Man Jadda Wajada

Oleh: Nur Hadi

Cahaya rembulan menerobos masuk di sela-sela kaca membuktikan dialah yang berkuasa. Angin malam menghembus bersuka ria menandakan dinginnya malam yang amat tersiksa. Dikeheningan malam-Nya, aku bersimpuh, bermunajat, memohon doa kepada-Nya “ya allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kemenangan dalam setiap ketetapan. Kemenangan yang diberikan kepada para syuhada dan orang-orang yang hidupnya bahagia. Dimana mampu menyertai para Nabi dan memperoleh bantuan melawan musuh. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha mendengar segala do’a hambamu. Aamiin…”

Selesai sholat akupun bergegas menyiapkan segala keperluan untuk lomba, sebuah teks pidato melayu dan sehelai sorban telah menanti dengan peci hitam didepan. setelah semua sudah siap, aku bersama peserta lain berangkat ke tempat dimana aku berlomba. berjuang untuk menggapai cita-cita. sehingga bisa menjadi juara. Tentunya akan menjadi suatu kenangan yang tidak akan terlupakan bagiku, apalagi diriku sudah begitu yakin karena teks pidato berbahasa melayu telah aku kuasai semua bahkan guru pembimbingku meyakini bahwa diriku mampu merengkuh title juara. Hal itu menguatkan semangat dalam mengikuti MTQ ke-XIV di Kecamatan Goto Gasib, Kabupaten Siak. Pada perlombaan ini, kami para peserta dari berbagai Kecamatan saling merebutkan piala bergilir tahunan, dimana MTQ yang ke-XIII direngkuh oleh Kecamatan Tualang dan kami hanya mengisi posisi ke-3. Pada tahun ini, pihak Kecamatan mengambilku menjadi kafilah pada MTQ ke-XIV di Kecamatan Goto Gasib ini. Kami para kafilah Kecamatan Sungai Apit berangkat sehari sebelum MTQ di mulai dengan penuh keyakinan.

Kamipun tiba di Kecammatan Goto Gasib tepat pukul 16.37 WIB, keberangkatan kami para kafilah Kecamatan Sungai Apit diharapkan benar oleh para masyarakat, teman-teman, dan pastinya orang tua tersayang. Sore besok aku sendiri akan tampil dengan nomor urut 07. Pada malam-Nya kami tidak memilih untuk istirahat, Namun kami memilih untuk latihan dipenginapan dengan para kafilah kami.

Tiba saatnya sore ini giliranku untuk lomba. sebelum melangkah tak lupa kupanjatkan doa kepada sang penguasa “laahaula walaa quuwata illabillaahil’aliyil ‘adzim”. tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan allah yang Maha Agung. Aku sampai pidato berbahasa melayu, dalam rangka memperingati isra’ mi’raj nabi muhammad Saw,  para penonton yang mendengarkan dan jama’ah yang berada diluar ruangan lomba termanggu diam mendengarkan suara seorang peserta lomba yang begitu bersemangat sehingga siapa saja yang mendengar akan menjiwai apa yang di sampaikan.

Sehari sudah aku menanti, menunggu pengumuman kemenangan lomba pidato berbahsa melayu tingkat kecamatan. Yang diselenggarakan di kecamatan Goto Gasib, Kabupaten Siak. Semua orang dari berbagai kecamatan sudah memenuhi ruangan aula yang telah disediakan. menanti-nanti kemenangan yang akan mereka dapatkan. Saya sebagai peserta tentunya akan merasakan hal paling dikhawatirkan begitu juga yang di alami peserta lomba lain. Kami para peserta lomba duduk didepan para penonton yang histeris melihat para kafilah-kafilah utusan mereka.

Suasana ramai berganti hening. ketika pembawa acara mengumumkan siapa pemenang lomba pidato berbahasa melayu juara satu lomba pidato melayu tingkat remaja dimenangkan oleh peserta dengan nomer utut 07 dari Kecamatan Sungai Apit Mendengar hal tersebut aku langsung bersujud, bersyukur, berterimakasih kepada allah yang telah mengabulkan semua doa-doaku.

