Safia & Ramadhan

Oleh: Erni Widyaningsih

Sore itu, hampir semua stasiun televisi menayangkan proses penentuan awal bulan Ramadhan. Semua yang berkaitan dengan persiapan menyambut bulan Ramadhan telah diliput dengan apik oleh reporter dari berbagai stasiun televisi. Mulai dari suasana pemantauan hilal yang dilakukan di beberapa lokasi hingga suasana persiapan sidang istbat di Kementerian Agama, semuanya diliput untuk memberikan informasi kepada seluruh masyarakat muslim Indonesia. Masyarakat muslim di Indonesia pasti sangat menanti hasil keputusan sidang istbat yang akan diumumkan oleh Menteri Agama yang akan menentukan awal puasa jatuh pada hari esok atau lusa.

Setelah selesai menunaikan ibadah sholat Maghrib, Menteri Agama beserta beberapa perwakilan ulama Indonesia melakukan konferensi pers di depan wartawan yang ditayangkan di televisi dan disaksikan oleh masyarakat muslim Indonesia. Di depan banyak mata yang menyaksikan melalui siaran televisi, Menteri Agama menjelaskan hasil rapat sidang istbat yang telah dilakukan dengan perwakilan ulama dari seluruh Indonesia. Setelah sedikit banyak penjelasan yang diutarakan oleh Menteri Agama, akhirnya diputuskan bahwa hasil dari sidang istbat hari itu menyatakan bahwa awal puasa jatuh pada esok hari.

Masyarakat muslim Indonesia pasti sangat senang karena telah memasuki bulan suci Ramadhan yang selalu dinanti setiap tahunnya. Tidak terkecuali, yaitu seorang gadis kecil yang sangat bersemangat ketika mendengar keputusan Menteri Agama bahwa esok adalah awal puasa. Safia namanya, dia adalah seorang gadis kecil yang duduk di kelas 4 SD. Sedari sore, dia duduk sendiri di depan televisi, memantau persiapan awal puasa. Sedangkan kedua orang tuanya baru saja pulang kerja dari sawah, jadi mereka hrus membersihkan diri dahulu. Kedua orang tua Safia bekerja sebagai petani. Saat itu sedang masa tanam, sehingga mereka pulang hampir petang.

Setelah selesai membersihkan diri, mereka menghampiri Safia yang sedari tadi duduk sendiri di depan televisi.

“Safia, bagaimana hasilnya?” tanya Bapak kepada Safia.

“Masih belum Pak, ini masih rapat, nanti diumumkan setelah Maghrib. Tapi sepertinya besok sudah mulai puasa, soalnya sudah banyak pemantau hilal yang telah melihat hilal” jawab Safia sambil tetap mamandangi televisi.

“Kalau sudah ada yang bisa lihat hilal, berarti memang besok mulai puasa” kata Ibu menimpali.

“Ibu, aku ingin puasa satu bulan penuh tahun ini, kan tahun kemarin hampir satu bulan tapi belum bisa karena aku sakit. Aku mau puasa penuh tahun ini.” Safia mengatakan keinginannya untuk puasa penuh kepada ibunya dengan wajah penuh semangat.

“Iya, tapi kalau makan sahur yang banyak, setelah sholat tarawih juga makan sedikit, biar tidak sakit lagi seperti taun lalu” kata Ibu menanggapi keinginan Safia.

“Iya, aku janji” kata Safia kepada Ibunya sambil menunjukkan jari kelingkingnya.

Safia telah memulai belajar berpuasa ketika masih kelas 1 SD, walaupun masih belum penuh. Dia selalu bersemangat menyambut bulan puasa setiap tahunnya.  Tahun lalu, dia bisa berpuasa hampir satu bulan penuh. Tahun ini dia ingin puasa satu bulan penuh. Dia sangat bersemangat menyambut bulan Ramadhan.

Suara adzan Isya’ mulai terdengar. Safia segera mengambil air wudhu ditemani Ibunya. Karena besok mulai puasa, berarti hari ini sudah mulai sholat tarawih. Safia berlari bersama temannya agar bisa sampai di mushola terlebih dahulu dan bisa memilih tempat dimana saja. Kedua orang tua Safia berjalan menuju ke mushola bersama dengan tetangga – tetangga mereka. Mereka melakukan ibadah sholat Isya’ kemudian dilanjutkan dengan sholat tarawih dan sholat witir berjamaah.

