Ramadanku Berkahku

Oleh: Ikhvi Manarotul Fatati

Jika ramadanmu indah, aku yakin ramadanku lebih indah. Tidak perlu seberapa banyak materi yang kau beri, melainkan seberapa banyak keikhlasan yang kau berikan. Gema ramadan sudah terasa satu minggu sebalumnya. Di mana iklan sirup sebagai pertanda bahwa ramadan sebentar lagi. Sederhana namun istimewa. Apanya?

Sahur… sahur…sahur… sahur.

Saut paut orang mengucap kata itu, tidak lupa iringan perkusi dari kentongan, ember, dan kawan-kawannya. Aku segera bangun dari dipan yang dibalut seprei gambar Upin Ipin. Berjalan dengan nyawa belum terkumpul dan mata sedikit melek menuju ruang tamu. Kuintip dari jendela rumahku, kira-kira ada sepuluh orang banyaknya.

Sembari menunggu sahur, aku menonton televisi. Seperti biasa, di bulan ini seluruh stasiun televisi berlomba menayangkan acara terbaiknya. Mulai dari lomba dakwah, talkshow, sampai lawakan-lawakan para artis yang harusnya ngelucu malah garing. Ah, mengapa tidak ada yang menayangkan kartun. Serial terbaikku. Menyebalkan.

Hem, bau ini, aku sangat mengenalnya. Tak ada bau makanan lain seenak makanan ini. Ayam goreng sedap kesukaanku. “Asik makanan kapten udah siap,” kataku gembira.

“Kapten pimpin doa dulu,” kata mama.

“Nawaitu shauma ghodin an ada’i fardhi syahri ramadhana hadihiissanati lillahita’ala”. Artinya aku berniat puasa ramadan karena Allah, intinya begitu.

Kapten mama adalah pelindung mama, itulah sebabnya mama selalu memanggilku dengan sebutan itu. Kami hanya berdua. Tiap hari juga gitu. Aku adalah anak tunggal. Kadang aku merasa iri dengan temanku yang rumahnya selalu ramai. Banyak saudara sampai enam jumlahnya. Sedangkan aku, satu aja pun ngga punya. Orangtuaku sudah lama pisah, sejak aku kelas dua Sekolah Dasar (SD). Wajar saja kalau orang lain memandangku anak nakal. Bagaimana tidak, aku tak mengenal sosok bapak dalam hidupku. Jangan salahkan aku, mungkin kalau kau ada di posisiku, kau akan tahu rasanya.

Adzan subuh berkumandang. Aku dan mama menunaikan ibadah salat subuh berjamaah di masjid. Saat itu ramai sekali orang yang berdatangan. Masjid kombinasi warna hijau dan jingga itu nampak sesak. Aku berada di saf terahir bersama kawanku, Edi. Edi adalah kawan karibku. Badannya gendut, separuh dari badanku. Tapi, dia baik. Aku suka berkawan dengannya.

Setelah pulang sekolah, aku memutuskan untuk berdiam diri di rumah. Dikarenakan cuaca yang begitu panas menghasilkan adanya rasa lapar dan dahaga. Sorenya, ada Yu Rohmi datang ke rumahku. Yu Rohmi, jebolan santri madrasah yang cukup terkenal di daerahku. Pakaiannya serba kedodoran dan kerudungnya panjang kaya mukena. Orangnya cantik, juga sopan. Dia berniat untuk mengajakku mengaji setiap sore di masjid sembari menunggu adzan maghrib. “Bandi, ikut Yu ngaji yuk, banyak temannya kok,” ajak Yu Rohmi.

“Engga ah Yu, Bandi biasanya main sama temen-temen, udah direncanain dari puasa tahun kemarin,” jawabku asal sambil memainkan Ludo King, game yang lagi ngetren itu. Lagi lawan si Akbar pula.

“Kapten, ngga boleh gitu, mengaji dapat pahala loh, apalagi di bulan puasa berlipat-lipat pahalanya,” bujuk mama. Aku diam saja, tak menjawab sepatah katapun. Seraya tak peduli sama sekali.

“Ya sudah kalo begitu, aku pamit dulu ya, mari ibu, Bandi.” Ujar Yu Rohmi dan bersalaman sama mama. “Maaf ya, Mi, Bandi emang agak susah anaknya.”