Hari ke-5 MTQ XIV di Goto Gasib membuat kami semangat untuk perlombaan terakhir yaitu tahfizul qur’an, hampir semua bidang kami juarai terutama aku yang sudah sejak awal merasa kan hal itu, kini hanya tersisa 2 perlombaan dari Tahfiz yaitu Tahfiz 5 – 10 juz. Kami mendapat saingan berat dari Kecamatan Tualang, dan Kecamatan Siak. Kedua kecamatan ini berada dibawah kami dengan piont selisih  5 – 4 %. Namun kami tidak gentar sama sekali, dengan keyakinan penuh kami hadapi dengan semampu dan semaksimal mungkin  tanpa ada kata mengeluh akan semua kegagalan dalam hal apapun. Meskipun 3 tahun sebelum nya banyak mengalami cerita buruk di MTQ, tetapi hal itu yang ingin rubah agar lebih baik dan mengharumkan nama kecamatan kami. Malam ini adalah penutupan MTQ ke XIV setelah sore tadi perlombaan tahfiz, alhamdulillah mendapat juara.

Malam penutupan telah tiba, para pemenang akan diberikan trofi, sertifikat dan uang. Penyerahan hadiah akan berikan lansung Bupati Siak dan Wakil Bupati Siak bagi kecamatan yang mendapat trofi bergilir.

Alhamdulillah, setelah penyerahan hadiah kepada pemenang secara individu, kini masa di mana nama Kecamatan Sungai Apit kembali disebut pada ajang MTQ, para penonton bergitu gembira, suara syukur kepada sang ilahi terdengar lantang dari teriakan para kafilah-kafilah Kecamatan Sungai Apit. Setelah nama Sungai apit di ucapkan, MC mengucapkan selamat secara lansung dan ditambah ucapan shalawat nabi yang dilantunkan. “ allahuma shalli ala sayyidina muhammad ” sebanyak tiga kali. Dan disambut para penonton yang ada disekitar tenda dan luarnya. Penyerahan trofi bergilir diambil oleh Camat Kecamatan Sungai Apit. Kami para kafilah diminta foto bersama sebagai moment yang tak pernah dilupakan didalam memori yang kecil ini.

Syuqran Allah SWT atas segala nikmat yang engkau berikan pada hambamu malam ini, hal ini tak akan kami lupa sampai kapanpun. Dan rasa syukur yang begitu besar membuat kami sedih dan meneteskan air mata yang mana kami sendiri tak menyadari hal itu. Kami begitu lemah dan sombong atas semua rezeki yang engkau berikan bahkan kami lupa untuk bersyukur. Kami hanya bisa meminta, namun itu semua pasti kan engkau berikan karena kami tahu engkau maha pemberi dari segalanya dan tiada yang sekutu bagimmu.

Kepulangan kami disambut hiruh dan kegembiraan yang luar biasa dari masyarakat Kecamatan Sungai Apit. Ada yang menangis melihat kepulangan kami dan gembira, mereka sangat bersyukur karena do’a mereka kepada Allah SWT dikabul kan. Aku tersenyum melihat panaorama suasana sore itu, mengingatkanku akan perkataan guru madrasahku dulu. Beliau mengatakan “Salah satu tradisi pahlawan besar adalah….pantang menyerah!”Jangan menyerah meskipun rebah. Jangan mundur meskipun hancur.Sesungguhnya luka yang kita dapatkan dalam perjuangan lebih nikmat daripada kesehatan dalam rundungan kemalangan.Dia yang menginginkan tercapatnya cita-cita tidak boleh takut terhadap kegagalan.Sekali layar terkembang pantang mundur ke belakang. Kata-kata ini masih tersimpan dimemori kecilku namun terkadang sulit untuk dilupakan dan sekarang adalah pembuktian kata-kata itu. Terima kasih semua atas do’a dan bimbingannya terutama buat orang tua dan guruku tercinta. Man jadda wajada (siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil).

Respond For " Man Jadda Wajada "