Menemukan Cinta Ayah di Ujung Sedekah

Oleh: Ida Zui

Hening dan tentram. Itulah yang sudah kurasakan selama dua bulan terakhir ini.

Aku terduduk dengan kaki terlipat di atas bukit kecil tepi sungai persawahan. Ku memandang lurus ke depan menatap indahnya pesona senja. Potongan kejadian-kejadian beberapa bulan lalu tepatnya tiga bulan sebelumnya muncul begitu saja. Pececokan dan adu fisik yang terjadi pada kedua orang tuaku seakan menampar keberadaanku di rumah itu. Satu fakta yang baru aku ketahui setelah bertahun-tahun tinggal bersama kedua orang tua terkuak begitu gamblang. Aku bukan anak kandung.

Hati semakin tertekan ketika diriku dijadikan titik letupnya percecokan keluarga. Ayah yang selalu berada dipihakku menjadi sasaran kemarahan istrinya. Kejadian itu berangsur cukup lama sampai pada puncak perceraian mereka. Aku yang merasa tidak enak hati dengan ayah memilih untuk diam dan mencoba menghibur diri.

“Kak Irma”

Aku menoleh, melihat siapa yang tiba-tiba bersuara. Ternyata Sauqi, salah satu santriwati yang cukup dekat denganku di yayasan Birrul Walidain.

“Kak Irma habis nangis? Kenapa?”

“Bukan apa-apa, kamu ada apa ke sini?” sahutku sambil tersenyum meyakinkan

“Manggil kakak, kata umi disuruh siap-siap buat buka puasa”

“Oh begitu, baiklah.. ayo balik”

***

Papan nama dengan ukiran Birrul Walidain berdiri begitu kokohnya di samping halaman. Disinilah aku tinggal sekarang. Jauh dari tekanan batin dan penuh ketentraman. Terlebih karena sekarang memasuki bulan puasa, hatiku menjadi berlipat lebih tentram sejuknya.

Semenjak tinggal di yayasan ini, aku merasa hidup. Bagaimana tidak, hariku yang biasanya hanya kuhabiskan bekerja di depan laptop untuk tuntutan pekerjaan sekarang telah berseling dengan tugas rutin di sini. Dari bangun sebelum jam tiga, membantu meyiapkan sahur, membangunkan santriwati yang lain, sampai ikut tadarus bersama. Sungguh indah rasanya.

Tepat pukul setengah delapan selesai semua urusan di yayasan karena para santriwati sudah berangkat sekolah. Hanya tinggal diriku, abah, dan umi.

“Nak Irma sudah mau berangkat kerja?” tanya umi dari arah dapur

“Iya umi, ini lagi ngecek bahan presentasi kantor.. abah mana, mi?

“Abah di sisni” sahut suara dari belakangku

“Eh.. maaf abah, Irma tidak lihat tadi”

Abah hanya tersenyum menanggapi. Itulah ciri khas beliau. Semua pasti dihadapi dengan senyuman.

“Oh iya, mumpung abah dan umi lagi kumpul di sini, ada yang ingin Irma sampaikan”

“Sampaikan saja nak” lagi-lagi umi tersenyum

Ku keluarkan bingkisan kecil dari tas kerjaku dan kuserahkan dihadapan mereka. Abah yang membuka terdiam sejenak, berbeda dengan umi yang memandangku dengan tatapan entah apa.

“Irma, sudah abah bilang.. kami tidak menuntut biaya apapun selama kamu di sini”

“Kami ikhlas menerima siapapun yang ingin tinggal.. ini nak, abah kembalikan”

Tepat dugaanku, abah tidak akan begitu saja menerima pemberian.

“Abah, umi.. Irma ingat apa yang dikatakan abah itu. Tapi uang ini memang sengaja Irma sisihkan untuk yayasan ini, untuk teman-teman di sini, untuk kita bersama”

“Niat Irma hanya satu, bah.. Irma ingin membersihkan harta Irma seperti yang sudah abah jelaskan ke Irma tempo hari, salah satunya dengan ini” imbuhku dengan tetap senyum

“Umi tahu? Irma merasa banyak berubah lebih baik semenjak berada di sisni. Itu semua juga berkat umi, abah dan semua anak-anak di sisni. Irma merasa menemukan sesuatu yang hilang. Kasih sayang, kebersamaan, semuanya. Dan Irma pikir, dengan sedekah ini bisa sedikit menambah tabungan Irma di akhirat kelak. Lebih-lebih bisa membantu kebutuhan kita semua di sini. Jadi Irma mohon ini diterima, bah, mi”

Aku mencoba meyakinkan mereka, tidak adil rasanya jika aku hanya tinggal tanpa melakukan apapun sedangkan aku juga diijikan keluar untuk tetap bekerja seperti dulu.

“Baiklah, ini kami terima.. tapi lain kali jangan seperti ini, Irma sudah kami anggap seperti anak sendiri” ujar umi lembut nan perhatian.

