Pengemis Tua dan Anjingya

Oleh: Taama

Berbeda dengan pengemis lainnya, pengemis tua penuh borok yang duduk mengharapkan keikhlasan dari pejalan kaki yang melewati jembatan layang penyeberangan menuju alun-alun Kota Malang, ditemani anjing setianya. Hanya para penarik becak yang ngetem saja yang mengenalinya dengan baik beserta dengan anjing cokelatnya itu: siapa nama mereka dan apa yang mereka lakukan di anak tangga jembatan, dan para penarik becak itu memilih diam, tidak mau menceritakan mereka.

Namun, tidak demikian dengan Maryam, seorang mahasiswi cantik salah satu perguruan tinggi negeri yang ada dikota itu. Sejak ia datang ke Malang, jalan-jalan bersama teman mahasiswa baru se-kost-nya ke taman rekreasi di kota itu, Alun-Alun, fokus penglihatannya tertuju pada pengemis tua dan anjingnya. Ia lewatkan foto-toto bersama teman-temannya dan ia tidak menikmati suasana sore itu. Malamnya, ia kembali teringat pada pengemis tua dan anjingnya. Sambil mengenakan mukena, ia berucap lirih, “Kenapa aku tiba-tiba ingat mereka?”

Mungkin, ia hanya kasihan. Tapi, ia merasakan sesuatu yang berbeda pada pengemis tua itu. Iya. Hampir tidak ada pengemis yang pernah dilihatnya bersama dengan seekor anjing. Tapi, pengemis tua itu ditemani seekor anjing coklat. Ia mengenali jenis anjing itu. Bukan anjing kampung biasa, melainkan sejenis Golden. Pertanyaan yang kembali berkelebat di pikirannya adalah Bagaimana mungkin seorang pengemis tua memiliki seekor anjing Golden? Bagaimana dia bisa memberinya makan? Yang ia tahu, anjing jenis Golden tidak makan sembarang makanan. Apakah pengemis tua itu sanggup membelikan anjingnya makanan yang hanya dijual di petshop? Maryam penasaran.

Ia melangkah ragu. Namun, pengemis tua itu diikuti oleh anjingnya, telah melihatnya. Ada keinginannya untuk menarik mundur langkahnya atau berbelok atau sekedar menghindari pengemis tua dan anjingnya. Ia tidak bisa. Langkahnya telah membawanya berjalan semakin dekat kepada dua makhluk berbeda jenis di depannya.

Tidak seperti pengemis lain yang cepat mengulurkan tangan begitu melihat ada orang yang hendak memberi, pengemis tua dan anjingnya hanya diam saja dan melihat. Hanya berjarak satu langkah, Maryam mendapati senyum di wajah pengamis tua dan gerakan ekor dari si Golden. Tiba-tiba hatinya bergejolak: suatu perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bagaimana mungkin ia justru mendapatkan sambutan  hangat dari seorang pengemis? Dari seorang dengan strata yang dianggap masyarakat adalah strata rendah? Bukankah seharusnya ia yang memberi senyum kepada pengemis tua itu? Bukankah ini kesombongan? tanyanya dalam hatinya sendiri yang ia tidak bisa jawab.

Cepat-cepat ia mengeluarkan uang dua koin lima ratus. Cepat-cepat pula ia mengulurkan tangannya yang berisi receh kepada pengemis tua. Ekor anjing si pengemis tua masih saja berkibas-kibas. Dunia di sekitarnya serasa berhenti tatkala si pengemis tua yang duduk itu kembali tersenyum lebar.

Iya. Maryam merasakan semua yang terjadi di sekitarnya seperti terhenti. Ia berpaling ke kanan dan ke kiri. Ia juga berpaling ke belakang. Benar, ia mendapati setiap orang tidak bergerak, setiap kendaraan terhenti. Hanya ia, pengemis tua dan si anjing yang bergerak. Bagaimana mungkin?

Lambat laun, ia mulai ketakutan. Tangannya yang terulur, tak kunjung disambut pengemis tua. Ia menariknya perlahan. Ia merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Apa mungkin ia yang tidak bergerak atau dunia di sekitarnya yang tidak bergerak, ia ragu. Kakinya tidak mampu bergerak mundur. Apa yang sudah terjadi padanya, ia sendiri tidak tahu sementara pengemis tua masih tersenyum padanya. Ia belum pernah mengalami seperti ini sebelumnya. Ia sering memberikan derma kepada pengemis yang kerap ia temui di pinggir jalan, di bawah jembatan, bahkan pengemis yang meminta selagi ia makan di warung di kotanya Surabaya. Baik kepada pengemis tua maupun kepada pengemis yang masih muda. Baik kepada pengemis yang cacat maupun yang ia lihat masih sehat. Baik yang kurus maupun yang gemuk subur. Baik yang rayuannya manis maupun pengemis yang rayuannya sudah sangat sering ia dengar.

