Kado Kecil dari Tuhan, untuk Teh Ita

Oleh: Alfiyah Damayanti

Ita Az-Zaki. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan ‘teh ita’. Dia lebih tua dariku.

Seorang wanita yang cerdas. Akhlaq yang baik. Selalu mengindahkan ajaran-ajaran agama. Puasa senin kamis tak luput dari jadwal mingguannya. Dia juga meraih juara pertama di kelas.

Sayangnya. Ia tak berangkat dari keluarga yang bergelimang harta. Aku tau ketika ia menerima jatah bulanan dari ibundanya. Aku dan teh Ita satu kamar di asrama besar ini. Aku sering melihatnya menghitung uang kiriman ibundanya yang tak banyak itu.

Dari teh Ita. Aku lebih bisa memahami makna bersyukur. Ketika itu, teh Ita membuka celengan kecilnya saat pembayaran SPP. Kirimannya yang sangat minim, masih bisa ia sisihkan untuk memenuhi kebutuhannya. Teh ita, wanita yang tak berhenti membuatku berdecak kagum atas perilakunya.

Kiriman uang bulanan teh Ita bisa dikatakan separuh dari kirimanku. Akan tetapi, aku tak pernah menceritakan atau sekedar berbincang perihal uang bulanan. Aku paham. Mungkin teh Ita akan sedikit tersinggung dengan pembahasan semacam itu.

Sesekali aku mengajak teh Ita ke warung belakang. Aku traktir dia makan bakso. Aku rasa ia perlu merasakan hal semacam ini beberapa kali. Sekalipun berbagai macam penolakan yang teh Ita lontarkan sebelum menyetujui ajakanku, aku tetap saja menggandeng tangannya. Membawanya makan bakso bersamaku. Aku hanya ingin berbagi nikmat bersamanya.

Serbuan ucapan terimakasih acap kali diucapkan oleh teh Ita padaku. Mungkin ia beranggapan bahwa aku memberinya hal yang tak biasa. Ah. Teh Ita. Itu hanya semangkuk bakso. tak sepadan dengan suguhan motivasi dan bimbingannya padaku.

Memang tak hanya teh Ita yang tinggal sekamar denganku. Delapan orang lainnya juga sangat ramah. Mereka juga menjaga interaksi dengan sangat baik. Tapi teh Ita berbeda. Entahlah. Aku sangat mengaguminya. Belum lagi parasnya yang tak bosan dipandang. Seakan selalu bersinar dengan aliran air wudlu.

Teh Ita memang luar biasa. Ia sering membangunkanku  ketika aku tak sengaja tertidur sembari mengerjakan tugas. Teh ita juga sering menjelaskan beberapa materi yang tak dapat aku pahami di kelas. Teh Ita sering membangunkanku untuk bersama-sama melaksanakan qiyamul lail, tapi terkadang aku terlalu malas. Aku tak serajin teh Ita, yang setiap malamnya tak luput dari tahajjud lillah.

Saat bulan Ramadlan tiba. teh Ita selalu hadir sebagai makmum terdepan saat pelaksanaan solat tarawih. Ia sering mengatakan padaku, bahwa keutamaan yang sangat besar akan kita dapatkan lebih apabila menempati shaf paling awal.

Malam ini. Aku tak berada sebaris di shaf terdepan dengan teh Ita. Aku memilih tempat tepat di belakang teh Ita. Bukan karena aku tak mau satu shaf dengannya. Karena sesampainya di Masjid tadi, jatah shaf terdepan tinggal satu sejadah lagi. Aku mengalah pada teh Ita. Aku tak mau menjadikannya makmum di shaf kedua, mengingat betapa senangnya ia solat jamaah dan tarawih di shaf pertama.

Saat berdiri hendak melaksanakan sholat tarawih berjamaah. Aku melihat mukenah yang ia pakai sudah sangat kusut. Selain sudah tak terlihat putih. Bagian bawah belakang mukenahnya sudah kusut-mesat. Subhanallah teh Ita. Semangatnya tak pernah luntur dengan mukenah yang aku rasa sudah tak layak pakai itu.

