Lentera Hidup

Oleh: Reni Pratiwi

Hari demi hari yang kulalui biasanya tidaklah terlalu istimewa. Bangun pagi, sekolah, pulang sekolah langsung main dan seperti itu siklus setiap harinya. Tapi lain dong dengan bulan ramadhan. Saat ramadhan tiba, main bukan hanya sekadar main. Biasanya emak marah kalau aku main terus, lain saat ramadhan tiba.

“Ya, daripada si Ucup merengek karena lapar, bolehlah main.” Begitu kata emak.

Saat ramadhan tiba, mau beli makanan apapun untuk berbuka, emak tidak melarang, malah emak memberi uang saku untuk aku bawa saat main, asal tidak dibelikan pada hal yang tidak berguna, dan yang terpenting tidak dibelikan makanan, hehe. Saat ini usia Ucup menginjak 10 tahun. Masih muda ya? Memang sih, tampang Ucup juga masih imut. Saat ini Ucup dan teman-teman Ucup hendak bermain layangan di lapang depan rumah pak RT.

“Emak, Ucup mau main layangan di lapang ya.” Ucup berteriak karena Ucup sudah di depan rumah.

“Iya Cup, jangan macam-macam, apalagi beli es kelapa.”

“Wkwk, emak bisa aja, Ucup kan gak mungkin beli minuman.” Emak ada-ada saja, Ucup kan sudah besar, mana mungkin tergoda hanya karena minuman saja. Ucup sudah sampai di lapangan. Dendi dan Edo sudah menunggu sejak tadi.

“Cup, bawa layangan berapa? Awas kalau bawa satu. Kalau kalah, kan nanti ribet harus beli dulu, mending kalau ada uangnya, lah ini nanti kayak si Dendi, mau beli layangan uangnya tidak ada.” Ucap Edo padaku.

“Bawa tiga dong, Ucup kan gak bakal kalah. Emangnya kalian.” Ujarkau agak menyombongkan diri.

“Huh dasar kau Ucup, sombong sekali.” Dendi menjawab ucapanku.

“Yah kalian, Ucup bercanda lah, Ucup bawa uang kok, tadi dikasih emak. Kata emak, asal jangan dipakai buat beli es kelapa, nanti puasanya batal.”

“Ya iyalah, masa beli es kelapa Cup. Eh, Cup, Den, kalian bawa uang gak?”

“Memang untuk apa Do? Dendi bawa sih, si Ucup juga bawa, kan?”

“Bawa dong, iya memang untuk apa?”

“Kata pak Ustad kalau kita punya rezeki, kita harus berbagi kan ya? Kemarin saat aku jalan-jalan sore, aku melihat bapak-bapak yang berjualan di pinggir jalan menuju desa, di sana kan banyak pedagang, tapi dagangan si bapak tidak laku, aku jadi kasihan deh.”

“Si bapak yang mana sih? Siapa tahu Dendi dan Ucup tahu.”

“Itu loh, si bapak yang rumahnya dekat dengan rumah Ucup, yang jualan kolak.”

“Oh iya Do, Ucup tahu, si bapak itu suka memberi kolak pada emak jika jualannya tidak habis. Padahal kan kolaknya enak.”

“Yah mungkin sudah banyak yang berjualan kolak, jadi dagangan bapak itu tidak laku.” Ucap Dendi menanggapi.

Aku sebetulnya kasihan juga. Ada seseorang yang betul-betul berusaha, tapi hasil yang didapatnya belum maksimal. Padahal dia berusaha untuk menghidupi keluarganya dengan cara yang halal. Ucup kasihan sih, lalu apa yang harus Ucup perbuat? Ucup kan masih remaja, belum bisa membantu apa-apa.

“Ucup juga bingung harus berbuat apa teman-teman, menurut kalian apa yang harus kita lakukan?”

“Gimana kalau kita beli saja kolaknya? Kita kan membawa uang, nanti kita beli saja kolaknya, gimana?” Usul Dendi.

“Betul juga sih, kenapa tidak terpikirkan sampai ke sana ya?” Aku juga baru ingat bahwa dengan membelinya kita sudah membantu si bapak, hehe.

“Wah betul Dendi, aku juga diberi uang lebih hari ini, ide bagus juga.”

“Ya sudah, sekarang waktunya kita bermain. Den, terbangkan layangannya.”

“Siap Ucup.”

Walaupun aku masih kecil, emak selalu mengajariku untuk selalu menolong sesama. Sebisa mungkin kita tidak boleh mengabaikan mereka yang membutuhkan pertolongan kita.

“Cup, dalam keadaan apapun, tidak ada alasan untuk kita membiarkan mereka kesusahan. Selama kita bisa membantu meringankan penderitaan mereka, walaupun sedikit, bantulah. Allah akan mengantinya dengan yang lebih baik.” Begitu kata emak. Jadi Ucup selalu teringat dengan apa yang emak katakan.

“Teman-teman sudah sore nih. Gimana kalau kita beli kolak sekarang?”

“Ayo Cup, Edo juga harus segera pulang, untuk mandi sore.”

“Ya sudah, ayo kita pulang. Sudah tidak sabar aku menunggu berbuka puasa.” Ucap Dendi dengan mengelus perutnya seperti orang kelaparan saja.