Bisa dikatakan, ia hampir selalu memberi kepada pengemis yang datang meminta kepadanya tanpa memandang apapun yang ada pada diri pengemis itu. Keadaan yang mendekatkannya kepada situasi-situasi sehingga ia harus berhadapan dengan banyak pengemis setidaknya telah membangkitkan rasa kemanusiaannya. Itulah dorongan terbesarnya untuk bisa kuliah di jurusan sosial, dengan tujuan bisa memberikan suatu kontribusi bagi kelompok masyarakat yang terabaikan itu. Ia ingin membuat suatu kegiatan yang nantinya melibatkan kelompok masyarakat terabaikan dan menjadikan kelompok itu mandiri bagi dirinya sendiri sehingga tidak perlu lagi dianggap rendah oleh kelompok masyarakat manapun.

Ia punya visi yang ingin ia capai. Tapi, setelah kejadian ini, bagaimana ia bisa melanjutkan mimpinya jika saat ini saja ia tidak bisa bergerak dan seluruh makhluk di sekitarnya seperti terhenti? Siapa pengemis tua dan anjing di depannya itu? Kenapa ia malah merasa di dunia yang sangat asing baginya ketika berhadapan dengan pengemis tua dan anjingnya? Ada apa? Kenapa?

Maryam hampir menangis dengan semua ketidaktahuannya.

Pengemis Tua berdiri dan mendekati Maryam. Si Golden mengikuti dari belakang dengan ekor yang masih mengibas-ngibas. Maryam semakin ketakutan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Ia tidak belajar ilmu bela diri, dan ia menyesal dengan ajakan abangnya untuk ikut ambil bagian dalam les bela diri. Sekarang, semuanya sudah terlambat. Ia sedikit menyesalinya. Ketakutan, ketidaktahuan, ketidakmengertian bercampur menghasilkan air mata yang mulai menumpuk di pelupuk matanya.

“Jika Neng ngasih ke Bapak, Bapak sudah tidak punya anak ayam yang bisa Bapak berikan ke Neng.”

Maryam terkejut. Pengemis tua berdiri di depannya dengan anjing yang mengibas-ngibaskan ekor di sampingnya. Walau ia dilarang untuk memelihara anjing, ia tahu bahwa anjing itu menyukainya, dan juga sedang tersenyum kepadanya.

Pengemis tua tahu bahwa Maryam masih takut padanya sehingga ia kemballi mengulangi ucapannya tadi. Melihat Maryam masih dalam keadaan terkejut, pengemis tua melanjutkan, “Bapak Cuma bawa dua anak ayam hari ini. Dan tadi sudah Bapak berikan ke dua orang sebelum Neng.”

Lambat laun, Maryam mulai memasuki dunia nyata kesadarannya. Hanya saja ia tidak mengerti dengan ucapan pengemis tua. “Maksud Bapak?” tanyanya.

“Bukankah Neng selalu memberi ke pengemis seperti Bapak? Sudah saatnya Neng mendapatkan imbalannya. Tapi, Bapak sudah tidak bisa memberikan apa-apa kepada Neng. Begitukan, Rambo?”

Pengemis tua dibalas gonggongan singkat dari anjingnya dengan melompat pendek, tanda membenarkan perkataan tuannya itu.

“Anak ayam apa?” tanya Maryam lagi. Pengemis tua dan anjingnya terlalu misterius baginya. Bahkan, kini ia mendapati kesan bahwa pengemis tua itu bukan seorang pengemis. Tapi, ia yakin betul bahwa laki-laki tua di depannya adalah pengemis yang dilihatnya duduk di anak tangga jembatan layang penyeberangan Alun-Alun Kota Malang tempo hari. Apa mungkin ia sudah salah orang? Tidak, ia ingat betul dengan anjing Golden itu. Dan bagaimana pula pengemis tua itu tahu bahwa ia rajin memberi sedekah?

“Bagaimana diganti dengan yang lain saja, Neng? Gimana?” pengemis tua kembali bicara pada Maryam.

Diganti apa? Ia bahkan tidak mengerti arah pembicaraan pengemis tua. Ia ikhlas memberi tanpa meminta balasan apapun dari orang-orang yang pernah ia beri. Begitulah ia diajarkan agama dan orang tuanya. Dan ia patuh pada perintah itu.

“Tapi, Neng jangan minta diganti dengan Rambo ya. Cuma dia yang Bapak punya. Rambo juga tidak mau berpisah dari Bapak. Iya,kan, Rambo?”

Si Golden kembali menyahut, menyetujui perkataan tuannya.

