Hidayah Allah Menjelang Ramadan

Oleh: Muhammad Ikhsan Attaftazani

“Bismillahirrahmanirrahim” terdengar suara imam sedang melantunkan Ayat suci Alquran saat salat maghrib berjamaah. Derap langkah kakiku menuju barisan para jamaah sambil meluruskan shaf. Setiap gerakan imam aku ikuti dengan sempurna sambil menghayati dalam hati. Usai salat, para jamaah berjabat tangan satu sama lain sebagai tanda persaudaraan dalam agama Islam. wirid dan doa sehabis salat aku ikuti dengan penuh semangat. Jamaah  di sekitarku kebingungan dengan tingkahku yang tidak seperti biasanya. Ya, aku sudah berubah, sejak aku mengalami kejadian beberapa hari yang lalu. Waktu itu, aku bersama teman-temanku menuju suatu desa yang tidak kami ketahui namanya. Tempatnya cukup jauh dari rumah kami dan memerlukan waktu yang lama untuk menuju pedesaan tersebut. Kami berjalan-jalan menyusuri pedesaan sambil menikmati keindahan ciptaan Tuhan. Pepohonan berdiri di sepanjang jalan ditemani dengan rumput-rumput yang tinggi. Terik matahari  terasa  begitu menyengat di kulit dan sesekali kami berteduh di bawah pohon rindang. Syahad, salah seorang dari kami menghentikan langkahnya,”Tunggu sebentar..! coba lihat itu” sambil menunjuk pada seseorang di seberang jalan. Kami penasaran terhadap orang tersebut dan mencoba untuk mendekatinya. Tampak seorang laki-laki berbadan kurus, tubuhnya kotor dan baju yang dikenakan compang-camping. Matanya sayu memelas mengharap sesuap nasi karena sudah tidak makan berhari-hari. “Buat apa aku ngasih uang sama orang kayak gini” gumamku dalam hati. “Kita pergi aja yuk, sebentar lagi sore nih!” kata salah seorang temanku. Kami pun pergi meninggalkan orang tua tersebut tanpa rasa bersalah karena membiarkannya lapar.

Rasa lelah dan lapar kami rasakan selama perjalanan. Tak jauh dari tempat kami berdiri, terlihat sebuah warung makan yang menyajikan berbagai hidangan. Kami memutuskan untuk beristirahat di warung tersebut setelah seharian berjalan-jalan menyusuri pedesaan. Bau masakan yang tercium membuat kami ingin cepat-cepat menyantap makanannya. “Permisi, mau makan apa?” terdengar sambutan hangat dari pramusaji. “Sebentar, Ihsan… nanti kamu yang traktir ya” ujar teman-temanku. “Hmm, baiklah.. kalian boleh makan yang kalian inginkan”. Untung saja aku sudah membawa uang cukup banyak untuk bekal di perjalanan. Kami mulai memesan makanan yang tersedia di daftar menu. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya datang juga makanan yang kami pesan. Tanpa menunggu lama, langsung kami serbu makanan yang dihidangkan di atas meja. “Enak banget nih, jadi pengin nambah lagi” kata salah satu temanku. Aku hanya tersenyum simpul sambil  melanjutkan makan. Akhirnya selesai juga kita makan-makan dan sekarang waktunya pulang ke rumah. Hampir saja aku lupa untuk membayar makanan yang sudah kita makan. Ku ambil dompet di saku celana dan “Oh tidak!!! Kemana dompetku? Aku yakin sudah membawa dompet dari rumah!”. “Coba ingat-ingat lagi..” ucap seorang temanku. Pemilik warung sudah menunggu bayaran sedangkan aku merasa bingung entah kemana uangku. Terlihat di depan pintu seorang laki-laki tua yang ku temui di pinggir jalan tadi. Dia berjalan ke arahku dengan langkah terseok-seok dengan tubuh yang lunglai lemas. “Nak, apakah ini dompetmu?” ucap orang tua tersebut. “Benar, Ya Allah terima kasih sekarang dompetku kembali, terima kasih pak”. Dompet tersebut ku buka dan ternyata uangnya masih utuh. Orang tua itu menceritakan bahwa ia menemukan sebuah dompet dan ia melihat fotoku yang terselip. Ia mengenali foto tersebut dan ia langsung mencariku. “Ya Allah, ampunilah dosa hamba-Mu ini yang sudah berbuat buruk kepada orang tua ini” sesalku dalam hati. Kami ajak orang tua itu untuk duduk bersama kami dan memesankan makanan untuknya. Permintaan maaf kami utarakan kepada orang tua tersebut karena kami telah membiarkan ia kelaparan. Aku tidak habis pikir, mengapa orang tua itu tidak mengambil uang tersebut dan ia gunakan. Bahkan setelah perlakuanku yang telah membiarkannya di pinggir jalan tanpa memberi bantuan sedikitpun. Aku sangat terkesan dengan kebaikan yang telah ia lakukan. Hal tersebut membuat hatiku terketuk untuk dapat berbuat baik kepada sesama seperti yang diajarkan dalam Islam. Setelah kejadian tersebut berlalu, aku terus membenahi sikap burukku. Keluargaku sangat senang melihat perubahan sikapku. Sekarang aku menjadi senang untuk berbagi bersama dan membantu orang yang membutuhkan. Tidak perlu menunggu orang lain untuk meminta tetapi akulah yang akan mendatangi mereka memberikan makanan.

