Ujian di Bulan Ramadhan

Oleh: Arief Renaldianto

Sudah beberapa menit Aku duduk sembari menunggu temanku, walaupun sang mentari baru saja menampakkan dirinya tapi Aku sudah mulai merasa kehausan, sesaat Aku ingin membatalkan puasaku ntuk menghilangkan dahaga ini. Aku pergi melangkah  ke seorang penjual es yang kuingat dari tadi Dia terlihat terus mengomeli seorang anak kecil di depannya itu.kemudian , Aku menghampiri penjual es itusembari bertannya keadanya.

“Pak, ada apa pak?”tanyaku karena ingin merelai ocehan penjual es kepada anak itu

“ini dek, anak ini membeli es tapi Dia tidak mau membayarnya”jawab penjual es

“dek semenderita apapun perutmu janganlah engkau sentuh apalagi mengambil barang yang bkan milikmu” ucapku untuk menasihati anak itu sembari Aku mengelus kepalanya

Kemudian anak itu memukul tanganku dan berkata “apa yang kau tahu tentang kehidupanku? Setiap hari Aku bagaikan hewan yang berburu di hutan, Aku hidup di kota modern tapi Aku seperti hidup di pulau terpencil, Aku hidup di Negara perairan yang melimpah tapi setetes airpun sulit untuk kudapatkan” jawabnya dengan suara yang lantang

“lalu, Apa gunanya kehidupanmu jika Kamu mengambil kehiidupan orang lain, ingatlah kamu masih memiliki jalan yang panjang kamu bisa menjadi orang yang lebih baik”jawabku pada anak kecil itu

“terus, apa yang harus kulakukan untuk jadi orang yang lebih baik itu”tanyanya padaku

Kukira hatinya sudah mulai luluh jadi Aku tersenyum padanya dan berkata “berhentilah mencuri dan dan cari makanan yang halal” jawabku dengan gaya yang sok berwibawa namun Aku terkaget ketika mendengar balasan anak itu, anak itu tersenyum seakan berusaha melawan dan menerima takdir dan ia berkata “mencari makanan yang halal? Apa menurutmu anak yang hidupnya sebatang kara dapat melakukannya? Bagaimana Aku bisa mendapat uang untuk makanan yang halal, jika disaat mengamen saja semua orang menghindariku, jadi jelaskan padaku wahai orang yang saleh bagaimana Aku harus hidup” ucap anak itu dengan merintih dan meneteskan air mata

Aku benar-benar dipemalukan oleh perkataan anak itu, aku dibuat terdiang diam beribu kata oleh anak itu inginku marah namun air mata yang menghiasi mata anak itu telah meruntuhkan perasaan marahku memang benar yang Dia katakan, bodohnya diriku telah berusaha menasihati anak ini, ia tengah berusaha mempertahankan hidupnya karena tidak adanya uang namun diriku setiap hari hanya menghamburkan uang untuk barang yang tak pernah kupakai,  tanpa berpikir panjang Aku meminta maaf pada anak itu  dan Aku memberikan semua uang sakuku kepada anak itu dan pergi berlari meninggalkan tempat itu.

Matahari semakin tinggi, telah ku berusaha mengurungkan niatku untuk membatalkan puasaku hari ini lagipula Aku sudah kehabisan uang jadi kuputuskan untuk pulang kerumah di saat perjalanan Aku teringat dengan perkataan anak itu “di Negara dengan air yang berlimpah namun setetes airpun sulit untuk kudapatkan” itulah yang anak itu katakana sungguh malu Aku pada diriku sendiri karena melihat anak itu mampu berjuang mati-matian untuk memepertahankan hidupnya kalau Aku pasti sudah merengek pada orang tuaku, berkatnya Aku tersadar bahwa uang itu bukanlah suatu hal yang dapat dihambur-hamburkan karena banyak orang yang sengsara dalam hidupnya karena tidak memiliki uang jadi Aku harus lebih berhati-hati dalam menggunakan uang.

