Ngabuburit vs Berderma

Oleh: Sarmini

“Assalamu’alaikum  ……”, sapa akrab Mini pada teman genknya.

“Wa’alaikumsalam Min…”, jawab kedua temannya yang lagi becandaan di bawah pohon rindang pojok Kampus Birunya. Mini adalah seorang mahasiswi disalah satu sekolah tinggi swasta di daerah kabupaten paling selatan Jawa Tengah yaitu Klaten. Kampusnya tidak mentereng seperti kampus-kampus kota sekitarnya. Karena yang kuliah di sini rata-rata sudah mengajar. Mereka mengajar di paginya dan siangnya mereka kuliah. Mini kuliah di semester 3 pada prodinya.

“Seminggu lagi kita puasa Ramadhan nih….”

“BEM mau ngadain acara apa lagi yah?”

“Kayaknya mau ngadain acara untuk ngisi bulan Ramadhan ini deh mba”, jawab Azis.

“Bener ndhak Zis infonya?”

“Kata mas Ang, gitu sih mba. Besok kita juga mau diadakan rapat BEM, untuk bahas ini mba”.

‘Okaylah tunggu besok ajah”.

Mereka kemudian masuk ke ruangan untk mengikuti mata kuliah yang pertama. Jam 2 siang pas mata kuliah pertama dimulai. Azan Ashar kuliah pertama diakhiri.

Mini dan genknya menuju masjid kampus.

“Mba Minnnnn…”, teriak mas Ang. Mas Ang nama panjangnya Anggoro. Dia adalah ketua BEM di kampusnya.

“Iya mas”, jawab Mini sambal menghentikan langkahnya.

“Besok kita mau rapat BEM, tolong yang lain di kasih tahu ya mba”.

Nggeh mas, siap”

“Jam berapa rapatnya mas?”

“Jam mata kuliah kedua saja. Kita ijin dulu sama pak Hilal.”

Pak Hilal adalah salah satu dosen mereka, yang terkenal disiplin dalam hal waktu dan pengerjaan tugas. Tapi pas ngajar enak suasananya.

“Okay mas besok mata kuliah kedua nggeh?.”

“Iya mba. Siap tho?”

“Insya Allah mas.”

“Temen-temen, besok diajakin rapat BEM jam mata kuliah kedua”, kata Mini dikantin kampus bersama kelima genknya.

“Mau bahas apa mba?”, kata Nana.

“Bahas kegiatan bulan Ramadhan.”

“Lha okaylah. Sip. Siap.”

“Assalamualaikum Wr.Wb……..”, ucap sang ketua BEM membuka acara rapat.

Sejam rapat berlalu dengan lancar. Dan keputusannya adalah BEM akan mengadakan kegiatan sosial untuk mengisi acara BEM di bulan Ramadhan.

“Saya bacakan deal acara sosial yang akan kita lakukan pada bulan Ramadhan ini adalah kita akan mengadakan pengajian sekaligus buka bersama di kampus untuk hari Minggu pertama bulan Ramadhan. Minggu keduanya kita buka bersama di Panti Asuhan Yatim Putra. Minggu ketiga kita akan ngabuburit bareng. Untuk acara ngabuburitnya untuk ngabuburit yang pertama kita membagi takjil bagi orang yang lewat untuk berbuka. Tempat menyusul.Trus untuk ngabuburit yang kedua di Minggu terakhir bulan Ramadhan kita akan membagikan sembako bagi yang kurang mampu. Untuk daerahnya juga nyusul,” ucap sang Notulis membacakan agenda rapat sore itu.

Semua peserta rapat manggut-manggut tanda setuju dan tak sabar untuk segera merealisasikan kegiatan tersebut.

“Semoga acara yang kita agendakan di bulan Ramadhan yang tinggal menghitung hari ini, kita diberi kelancaran oleh Allah SWT. Semoga puasa dana mal ibadah kita diterima sama yang di atas. Allohumma… Aaminn.”, ucap mas Ang tanda rapat diakhiri.

Mini dan teman-teman segera berbenah diri. Menuju parker dan pulang karena hari sudah sore.

“Sampai jumpa di acara Minggu pertama ya temans”, ucap Mini pada genknya.

“Okayyyyyyyyy..”, jawab serentak teman genknya.

Acara sosial di Minggu pertama dan kedua berjalan lancar.

“Alhamdulillah untuk acara sosial kita di kampus dan di Panti Asuhan lancar ya Nil…”, ucap Mini pada Nila salah satu genknya.

“Iya Min. Alhamdulillah.”

“Semoga ngabuburitnya besok juga lancar ya Min?”

“Insya Allah. Aamiin”

Acara sosial untuk Minggu ketiga adalah membagikan takjil pada orang lewat. Mini dan genknya mendapat jalur wilayah utara Klaten. Mini dan genknya mengambil tempat di pertigaan Jatinom. Dekat dengan rumah Miftah.

Sebelumya mereka harus kumpul dulu di kampus untuk mengambil snack takjilnya. Karena tadi yang memasak mereka di tempatnya mas Ang yang dekat dengan kampus.

