Limpah Karunia Bulan Penuh Berkah

Oleh: Tasya Annisa

Pagi hari yang cerah ku berjalan penuh riang bersama kawan diiringi kicauan burung nan merdu disekitar dedaunan dan pohon yang rindang. Entah mengapa hari itu kurasa sangatlah berbeda. Nuansanya terasa bagai di Surga . Segala ucapku terasa bermajas hiperbola saat ku panjatkan syukur atas karunia Yang Masa Kuasa. Dan memang sudah sepatutnya hal itu kita haturkan.

Senja hari saja sudah kurasakan senang hati apalagi menjelang petang sungguh ku rasa bahagia sebab bisa bersama menyambut bulan penuh berkah. Kami seluruh umat Muslim berbondong-bondong untuk mengindahkan bulan ini dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif dan melaksanakan apa yang sudah Baginda Rasullah SAW sunnahkan yakni shalat Tarawih yang dilaksanakan setelah shalat Isya’. Dimana ketika itu dihari pertama antisipasi warga muslim sangatlah menggebu-gebu. Setelah shalat Isya’ selesai, begitu juga dengan shalat sunnah tarawih, di daerah saya dilaksanakan tradisi yakni dakwah dan kemudian ditutup dengan do’a bersama. Tradisi seperti ini terjadi dihari pertama dan hari dan tanggal tertentu saja.

Ada peristiwa yang unik di daerah tempat dimana aku tinggal yakni Desa Talangagung, Kepanjen, Malang RT 11 RW 03. Saya sebutkan secara rinci agar kalian juga mengetahui darimana tradisi ini berasal. Tradisi tersebut yakni ketika bulan Ramadhan terutama setelah shalat Tarawih ada tradisi berbagi pada sesama dengan cara meletakkan beberapa jenis makanan seperti kue-kue, buah-buahan, dan makanan ringan lainnya pada jama’ah wanita. Mengapa hanya ku katakan jama’ah wanita saja yang beri?. Jawabannya adalah sebab jama’ah pria ketika yang jama’ah wanita diberi, terkadang mereka tidak kebagian atau bahkan tidak diberi karena hanya tersedia terbatas.

Momen berderma semacam ini pun juga tidak terjadi setiap hari. Ada kejadian unik disini, yaitu dimana saat hari-hari pertengahan bulan Ramadhan, sajian ringan yang ada saat selesai shalat Tarawih sudah mulai jarang dihidangkan dan begitu pula jama’ahnya sudah mulai terlihat semakin berkurang. Ada yang mungkin berhalangan menstruasi bagi wanita yang sudah sebagaimana mestinya. Ada juga yang beralasan persiapan membuat kue untuk dihidangkan di hari raya Idul Fitri nantinya. Bagi jama’ah pria ada saja yang beralasan buka bersama dan lain sebagainya.

Kejadian berderma seperti ini ku katakan sebagai sesuatu yang unik sebab tiba-tiba kebetulan ketika sajian itu ada entah mengapa para jama’ah secara tak terduga menjadi bertambah. Tidak bisa kupahami ini merupakan suatu kebetulan atau apa, yang jelas hal ini seketika mengundang gelak tawaku dan membuatku terheran.

Usut punya usut, tradisi berderma ini diawali dari tetangga sekitar mushola tempat kami melaksanakan shalat Tarawih. Beliau adalah sosok wanita yang menurutku hebat sebab keadannya yang ditinggal oleh suaminya dan kini tinggal bersama ketiga anak laki-lakinya. Dengan keadaan yang sederhana beliau masih saja peduli terhadap sesama dan tetap berderma sesuai dengan kemampuan ekonominya.

Patut kita maklumi jika hidangan yang ada saat pulang shalat Tarawih tidak setiap hari ada. Sebab jika kita lihat dari kondisinya saat itu beliau yang harus bekerja tanpa ada suaminya dan hanya dibantu oleh anak lelakinya. Beliau luar biasa sekali bisa membagi bagian untuk memenuhi kehidupan sehari-hari dan untuk menyempatkan berderma pada sesama.

Dan mungkin saja uang yang diperoleh tersebut hasil dari beliau bekerja sebagai ibu rumah tangga dan ketiga anaknya yang kebetulan sudah beranjak dewasa dan sosok lelaki yang memang sudah sebagaimana mestinya bisa diandalkan menjadi tulang punggung pengganti orang tuanya yang telah lama meninggal dunia.

Dan hasil dari mereka bekerja ternyata masih ada yang dapat mereka sisihkan untuk berderma pada sesama di bulan penuh berkah ini. Hal ini sudah menjadi kebiasaan keluarga tersebut untuk membagikan sebagian dari rizki yang mereka miliki.

Setiap hari saat ku berangkat untuk shalat Tarawih kulihat masih sepi shaf yang ada. Tapi ada sosok wanita yang duduk di shaf terdepan terlihat seperti sedang memanjatkan do’a. dan ternyata setelah kulihat lagi itu adalah sosok ibu tersebut. Beliau sangat rajin dalam beribadah dan ramah pada siapa saja.

Entah mengapa kulihat perubahan yang signifikan pada keadaan keluarga tersebut setelah apa yang mereka lakukan selama ini. Semakin hari terlihat semakin bertambah rizkinya. Buktinya terlihat dari rumah yang mereka singgahi kini menjadi semakin meluas dan rumah gigi yang mereka miliki menjadi semakin ramai dikunjungi dan bangunannya pun semakin bagus dan lebih layak.

Ku rasa tak ada rugi apabila berderma tanpa pamrih, tak ingin terlihat oleh tetangga sana-sini , dan cukuplah Allah yang tahu atas pemberian ini. Memang tak dapat dipungkiri lagi karunia dan berkah Allah SWT di bulan Ramadhan ini. Terbukti dari kisah keluarga ibu tiga anak ini yang secara kondisi ekonomi sendiri masih belum memadai, akan tetapi beliau masih tetap peduli terhadap sesama melalui berderma di bulan penuh berkah.

Seperti yang telah Allah firmankan pada QS. Al-Baqarah: 215 yang artinya:

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan”. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”

Jadi, marilah kita bersama-sama untuk berlomba-lomba dalam kebaikan bisa melalui berbagi pada sesama maupun hal baik lainnya kapanpun dimanapun dan terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Inshaa Allah.

Leave a Comment

Your email address will not be published.