Rindu Ramadhan

Oleh: Khilda Azmi Zulfani

Berderma di bulan suci adalah suatu hal yang sangat mulia…

Berderma di bulan suci adalah suatu hal yang tak tergantikan…

Berderma di bulan suci akan Allah SWT lipatgandakan untuk mereka…

Dalam Al-qur’an sudah Allah SWT jelaskan untuk seseorang yang berderma akan mendapatkan balasan yang berlipatganda. Apakah masih belum berniatkah untuk berderma? Apakah masih belum tergoyahkan hati untuk berderma? Apalagi di bulan suci yang penuh akan keberkahan ini?.

“Rindu”

Waktu begitu cepat tak terasa hari demi hari sudah terlewati.

Namaku Hijrianti kali ini ramadhanku berbeda dengan tahun sebelumnya, biasanya aku dibangunkan oleh ibu setiap akan sahur datang tapi kali ini tidak, aku terpisah oleh tugas hak aku sebagai anak yang ingin membanggakan orangtuanya. Aku rindu saat-saat dimana ayah dan ibuku mengajakku membeli keperluan buka puasa dan sahur, buka puasa dan sahur bersama yang beralaskan karpet biru pudar, mungkin itu hal-hal yang sederhana tetapi bagiku itu bukan hal yang sederhana tetapi hal yang tak tergantikan dengan apapun.

Inilah kisahku …

Setiap sore ayahku selalu menjemput ibu pulang kerja, aku yang begitu manja selalu ikut kemanapun ayah dan ibuku pergi sampai usiaku hampir menginjak 15 tahun. Aku memang manja terhadap orang tuaku karena mungkin disini aku adalah anak tunggal tapi bukan itu alasanku, aku takut nanti kalau aku sudah jauh dari orang tua aku takut tidak bisa merasakan lagi apa yang ku rasakan hari ini.

Jam 15.30 WIB

“Ayah…. ada sms dari ibu jemput sekarang ayah..”

“Iyah Iya, ayah tahu .. mau ikut sama ayah?”

“Pastilah ayah .. pasti Iya ikut, sekalian Iya pengen beli goyobod hehe..”

Iya adalah nama panggilanku. Ayah dengan semangatnya menjemput ibu dengan motor honda merahnya, kata ayahku motor ini begitu bersejarah dari aku SD sampai aku SMA motor ini yang selalu menemaniku dan Ayah pulang pergi sekolah.

Hari ini kami boncengan bertiga karena motor ini satu-satunya yang kami punya, Alhamdulilah tidak ada polisi di sore ini tetapi dijalan begitu ramai banyak orang-orang keluar rumah hanya untuk berbuka puasa di luar.

Tiba di Tukang goyobod..

“Ayah .. ayah mau kemana .. mau beli dulu pisang sama ubi mentah, kamu beli aja goyobodnya sama ibu yah..” jawab ayahku sembari meninggalkan kami berdua di tukang goyobod.

“Ibu.. ayah buat apa beli pisang dan ubi mentah?..”.

“Mau buat sesuatu kali nak, kan ayah biasa suka bikin makanan kalau dia mau.. hehe” ibu menjawabnya dengan sembari tersenyum dengan mengingat ayah suka membuat makanan.

“Tunggu dulu disini yah nak, ibu mau ke sana dulu” ibu langsung pergi membantu seorang nenek yang agak bungkuk kurus rentan dengan membawa sebuah wadah plastik yang ingin menyebrang.

“Assalamuailaikum nek.. sini saya bantu” ibu memapah nenek itu

“Terimakasih cu…” bals nenek tersebut

“Iyah ne.. bentar nek saya punya sedikit rezeki untuk nenek semoga bermanfaat” sambil menyerahkan uang ke nenek tersebut.

“Alhamdulillah terimakasih cu.. alhamdulillah nenek akhirnya bisa beli makan buka puasa buat cucu nenek” nenek tersebut berterimakasih ke ibu.

“Sama-sama nek, saya pergi dulu nek.. assalamualaikum”.

Aku melihat sesosok ibu yang paling aku sayangi, aku tahu ibuku sudah lelah banting tulang untuk menambah uang keluarga apalagi sekarang hari-hari tua yang biasanya uang semakin menipis. Dan ayahku hanya seorang guru ngaji dari salah satu mesjid yang penghasilannya tidak menentu. Tapi ibu tidak pernah sedih akan keadaan ayah, ibu sangat bersyukur karena ayah yang selalu mengajari aku dan ibu mengaji dengan baik dan imam terbaik.

Tak lama ayah kembali ke parkiran motor tukang goyobod.

Setiap perjalanan pulang ayah dan ibu menanyakan masa depanku, cita-citaku dan lain sebagainya.

“Iya.. cita-cita kamu mau jadi apa?” ibuku lebih dulu menanyakan cita-citaku

“pengen jadi perawat bu..” jawabku dengan membayangkan aku jadi perawat.