“Mama ngga suka sama sikapnya Bandi, kan bisa ngomong baik-baik. Hargai Yu Rohmi yang udah cape-cape ke sini.” Mama memang sedikit kesal denganku. “Hargai orang kalo kamu mau dihargai,” sambungnya.

“Iya maaf, Ma, mungkin efek laper,” jawabku seenaknya.

“Puasa kok ngeluh terus, heran Mama mah.”

“Aku kalo puasa ngeliat sabun cuci piring kaya sirup marjan, Ma, hehe.”

Ya, aku memang tergolong anak yang sedikit nakal dan pembangkang. Hobiku ngerjain orang. Seperti malam tadi, aku sengaja membeli lima bungkus petasan hanya untuk mengageti orang lewat.

Malam selanjutnya aku ulangi hobiku itu. Tapi sial, orang itu adalah Pak RT. Aku ketahuan, telingaku dijewer dan dimarahin habis-habisan. Edi dan Akbar lari meninggalkan aku.

“Ampun Pak, ampun,” ucapku memelas.

“Bapak aduin kamu ke mamamu, biar tahu rasa. Salah sendiri usil. Harusnya tangan kamu bapak potong, biar ngga njailin orang lagi!”

Aduh mati aku, bisa ngga dikasih uang jajan satu minggu ini mah. Sampai rumah, Pak RT menceritakan seluruh kejadian dari A ke Z, Z ke A lagi. Aku diam saja. Jelas mama nampak marah sekali padaku.

Malam itu mama tidak bicara sepatah kata pun, diam membisu. Aku takut sekali, lebih baik mama marah apa aja asal jangan diam. Kalau diam tandanya udah seratus nilai amarahnya. Sebagai hukuman, untuk mengurangi rasa bersalahku, aku selalu membantu mama. Seperti minggu ini.

Kami menuju ke sebuah gedung swalayan di pasar yang sangat ramai. Sebelum masuk, kulihat anak perempuan memakai baju kotor, rambut yang kusut, sambil membawa gelas minuman kosong. Dia mengikuti orang sambil menyodorkan tangannya. Ada yang memberi uang, ada juga yang tidak. Lalu, berganti ke orang berikutnya. “Ma, aku tunggu di sini aja ya,”

“Loh, kenapa? Mending di dalam, di sini panas, Nak,” tanya mama.

“Ngga ah, rame banget. Kapten pusing kalo banyak orang,” jawabku supaya diizinkan.

“Iya udah, kamu jangan ke mana-mana.” Mama meninggalkan ku di luar dan masuk berbelanja.

Aku terus mengamati dia. Tak lama kemudian, dia duduk di sampingku. Sepertinya dia sangat lelah. Aku rogoh saku celanaku dan ku masukkan uang dua ribu rupiah ke gelas plastiknya.

“Terima kasih,” ucapnya.

“Sama-sama. Aku Bandi, nama kamu siapa?” tanyaku berkenalan.

“Aku Ena.”

“Kamu kok ngemis sih? Orangtuamu ke mana?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Aku ngga punya orang tua. Aku cuma punya teman tapi udah kaya saudara, tuh saudara-saudaraku,” sembari menunjuk ke arah dua bocah lelaki dengan baju kedodoran dan celana kolor yang kotor. “Kalo aku ngga ngemis nanti aku makan apa, Ban?” sambungnya.

“Kamu ngga sekolah?” tanyaku.

“Sebenarnya pengin banget. Tapi, uang dari mana, baju aja cuma ada dua buat gonta-ganti.”

Aku kasihan melihat Ena. Bagaimana mungkin anak seumuranku berjuang bertahan hidup sendirian. Hanya dari ngemis dia bisa makan. Coba deh pikirkan, kalau sehari dia ngga dapet uang, lalu dia makan apa. Saat itu aku mulai menyadari betapa beruntungnya aku yang masih punya mama. Makan udah ada yang nyediain. Sekolah udah ada yang bayarin. Bajuku banyak yang tak terpakai, itupun masih minta lagi. Aku baru menyadari betapa sangat pentingnya mama dalam hidupku. Disuruh ngaji aja aku tak pernah mau. Padahal banyak anak yang ingin belajar tapi tak bisa. Contohnya, Ena.

“Aku mau jadi temanmu boleh?” pintaku.