Sekembalinya dari masjid. Teh Ita menggantung mukenahnya di paku yang tertancap di dinding sana. Sudah tak seputih mukenah teman-teman lainnya yang juga digantung sejajar di dinding. Tapi, teh Ita tak pernah minder dengan semua itu. Ia tetap menjadi wanita yang rajin beribadah mengalahkan semua anggota kamar.

Sekitar jam dua dini hari. Teh Ita sudah siap sedia dengan perlengkapan sholatnya. Tapi ia belum siap sholat. Aku hampiri dia. Subhanallah ! teh Ita menyetrika mukenahnya yang sangat kusut dimakan usia itu, agar kembali terlihat layak.

Aku menungguinya yang masih menyetrika mukenah. Kemudian sholat malam bersama dengannya setelah ia usai. Aku hanya bisa tersenyum. Teh Ita menambah poin kekagumanku padanya.

Aku ingat. Ulang tahun teh Ita tahun ini tepat di hari  ke 21 Ramadlan. Aku menyisihkan uangku untuk membelikan hadiah untuk teh Ita. mungkin dari uluran tanganku, Tuhan ingin memberikan teh Ita nikmat dan rahmat. Insyaallah.

Di hari ke 20 Romadlan. Aku sudah mendapatkan mukenah yang bagus untuk hadiah teh Ita. Betapa bahagianya aku. Teh Ita juga pasti sangat senang dengan mukenah baru yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.

Aku bungkus mukenah ini dengan kotak kado yang sekalian aku beli tadi pagi. Aku bingkus secantik mungkin. Aku ingin melihat senyum teh Ita merekah indah saat menerima hadiah Tuhan yang disampaikan melalui aku.

Malam hari. Seperti biasa teh Ita membangunkan aku untuk sholat malam bersama. Aku bergegas. Melaksanakan sholat malam dengan teh Ita. ia melanjutkan membaca Al-Quran setelah melaksanakan sholat malamnya. Aku beranjak dari sejadah, aku ambil hadiah itu untuk teh Ita. Untung saja tanggal sudah berganti. Aku bisa memberikannya sekaligus malam ini.

“Teh. Selamat ulang tahun. Sejahtera dan sehat selalu ya teh. Tetap jadi teh Ita yang selalu mengajakku kepada kebaikan.”

Aku memeluk teh Ita. Aku tau dia bahagia dengan ucapanku. Dari elusan tangannya di punggungku. Aku tau. Teh Ita juga mengingat hari ini sebagai hari kelahirannya. Pasti.

Aku sodorkan hadiah itu pada teh Ita. Teh Ita tersenyum haru ke arahku. Padahal ia belum tau isi kado itu.

“Subhanallah. Terimakasih Syifa.”

Ucapnya tak lepas dari syukur. Kemudian memelukku untuk yang kedua kalinya.

“Tak usah begitu, teh. Itu hadiah dari Allah buat teteh. Hanya saja aku menjadi perantaranya. Allah ingin teh Ita mengenakan mukenah yang diberikan olehku setiap menghadap padaNya. Maaf teh. Aku tak mau teteh tersinggung. Aku tau teteh ingin membeli mukenah baru. Dan ini. Allah memberikanya pada teteh. Teteh harus terlihat anggun dengan mukenah yang layak saat menghadap Allah. Ulang tahun teteh tepat di bulan Ramadlan. Selain sebagai hadiah. Semoga tercatat sebagai ibadah ya teh.”

Ucapku padanya. Seperti prediksiku. Teh Ita tersenyum bahagia sembari menatapku. Teh Ita. Ia teman, sekaligus seorang bunda bagiku. Aku pun tak kalah senang dengannya. Aku bisa memberinya hadiah sekaligus berderma di bulan suci ini.

Mulai sekarang teh Ita tak akan mengenakan mukenah kusut lagi. Mukenah teh Ita tak kan terlihat kusam dibandingkan dengan yang lain. Teh Ita sudah mempunyai mukenah baru yang cantik. Insyallah. Mukenah ini hadiah dari Tuhan untuk teh Ita. Karena ketekunannya ibadah. Allah memberikan hadiah ini di hari ulang tahunnya.

Selamat teh. Hadiah kecil dari Tuhan- melalui aku. Semoga menjadi penyemangat teteh dalam ibadah. Dan memberiku percikan kemulyaan dari pribadi teteh yang insyaallah menjadi wanita yang dirindu sorga. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published.