The Beuty of Sharing

Oleh: Irma Novi Damayanti

Pukul 02.00 siang. Ruangan 6×8  ini ramai. Rapat penting. Begitu alasan Ketua OSIS tadi memanggil kami- yang tengah sibuk mendengarkan penjelasan guru, menuju ruangan 6×8  ini. Aku mendengus pelan saat itu. Lalu, dengan langkah gontai mengikuti Ketua OSIS yang sibuk memberikan penjelasan singkat tentang rapat hari ini.

“Berderma di Bulan Ramadhan. Catat baik-baik tema itu. Karena aku ingin kalian semua mengeluarkan ide-ide paling brilian yang pernah aku dengar,” jelasnya menggebu, saat seorang anggota lain bertanya tentang tema rapat kali ini.

Aku mengangkat bahu tidak peduli. Bagiku sehebat apapun tema rapat OSIS, semuanya tetap menyebalkan. Dan apa tadi dia bilang? Berderma? Aish! Bahkan sedkitpun aku tdak pernah berpikir tentang kata itu. Apalagi melakukannya.

“Kalian ini, apa tidak bisa berpikir serius sebentar saja?” teriak Ketua OSIS, yang kini menatap kami tajam bergantian, menyadarkanku dari lamunanku. Raut wajah yang tadinya cerah bersemangat, kini berganti sempurna 180. Sungguh mengesankan. Batinku.

Aku menatap sekitar. Mengikuti gerakan mata Ketua OSIS yang masih menatap tajam kami semua. Satu dua orang terlihat berdebat mengunggulkan pendapat masing-masing. Satu dua orang lagi terlihat memperhatikan, sibuk mencatat hal-hal penting, kemudian mengangguk-angguk takzim pura-pura mengerti. Sisanya duduk, meletakkan kepala di meja, menatap tidak peduli. Sesekali mengangkat kepala, lantas melirik jam dan berpikir kapan rapat ini akan berakhir.

Aku menghembuskan nafas panjang. Pantas saja, Ketua OSIS yang dikenal sangat berwibawa, cerdas, juga pandai membawa diri ini kesal. Astaga! Siapa pula yang tidak kesal memimpin rapat yang lebih pantas disebut sebuah pasar ini? Tapi sekali lagi, aku tidak peduli.

“Amara! Apa yang kamu lakukan, hah?” teriak Ketua OSIS marah, yang tentu saja membuatku berhenti menatap sekitar.

Lengang. Semua mata terpusat padaku. Aku menghembuskan nafas cepat. Lagi-lagi seperti ini.

“Selama ini aku hanya diam melihatmu. Kau ini. Astaga. Bisahkah kau sedikit saja membuat dirimu berguna?” teriak  Ketua OSIS frustasi “Setidaknya untuk saat ini,” pungkasnya. “Kalian semua, dengarkan aku! Aku sudah menduga tidak ada yang bisa diandalkan dari kalian semua,” tajam, suara Ketua OSIS membuat kami terdiam. Matanya menatap kami awas, kemudian berkata tegas.

“Satu minggu ini aku sudah merencanakan semuanya. Proposal sudah disetujui oleh Kepala Sekolah. Kegiatan ini akan berlangsung satu hari. Sasaran utamanya adalah orang-orang di pinggiran Ibukota yang benar-benar membutuhkan. Objek yang akan kita berikan adalah takjil untuk buka puasa. Semua sudah dipesan dan sudah akan diantar di sekolah ini besok. Jangan khawatir soal biaya. Kas kita lebih dari cukup. Ditambah lagi iuran para guru dan sponsor. Kita berkumpul di sini pukul 14.00. Aku hanya minta satu hal dari kalian. Mohon bantuan dan kerja samanya besok. Rapat selesai. Terima kasih,” pungkasnya yang tentu saja membuat semua orang menatap takjub ke arahnya. Mulut menganga, lantas berbisik satu sama lain, “Ketua OSIS kita memang luar biasa.”.  berbeda 180 denganku, yang memilih mengangkat bahu tidak peduli. Dan kembali melamun.

***

Mobil yang kutumpangi lambat merayap, menyusuri jalanan Ibukota. Deretan panjang kendaraan, juga suara klakson yang terdengar memekakan telinga mengiringi perjalanan kami. Satu dua angkuan umum berhenti di sembarang tempat, memperkeruh suasana.

