Kisah di Depan Gundukan Tanah

Oleh: Iftitahur Rizqiyah

Sekilas, kampung tersebut nampak termaginalkan dari kota besar. Terletak di posisi terluar kota trenggana. Suasana kampung itu sejuk karena jauh dari peradaban kota. Banyak pohon rindang tanpa ada asap pabrik. Di sana hanya ada 35 sampai 37 rumah penduduk dan 1 musholla yang sudah terlihat tua tak terurus, kampung ini memiliki nama Hulurejo.

Tak jauh dari kampung tersebut terdapat sebuah bangunan besar yang merupakan sebuah pabrik sepatu dengan brand terkenalnya yakni Jumlah pekerjanya kurang lebih 875 orang, membuat sarana dan prasarana yang disediakan tidak cukup untuk menampung para pegawai kala lonceng  istirahat tiba. Jadi, banyak para pegawai yang mencari tempat nyaman di luar pabrik untuk sejenak merenggangkan otot. Salah satu sasaran mereka sebagai wadah penampung letih adalah musholla “At Taufiq”. Musholla kecil yang terbuat dari kayu jati dengan kubah coklat tua bergariskan emas yang terletak di tepi desa Hulurejo.

Aktifitas pabrik selalu berjalan sama setiap harinya tanpa ada perbedaan yang signifikan, pegawai bekerja, istirahat, bekerja lagi hingga pegawai shift lain datang menggantikannya, begitu hingga seterusnya. Sampai pada suatu saat ada seorang bernama Hanif, pemuda 22 tahun yang berstatus sebagai pegawai baru di pabrik tersebut merasakan banyak kejanggalan di pabrik tempatnya bekerja. Sebenarnya kejanggalan ini tidak penting untuk ia selidiki. Tapi rasa ingin tahunya semakin memuncak saat bulan romadhon tiba.

Semua ini berawal saat ia mendapat shift siang di pabrik sepatu Swalwoy tersebut. Di bulan romadhon, dia bekerja mulai pukul 13.00 -00.00 dengan waktu istirahat mulai pukul 17.00-20.00 untuk berbuka dan tarawih berjama’ah bagi yang melaksanakannya. Saat romadhon, Hanif memilih tempat berbuka di mushola At Taufiq seperti pegawai lainnya. Meski keadaan musholla sangat memprihatinkan, tapi disana setiap menjelang buka puasa selalu tersedia kolak gratis untuk pegawai yang berbuka disana. Tidak ada yang mengetahui dari siapa takjil tersebut. Yang jelas, jumlah takjil selalu cukup untuk para pegawai yang berbuka disana. Pegawai lainnya acuh akan hal ini, namun Hanif penasaran dengan siapa yang sudah berbaik hati shodaqoh takjil dengan jumlah banyak setiap hari. “Mbul, apa mungkin yang shodaqoh takjil ini bos yudha ya?” tanyaku pada Gembul, pegawai tetap yang berasal dari kampung Hulurejo sendiri.

“Nif, bos yudha itu orangya sangat perhitungan dan jarang memperhatikan kesejahteraan pegawai, mana mungkin beliau yang ngasih. Selama 10 tahun kerja di Swalwoy, pak yudho tidak pernah memberikan tambahan gaji padaku sebagai hadiah karena menjadi pegawai lama. nhaa apa lagi buat bagi-bagi takjil. rasanya mustahil nif” celetuk gembul menanggapi pertanyaanku.

“Lantas siapa mbul?” tanyaku lagi penasaran.

“Hemm..” dia menghela nafas sejenak dan melanjutkan desahnya.

“Entah nif, aku juga kurang tau, yang  jelas bukan dari penduduk Hulurejo nif, kami hidup serba kekurangan, mana mungkin memiliki kelebihan uang untuk berbagi takjil sebanyak ini setiap romadhon”.  Aku terdiam, sejenak tersirat pikiran aneh  bahwa pengirim takjil itu adalah malaikat yang kasihan melihat pegawai kelaparan.