Setelah selesai sholat tarawih, Safia, kedua orang tuanya dan semua jamaah mushola segera meninggalkan mushola menuju rumahnya masing – masing. Selama berjalan menuju rumah, Safia bertanya kepada ibunya.

“Ibu, kapan ya ada takjil di mushola? Biasanya, kalau bulan puasa selalu ada takjil di mushola setelah sholat tarawih” tanya Safia dengan polosnya.

“Ssst, jangan bilang gitu, tujuan utama kita ke mushola itu sholat tarawih, jangan memikirkan makanan, tidak boleh” jawab Ibu.

“Tapi biasanya memang begitu kan?” kata Safia membantah.

“Iya, lihat saja nanti, masa masih hari pertama sudah ada yang membawa takjil”, kata Ibu menjelaskan.

Safia hanya terdiam sambil melanjutkan perjalanannya menuju rumah.

Sampai di rumah, Safia menyalakan televisinya. Hari ini dia tidak belajar karena besok adalah hari libur awal puasa. Safia memang terbiasa menonton televisi jika tidak ada kegiatan. Kedua orang tuanya juga membiarkan karena memang besok adalah hari libur. Namun, ketika hari mulai malam, ibu menyuruh Safia untuk segera tidur, karena besok harus bangun untuk sahur.

“Safia, sudah jam sembilan, ayo tidur, besok harus bangun untuk makan sahur, nanti susah dibangunin” kata Ibu dengan sabarnya.

Safia segera menuruti perintah ibunya. Dia tidak mau terlambat bangun untuk sahur.

Pukul 3 pagi, Safia sudah bangun dan siap untuk makan sahur bersama kedua orang tuanya. Mereka sangat menikmati hidangan sahur yang ibu masah hari ini. Walaupun hanya dengan telur dadar dan sayur kacang panjang sisa tadi malam yang sudah dihangatkan. Safia sangat senang hari ini mulai puasa. Dia begitu bersemangat menyambut hari pertama puasa.

Pagi hari, di hari pertama puasa, dia ikut ibunya pergi ke pasar untuk membeli sayur untuk berbuka nanti. Dia dan ibunya hanya berjalan kaki menuju pasar, karena jarak pasar dengan rumah Safia hanya beberapa ratus meter saja. Ibu mempersilahkan Safia memilih sayur yang dia inginkan. Safia sangat bersemangat memilih. Dia memilih sayur kesukaannya yaitu kangkung. Dia juga memilih tempe sebagai lauknya. Selain membeli sayur yang dipilih oelh Safia, ibu juga membeli bumbu – bumbu seperti cabai, bawang merah, bawang putih dan bumbu lain untuk memasak.

Setelah selesai berbelanja, Safia dan ibunya segera pulang. Dalam perjalanan pulang, Safia melihat beberapa orang temannya bermain. Dia meminta ijin kepada ibunya untuk bermain. Ibunya membolehkannya, dan dia segera bergabung dengan teman – temannya. Safia dan teman – temannya sangat semangat bermain seperti hari – hari biasa. Mereka sama sekali tidak tampak lemas karena puasa.

Ketika adzan Dhuhur berkumandang, Safia dan teman – temannya segera pulang. Sebelum pulang, mereka berjanji untuk tadarus di mushola nanti sore sambil menunggu waktu berbuka. Setelah semuanya setuju, mereka berpisah menuju rumahnya masing – masing. Sampai di rumah, Safia segera mandi kemudian sholat Dhuhur. Setelah itu, dia menuju kamar untuk tidur siang.

Setelah mandi dan sholat Ashar, sekitar pukul 4 sore, Safia bersiap – siap untuk tadarus di mushola bersama teman – temannya. Tidak lama kemudian, teman – temannya memanggilnya dari depan rumah. Mendengar itu, Safia segera menuju dapur menghampiri ibunya yang sedang memasak untuk berpamitan.

“Ibu, Safia tadarus di mushola sama teman – teman ya?” pamit Safia.

“Iya, hati – hati” jawab ibu sambil fokus memasak.

Safia bersama teman – temannya menuju mushola untuk tadarusan. Mereka tadarus secara bergantian. Satu orang membaca satu halaman, kemudian dilanjutkan oleh yang lain satu halaman lagi, dan seterusnya. Mereka tadarus hingga hampir waktu berbuka. Setelah selesai, mereka segera pulang untuk berbuka puasa.