“Aamiin.. ayah dan ibu doakan yang terbaik untuk Iya yah”. Jawab ayahku

Sesampai di rumah ayah langsung pergi ke dapur membuka bahan-bahan yang ayah beli tadi, karena ibu penasaran dengan apa yang dilakukan ayah, ibu menhampiri ayah.

“Ayah.. mau ibu bantuin? Ini buat apa ayah?

”Iyah bu boleh di bantuin, kalau ibu tidak lelah.. ini buat di mesjid takjil, kasian ayah ibu mesjid itu belum ada yang ngasih takjil..”

“Kirain buat siapa ayah .. yaudah ibu bantuin yah ..”

Aku selalu senang melihat ibu dan ayah begitu peduli dengan orang lain, mereka selalu bersyukur apa yang mereka meliki walaupun keuangan keluarga sedang menipis. Aku bangga mempunyai malaikat yang begitu mulia, aku selalu berdoa untuk malaikat-malaikatku agar hadiahkan mereka surga.

Waktu menunjukan jam 17.32 WIB sedikit demi sedkit matahari mulai mulai menghilang digantikan oleh awan-awan yang berwarna oranye jelas adzan magrib akan segera berkumandang. Ayah sudah pulang ke rumah karena tadi ayah baru saja mengantarkan takjil ke mesjid, tak seperti biasanya ayah mau sholat di rumah biasanya ayah selalu sholat di mesjid.

“Ayah .. ayah kenapa pulang ? kenapa gak sholat magrib di mesjid?” tanyaku penasaran

“Ayah ingin sholat berjamaah bersama kalian, nanti kalau Iya sudah kuliah ayah kan tidak bisa sholat bareng Iya… selagi ada kesempatan” jawab ayah dengan wajah yang mulai berkerut dengan bertambah usianya.

Dug dug dug

Terdengar suara bedug ini tanda waktunya bersiap untuk buka puasa, aku, ibu dan ayah berkumpul di ruang Tv kami tidak mempunyai ruang makan tapi kami tak begitu mempedulikannya hanya beralaskan karpet biru pudah ini kami sekeluarga bahagia.

“Ayo .. kalau sudah beres bukanya kita sholat berjamaah bareng” ujar ayah dan langsung pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu

Aku, ibu dan ayah sudah siap untuk melaksanakan sholat magrib berjama’ah, yang di imami oleh ayah terhebatku.

Aku berdoa kepada Allah SWT semoga Ramdhan ini menjadi ramadhan yang penuh berkah dan bukan Ramadhan terakhirku.

Rindu II …

Hari semakin berlalu, dari hari, bulan, tahun tak terasa sekarang aku sudah melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri tapi sedihnya aku jauh dari orang tuaku. Aku sekarang merantau di salah satu daerah yang baru ku singgahi, Ibu dan Ayah selalu mengajarkan arti kehidupan yang sebanrnya dan mengajarkan aku selalu rendah diri.

Sekarang aku sedang berada di sebuah warung kecil untuk membeli makan buka puasa, tak terasa dulu aku masih di buatkan makan oleh ibu, dibangunkan sahur oleh ibu dan ayah selalu mengantarkan aku ke sekolah walaupun di bulan puasa ini. Ku melihat beberapa orang berlalu lalang membeli makanan buka puasa, tak sengaja aku melihat seorang kakek-kakek yang membawa karung dengan badan bungkuk dan keringat yang membasahi wajah keriputnya, kakek itu begitu lelah dengan pekerjaanya  memulung botol-botol terbuang.

“Assalamualaikum Kakek.. ini buat kakek, maaf cuman ini saja yang aku punya” aku berikan salah satu bungkus nasi ke kakek tersebut.

“Alhamdulillah… terimakasih cu, ini sudah sangat cukup untuk kakek, kakek berdoa semoga ucu diberikan kemudahan disegala urusan dunia maupun akhirat” balas kakek dengan mata berbinarnya.

“Aamiin kek, kakek semangat juga puasanya, aku pamit dulu kek, assalamualaikum ” balas aku

Aku sekarang tahu sedihnya jauh dari orang tua, aku tidak menyangka secepat ini aku pergi meninggalkan kedua orang tuaku di rumah berdua, tapi tak mengapa aku begini dari do’a orang tuaku yang tak pernah lelah berdo’a untuk ke suksesan anaknya.

Terimakasih Ibu .. Ayah ..

Tanpa kalian aku bukan apa-apa..

Tanpa kalian aku bukan siap-siapa..

Aku hanyalah anak cengeng dan manja kalian..

Dan balasan untuk kalian..

Ku berdo’a untuk hadiahkan kalian SURGA..

SURGA FIRDAUS..

Leave a Comment

Your email address will not be published.