Jum’at, Sabtu, dan Minggu

Oleh: Choerul Anam

Tak ada yang berubah dari kegiatan Pae hari ini, meskipun hari ini adalah hari pertama puasa Ramadhan, tetapi Pae tetap berjualan sayuran keliling dengan menggunakan motor seperti biasa.

***

Pae adalah laki-laki yang berumur 50 tahun dan memiliki istri serta dua orang anak yang masih bersekolah. Ia setiap aharinya menafkahi keluarganya dari hasil menjual sayur. Rejeki yang ia dapatkan ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari serta kebutuhan anaknya yang masih bersekolah. Semangatnya dalam membahagiakan keluarganya tidak pernah redup.

***

Setelah selesai berbelanja di pasar dan merapikan dagangannya, ia pun segera pamit kepada istrinya untuk berangkat berjualan. Pae berjualan di desa Tlogopucang di Temanggung. Setiap Ramadhan tiba jualan Pae akan lebih cepat habis dibandingkan hari biasanya untuk itu ia pasti akan menyisihkan penghasilannya untuk dibelikan makanan yang kemudian ia bagi-bagi kepada orang yang berpuasa.

Tak jarang Pae juga menyisihkan hartanya untuk beramal di masjid atau diberikan kepada orang yang membutuhkan, karena prinsip hidupnya ketika mati yang dibawa hanya amal dan ibadnya saja, untuk itu ia akan terus banyak beramal bagi sesama manusia.

Setiap hari Jum’at biasanya Pae libur berjualan, tetapi saat bulan Ramadhan ia justru berjualan karena ia ingin terus beramal dengan membelikan makanan berbuka puasa untuk orang lain.

“Naikkan gaji kami, jangan biarkan kami makan kelaparan, naikkan gaji kami” terdengar suara dari orang-orang yang sedang berdemo di depan perusahaan PT. Jayatinka Pratama di Temangggung yang biasanya Pae lewati saat menuju Desa Tlogopucang.

Karena demo tersebut secara otomatis membuat jalanan menjadi macet, bahkan tidak ada yang berani melewati jalanan tersebut karena takut di keroyok massa. Akan tetapi, Pae tetap nekad melewati kerumunan para demostran, alhasil dagangannya menjadi sasaran para demostran untuk di jarah yang membuat dirinya hanya bisa pasrah.

Setelah dagangannya habis diambil para demostran, ia masih saja mengucap syukur, karena ia beranggapan bahwa dirinya masih bisa selamat saja sudah bersyukur, ia juga tidak marah kepada para demostran karena ia menganggap bahwa dirinya sedang beramal untuk orang lain.

Dirinya hanya memikirkan bagaimana nanti ia menjelaskan kepada anak istrinya di rumah. Setelah merasa agak tenang ia pun segera bergegas pulang menuju rumahnya tak membawa sepersen uang pun, meskipun dagangannya habis. Sore harinya Pae tetap membelikan makanan untuk dibagikan kepada orang yang berpuasa.

Sabtu pagi Pae pun tetap berjualan seperti biasanya meskipun kemarin ia baru saja mendapatkan sebuah musibah. Hari ini memang tidak ada demostrak yang lewat, tatapi setelah sampai di Desa tempat jualannya tersebut. Ternyata sebagian para warga Desa sedang berpergian Ziarah ke kota, alhasil jualan Pae pun sisa banyak yang akhirnya sebagian ia bagikan untuk beramal dan sebagian ia bawa pulang yang masih bisa dijual esok hari.

Minggu pagi, Pae dengan penuh semangat akhirnya berangkat berjualan sayur keliling lagi dengan harapan hari ini jualannya bisa terjual habis. Sesampainya di Desa tempat jualannya banyak warga yang sudah menunggu Pae datang, dan setelah Pae berhenti, maka para ibu-ibu pun beramai-ramai membeli dagangan Pae.

“Pae ayam seperempat ini berapa?”, tanya salah satu ibu-ibu disana

Belum sempat menjawab pertanyaan tersebut, tiba-tiba ada yang bertanya kembali “Pae kalau harga buncis ini seiket berapa?”, tanya ibu-ibu yang lainnya.

“Kalau ayam itu Rp 15.000, buncis seiket Rp 4.000”, jawab Pae kepada ibu-ibu tersebut.

Setelah mereka membayar sayuran yang mereka beli, akhirnya mereka kembali kerumah masing-masing dan dagangan Pae mulai berkurang banyak.

Waktu Dzuhur tiba, akhirnya sebagai rasa syukur yang telah Allah SWT berikan kepada Pae, ia pun berhenti disebuah masjid dan segera menunaikan ibadah sholat Dzuhur.

Setelah sholat Dzuhur ternyata sudah ada banyak ibu-ibu yang sudah mengelilingi sayuran Pae, alhasil sayuran Pae pun habis tinggal sisa sedikit. Maka Pae pun memutuskan untuk pulang karena dagangannya sudah habis.

Ketika di perjalanan Pae tiba-tiba di hadang oleh ibu-ibu yang wajahnya memperlihatkan bahwa sepertinya ia ingi marah.

“Berhenti Pae”, suruh ibu-ibu tersebut

“Ya bu maaf, ada yang bisa saya bantu”, jawaban dari Pae yang tetap ramah terhadap ibu-ibu tersebut.

“Pae tu gimana sih ini jualan sayur masak busuk semua, gimana mau dimasak”, ibu tersebut merah-marah dengan nada yang tinggi.

Karena hal tersebut akhirnya semua warga yang disekitar rumah tersebut pada keluar yang membuat suasana menjadi rame.

“Maaf ibu, saya tidak berniat menjual sayur busuk, kalau memang sayur itu busuk saya minta maaf dan saya akan kembalikan uang ibu”, Pae berusaha menenangkan ibu tersebut mengingat hari ini adalah bulan penuh berkah.

“Ya udah sini uang saya, kembalikan”, ibu itu meminta uangnya dikembalikan.

Pae pun akhirnya mengambalikan uangnya dengan ditambah jumlahnya uangnya sebagai permintaan maaf. Meskipun sebenarnya sayurnya tidak busuk, hanya saja layu karena tertumpuk dengan yang lainnya.

Setelah urusannya selesai ia pun segera bergegas menuju kerumahnya karena ia akan memberikan makanan untuk buka puasa orang lain yang sedang berpuasa.

Hari-hari berikutnya ia tetap berjualan seperti biasanya dan Pae selalu bersyukur dengan apa yang ia dapatkan karena bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah, dan karena kesabarannya tersebut saat bulan fitri tiba, orang-orang yang pernah menyakiti Pae semua datang bersilaturahmi untuk meminta maaf kepada Pae. Sebenarnya Pae sudah memafkan mereka sebelum mereka meminta maaf, karena Pae mengangap bahwa mereka adalah saudara Pae.

Leave a Comment

Your email address will not be published.