Menulis Salam (Arab) dalam Konteks Bahasa Indonesia

As-salāmu ‘alaikum

Salam Pena bagi para pejuang literasi di seluruh penjuru nusantara. Semoga sehat selalu ya.

Tunggu … tunggu …, itu kenapa sih kok nulis salam saja ribet sekali?

Ya, itulah yang akan kita bahas kali ini.

Ungkapan as-salāmu ‘alaikum termasuk ke dalam unsur bahasa asing yang belum terserap sepenuhnya ke dalam bahasa Indonesia. Soal unsur serapan ini sudah dijelaskan sedikit dalam artikel Belajar Kata: Sholat atau Salat?, silakan diperiksa kembali.

Aturan penulisan unsur bahasa asing yang belum terserap sepenuhnya ke dalam bahasa Indonesia ini adalah dengan menuliskan ejaan yang sesuai dengan ejaan bahasa asalnya. Dalam kasus ini, adalah kata as-salāmu ‘alaikum yang berasal dari bahasa Arab dan ditransliterasikan ke dalam aksara latin. Maka, penulisannya ya seperti itu adanya, sesuai yang ada di dalam KBBI.

Selanjutnya, kata yang memiliki unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ini ditulis/dicetak miring (Italic) apabila diketik menggunakan Ms. Word atau dengan pengetikan yang berbasis komputer lainnya. Sedangkan apabila ditulis tangan atau diketik dengan menggunakan mesin tik zaman dulu, maka kata tersebut digarisbawahi.

Dengan demikian, penulisan salam (Arab) dalam konteks bahasa Indonesia ditulis seperti berikut ini:

As-salāmu ‘alaikum

dan/atau;

As-salāmu ‘alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh

Intinya, jika unsur asing itu merupakan unsur dari bahasa yang memiliki aksara sendiri seperti Arab, Jepang, Mandarin, maka ditulis sesuai dengan transliterasi yang baku ya.

“Kak, malas ah, nulis begitu. Ribet. Ditulis biasa saja boleh?”

Ya … silakan saja. Heheheh. Ingat, prinsip daripada bahasa lisan maupun tulis itu komunikasi. Jadi, selama lawan bicara dan/atau pembaca paham maksudnya, ya boleh-boleh saja. Hanya tidak baku.

Demikian pembahasan kita kali ini. Semoga bermanfaat. Terima kasih dan salam Pena!

Was-salāmu ‘alaikum

Respond For " Menulis Salam (Arab) dalam Konteks Bahasa Indonesia "