Ramadhan Bulan Bahagia

Oleh: Khusni Syayidatun Nisaa’

Bulan yang dinantikan seluruh umat muslim kini telah tiba. Dengan sejuta warna bagai pelangi di awan yang indah. Tak akan ada yang mampu  menandinginya. Walau sepandai dan sejenius seseorang, walau sebesar apaun usaha seseorang tak akan mampu membuat pelangi yang indah terbentang di awan yang indah pula. Hari ini aku bahagia. Bahagia karena aku dapat kembali ke tempat kelahiranku. Dari kecil aku selalu ditinggal sendiri oleh Ayah dan Ibukku. Namun aku tak merasakan kesedihan sedikitpun. Aku diasuh oleh nenekku dan kakekku dengan kasih sayang yang tulus. Keluargaku sederhana sekali. Aku bersyukur mempunyai keluarga yang sekarang ini.

Perjalanan panjang menuju rumahku. Setiba di rumah malam hari, aku disambut oleh adikku tercinta. Nama adikku Abidzar. Dia adalah penyemangatku diwaktu aku sedih. Kedatanganku juga disambut senyuman manis ibukku dan nenekku. Aku sadar tugasku di rumah untuk membantu pekerjaan orang tuaku. Bukan untuk bersantai santai di rumah. Aku mulai membantu ibukku menyetrika baju dan melipat baju. Setelah semua pekerjaan selesai akhirnya aku tidur bersama ibuku. Karena malam nanti ada sahur, aku pun mulai memasang alarm jam 03.00 WIB. Saatnya tidur dan mimpi indah di hari pertamaku di rumah.

Akhirnya aku bangun tepat waktu. Mulai aku untuk mengambil air wudhu kemudian aku melaksanakan sholat qiyamul lail. Sebelum aku bangun ternyata orang tuaku sudah bangun terlebih dahulu. Aku dan keluarga kecilku sahur bersama setelah sholat. Genderang suara bambu, kaleng, dan besi bekas bergema di seluruh kampung. Pertanda waktu sahur telah tiba. Hari – hariku di rumah ku lalui dengan canda dan tawa. Suatu hari aku membaca sebuah cerita Rosul yang menginspirasiku. Setelah membaca cerita tersebut, aku berpikir untuk berbagi makanan kepada kaum duafa. Untuk mengabulkan keinginanku, aku mengumpulkan teman-temanku di taman. Sebut saja namaku Zulfa. Teman-temanku bernama Rizal, Rizky dan Ana. Aku dan ketiga  temanku membahas makanan yang akan diberikan kepada kaum duafa dan jumlah penerima. Setelah terjadi perdebatan panjang kali lebar akhirnya kesepakatan tercapai. Semua bahan-bahan untuk berderma diperoleh dari hasil sisa uang jajan. Kemudian dibelikan bahan oleh Ibukku.

Kami memutuskan untuk memasak dirumahku karena tempat yang terjangkau. Jumlah penerima sekitar  100 bungkus makanan dan minuman gelas sejumlah 100 bungkus. Kami iuran sebesar Rp.50.000 per anak. Mereka bertiga di hari senin siang ke rumahku.Tepatnya tanggal 10 Ramadhan.

“Assalamu’alaikum Zulfa“ uluk salam Ana

“Wa’alaikum salam Teman-teman, silahkan masuk” jawabku

“ Iya makasih” jawab Ana

“Ini telurnya Zul” kata Rizky

“Iya taruh sana dulu, nanti aku ambil” kataku

“Ayo ke dapur guys, nanti keburu siang” kata Rizal

“Iya beneren juga” sahut Rizky

Di Dapur

Semua sibuk mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng. Aku dan Ana mengiris bahan dan menghaluskannya. Sedangkan yang lain membuat kolak untuk berbuka. Setelah proses pembahanan aku dan Ana memasak nasi goreng di bantu dengan ibukku.

“ Nasi dulu atau bummbu dulu Buk” tanya ku

“ Bumbu dulu nak”jawab ibu

“ Setelah itu masukkan telur kemudian baru nasi” tambah Ana

“ Oke siap Ana”sahutku

Setelah semua selesai mulai dari memasak, membungkus, dan menata di box makan kami membersihkan dapur. Ternyata Rizky dan Rizal jago buat kolak. Temanku yang cowok ini, sudah pandai jadi penjual kolak di kampung ini.

Tak terasa hari mulai sore. Kami berempat menuju jembatan utama di kota. Kami datang dengan  mobil ayah. Kedatangan kami di sambut ceria oleh anak-anak pengemis di tempat tinggalnya. Sebuah rumah di dekat jembatan dengan bangunan terbuat dari bambu. Kami membagikan makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Mereka masih anak-anak tapi sudah mampu berpuasa satu hari penuh. Selain di tempat tersebut, Kami menuju di jalan raya dekat desaku. Kami membagikan makanan dengan sukarela untuk para pengguna jalan yang baru pulang kerja.

“ Zal bungkusannya tinggal berapa?” tanyaku

“Ini masih 10 bungkus Zul” jawab Rizal

“Aku ada usul gimana kalau bungkusan tersebut kita kasih pada tukang becak yang mangkal di bibir jalan” usulan Rizky

“Baik aku setuju dengan ide kamu” balasku

“Gimana Rizal dan Ana?” tanya Rizky

“Oke, Ide yang baik” jawab Ana

“Ayo ke sana, kasian tukang becak tersebut, kelihatan capek” jawab Rizal

Dengan semangat membara kami menuju ke tempat mangkal tukang becak. Aku membawa bingkisan dengan Ana, Rizal dan Rizky membawa kolak buatan mereka. Mereka sangat senang dengan pemberian kami. Walau hanya sekedar nasi goreng dan kolak namun terasa indah jika kita berbagi. Kami pun menuju ke Masjid karena hari mulai petang. Setelah sampai disana kami beristirahat sebentar. Suara adzan mulai bersahut sahutan. Kami memutuskan untuk pulang. Namun Rizal meminta untuk berbuka di masjid ini dulu dengan roti yang dia bawa. Rizal membawa 2 bungkus roti dan 2 botol air mineral. Kami pun berbagi roti dan air mineral. Walaupun tidak berbuka dengan nasi seperti di rumah namun kebersamaan kami waktu berbagi sangat indah. Kami bersyukur bisa makan walau hanya dengan 1 roti dan air mineral untuk 2 orang.

Bukan dari apa dan seberapa mahal apa yang kami berikan kepada orang lain. Namun bagaimana proses dan cara kami berbagi di bulan Ramadhan ini. Kami telah membantu merasakan beban orang-orang yang sangat membutuhkan uluran tangan orang lain. Setelah berbuka, kami berempat memutuskan untuk shalat maghrib dan kemudian pulang. Akhirnya di bulan yang penuh berkah dan bulan bahagia ini kami bisa mewujudkan mimpiku. Karena kami akan bahagia jika melihat orang lain bahagia pula. Berbagi juga merupakan wujud rasa syukur kami kepada Allah. Rasa bahagia dan senang yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata ketika mau berbagi sedikit saja untuk orang lain.

Leave a Comment

Your email address will not be published.