“Tapi nif, dibelakang mushola ini ada makam mbah marijan, beliau penjaga mushola ini dulu yang juga sering bagi takjil, tapi dulu takjilnya tidak sebanyak ini”.

Aku terperangah mendengarnya. “yang benar ?”.

“Iya nif, kolak juga dulu takjilnya, tapi setelah beliau meninggal, tidak ada yang bagi-bagi takjil lagi selama setahun, dan akhirnya, ada lagi dengan jumlah yang lebih banyak”. Pernyataan Gembul membuatku memiliki hipotesis baru bahwa penderma takjil adalah keluarga mbah marijan yang ingin meneruskan kebaikan mbah marijan, bukan bos yudha.

Gema kalam ilahi  mulai dibaca di dalam musholla setelah ibadah tarawih selsai dilaksanakan. Beberapa anak-anak penduduk desa ikut bertadarus bersama. Hanif ingin ikut membaca beberapa ayat Alquran untuk bertadarus bersama mereka sebelum kembali ke tempat kerja. Kebetulan, baru menunjukan pukul 19.35.Itu berarti masih ada waktu baginya untuk turut menyumbangkan suara di microphone sebelum saatnya ia harus kembali ke pabrik.

Hanif adalah pemuda yang mudah bergaul  dengan siapa saja yang baru ia jumpai.  Jadi, kesempatan ini juga digunakan Hanif untuk bertanya pada penduduk desa setempat perihal takjil misterius yang membuatnya penasaran. Namun, sekali lagi hipotesis Hanif salah. Ternyata mbah marijan hidup sebatang kara, almarhum tidak memiliki keturunan ataupun keluarga di Hulurejo. Almarhum adalah seorang preman yang insyaf dan kemudian memilih jalan  mengabdikan dirinya di musholla At Taufiq sepanjang sisa hidupnya. Lantas? Siapa yang memberi takjil? Hanif sudah kehabisan hipotesis.

5 kaca alquran juz 17 telah ia babat dalam waktu yang relatif sedang. Setelah tadarus Hanif pamit kepada penduduk yang masih disana  untuk kembali ke pabrik. Di tengah perjalanan kembali ke pabrik, ia lupa meninggalkan jaketnya di surau musholla. Untuk mempercepat langkahnya, Hanif memilih jalan pintas lewat belakang musholla. Meski jalannya gelap dipenuhi rumput tinggi, Hanif memberanikan dirinya untuk tetap lewat sana karena takut mendapat murka dari bosnya.  Di tengah lari kecilnya, Hanif menangkap seseorang yang sangat ia kenal duduk berjongkong di depan gundukan tanah. Pemandangan tersebut mengalihkan niat awalnya untuk kembali ke musholla. Hanif seakan lupa dengan jaketnya, dan lebih memilih mendekati orang yang berjongkok tersebut.

Lambat memang langkahnya, karena ia takut orang tersebut merasakan kehadirannya. Semakin dekat, Hanif semakin jelas mendengar apa yang diucapkan orang tersebut di depan gundukan tanah tersebut. Orang tersebut ternyata membaca doa sambil terisak-isak.  Hanif membuka matanya lebar-lebar, memastikan bahwa orang tersebut benar-benar menangis atau tidak.

Lirih ia dengar orang itu sering mengucap “semoga pahalanya mengalir pada anda mbah”.  Hanif kenal suaranya, ia seakan tidak percaya bahwa orang yag menangis di depan gundukan tersebut adalah bos nya.

Selesai doa dibacakan, bos Yudho menyadari kehadiran orang yang mengamatinya dibelakang sedari tadi . “Siapa kamu” sergah bos Yudho tanpa memalingkan pandangannya. Hanif terkejut, ia  merasa bahwa kehadirannya sudah tertangkap basah. Ia memilih menyerah dan keluar dari persembunyian.

“Mohon maaf bos, saya Hanif , pegawai Swalwoy”. Ia memberanikan diri mendekati bosnya yang sedari tadi tidak memalingkan wajahnya ke belakang sama sekali.