Sore itu, aku dan keluargaku kumpul bersama di ruang tengah sambil menonton televisi. “Oh ya, besok kan kita sudah mulai memasuki awal bulan Ramadan! Ihsan, coba dong lihat berita tentang penetapan awal bulan Ramadan” pinta Ibuku. Aku berdiri dari tempat  dudukku dan mencari channel yang menyiarkan berita tersebut. Penyiarpun sudah memulai membacakan berita di televisi. Pemerintah memasang beberapa titik koordinat di seluruh Indonesia untuk melihat bulan menggunakan teropong. Setelah beberapa menit, akhirnya pemerintah memutuskan bahwa besok sudah memasuki bulan Ramadan. Alhamdulillah kami masih diberi kesempatan untuk merasakan nikmat yang besar ini. Besok merupakan hari yang sangat istimewa yang sudah ditunggu-tunggu oleh jutaan umat Islam di dunia. Ya, bulan Ramadan yang di dalamnya begitu banyak ampunan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Semua amal dilipat gandakan menjadi puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali lipat di bulan suci ini. Bulan saat Alquran diturunkan dan bulan yang di dalamnya terdapat malam lailatul qadr, yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Sudah saatnya aku memperbanyak amal saleh untuk menggantikan dosa yang telah ku lakukan selama ini.

Malam nanti, sehabis salat isya akan di laksanakan salat tarawih. Hatiku merasa senang sekali karena sesuatu yang aku tunggu akhirnya datang juga. Terdengar dari masjid kumandang adzan shalat isya. Aku bergegas menuju ke masjid untuk melantunkan pujian yang biasa aku dendangkan di bulan Ramadan. “Marhaban ya syahru Ramadan, Marhaban syahru sa’adah…”selamat datang bulan Ramadan, bulan yang penuh kebahagiaan. Pujian tersebut merupakan pujian favoritku pada saat bulan Ramadan. Aku begitu bersemangat dalam melantunkan pujian tersebut. Para jama’ah beramai-ramai berkumpul ke masjid untuk melaksanakan salat tarawih berjama’ah. Kondisi masjid cukup sesak karena dipenuhi jama’ah yang akan melaksanakan salat tarawih. Salat akan segera di dimulai dan imam sudah menempatkan diri di mihrab. Imam mulai mengangkat kedua tangannya dan membaca takbir “Allahu Akbar”. Salat tarawih terasa begitu lama karena ini merupakan hari pertama aku melaksanakannya sehingga terasa berat. Namun, aku melaluinya dengan penuh semangat untuk mendapatkan rida dari Allah. Tak terasa hampir satu jam kami melaksanakan salat tarawih bersama. Begitu salat tarawih selesai kami masih melaksanakan salat lagi yaitu salat witir berjumlah tiga rakaat. Setelah semuanya selesai, kami berderet membentuk lingkaran dan membaca shalawat sambil bersalaman. Ikatan persaudaraan terasa begitu kuat diantara kami seperti yang disabdakan oleh nabi Muhammad S.A.W. yang diriwayatkan oleh imam muslim “Muslim satu dengan muslim yang lainnya ibarat sebuh bangunan yang saling mengokohkan satu bagian dengan bagian lainnya”.