Aku menatap ke luar jendela. Memperhatikan deretan tinggi gedung-gedung juga lalu lalang kendaraan yang menyebalkan. Di sampingku, duduk tenang seorang laki-laki yang terlihat sibuk dengan stir di depannya. Ya, sesuai rencana yang telah disepakati atau lebih tepatnya terpaksa disepakati, kami berkumpul pukul dua siang. Menyiapkan keperluan, kemudian membagi tim dan berangkat pukul 15.00. Aku, bersama ke-2 anggota OSIS yang lain masuk ke dalam tim 4. Satu mobil dengan Ketua OSIS yang brilian itu. Orang yang sekarang duduk tenang di sampingku, fokus dengan stir yang ada di depannya. Sementara 2 orang temanku masih sibuk dengan alam mimpinya bahkan sejak mobil ini mulai meninggalkan gerbang sekolah. Menyisakan diriku yang masih berkutat dengan pikiranku. Sungguh menyebalkan.

“Hai Ra. Eh, maksudku apa kabar? Apa harimu baik?” sapa Ketua OSIS, memecahkan keheningan. Aku menoleh ke arahnya. Menatapnya datar, lantas kembali melihat ke luar jendela. Mengabaikan raut wajah Ketua OSIS yang memerah dan memaki pelan tindakan konyolnya.

“Eh Ra. Soal kemarin itu, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu, apalagi mempermalukanmu. Aku hanya_”

“Melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Aku tahu itu. Lupakan,” kataku dingin memotong kalimatnya.

Dia terdiam. Lengang. Menyisakan deru suara mobil yang terus melaju, membelah jalanan padat Ibukota. Sementara di luar, awan mendung mulai menghiasai menghias langit.

Pukul 16.00. Awan mendung masih setia menggantung di atas sana. Sayup-satup suara Ketua OSIS terdengar memberikan pengarahan, membagi tugas. Padahal, satu toa besar erat dipegangnya ditambah lagi urat leher yang terlihat jelas karena kerasnya dia berteriak. Namun tetap saja, semua hanya terdenngar sayup-sayuop ditelingaku, jika aku memang tidak ingin mendengarkannya.

Sepuluh menit kemudian, briefing selesai. Anggota OSIS yang lain langsung bergegas menuju mobil masing-masing. Berlarian mengerjakan tugas masing-masing. Aku berjalan santai menuju mobilku. Menyaksikan siswa laki-laki yang susah payah membawa kardus-kardus besar berisi makanan, juga siswa perempuan yang kesusahan mengikuti siswa laki-laki, dengan tangan penuh dengan kantong plastik.

Aku tetap melangkah santai tidak peduli. Bersandar pada mobil sambil mendongakkan kepala, kemudian tersenyum. Hujan akan membuat semuanya lebih menyenangkan. Pikirku.

“Hai Ra. Kamu masih di sini? Nungguin siapa?” tanya Ketua OSIS yang sibuk menata dus makanan dalam kardusnya.

“Atau kamu tidak mau ikut?” tuduhnya.

Aku menoleh. Menatapnya, kemudian menggeleng diikuti senyum. Ketua OSIS itu terdiam. Hanya saja sorot matanya menatapku tajam, meminta penjelasan.

Sekali lagi aku menggeleng -masih tersenyum. Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Batinku.

Dia tersenyum.

“Kamu tahu, Ra? Selama ini aku telah menemui banyak orang. Berkenalan dengan banyak orang. Tapi tidak ada yang seaneh dirimu,”

“Satu-satunya di dunia mungkin,” ejeknya padaku, kemudian tertawa kecil.

Aku melotot ke arahnya. Menatapnya bingung. Apa maksudnya?

“Hei. Jangan menatapku seperti itu, Ra. Ayo aku tunjukkan padamu, seberapa menyenangkannya semua ini,” jelasnya menggebu, masih dengan tawa kecilnya.

Aku menggeleng. Sama sekali tidak tertarik.

“Kamu tidak bisa menolak, Ra. Kamu lupa satu hal. Selama kamu disini, ada dalam acaraku, kamu harus patuh padaku. Jadi ikuti aku!” perintah Ketua OSIS menyebalkan itu, yang sekarang berbalik meninggalkanku.

Aku mendengus kesal. Kemudian, dengan langkah terburu-buru, aku menikutinya. Bagaimanapun aku bukan murid badung yang suka melanggar aturan.

Lima menit kami berjalan. Menyusuri perkampungan kmuh dipinggiran Ibukota. Rumah-rumah reyot –jika masih layak disebut rumah, berjeje satu sama lain. Di sampingnya, terpasang tai memanjang dengan satu dua baju di atasnya. Anak-anak kecil berlarian di sekitarku. Kadang kala malu-malu menyapa, yang kubalas dengan senyum tipis. Ketua OSIS itu? Tak usah kalian tanyakan. Dia sibuk membagikan dus-dus makanan itu kepada setiap anak-anak kecil yang ditemuinya.