“Boleh banget, aku kenalin juga sama teman-temanku ya?” jawabnya gembira. Ena memanggil teman-temannya yang sedang mengemis. Akhirnya temanku nambah dua orang, namanya Acil sama Gilang. Acil harus memakai tongkat saat berjalan, saat mau nyebrang kakinya terserempet motor.

“Kalo ngemis gitu sehari dapetnya sih berapa, Na?” tanyaku penasaran.

“Tergantung yah Cil, Lang, kadang dua puluh ribu, kalo puasa gini rame bisa sampai tiga puluh ribu,” jawab Ena.

“Uangnya sebagian kita kumpulin terus dikasih ke Nek Ijah,” sambung Acil.

“Nek Ijah? Siapa?” tanyaku.

“Nek Ijah udah kaya nenek kami. Beliau sedang sakit, tapi ngga punya uang buat berobat. Ya gitu, obatnya kita-kita yang beliin,” jawab Ena.

Hatiku sangat tersentuh. Aku hanya ingin jadi anak yang baik saat itu juga. Aku akan selalu mengaji agar mama bahagia.

Mereka berpamitan untuk mengemis lagi. Aku persilahkan. Tak lama kemudian mama keluar dari gedung sesak itu. Kulihat mama sangat repot membawa barang belanjaan. Langsung kubawakan bungkusan yang aku kuat bawa. Makasih kaptenku, kata mama. Aku bahagia mendengar kalimat itu. Sesampainya di rumah aku bilang bahwa aku akan berangkat mengaji sore ini. Sontak mama sedikit kaget. Kemudian, Mama tersenyum bangga padaku. Akupun begitu sangat bangga padanya.

“Assalamualaikum,” ucapku menyapa sekumpulan orang yang berada di dalam masjid. Yu Rohmi nampak terperangah, “aku mau iku ngaji boleh, Yu?” tanyaku meminta izin.

“Boleh, Bandi. Sangat boleh.” Jawab Yu Rohmi sambil tersenyum.

Mulai saat itu setiap sore aku mengaji bersama Yu Rohmi dan enam anak lainnya. Aku sudah kurangin waktu mainku termasuk ngegame. Ngabuburitku mengaji, bukan lagi bermain gundu. Setiap minggunya aku selalu menemani mama ke pasar untuk bertemu dengan kawanku, Ena, Acil, dan Gilang.

Aku bercerita soal Ena, Acil, dan Gilang pada mama, Yu Rohmi, Edi, dan kawan-kawanku yang lain. Aku punya usul untuk membelikan mereka baju baru dengan cara mengumpulkan uang. “Derma untuk Sang Pejuang Hidup”. Kami mengadakan penggalangan dana untuk mereka. Setelah seluruh uang terkumpul, uang itu dibelanjakan baju muslim oleh mama dan Yu Rohmi. Sisanya biar masih berupa uang untuk beli obatnya Nek Ijah.

Kami bertiga sama-sama pergi ke pasar menemui Ena, Acil, dan Gilang, kemudian memberikannya. Air mata yang mengalir sebagai bukti betapa gembiranya.

“Makasih Bandi, baru kali ini kami punya baju lebaran,” ujar Ena.

“Iya sama-sama. Ini semua bukan dari aku aja, Na, tapi dari seluruh orang di kampungku. Jangan lupa hari raya kalian dateng ke rumah aku ya? Nanti aku kenalin sama teman-temanku di sana. Bolehkan, Ma?” kataku menatap Mama.

“Boleh dong, boleh banget. Nanti tante masakin lontong opor ayam super spesial buat kalian.”

“Makasih, tante,” ujar mereka bersamaan.

Setelah itu aku, mama dan Yu Rohmi pulang ke rumah dengan sangat bahagia. Sungguh berbagi itu sangatlah indah dan menyenangkan. Bukan seberapa banyak yang kau beri, tapi seberapa besar niat yang ada di dalamnya.

Hari kemenangan telah tiba. Tiba saatnya seluruh umat muslim berbahagia. Berbondong-bondong bersalaman dan saling meminta maaf. aku sendiri pastinya sudah meminta maaf ke mama, begitupun sebaliknya. Ena, Acil, dan Gilang pun datang hari itu. Kita menyantap makanan spesial dan merayakan hari penuh kebahagiaan bersama. Sungguh lebaran kali ini aku mendapatkan banyak sekali pelajaran. Oh Ramadhanku, aku tunggu engkau tahun depan. Ini kisahku, bagaimana denganmu?

Leave a Comment

Your email address will not be published.