Perpustakaan Warna-Warni Ramadhan

Oleh: Nashwa Fazila Widyati

Seorang gadis kira-kira berumur 12 tahun menunggu angkot yang akan mengantarkannya ke rumah. Siang ini matahari sangat terik sebagian dari bumi merasakan teriknya matahari. Gadis itu mengelap keringatnya.

“Aaah… tahu gini mendingan aku gak usah masuk,” ucap gadis itu. Hari ini di sekolahnya hanya ada kegiatan bersih-bersih setelah itu mereka bebas. Tapi, walupun bebas mereka tetap harus pulang pada jam yang telah ditentukan.

“Neng, mau naik gak?”

Suara sopir angkot membuat Fina terkejut. Dia buru-buru naik ke angkot. Di dalam angkot hanya ada tiga orang, termasuk dirinya. Fina ingin segera sampai di rumah dan meminum segelas es jeruk. Hmmm, pasti segar.

Angkot berhenti di sebuah jalan. Fina turun dari angkot kemudian membayarnya. Fina masih harus berjalan beberapa meter lagi untuk sampai di rumahnya. Remaja berjilbab biru itu berjalan dengan enggan. Dia sangat lelah karena seharian ia bermain dengan temannya.

“Assalamu ‘alaikum,” Aku mengucapkan salam dan segera masuk ke dalam rumah setelah membuka sepatu. Aku berlari ke arah kulkas berada.

“Wa ‘alaikum salam. Fina mau ngapain?” tanya ibu saat melihat aku menuangkan es jeruk ke gelas.

“Mau minum bu. Haus,” ucapku.

“Ha? Fina, ini kan bulan puasa,” ibu terlihat seperti menahan tawanya.

“Yang bener bu?” Aku yang sudah memegang gelas manaruhnya lagi di meja. Bagaimana aku bisa lupa? Ah, konyol sekali. “Fina lupa bu. Tapi fina gerah banget nih …,” ujarku sambil manaruh gelas kembali ke kulkas.

“Hm …. Gimana kalau ibu bawa ketempat yang sejuk dan asyik.”

Aku mengangguk. Aku berlari ke kamarku dan segera mengganti baju seragam dengan baju jalan. Aku memakai baju warna putih-hitam, celana hitam, jilbab putih, dan sepatu kets putih. Aku berkaca sebentar setelah itu aku berjalan ke bawah dan menemui ibu di ruang tamu.

“Ibu, Fina sudah siap,” Aku duduk di sofa dekat ibu. Ibu masih membersihkan majalah yang sudah berdebu.

“Tunggu ibu ya. Ibu ganti baju dulu,” ucap ibu. Ibu naik ke lantai atas. Aku menunggu ibu sambil menonton tv. Di tv banyak iklan sirup dan itu merupakan salah satu cobaaan, hehehe.

“Ayo nak,” Ibu datang sambil membawa kunci motornya.

Bruum.

Cuaca di luar masih sangat panas. Bahkan lebih panas. Kami belum sampai di tempat tujuan. Padahal, sudah setengah jam aku duduk di motor. Pegal rasanya duduk terus. Sampai kami masuk ke jalanan yang agak teduh. Aku belum pernah lewat sini. Motor ibu berhenti di depan sebuah gedung besar. Aku melihat tulisan besar yang ada di gedung itu. PERPUSTAKAAN KOTA.

“Ibu bilang tempat yang asyik …,” aku cemberut. Aku tidak suka membaca buku. Menurutku itu membosankan.

“Ya, ini tempat yang asyik,” ujar ibu. Dia sudah berjalan memasuki gedung yang disebut sebagai perpustakaan. Aku mengikuti saja dari belakang. Memang sih, tempatnya sejuk karena dipasang Ac. Tapi, huh!

Ibu dan aku menaiki lift. ibu menekan angka 4 di dalam lift. Kata ibu, itu tempat anak seusiaku membaca dan meminjam buku. Ibu akan meninggalkanku di sana dan jika aku ingin pulang bisa menghubungi ibu melalui telepon.

Aku turun dari lift. Ibu naik ke lantai 5. Sebelumnya dia menunjukkan arah ke tempat anak seusiaku. Belok kiri, lalu kanan, terus lurus.

Gotcha!

Aku menemukannya. Tempai ini mengharuskan kita melepas alas kaki terlebih dahulu. Udara dari ac yang terletak di dekat pintu berembus lembut, menyejukkan ruangan ini. Buku-buku tersusun rapi di rak. Di tengah-tengah ruangan terdapat sofa untuk duduk. Anak-anak seumuranku duduk di sofa dengan buku di tangan masing-masing.

“Em, permisi, mau masuk gak? Jangan ngalangin jalan.” Seseorang menepuk bahuku. Aku menoleh ke belakang dan segera minggir dari pintu masuk.

“Eh, maaf,” ucapku pada anak itu. dia tersenyum lalu segera pergi menuju ke rak. Aku diam di tempatku. Beberapa menit kemudian aku baru beranjak dari tempatku. Aku menuju ke rak novel fiksi. Banyak buku yang menarik perhatianku salah satunya novel tentang dua orang yang sedang berkelana di dunia mimpi. Aku memilih 2 novel utuk di pinjam. Aku pergi ke tempat peminjaman buku.

“Halo. Fina sudah selesai?”

