Saat Mereka Bahagia

Oleh: Eka Futri Anugrah

Alhamdulillah aku masih diberikan kesehatan dan umur yang panjang oleh Allah swt. hingga aku masih dipertemukan dengan bulan yang penuh berkah ini bulan ramadhan.

Hari ini adalah hari senin sekaligus hari pertama dibulan yang suci ini. Setelah aku melaksanakan sholat tarwih berjamaah di masjid yang tak jauh dari rumahku, aku, ibu,dan ayah serta adikku kembali ke rumah untuk istirahat agar saat sahur nanti kami tidak terlambat.

Setelah makan sahur bersama, aku selalu membaca Al-Qur’an karena setiap ramadhan aku selalu membuat jadwal ODOJ (One Day One Juz) artinya ialah satu hari satu juz. Eiitz, juz yang aku maksud disini adalah juz dalam setiap Al-Qur’an ya bukan jus jeruk ataupun semacamnya hehe.

Oh iya, perkenalkan namaku Anisa Azahra panggil saja aku makan. Eh, maksudku panggil saja aku Zahra. Aku juga mempunyai satu orang adik perempuan bernama Aisyah Azisah namun sering dipanggil Ica.

Pagi ini aku bersiap-siap karena aku dan Ica akan kerumah Omaku yang ada di Bekasi. Kami akan menginap disana selama satu minggu. Namun Ibu dan Ayahku baru akan menyusul pada hari kamis.

Aku menggunakan baju gamis polos warna biru navy dan jilbab dengan warna yang senada. Sedangkan ica memakai baju gamis berwarna pink bermotif boneka hello kitty dengan jilbab yang senada pula.

Aku dan ica menuruni satu persatu anak tangga lalu berjalan ke ruang tengah. Kulihat Ayah dan Ibu sedang duduk bercengkrama.

“Ayah, Ibu kami pamit berangkat yaa” ucap Ica lalu mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan Ayah dan Ibu.

“Iya hati-hati sayang. Zahra jaga adiknya yaa” Ucap ibu.

“Iya bu, pasti. Paling kalau bandel aku tinggalin di halte bis haha” Ucapku meledek Ica. Ku lihat ia menatapku tajam namun tatapannya bukan membuatku takut namun aku semakin gemes dengannya. Ayah dan Ibu hanya terkekeh melihatku dan Ica.

“Kami pergi dulu ya, Assalamualaikum” Ucapku serentak dengan Ica lalu melangkah pergi.

Hanya sekitaran delapan menit berjalan kaki, aku dan Ica sudah sampai di halte tujuan Bekasi. Aku duduk di bangku halte dengan beberapa orang yang juga sedang menunggu bis. Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang menenteng dua kantong besar tissue dengan pakain yang bisa dikatakan kurang layak untuk dipakai. Ia menawarkan tissuenya kepada semua orang yang ada di halte itu namun tak ada seorangpun yang membelinya termasuk aku. Ku fikir sekarang aku sedang tidak membutuhkan tissue.

Namun saat ibu itu menawarkan tissuenya ke Ica, ku lihat Ica mengeluarkan uang dua puluh ribu dari tas-tas mungilnya. Ia memberikan uang itu kepada ibu lalu mengambil tissue yang disodorkan ibu-ibu itu. Kemudian ibu-ibu itu menyodorkan uang sepuluh ribu rupiah tanda kembalian kepada Ica

“Kembaliannya buat ibu saja yaa” ucap Ica tersenyum. “Terimahkasih neng” ucap Ibu itu membalas senyum Ica lalu pergi.

Tak lama kemudian bis tujuan bekasi sudah datang. Aku, Ica dan semua penumpang yang sedari tadi menunggu naik dan masuk kedalam bis. Aku duduk di bangku nomor tiga dari depan bersama Ica.

“Kak, semua orang yang tadi jahat ya termasuk kakak” Ucap Ica sontak membuatku kaget dengan perkataannya.