Aku tersenyum lebar. “Ehm tapi bah, Irma masih merasa ada sedikit yang mengganjal. Dan Irma butuh saran dari abah dan umi”

“Utaran saja, insyaAllah kami bantu”

“Selama dua bulan ini Irma banyak belajar dari abah terutama masalah harta. Irma sudah bekerja dan berpenghasilan tapi Irma bingung harus kepada siapa harta yang sudah tersisih itu. Sebelumnya Irma belum pernah mengenal sedekah ataupun zakat dan kenalan-kenalan Irma sebelum di sini juga bisa dikatakan kalangan mampu. Sempat terpikir, Irma berikan untuk yayasan ini perbulan, tapi abah sudah pasti menolak” jelasku panjang lebar

“Memang abah akan menolak, karena abah rasa di sini sudah terbilang cukup untuk sehari-hari” abah langsung menanggapi. “ Kalau Irma mau, ada pesantren di daerah kaki gunung sebelah selatan. Pesantren ini masih salah satu cikal Birrul Walidain, sedang tahap pembangunan tapi santrinya sudah membludak. Jadi, abah kira masih membutuhkan tambahan dana pembangunan”

“Terus ada lagi, namamya panti asuhan Kaustar. Masih satu kota ini..kalau Irma mau abah bisa antarkan”

“Benar, bah? Irma mau” tanyaku meyakinkan. Dan abah mengangguk tersenyum. Kurang baik apalagi abah ini. Aku benar-benar bersyukur bisa mengenal mereka.

“Tapi, bah.. tolong ijinkan Irma bantu-bantu pengeluaran di sini” aku meyakinkan kembali niat awal untuk yayasan ini.

“Irma…” umi berkata dengan raut pasrah

“Umi.. abah.. tolong ijinkan ya. Irma tidak tau lagi harus bagaimana berterimakasih di sini.. tolong, bah”

“Ya sudah, apalah terserah Irma.. yang pasti abah ingin selalu melihat Irma lebih baik. Toh bisa salah kalau kita menghalangi niat baik orang” tegas dan jelas jawaban abah itu.

***

Lega. Luar biasa rasanya jika kita melakukan hal baik yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Setelah perjalanan pulang dari panti asuhan Kaustar yang diusulkan abah dua minggu lalu, kami mampir ke toko kain langganan umi. Umi berniat untuk membuatkan seragam baru untuk anak yayasan. Tak lupa mampir ke toko kue bolu kesukaan anak-anak untuk cemilan setelah tarawih.

“Irma, nanti setelah tarawih agenda melingkar dengan musyrifah lain ya”

“Iya umi”

Agenda melingkar adalah salah satu agenda musyawarah batin. Jika melingkar bersama seluruh anak yayasan sudah dipasttikan akan ada penataan batin. Tapi jika melingkar dengan para musyrifah biasanya rapat tertutup. Dan aku merasa menjadi bagian terpenting dari yayasan ini ketika diberi tanggung jawab seperti itu.

“Karena sudah terkumpul semua, mari kita mulai musyawarah ini dengan bacaan basmalah bersama” abah membuka acara ini.

Bismillahirrahmaanirrahiim

“Saudari-saudariku sekalian, kami kumpulkan antum di sini ada maksud tertentu yang harus kita bahas dan dilakukan bersama. Tiga hari yang lalu, kami mendapat undangan dari ponpes Birrul Walidain, di suratnya menyatakan bahwa kita harus menghadiri acara penggalangan dana untuk proses pembangunan. Nah, untuk itu akan ada pembagian tugas untuk antum, siapa yang ikut dan siapa yang menghandle yayasan. Ada yang mau mengajukan diri sukarela?”

Krasak-krusuk ust.Milah dan ust.Ifah menyita perhatianku.

“Kami berdua tugas di yayasan saja, bah.. Kami lebih lama di sini, jadi sudah hafal bagaimana pemantauan dan kegiatannya”

“Baiklah, jadi sisanya berlima menghadiri undangan. Untuk Irma, abah perjelas lagi. Pesantren ini adalah pesantren yang pernah abah ceritakan sebelumnya, yang letaknya di kaki gunung sebelah selatan itu. Jadi kamu bisa siapkan apa yang mau kamu bawa, nanti sampainya di sana abah yang bicara” penjelasan abah cukup singkat tapi memahamkan.

“Kita berangkat dua hari lagi, jadi siapkan apa yang akan dibawa untuk menginap semalam di sana. Juga yang di sini pastikan semuanya terkendali.. kita akhiri musyawarah ini dengan bacaan hamdalah

***

Dua jam perjalanan dari yayasan ke pondok mengingat jalanan yang dilalui lumayan berliku. Benar kata abah, pesantren ini masih enam puluh persen tahap pembangunan. Dua pilar tinggi di depan jalan masuk menggambarkan akan betapa besarnya pesantren ini kelak.

Acara demi acara berjalan begitu hikmad. Nyaman dan tidak membosankan. Aku terkagum oleh nuansa religius dalam audit ini. Namun, hatiku lebih terkagum lagi dan kaget ketika pihak pembawa acara dengan tegas menyebut nama donatur tetapnya. Abdul Rosyid Ramdhani. Ayah yang sudah lama kutinggal untuk menghibur diri.

Ternyata banyak yang terlewatkan setelah dua bulan tidak bertemu ayah. Ayah menjdi pribadi yang membanggakan dan lebih baik tentunya. Sorot matanya saat di podium begitu intens dan penuh rindu ketika tidak sengaja mengenaliku.

Tanpa sungkan aku menerobos banyaknya orang di audit ini untuk bertemu ayahkku setelah acara selesai dengan aku sebagai donatur penutup. Penyerahan dana dari kami yang diwakilkan oleh abah begitu membuatku haru. Ayah yang berada di hadapanku sekarang begitu murah senyum dan mata yang memancarkan kasih sayang mendalam.

“Irma, putriku.. ayah kangen” ayah memelukku dengan sayang dan penuh cinta

“Irma juga kangen ayah” tak terasa air mtaku luruh. Umi yang melihat adegan ini menangis haru di samping abah.

Leave a Comment

Your email address will not be published.