“Udah bu. Fina tunggu di bawah ya.”

“Ya. Ibu juga masih milih buku, sebentar lagi selesai. Fina tunggu aja.”

“Ya. Fina tutup ya.”

Aku memutuskan sambungan dan segera turun ke bawah. Di bawah, aku menunggu di dekat pintu masuk. Di sana ada sofanya. Aku menunggu ibu selama 10 menit. Ibu turun dengan satu buku di dekapannya.

“Yok,” ibu menarik tanganku sampai ke tempat parkir. “Jadi gimana? Seru?” tanya ibu.

“Biasa aja. Tapi tempatnya jauh banget bu. Kalo kesini gak bisa tiap hari,” ucapku.

“Iya. Enaknya kalo dekat.”

Ibu menghidupkan motor. Aku segera naik ke atas motor. Motor ibu mulai meninggalkan tempat parkir perpustakaan.

Sampai di rumah, aku melihat sebuah motor yang biasa dipakai oleh kak Ardy untuk berpergian sudah terparkir di halaman depan.

“Assalamu ‘alaikum.”

“Wa ‘alaikum salam. Dari mana aja dek?” tanya kak Ardy. Aku melepas sandal yang ku-pakai dan segera menghampirinya yang sedang menonton tv.

“Perpustakaan,” aku mengambil toples berisi kacang di atas meja dan memakannya ( kacangnya, bukan toplesnya ).

“Whoa. Tumben adik kakak yang satu ini mau membaca. Bukannya kamu sama sekali gak pernah mau bergaul sama buku ya,” ucap kak Ardy. Dia mengambil toples dari genggaman-ku.

“Kayak aku sama sekali gak pernah baca aja. Dasar,” aku merampas kembali toples itu. “Kak. Perpustakaan jauh juga ya. Kalo kesana gak bisa tiap hari.”

“Terus,” kak Ardy mengangkat satu alisnya. Dia sibuk dengan tv di depannya

“Fina boleh gak minta buku anak sama ensiklopedia kakak?”

“Ha? Buat?” kak Ardy memalingkan wajahnya dari tv. Kini dia menatapku dengan heran.

“Hm, kak Ardy tau kan, beberapa anak di dekat sini ada yang gak sekolah gara-gara gak punya biaya? Terus di dekat sini juga ada panti asuhan. Jadi, rencananya Fina mau bikin perpustakaan kecil di teras. Fina kan sama sekali gak punya buku lain selain buku pelajaran. Jadi, Fina minta punya kakak aja sama Marsya ( adikku ). Gimana kak? Boleh gak?” Kak Ardy terbengong-bengong mendengar penjelasanku. Aku menatapnya penuh harap.

“Yah … boleh deh. Tapi, kamu harus minta izin ibu sama bapak. Oke?” Aku mengancungkan jempol pada kak Ardy. Aku segera menemui ibu dan meminta izin membangun pepustakaan. Tak disangka ibu menyetujuinya. Ibu juga bilang, kalau ada rak tidak dipakai di gudang dan aku bisa memakainya sebagai rak. Aku jadi tambah semangat.

Selesai berbuka puasa. Aku ke kamar kakak dan meminta buku. Aku juga meminta pada Marsya. Aku meminta bantuan mereka untuk mencatat judul buku. Sementara itu, ayah dan ibu membantuku membersihkan rak. Besok siang, insya allah perpustakaanku sudah bisa di buka.

“Capek. Untung sudah selesai,” aku menyandarkan diri di dinding sambil menyelonjorkan kaki.

“Idih, baru gitu aja udah capek. Buka sekarang aja. Kakak mau pasang spanduk dulu.”

Aku membuka pagar yang berfungsi sebagai pintu masuk. Sebelumnya aku sudah memberi tahu seluruh warga RT. 21 tentang perpustakaanku yang bernama … Perpustakaan Warna-warni Ramadhan.

“Kak Fina, sudah buka kan?” Velly, seorang anak dari panti asuhan itu menghampiriku dengan mata berbinar-binar.

“Iya. Itu disitu, langsung aja.” Anak manis itu tersenyum. Dia berbalik dan….

“Hoi! Sudah buka. Ayo!” Tiba-tiba saja, segerombolan anak datang. Mereka langsung menyerbu buku-buku yang ada di perpustakaan kecil-ku. Kini perpustakaan itu ramai dengan anak-anak.

“Fina! sudah selesai tuh spanduk-nya,” teriak kak Ardy dari luar. Sebuah spanduk bertuliskan, PERPUSTAKAAN WARNA-WARNI RAMADHAN terpampang dengan jelas di pagar depan rumah.

Kak Ardy menghampiriku. Dia tersenyum. “Baru kali ini aku dengar ide cemerlang adek- ku yang berhasil,” kak Ardy dan aku tertawa bersama. Aku memukul kak Ardy pelan.

“Semoga aja perpustakaan ini bisa jadi lebih baik. Maksudnya lebih besar dari ini,” ucapku. Aku memandang anak-anak yang sibuka membaca.

“Amin…. Fin, kamu kesana aja. Siapa tahu ada yang sudah selesai dan mau meminjam buku,” kak Ardy berlalu pergi. Aku menurut dan berjalan menuju meja yang digunakan sebagai tempat peminjaman buku.

Leave a Comment

Your email address will not be published.