Aku, Dendi dan Edo berjalan menyusuri jalan desa. Kami akan membeli kolak untuk berbuka puasa. Siapa tahu emak belum membeli apa-apa, jadi bisa kita makan bersama.

“Pak, kita beli kolaknya lima bungkus ya.” Ucap Dendi dengan begitu bersemangat.

“Lah Den, kok lima? Memang untuk siapa saja?” Tanyaku keheranan.

“Untuk Edo satu, kamu satu, dan aku tiga hahaha.” Jawab Dendi dengan tergelak.

“Serakah banget sih Den, itu perut apa tong, muat segala macam.” Ucap Edo tak kalah herannya.

“Kan di rumah pun bukan Dendi saja, Do, Cup.”

Yah namanya juga Dendi. Orang yang paling banyak makan di antara kita semua. Kalau Ucup sih, cuma berdua dengan emak. Bapak tidak pulang ke rumah.

“Pak, kok kolaknya masih banyak?” Tanya Edo melihat kolak yang masih banyak.

“Biasa nak, namanya juga pembeli, ada bosannya juga. Mungkin sedang ingin memakan yang lain selain kolak, jadi masih banyak nih.”

“Oh begitu ya pak, tambah lagi deh tiga bungkus. Di rumah Edo kan ada adik-adik Edo juga. Mereka pasti mau.” Ucap Edo dengan senyum yang menarik lesung pipitnya.

“Wah terima kasih nak. Alhamdulilah terjual lumayan banyak juga. Sayang kalau tersisa banyak.” Ucap penjual itu dengan senyuman lepas.

“Huh dasar Edo, tadi meledek, sekarang nambah. Ya tak apalah, aku tahu kok Edo gembul.” Ucap Dendi meledek Edo.

“Sudah, kalian ini saling meledek saja. Tuh kolaknya tinggal dibawa pulang.” Ucapku melerai mereka.

“Ini uangnya pak, terima kasih.” Dendi menyerahkan uangnya pada penjual kolak.

“Iya nak sama-sama.”

Aku dan teman-teman pulang ke rumah masing-masing.

“Assalamualaikum, mak? Ucup pulang.”

“Wa’alaikumsalam. Bawa apa tuh Cup? Sepertinya segar tuh.”

“Ucup membeli kolak mak, si bapak tetangga kita yang jualan di jalan desa, kasihan belum ada pembeli. Sepi. Jadi Ucup dan teman-teman membelinya. Kasihan. Padahal kan si bapak berusaha mencari makan yang halal.” Aku menjelaskan kepada emak.

“Nah begitu dong anak emak, membantu sesama itu sangat dianjurkan, nak. Kita harus bersedekah. Walaupun dengan membeli kolak ini.”

“Begitu ya mak, Ucup sih beli satu bungkus, tapi teman-teman membeli tiga bungkus.”

“Tidak apa Cup, yang penting kan niatnya. Ya sudah Ucup mandi, kotor bajunya.”

Keluargaku adalah keluarga sederhana. Meskipum begitu, emak tidak pernah mengeluhkan kehidupan kita. Aku tahu saat ini emak tidak memiliki beras. Uang pun tinggal untuk besok saja, padahal bapak pulang minggu depan. Aku tahu emak bingung bagaimana caranya agar kita makan esok hari. Emak hanya tersenyum dan tidak pernah berkeluh kesah dihadapanku. Maka dari itu, aku tidak pernah memaksa emak untuk membelikanku sesuatu. Karena aku tahu kondisi keluargaku sekarang. Aku tidak mau menambah beban emak.

Hari-hari teruslah berlanjut. Mengalir dengan sendirinya. Walaupun begitu, aku masih bisa makan sampai bapak pulang. Allah tidak akan membiarkan hambanya kesusahan. Entah darimana, makan tetap ada walaupun emak sudah tidak punya uang. Tetangga memberi beras lah, adak yang memberi telur di setiap harinya. Sehingga aku dan emak bisa makan.

“Begitulah Cup, jangan pernah mengkhawatirkan rezeki, Allah sudah memberikan jatah untuk kita.”  Ucap emak saat aku bertanya darimana beras dan lauknya.

Begitu pun dengan Edo dan Dendi. Mereka mendapatkan rezeki yang tidak terduga. Edo diberi uang untuk membeli baju baru dari saudaranya yang berada di seberang pulau.

“Padahal tidak ada kabar bahwa mereka akan datang ke rumah.” Ujar Edo menceritakan apa yang terjadi padanya.

“Aku pun Do, Cup. Pak rt memberi beras sekarung pada bapak. Katanya, pak rt mendapat bonus dari atasannya.

“Kalau kata bapakku, ketika kita memiliki niat yang baik untuk menolong orang lain, Allah akan membalasnya dengan yang lebih baik. Apalagi ini bulan ramadhan, Allah membalasnya berkali-kali lipat.”

“Betul tuh Den, kata emak Edojuga begitu.”

Ketika kita ingin berbuat baik kepada orang lain, Allah akan memberikan jalan untuk kita. Memberi tidak akan membuat kita miskin, walaupun hanya sedikit. Telah Allah siapkan untuk kita yang lebih baik agar kita selalu bersyukur kepada-Nya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.