Setiap malam senin dan kamis, masjid mengadakan kajian keagamaan sehabis salat tarawih. Kesempatan ini aku manfaatkan untuk menambah pengetahuan keagamaanku yang masih dangkal. Selain itu, setiap selesai salat tarawih ada makanan yang dibagikan oleh setiap jamaah yang biasa kami sebut jaburan. Setiap jamaah dijadwal seminggu sekali untuk memberikan sedekah di masjid. Ini menjadi momentum yang tidak akan kami lewatkan untuk menambah amal ibadah kami di bulan Ramadan. Kadang aku sengaja membawa lebih banyak makanan dari rumah karena aku ingin memanfaatkan waktu ini untuk bersedekah di bulan yang penuh berkah. Saat waktu berbuka keluargaku sering memberikan makanan kepada tetangga agar mereka bisa menikmati apa yang kami makan. Pernah suatu ketika aku dan Ibuku pergi ke pasar membeli bahan-bahan makanan untuk berbuka puasa. Sebelum ibu memasak biasanya ia menanyakan kepadaku mengenai menu makanan yang aku inginkan. “Nanti kamu mau berbuka pakai apa?” Tanya Ibuku. “Ah, nanti buat ini aja Bu.. ikan saus tomat, pasti enak” sambil tersenyum. Kami segera pergi ke pasar yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Ibuku mulai mencari bahan-bahan untuk membuat masakan yang aku inginkan. “Oh ya.! nanti kita buat yang banyak ya bu. biar bisa berbagi ke tetangga”. “Wah, baiknya anak ibu.. ibu sayang deh sama kamu” sambil memelukku. Setelah kami selesai membeli kebutuhan dapur, kami segera beranjak pergi dari pasar. Aku membantu Ibuku menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Ibu mulai memotong tomat untuk membuat sambal sedangkan aku membersihkan ikan. Kompor siap dinyalakan “Ceklek…” dan minyak goreng mulai aku masukkan ke wajan. Setelah minyak terasa panas satu persatu ikan mulai dimasukkan ke wajan. Sambil menunggu ikan matang kami mulai membuat sambal tomat untuk menambah cita rasa makanan. Setelah ikan matang, kami mencampurkannya dengan sambal tomat agar meresap. “Hhmm… baunya enak sekali jadi nggak sabar nunggu buka.. he..he..” ucapku pada Ibu. Akhirnya makanan kesukaanku, ikan sambal tomat siap dihidangkan untuk berbuka puasa. Tak lupa kami membagikan sebagian masakan kami ke tetangga terdekat untuk berbuka puasa. Hal itu kami lakukan setiap hari selama bulan Ramadan dan kami merasa senang melakukannya. Selain itu kami juga pernah mengundang anak yatim untuk berbuka puasa bersama di rumah kami. Itu semua kami lakukan semata-mata hanya karena mencari rida Allah dengan cara bersedekah. Alhamdulillah rezeki yang Allah berikan tidak berkurang sedikitpun, tetapi bertambah banyak ketika kami sedekahkan. Apalagi dilakukan pada waktu yang mulia, pasti akan mendapatkan pahala berlipat ganda. Sungguh luar biasa kebesaran dan kuasa-Nya. Sekarang kami menyadari bahwa letak kebahagian bukanlah dari apa yang kita dapatkan tetapi apa yang sudah kita berikan kepada orang lain.

Leave a Comment

Your email address will not be published.