Memelihara si anjing Golden yang diberi nama Rambo? Maryam bahkan tidak pernah berpikir untuk meminta apapun apalagi memelihara seekor anjing yang jelas-jelas dilarang dalam agama dan keluarganya.

“Kebanyakan orang yang sudah memberi ke Bapak tidak mau menerima anak ayam yang Bapak berikan kepada mereka. Mereka malah meminta Rambo kalau Bapak sudah kehabisan anak ayam. Kalau Neng bagaimana?” Pengemis tua masih tersenyum sambil menunggu jawaban Maryam.

“Saya ikhlas memberi, Pak. Saya tidak meminta apa-apa,” balas Maryam akhirnya. “Termasuk saya tidak minta anak ayam ataupun Rambo.”

“Alhamdullillah,” pengemis tua mengelus dada lalu membelai kepala anjingnya yang dibalas dengan kibasan ekor. “Neng orang yang paling baik.”

“Akh, saya biasa-biasa saja, Pak,” balas Maryam. Ia mulai bisa tersenyum singkat. Rasa takutnya mulai lenyap ketika merasakan ketulusan si pengemis tua dan anjingnya.

Baru kali ini ia bertemu dengan pengemis yang membalas balik perbuatan orang-orang yang memberi kepadanya. Bagaimana bisa? Maryam mulai memperkirakan harga anak ayam yang diberikan dengan besarnya nominal uang yang diterima. Bukankah si pengemis tua justru rugi? Seekor anak ayam bisa dijual  lebih mahal dibandingkan dengan uang yang ia dapatkan dari orang-orang yang memberi kepadanya.

“Sebagai gantinya, Bapak berikan ini saja kepada Neng.” Tiba-tiba saja setangkai bunga mawar telah berada di tangan si pengemis tua yang terulur memberi kepadanya.

Maryam terkejut. Dari mana datangnya bunga itu? Ia melihat dengan jelas bahwa pengemis tua tidak memegang apapun selain mangkuk lusuh dan kehitaman di bagian dalamnya. Ia juga memastikan dirinya bahwa pengemis tua tidak pergi kemanapun untuk mengambil bunga itu. Bagaimana bisa? tanyanya sendiri.

“Ambillah.” Tangan pengemis tua yang memegang bunga masih terulur padanya.

Maryam ragu mengambilnya. Ia ingat, ia bahkan belum sempat menyerahkan dua koin recehan kepada pengemis tua. Tapi,.. ketika ia membuka genggaman tangannya, ia sudah tidak menemukan recehan itu lagi.

Si pengemis mengulurkan mangkuk lusuhnya dan memperlihatkan isinya seolah tahu apa yang dicari Maryam. Koin Maryam sudah berada di sana.

Maryam yakin bahwa ia belum memberikan recehan itu. Bahkan, ia berniat untuk lari dari depan pengemis tua dan anjingnya. Ia ingat betul bahwa ia menggenggam recehan itu kuat-kuat akibat rasa takutnya tadi. Tapi, bagaimana bisa koin itu sudah berada di dalam mangkuk si pengemis tua? Anjing si pengemis menggumam pelan.

Bagaimanapun, koinnya sudah berada dalam mangkuk si pengemis. Ia tidak perlu bertanya bagaimana semua itu bisa terjadi, termasuk bertanya tentang dunia apa yang sedang ia masuki setelah melihat keadaan di sekelilingnya seperti terhenti. Jika pun ia berada di dunia sihir, toh ia masih hidup, dan ia aman. Maka, tanpa ragu lagi, ia mengulurkan tangannya menyambut setangkai mawar yang ditawarkan si pengemis tua dan anjingnya. Ketulusan dan kemurnian senyum si pengemis tua dan anjingnya itulah yang membuat Maryam berani mengambil keputusan. Begitu bunga itu berada di tangannya, lambat laun keadaan di sekelilingnya kembali normal. Ia berpaling ke kanan, kiri dan belakang. Ia menemukan bahwa orang-orang kembali bergerak, kendaraan kembali lalu lalang dan angin kembali berhembus. Ia merasakan suasana yang berbeda dari sebelumnya. Ia yakin betul bahwa visinya akan berhasil ia wujudkan.

Begitu berpaling ke depan, ia mendapati si pengemis tua sudah berjalan membelakanginya diikuti oleh anjingnya. Maryam menyaksikan kepergian si pengemis tua dan anjingnya sampai menghilang di balik kerumunan orang yang berlalu lalang sementara mawar di tangannya. Pengalaman singkat memasuki dunia yang ia tidak kenali. Tapi, ia senang sekali dan tidak sabar untuk menceritakannya kepada teman-temannya.

***

Leave a Comment

Your email address will not be published.