“Maksud kamu apa Ca?” Tanyaku menatapnya dengan mengerutkan dahiku tanda tak mengerti.

“Masa hanya Ica yang membantu dan membeli tissue ibu yang tadi. Padahal Ica perhatiin semua orang yang ada di sana orang-orang yang punya uang termasuk kakak.”

“Yaa kalaupun mereka punya uang namun tak membutuhkan tissue itu buat apa dibeli Ca? kan mubazzir”

“Gini ya kak. Apa kita harus butuh dulu baru membantu orang lain?” tanyanya yang membuatku benar-benar tak mengerti. Aku hanya diam dan menunggu jawaban atas pertanyaannya barusan. “Kata Ustadzah Nurul, kalau kita melihat orang yang tak mampu sedang berjualan kita harus tetap membeli barang yang dijualnya itu meskipun kita tidak membutuhkannya. Seharusnya kita harus lebih membantu orang yang kekurangan namun ia tetap bekerja keras. Bukan hanya menolong pengemis yang masih diberikan kesehatan dan fisik yang lengkap dengan Allah namun ia malas. Apalagikan bulan ini bulan ramadhan kak jadi kita harus lebih banyak membantu dan bersedekah” Ucapnya dengan panjang lebar.

Jleeebb….

Aku benar-benar malu dengan adikku ini, namun aku juga salut kepadanya karena diusianya yang masih sepuluh tahun ia sudah mampu berfikir diluar logikaku. Aku hanya mengangguk tanda mengerti.

Jam menunjukkan pukul satu siang, kamipun sudah sampai di halte Bekasi yang sudah tak jauh dari rumah Oma. Kami pun turun dari bis dan kembali berjalan. Hanya lima menit kami berjalan, kamipun sampai di depan rumah Oma. Kulihat Oma yang sedang duduk diatas kursi rodanya sambil membaca buku.

“Oomaaaaa” teriak Ica lalu berlari dan memeluk Oma. Ku lihat Oma yang menekuk wajahnya tanda tak suka. “Ihh Oma kok gak meluk Ica? Oma gak suka ya kalau Ica datang ke rumah Oma?” Tanya ica yang kemudin melepaskan pelukannya dengan wajah yang sedih.

“Oma hanya gk suka sama orang yang tidak mengucapkan salam terlebih dahulu” Ucap oma yang melirik Ica sekilas. Seketika Ica tersenyum lebar dan memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.

“Hehehe, assalamualaikum Omanya Ica yang cantik”Ucap Ica lalu menyalami dan mcencium pipi Oma. Oma dan Aku hanya tersenyum melihat tingkah Ica yang menggemaskan.

Oma mempersilahkan kami untuk masuk kedalam rumah. Akupun membantu Oma mendorong kursi rodanya.

Jam menunjukkan Pukul setengah empat sore. Setelah melaksanakan sholat ashar berjamaah aku dan Ica serta Bi Iyem asisten rumah tangga oma diajak oleh Oma untuk membeli menu buka puasa untuk sore nanti.

“Kita mau beli dimana Oma?” Tanyaku kepada Oma

“Kita mau beli di tempat langganan Oma yang ada diseberang jalan sana” Ucap Oma. Aku dan Ica hanya mengangguk dan membantu Oma mendorong kursi rodanya.

Oma memberhentikan kursi rodanya di depan sebuah rumah yang hanya berukuran kecil dan dindingnya hanya berlapis tripleks. Kulihat ada seorang bapak-bapak yang keluar dari rumah itu dan menggunakan tongkat kayu. Bapak itu tersenyum saat melihat kami ada di depan rumahnya.

“Eh Ibu Ana. Mari masuk bu” Ucap bapak itu kepada Oma.

“Iya. Ohiya Pak Rahmat ini kenalin cucu-cucu saya”Ucap Oma memperkenalkan kami kepada bapak yang bernama Rahmat itu.  Aku dan Ica menyalami pak Rahmat dan memberikan senyuman.

