun bis. Tapi mengapa Nina malah memberikan uang hasil ngamennya sendiri? padahal uang itu akan Nina gunakan untuk berobat Bapaknya yang sedang sakit.

“Shuttt!” cegah Nina cepat kepada Dodi. “Ini de uangnya,” memberikan uangnya kepada anak tersebut.

“Ini tisunya juga, Kak”

“Terimakasih, Dik…, tapi ini buat Adik aja biar nanti bisa Adik jual lagi, lumayan kan buat tambahan modal tisu Adik? Oya, Dik, Kakak punya hadiah buat Adik. Kakak punya ini,” mengambil celengan yang ada di tas kecilnya dan memberikannya pada anak kecil itu.

“Ini buat Aku, Kak? makasih Kak, makasih. Celengannya lucu banget Kak, Azel suka”

Anak itu begitu gembira mendapatkan hadiah dari Nina, terdengar suara kocek didalamnya. Gemericik seperti air di pesawahan.

Dodi dan Adit semakin heran dengan sikap Nina. Apa yang sebenarnya ia lakukan? gumam Dodi dalam hatinya. “Nin, membantu orang yang kesusahan itu boleh tapi sewajarnya aja, jangan berlebihan!” Bisik Dodi di telinga Nina.

“Dod, berbuat kebaikan itu gak ada yang berlebihan. Bahkan saat kita kekurangan pun harus tetap berbuat kebaikan pada orang yang membutuhkan. Sudahlah Dod, lagi pula sekarang kan bulan Ramadhan, bulan yang penuh dengan keberkahan. Sudah sepatutnya kita menebar kebaikan.” Jawab Nina tenang.

“Kring…kring…kring…” handphone Nina berdering, memotong kalimat yang hendak Dodi sampaikan kepadanya. Nina berjalan lima langkah dari anak kecil penjual tisu itu.

“Assalaamu’alaikum, Pak.” Sapa Nina memulai pembicaraan ditelepon.

“Wa’alaikumsalaam…” jawab seseorang ditelepon. “Ini pak Daman, Nin.” Katanya.

“Oh Pak Daman, ada apa Pak?”

“Bapakmu sakit Nin.”

“Bapak sakit?” tanya Nina dengan nada khawatir.

“Iya Nin, sekarang kamu cepetan pulang! Kasian Bapakmu!”

Dengan rasa takut dan khawatir Nina berlari dengan cepat menuju rumahnya yang cukup jauh dari tempat ngamennya. Di perjalanan, rasa takut terus menyelimuti hati kecilnya. Ada apa dengan Bapak? tolong jaga dia untukku Ya Allah gumamnya dalam hati. Nina berlari meninggalkan Adit, Dodi, dan anak kecil penjual tisu dengan seribu tanda tanya.

“Nin, Bapakmu meninggal” celetuk Pak Daman.

Kalimat itu bukanlah kalimat yang ia nantikan saat ini, bukan kalimat tanda perpisahan yang ia tunggu-tunggu. Nina terkulai lemas dihadapan jenazah Ayahnya yang kini terbaring kaku, tak ada tarikan nafas dan tak terdengar detak jantung didada  Ayahnya.

“Oya Nin, sudah seminggu Saya lihat Farid selalu berdiam diri di mesjid Al-Jihad dengan memakai seragam sekolahnya. Saya pikir dia sedang sholat tapi dia sedang menangis, saat Saya tanyakan apa yang terjadi padanya ia bahkan tak menggubris dan menjawab pertanyaan Saya” kata Pak Daman lagi. “Maaf  Nin bukannya Saya mau menambah beban kesedihan kamu, tapi Farid adikmu juga belum tau kabar kepergian Bapakmu”

Beban kesedihannya bertambah dengan keadaan adiknya yang entah apa yang sedang terjadi kepadanya. Isak tangis Nina semakin menjadi-jadi mendengar kabar yang begitu pilu.”Kalau begitu Nina titip Bapak Nina dan kepengurusan jenazahnya. Nina mau nyusul Farid sebentar ke masjid ya Pak” pinta Nina kepada Pak Daman.

Isak tangis dan jeritan hatinya semakin menggebu-gebu. Hampir di sepanjang jalan menuju masjid, tangisnya tak pernah mereda. Pikirannya berantakan tak beraturan. Kakinya terus berlari tanpa henti, ia sama sekali tidak menghiraukan keadaan di sekitarnya, bahkan suara klakson di jalanan pun tak tertangkap oleh indera pendengarannya. Tak lama, langkah kakinya terhenti.