Aku jengah memandangnya. Sudah kukatakan dari awal, aku tidak suka berderma, berbagi, atau apalah itu. Bukan maksud apa-apa. Aku hanya tidak suka membagikan sesuatu secara percuma, sementara kta harus berjuang mati-matian untuk mendapatkanya. Jadi, apa aku salah?

“Ra, kamu tidak mau ikutan?” seru Ketua OSIS, memecah lamunanku.

Aku menggeleng. Sudah kubilang aku tidak tertarik.

Dia terdiam menatapku, kemudian tersenyum. Diambilnya satu bungkus makanan itu, kemudian berjalan mendekatiku.

“Ra, kamu tahu? Ini bukan hanya soal memberi. Juga bukan hanya tentang membagi-bagikan sesuatu secar percuma seperti yang selalu kamu pikirkan. Ini tentang keikhlasan, Ra. Rasa damai di hati ketika kita sudah melakukannya,” jelanya panjang lebar, yang tentu saja tidak mendapat tanggapan berarti dariku.

“Ah, maafkan aku. Mungkin kamu sudah ribuan kali mendengar kata seperti itu. Tidak penting memang. Seseorang pasti melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda-beda,” lanjutnya kemudian terdiam.

Aku juga terdiam. Tapi bukan karena memikirkan kalimatnya, melainkan aku hanya malas menanggapi.

“Eh, atau mungkin kamu bercita-cita sebagai seorang pembunuh, Ra?’ cetusnya tiba-tiba membuatku terbelalak menatapnya. Apa maksudnya? Mana mungkin aku bercita-cita sebagai seorang pembunuh. Tidak masuk akal.

“Kamu tidak percaya, Ra? Secara tidak langsung kamu berperan membunuh seseorang, bahkan beberapa orang dengan sikap tidak pedulimu itu,”

Aku menatapnya tidak percaya, kemudian menggeleng cepat. Tidak. Aku tidak mungkin menjadi pembunuh.

“Ketua OSIS itu tertawa. “Aku bercanda, Ra. Tapi mungkin memang bisa terjadi.”

“Kau lihat anak-anak itu?” tanyanya, sambil menunjuk ke arah anak-anak kecil yang tertawa senang dengan membawa bungkusan makanan itu.

“Ra, di dunia ini banyak sekali orang yang memiliki nasib tidak seberuntung kita. Anak-anak itu misalnya. Ah, bahkan kita tidak tahu makanan itu, makanan keberapa yang bisa dimakanannya hari ini. Atau bahkan dua, tiga hari ini.

Mereka sangat membutuhkan kepedulian kita, Ra. Bayangkan saja kita tiba di sini di hari ke-4. Telat satu hari saja. Dan mereka, mungkin sudah sangat tersiksa dengan rasa laparnya. Dan jika terlambat lagi, mungkin saja mereka malah sudah tiada,” ucapnya santai seakan topiknya ini biasa saja.

Aku bergidik ngeri membayangkannya. Aku memang tidak pernah berpikir sepanjang itu. Jika memang seperti itu, berapa banyak orang yang sudah kubunuh selama ini? Tidak. Aku tidak ingin menjadi seorang pembunuh.

“Ambil ini, Ra!” sebungkus makanan tersodor di depanku. Aku mengangkat kepalaku. Menatap ragu Ketua OSIS itu.

“Ambil. Berikan pada mereka. Lupakan soal prinsipmu itu. Dan lagi, ini bulan puasa Ra. Besar sekali pahalanya,”

Aku mengangguk tanganku bergetar mengambil bungkus makanan itu. Kemudian dengan mantap mendekati seorang anak kecil dan memberikan makanan itu padanya. Anak keci itu ragu. Aku tersenyum. Dia mengangguk lalu menagambilnya dan berkata lirih. “Terima kasih,” ucapnya.

Aku mengangguk. “Sama-sama,” jawabku.

Ketua OSIS itu mendekat ke arahku. Mengacak pelan rambut anak itu, kemudian berkata ramah.

“Pergilah, susul teman-temanmu.”

Maka langsung saja anak kecil itu berlari meningglkan kami.

“Terima kasih. Terima kasih sudah membuatku sadar,” kataku lirih sambil menunduk.

Dia tersenyum. “Tidak masalah,” jawabnya. Hening. Kami terdiam satu sama lain.

“Kharisma!”

“Amara! Cepat kembali ke mobil. Waktunya pulang. Sudah hampir Maghrib,”  teriak Pembina OSIS mengingatkan.

Aku tertawa. Kemudian berlari menuju mobil. Ketua OSIS itu juga mengikutiku.

Sementara itu, air hujan mulai turun mengiringi langkah kami. Aku mendongak. Berderma di Bulan Ramadhan. Tema yang menarik. Pikirku, kemudian tersenyum tipis.

Leave a Comment

Your email address will not be published.