Satu minggu kemudian, Safia mulai kembali masuk sekolah. Dia lebih senang ketika puasa sambil masuk sekolah, karena waktu terasa sangat cepat. Pagi hari sampai siang dia belajar di sekolah. Pulang sekolah dia tidur siang dan sore sampai waktu berbuka dia tadarus bersama teman – temannya di mushola. Tidak terasa waktu terasa cepat.

Setelah satu minggu, seperti tahun – tahun sebelumnya, seperti yang sangat dinantikan oleh Safia, ada yang memberi takjil setelah selesai sholat tarawih di mushola. Ini memang tradisi yang ada sejak dahulu di mushola yang biasa Safia datangi. Setiap bulan Ramadhan selalu ada takjil yang diberikan oleh orang sekitar mushola secara bergantian setelah sholat tarawih selesai. Bermacam – macam makanan seperti gorengan sampai es lilin biasa diberikan kepada para jamaah sholat tarawih. Tradisi ini tidak memaksa setiap orang untuk membawa takjil, tetapi hanya untuk yang mampu dan ikhlas saja.

Setelah pembagian takjil, bapak ustadz memberikan sebuah pengumuman. Para jamaah diminta untuk tidak meninggalkan mushola terlebih dahulu. Para jamaahpun tetap duduk dan mendengarkan pengumuman dari ustadz. Begitupun dengan Safia yang terduduk diam mendengarkan pengumuman ustadz. Dan pengumuman yang disampaikan oleh ustadz adalah bahwa akan diadakan acara buka bersama di mushola pada hari esok. Sehingga seluruh jamaan diminta untuk datang. Para jamaahpun dengan senang hati menyetujuinya. Setelah pengumuman selesai, para jamaah meninggalkan mushola.

Sampai di rumah, Safia memakan takjil yang dia dapat dari mushola. Dia juga sangat senang karena besok dia akan buka bersama di mushola.

“Asyik, besok buka bersama”, kata Safia sangat bahagia.

Keesokan harinya, Safia dan semua jamaah menuju mushola untuk mendatangi undangan buka bersama kemarin. Mereka datang pada pukul 5 sore. Sambil menunggu waktu berbuka, ustadz memberikan kultum. Safia dengan tenang duduk mendengarkan kultum dari ustadz. Ketika adhan terdengar, semua jamaah segera membatalkan puasanya kemudian sholat Maghrib berjamaah. Setelah itu mereka menikmati hidangan buka bersama. Walaupun menunya sederhana, tapi karena kebersamaan, para jamaah terlihat sangat bahagia.

Selesai memakan menu buka puasanya, para jamaah meninggalkan mushola. Sampai di rumah, Safia bertanya sesuatu kepada ibunya.

“Ibu, besok ibu mau membawa takjil apa di mushola?” tanya Safia pada ibunya.

“Kalau kamu maunya ibu bawa apa?” ibu berbalik tanya kepada Safia.

“Kalau Safia maunya ibu membawa agar – agar, kan Safia suka agar – agar”, jawab Safia dengan polosnya.

“Yasudah, besok kita bawa agar – agar ke mushola”, jawab ibu menuruti permintaan putrinya.

“Asyik”, Safia sangat senang mendengar jawaban ibunya.

Keesokan harinya, Ibu berangkat ke mushola untuk sholat tarawih sambil membawa agar – agar. Safia berjalan di samping ibunya sambil membantu membawakan mukena ibunya. Safia sangat bersemangat menuju mushola.

Sampai di rumah, Safia merasa bahwa dirinya sudah bersedekah. Dia mengucapkan terima kasih kepada ibunya.

“Ibu, hari ini Safia merasa kalau kita sudah bersedekah, benar tidak”, tanya Safia dengan senyum di wajahnya.

“Iya sayang, seperti inilah yang namanya bersedekah. Tapi kalau sudah bersedekah, jangan membicarakannya dengan orang lain. Kalau kita membicarakan sedekah kita kepada orang lain, itu artinya kita sombong. Dan itu tidak boleh. Kalau bersedekah kita harus ikhlas, mengerti?” ibu menjelaskan dengan lemah lembut kepada Safia.

“Iya ibu, Safia mengerti.”

Safia menjalani hari – harinya di bulan Ramadhan dengan dipenuhi kegiatan yang baik. Dia sangat bahagia menjalani bulan Ramadhan tahun ini, melebihi kebahagiaan dia ketika berpuasa pada tahun lalu. Sampai akhirnya tahun ini Safia dapat berpuasa satu bulan penuh.

Leave a Comment

Your email address will not be published.