“Kenapa kau terus disini rid? Bapak meninggal! apa kau tidak menyayangi Bapak? sampai kamu tega membiarkannya sendiri terbaring kaku? apa yang sebenarnya kau pikirkan?” Seribu tanda tanya Nina tujukan kepada adiknya yang tengah duduk didekat mimbar. “Kakak heran denganmu, apa yang kamu lakukan disini? kenapa kamu ga sekolah? malas? kenapa tak sedari dulu kamu bicara? kenapa kamu tidak pernah mengerti dengan keadaan Kakak rid? Kakak ngamen di jalanan untuk kamu rid, untuk kamu! berharap kamu bisa lebih baik dari Kakak. Tapi apa yang…”

“Cukup Kak, cukup!” sanggah Farid cepat pada Kakakknya yang sedari tadi menangis tanpa henti. “Aku diskors dari sekolah Kak, SPP Aku udah nunggak lima bulan, apa Kakak tau itu?Aku bingung Kak, Aku bingung. Aku sudah terlalu merepotkanmu Ka, apalagi akhir-akhir ini Bapak sakit-sakitan, mana mungkin Aku mengadu SPP ku padamu Ka? Aku takut membuatmu semakin susah” Tangis Farid pecah di dalam masjid.

Mendengar penjelasan Farid, Nina terdiam sejenak. “Maafin Kakak rid, maafin Kakak…” kata Nina sambil memeluk adiknya.

“Maafin Farid juga Kak, Farid selalu merepotkan Kakak” timpal Farid.

Nina merangkul bahu Farid dan bergegas pulang ke rumahnya. Keduanya ikut serta memandikan, mensholatkan dan mengantar jenazah ke pemakaman. Tangis Nina mulai mereda, hatinya berusaha mengikhlaskan kepergian Ayah tercintanya. Hatinya begitu tenang setelah Ayahnya dikebumikan. Setelah itu, Nina pergi meninggalkan Ayahnya sendiri dalam himpitan tanah.

Matahari menampakknya wajahnya dan mengibaskan jubah kuningnya yang begitu hangat, memberikan kehangatan pada bumi yang lembab. Nina kembali melakukan rutinitasnya sebagai pengamen. Kepergian Ayahnya bukan alasan logis yang akan membuatnya berhenti beraktifitas. Langkah kakinya terhenti di pekarangan masjid Al-Jihad.

“Kakak?” tanya seorang anak yang menghampirinya.

“Iya dik ada apa? Tanya Nina pada anak kecil itu.

“Aku Azel ka, Kakakk masih ingat sama anak penjual tisu disana?” menunjuk ke arah pinggir jalan. “Itu Azel kak” Tegasnya.

“Azel?” tanyanya heran. “Oh iya, tentu Kakak masih ingat, gimana jualannya?”

“Emmm…, perkenalkan nama Saya Rudi. Saya Ayahnya Azel.” Kata seseorang di samping kanan Azel. “Sebenarnya Azel tidak sedang berjualan tisu, sebenarnya tisu itu ia beli dari seorang anak yang sedang berjualan di pinggir pos sana” tunjuknya ke arah pos. “Dan kebetulan mobil Saya diparkir di parkiran Bank, jadi Saya suruh Azel buat nunggu di pinggir jalan. Setelah ia masuk mobil, Eh tisu yang ia beli katanya dijual lagi ke mbak-mbak yang ingin membelinya” Jelasnya dengan begitu tenang dan berwibawa.

“Oh, Saya minta maaf Pak.”

“Iya…, Oya Nin, daripada kamu ngamen, mending ikut Saya ke restoran! kebetulan Saya butuh penyanyi buat menghibur para pembeli yang datang. Saya kira kamu cocok,”

“Beneran Pak? Bapak tidak bercanda kan? Saya mau Pak, Saya mau banget.”

“Horeee…, jadi Aku bisa sering ketemu ka Nina, ya kan Ayah?” tnggap Azel dengan ceria.

“Tentu Adik kecil.” Balas Nina.

Bagi Nina, memberi adalah memberi, tak ada unsur untuk meminta imbalan atas apa yang ia berikan kepada orang lain. Tapi jikan Allah berkata lain, mana mungkin ia tolak? Berderma bukan soal berapa banyak yang dapat seseorang berikan, tapi soal seluas apa hatinya ketika memberi. Apakah mengharap imbalan? Atukah ikhlas tanpa ada rasa mengungkit?

Leave a Comment

Your email address will not be published.