Tak terasa sudah 10 hari Aku menjalani puasa di bulan ramadhan tahun ini walaupun tetap masih sulit bagiku untuk menhan hawa nafsu untuk membatalkan puasa.Seperti biasa Aku selalu duduk- duduk di kantin dengan temanku untuk mengobrol bersama ,Sudah beberapa menit Aku duduk menunggu Lisa, dia adalah temanku dia hebat dalam menasehati orang lain bisa dibilang Dia adalah orang yang cukup dewasa namun ada satu kekurangan darinya yaitu…

“Apa sudah lama menunggu?”ucap Lisa sambil berjalan menghampiriku,itulah kekurangannya Dia tidak mempedulikan lingkungan sekitar seenaknya saja memotong pembicaraan, ngomong-ngomong maaf karena kemunculannya memotong penjelasanku tentang Lisa tapi kurasa itu sudah cukup memberi gambaran tentang temanku Lisa, Kita kembali ke cerita.

Mukaku masaih saja terlihat masam memandangi orang yang tak tahu malu makan dan minum di depan orang yang sedang berpuasa “ Kenapa di bulan Ramadhan ini masih saja banyak godaan yang menggangu puasaku?”ucapku sambil memegang dahiku

“memangnya siapa yang menggodamu?”tanya Lisa padaku

“tentu saja mereka, mengapa mereka makan dan minum di depan orang yang sedang berpuasa Aku tahu mereka itu non muslim tapi setidaknya beri toleransi pada orang yang sedang berpuasa tapi mengapa mereka malah makan dan minum didepan kita” ucapku dengan  kening yang mengkerut

“itu karena kamu tidak memberi tahu mereka bukan, coba saja kamu memakai spanduk yang akan membari tahu semua orang bahwa kamu sedang puasa pasti mereka tidak akan mengganggumu” ucap Lisa sambil tertawa kecil untuk berniat mengejekku

“tapi bukannya setan telah dibelenggu menapa Aku masih tergoda”tanyaku padanya

“Begini ya, setan memanglah dibelenggu buktinya kita masih berusaha untuk mempertahankan puasa sampai menjelang maghrib,mereka tidak bermaksud menggoda kita dan mereka bukanlah orang yang terhasut setan untuk menggoda iman kita ini, mereka makan dan minum karena itu memanglah kebutuhan hidup dan kita tidak berhak memaksa mereka untuk bertoleransi dengan tidak makan dan minum di depan orang yang sedang berpuasa malahan kita yang harusnya bertoleransi untuk mengerti bahwa makan dan minum adalah kebutuhan bukan malah mencaci mereka karena memang pada awalnya ini memang kewajiban kita orang muslim untuk berpuasa jadi kita harus menguatkan iman kita dalam berpuasa”nasihat panjang Lisa untukku

Aku tidak tahu bagaimana caraku untuk menaggapinya namun setidaknya Aku sekarang mengerti bahwa puasa itu bukan hanya tentang menhan lapar dan minum saja tapi disini kita benar-benar diuji apakah kita bisa menahan hawa nafsu dan juga berlatih untuk mengendalikannya sehingga disaat setan sudah terlepas belenggunya kita dapa mengatur hawa nafsu kita sehingga kita tidak terjerumus oleh godaan setan jadi marilah kita berusaha untuk kuatkan iman kita agar kita bisa menjalani hari esok yang baik tanpa hal buruk di masa lalu yang membayangi

Sudah tidak terasa hari ini adalah hari terakhir Aku menjalani puasa di bulan Ramadhan ini, sungguh bahagianya Aku dapat menjalani bulan ramadhan ini dengann lancar, karena hari ini adalah hari terakhir jadi Aku dan Lisa berniat jalan – jalan untuk melihat keadaan kota yang tengah persiapkan acara takbir keliling. Tidak seperti cerita sebelumnya kali ini Lisa yang menungguku, dari kejauhan Aku melihat Lisa tengah mengobrol dengan seorang anak kecil dan ia memberikan beberapa uang kepada anak itu dan anak itu pergi berlari tanpa ucapkan sepatah kata terima kasih kemudian Aku langsung menghampiri Lisa “ada apa?”Tanyaku pada Lisa