“Pesanan saya sudah jadi Pak?” Tanya Oma ke Pak Rahmat

“Iya bu sudah jadi. Tunggu sebentar saya ambilkan” Ucap pak Rahmat lalu ia berjalan masuk kedalam rumahnya dengan lincah meskipun ia menggunakan tongkat.

Tak lama kemudian Pak Rahmat keluar dari rumahnya dan menenteng satu box yang kulihat isinya adalah takjil. Pak Rahmat kemudian memberikan box berisi takjil itu kepada Bi Iyem dan Bi Iyem memberikan uang kepada Pak Rahmat.

“Besok saya pesan lagi sebox yaa Pak” Ucap Oma dan tersenyum kepada Pak Rahmat.

“Iya iya Bu dengan senang hati” Ucap Pak Rahmat lalu membalas senyum Oma.

Kami pun diajak oleh Oma ke sebuah tempat yang kulihat penuh dengan sampah. Rumah-rumah disinipun lebih kecil lagi dari rumah Pak Rahmat. Pemandangan disini membuatku meneteskan air mata, bagaimana bisa anak-anak seusiaku dan seusia Ica bisa betah dan hidup bahagia ditempat yang tak layak ini. Mereka bermain dan berlarian kesana kesini menikmati hidup tanpa terlihat adanya raut muka yang sedih.

Kulihat ada seorang ibu ibu tua datang menghampiri kami. “Eh Ibu Ana” Ucap Ibu itu menyalami Oma, Bi Iyem serta Aku dan Ica. Kemudian Bi Iyem memberikan box yang berisikan takjil itu kepada si Ibu.

“Wah terimah kasih banyak ya bu Ana” Ucap Ibu itu yang menenteng box pemberian dari Oma. “Iya Bu Seli sama-sama. Seneng rasanya bisa berbagi dengan mereka semua” Ucap Oma tersenyum.

Kulihat Bu Seli memberikan takjil kepada setiap anak yang sepertinya mereka juga berpuasa. Anak-anak itu tampak bahagia, akupun ikut bahagia melihatnya.

Jam sudah menujukkan Pukul lima sore, kamipun sudah sampai dirumah. Sembari menunggu adzan maghrib Aku, Ica, dan Oma bercengkrama di ruang tengah sedangkan Bi Iyem menyiapkan menu buka puasa.

“Oma, Ica seneng deh diajak sama Oma untuk bagi-bagi takjil ke anak-anak yang tadi” Ucap Ica

“Tentu dong sayang. Jika kita bersedekah atau membantu orang yang membutuhkan dan mereka senang pasti kita juga ikut senang. Ada rasa bahagianya tersendiri.” Ucap Oma

“Iya Oma. Kata Ustadsnya Zahra juga begitu. Apalagi bulan inikan bulan penuh berkah jadi jika kita bersedekah dan membantu orang lain pahala kita dilipat gandakan dan Allah akan sayang sama kita. Rasulullah saw. Juga sangat senang bersedekah dan kita sebagai umatnya Rosulullah harus mengikuti ajarannya”Ucapku menambahkan penjelasan

“Kalau begitu besok kita kesana lagi ya Oma?” Pinta Ica dengan antusias. Oma hanya mengangguk dan tersenyum tanda setuju.

Ketahuilah sahabat, jika kita ikhlas dalam bersedekah atau membantu orang lain dan ia bahagia pasti hati kita juga akan sangat bahagia. Apalagi orang yang bersedekah dengan ikhlas akan disayang sama Allah swt. dan juga baginda Rosulullah saw. Jadi di bulan Ramadhan ini jangan lupa untuk terus berbagi dengan orang yang membutuhkan agar pahala kita dilipat gandakan oleh Allah swt.

Leave a Comment

Your email address will not be published.