“Sebelumnya mohon maaf yang sebesar-besarnya”. Hanif mulai menceritakan kronologi kejadian bagaimana ia bisa sampai tempat itu dan mengamati bosnya. Hanif juga memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan yang selama ini menjadi misteri baginya.  Bos Yudha  saat itu tetap menghadap gunduka tanah tanpa memandang Hanif yang bertutur panjang lebar.

“ Berderma itu tidak perlu diketahui banyak orang” jawab bos Yudha sambil berdiri dan menuju Hanif yang sudah memaparkan secara gamblang semuanya.

Hanif tidak menyangka bahwa kata pertama jawaban dari bosnya seperti itu. ia kira bahwa bosnya akan memarahinya dan berkata “Hanif dipecat”.

“Hanif, seandainya engkau tidak mendapatiku disini, mungkin aku tidak akan mengatakannya padamu”

“ Mbah marijan ini adalah figur penginspirasiku, tanpanya pabrik Swalway tidak akan bisa aku kelola sebesar ini”. Lanjutnya.

“Dulu, saat Swalwoy masih kecil, aku selalu memperhitungkan berapa keuntungan dan kerugian pabrikku. Aku jarang memperhatikan kemaslahatan pegawaiku. Mereka selalu aku gaji pas-pasan tanpa ada tunjangan. Hingga pada akhirnya aku menemukan sesosok mbah marijn di mushola ini”

“Beliau penjaga masjid yang bekerja sebagai pencari rumput dan kayu. Uang jerih payahnya selalu ia tabung, sedangkan makannya sehari-hari sudah ditanggung pihak pengurus musholla. Uang yang ia tabung akhirnya sebagian untuk berkurban di idul adha, dan sebagian lagi ia gunakan untuk memberikan takjil orang yang berbka di mushollanya saat idul fitri”

Bos Yudho tatapan matanya menerawang ke arah makam, seolah olah ia mendapati sosok Mbah Marijan masih ada.

“ Dari mbah marijan, aku belajar bahwa hidup itu bukan tentang memperkaya diri sendiri, tapi kita harus mendermakan harta kita, agar Allah ridho dan menambah kenikmatan kita”

“tapi bos, kenapa bos tidak memberitahukan hal ini kepada pegawai anda bahwa anda yang memberi takjil? setidaknya agar mereka tidak selalu mengaggap bahwa anda adalah bos yang perhitungan”

“Hanif, beramal tidak harus tau banyak orang. Selain itu, aku tidak ingin pegawaiku mengetahui kalau bosnya sudah berubah. Hal ini semata-mata  agar tidak mengurangi rasa takut dan hormat mereka kepadaku. Biarkan mereka tetap mengaggapku seperti ini. Oleh sebab itu, semua ini aku rahasiakan. Lagi pula, aku berharap pahala dari derma takjil ini mengalir ke mbah marijan, aku ingin melanjutkan kebaikannya agar ia selalu mendapat aliran pahala”

Sungguh aku merasa menjadi peramal seketika, karena merasa bahwa hipotesis pertamaku benar.

“Hanif, saya harap. cukup kamu yang tau akan hal ini, jangan sampai pegawai yang lain tau”

Aku mengaggukan permintaan bos yudha, dalam hati aku berdecak kagum, bukan hanya pada mbah marijan sebagai mantan preman yang berhasil menginspirasi Bos Yudho. Tapi juga kagum dengan cara Bos Yudho yang ternyata dia sangat pedulu pada karyawannya tanpa sepengetahuan karyawannya. Tak pernah terfikirkan sebelumnya bahwa selama ini bos yudho membuatkan buku tabungan semua pegawainya,  gaji tambahan dan hadiah untuk pegawai rajinnya ia masukan dalam tabungan tersebut tanpa sepengetahuan pegawainya. Tabungan itu akan ia bagikan saat pegawai tersebut risent atau pensiun. Subhanallah.

Leave a Comment

Your email address will not be published.