“tadi ada seorang anak kecil yang meminta uang padaku”jawab Lisa

“tapi Dia tidak terlihat seperti seorang pengemis, tapi mengapa kamu memberinya?”Tanyaku heran dengan Lisa

“kita tidak memandang orang jika kita ingin melakukan hal yang baik lagipula memang apa salahnya jika kita membagikan rezeki pada orang lain lagian sekarang Aku sedang memiliki banyak rezeki jadi tidak masalah jika Aku membagi sedikit rezekiku pada anak itu bukan?”jawab Lisa

Benar juga apa yang diucap Lisa, mau pengemis,teman,saudara, atau orang asing sekalipun tidak akan mengubah pandang kita bahwa mereka juga manusia yang memiliki derajat yang sama di mata Allah.SWT jadi jangan memandang orang jika kita ingin berbuat baik maupun seorang pengemis ataupun orang yang berpura-pura mengemispun tidak masalah karena itu tidak mengubah fakta bahwa kita telah berbagi rezeki pada orang lain dan itu adalah perbuatan yang baik karena itu Allah pasti akan tahu dan malaikatpun juga mencatat perbuatan kita karena itulah jangan ragu untuk berbuat baik pada orang lain misalnya jangan takut atau ragu untuk memberi uang kepada pengemis mau itu pengemis atau bukan sekalipun itu tidak mengubah fakta bahwa kamu telah berbuat baik.

Sesaat setelah kejadian itu, Aku dan Lisapun berniat untuk pergi ke bioskop untuk melihat film bersama, Aku dan Lisa berjalan menuju kesana karena tempatnya tidak begitu jauh, namun tiba-tiba saja Lisa berhenti dia menengok kea rah seorang anak kecil yang duduk menangis di seberang jalan tentu saja Aku dan Lisa terheran dengan tempat yang seramai ini namun tidak ada seorangpun yang bernniat untuk menanyakan mengapa dia menangis kemudian Lisa tanpa berpikir panjang dia berlari menuju anak itu, Akupun dengan spontang mengikuti Lisa

“Kamu kenapa menangis apa kamu terluka?”Tanya Lisa sambil mengusap air mata anak itu walaupun banyak orang yang heran memperhatikan kami hal itu tidak mengurungkan niat Lisa untuk menenagkan anak itu. Setelah anak itu tenang anak itu menjawab bahwa kakinya terkilir karena itulah dia menangis kemudian tanpa berpikir panjang Lisapun berkata”Aku akan membawamu ke rumah sakit”

Mendengar hal itu tentu saja Aku cukup marah karena kita akan pergi ke bioskop bersama “lalu bagaimana dengan nonton filmnya?”ucapku dengan nada yang sedikit marah

Tanpa berpikir panjang Lisa menjawab “Kamukan bisa menonton filmnya sendiri”ucap Lisa

Mendengar itu Aku semakin marah “kamu lebih mementingkan orang lain daripada teman baikmu sendiri” ucapku kepada Lisa

“bukan begitu karena anak ini sedanng membutuhkan pertolongan jadi kita harus menolongnya”ucap Lisa

Pasti banyak orang yang mengira bahwa Lisa adalah orang yang tidak normal karena orang normal tidak akan mau melakukan hal yang dilakukan oleh Lisa tapi memang begitulah Lisa dia bukanlah bodoh tapi dia adalah orang yang baik dari hal itu Aku mulai tersadar dan memutuskan untuk mengantar anak itu ke rumah sakit.

Begitulah sedikit cerita dibulan ramadhan ini, intinya jangan berprasangka buruk ketika kita ingin berbuat baik kepada orang lain.

2 thoughts on “Ujian di Bulan Ramadhan”

Leave a Comment

Your email address will not be published.