“Teman-teman.. Sesuai kesepakatan bersama kita yang ngabuburit dibagi menjadi tiga jalur. Untuk jalur yang pertama arahnya ke alun-alun kota Klaten ( pusat ngabuburitnya di alun-alun), jalur yang kedua yaitu jalur Jatinom-Boyolali (pusat ngabuburitnya di pertigaan jalan Jatinom) dan yang terakhir adalah jalur arah lapangan Pedan (pusat di jalan sekitar polsek dan lapangan Pedan)”, seru mas Ang mengawali perjalanan ngabuburit mereka.

“ Siap laksanakan masssss…..”, seru mereka kompak.

Mini dan genknya mendapat jatah jalur yang kedua, yaitu yang berpusat di pertigaan Jatinom.

“Bismillahirromanirrohim”, ucap Mini dengan suara lirih sambil membonceng Mumun teman genknya.

Ngati-ati wae yo Mun. Dalane rame je.”

“Iyo mba. Beres.”

Mini lebih memilih mbonceng, karena merasa badannya lebih kecil daripada Mumun. Mumun postur tubuhnya agak tinggi dan sedikit gemuk dibanding Mini. Daripada tidak seimbang, Mini memilih mbonceng sambil jagain kardus yang berisi takjilan. Takjilannya kali ini kolak dan roti saja. Karena besok masih ada acara social bagi-bagi sembako. Jadi dananya lebih sedikit, lebih diplotkan kesembako.

Dalane rame tenan yo Mun?”

Iyo ki mba.”

Delo meneh kethuk mba.”

“Sip.”

Setelah 20 menit perjalanan. Mereka akhirnya sampai juga. Mini dan teman-teman bersiap-siap turun ke jalan membagi takjil. Karena 30 menit lagi azan Maghrib berkumandang.

“Niki pak takjil untuk nanti berbuka nggeh …”, ucap Mini pada salah seorang pengguna jalan.

“Nggeh mba. Suwun nggeh….”

“Sami-sami, Pak”.

25 menit cepat berlalu. Walaupun Nampak sedikit kecapean Mini dan teman-teman tetap semangat membagikan takjilnya.

“Tinggal 3 bungkus nih Mif. Mau dikasih ke siapa y?”

“Semuanya sudah mba?”

“Sudah tadi. Yang lain tak tanyain sudah semua. Takjilan yang mereka bawa sudah habis. Tinggal yang aku bawa.”

“Jatah kita sudah ada mba?”

“Sudah ada sendiri ko. Tuh dibawa Nana.” Tunjuk Mini pada kardus yang dibawa Nana.

“Kasih siapa ya?” Sambil tengok sana tengok sini, akhirnya pandangan Mini tertuju pada 3 bocah anak yang sepertinya umuran SD.

“Dek…dek..dek…”, panggil Mini pada ketiga bocah itu.

“Wonten nopo mba?”

“Tak kasih takjilan nih. Buat kalian.”

“Alhamdulillah. Suwun nggeh mba….”, jawab mereka bareng

“Yo dek podho-podho yo…”

“Alhamdulillah takjilannya habis. Pas azan Maghrib lagi.”

“He’eh mba, alhamdulillah…”, jawab Mumun dan Nana barengan sambil berbuka dengan jatah takjilan mereka.

Seminggu berjalan sesudah ngabuburit di jalur mereka masing-masing. Hari ini adalah hari yang terakhir di acara sosial agenda BEM mereka. Mini dan teman-teman sudah berkumpul di kampus dan siap-siap menuju Masjid Jami’ daerah Wedi. Agenda akhir mereka adalah bagi-bagi sembako. Mereka sepakat di masjid Jami’ sebagai tempat bagi-bagi sembakonya. Mereka juga sudah bekerja sama dengan takmir masjid di masjid tersebut. Perjalanannya kurang lebih 30 menit dari kampus. Mini dan teman-temannya sambil membawa bingkisan sembako menuju masjid Jami’.

“Assalamu’alaikum pak ustad…”, sapa mas Ang pada takmir masjid Jami’. Pak Hasan namanya

“Wa’alaikumsalam mas… Langsung saja mas ke acaranya sudah pada tidak sabar menunggu tuh.”

“Nggeh pak.”

Mini dan teman-teman langsung menuju meja dan membagi-bagikan bingkisan sembako tersebut kepada penduduk atau masyarakat sekitar yang dating ke masjid. Dengan tertib dan antusias mereka menerima bingkisan sembako yang dibawakan Mini dan teman-teman.

“Matur suwun nggeh mba. Mugi-mugi lancar kuliahe gek nikah nggeh.”

“Aamiinnnnnnnn mbahhhhhh …”, jawab kompak teman-teman MMini hanya menjawab dengan senyum kecil dan mengaminkan do’a mbah yang dia beri bingkisan sembako tersebut.

“Alhamdulillah yah teman-teman semua apa yang kita agendakan pada bulan Ramadhan ini dapat terlaksana dengan lancar. Semoga BEM kita kedepannya lebih baik lagi lebih inovatif lagi acaranya y…”, seru mas Ang.

“AAMIIN.”

Dan Mini juga berdo’a dalam hatinya semoga masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk berderma di bulan penuh berkah ini. Aamiin.

Leave a Comment

Your email address will not be published.