Secarik Kertas untuk Pohon Matoa

Oleh: Amar Yanuar Pamungkas

Assalamu Alaikum Wr. Wb.

Untukmu, Sang Pohon Matoa.

Surat ini kutulis untukmu, kami tak akan selamat kalau kau tak datang waktu itu. Sekarang Adik telah meninggal, leukemia yang ada pada dirinya sudah mengganas, aku tak bisa menahan kesedihan ini selama beberapa bulan, kukunci pintu kamar, kututup semua jendela, dan kuhindari kontak dengan semua tetangga.

Terima kasih kuhaturkan kepadamu, entah apa yang terjadi bila kau tak datang waktu itu, buah-buah jatuh disekitar kita sampai-sampai kami bisa memilih buah yang kami suka. Sekarang bulan ramadhan, mungkin sudah sekitar dua tahun yang lalu kita bertemu, apa kabarmu wahai pohon?

Adikku meninggal diumurnya yang ke lima belas tahun, masih ingat tidak waktu pertama kali kita bertemu, aku tersesat dihutan itu bersama adik, aku sangat menyesal melanggar perintah ibu dan ayah, kami berjalan menjauh dari pemukiman, waktu itu aku hanya membawa tas kecil bersisi botol minuman, isinya hanya setengah. Aku menangis saat tau hari mulai sore, aku tak bisa selamat, adik perempuanku itu hanya diam dipojok pohon besar.

Aku mencoba mengelilingi sekitar pohon itu, aku berharap ada sebuah lampu yang menyala, namun tidak, semuanya hanya kegelapan dan hanya cahaya bulan yang menerangi kami. Aku kembali menangis, air itu aku putuskan untuk kuminum, adik tak kuberi setetespun, namun anehnya dia hanya diam dipojok pohon itu dan sepertinya mulut adikku tak berhenti berucap, kuputuskan untuk mendekatinya, kita hanya sepasang kakak beradik yang masih remaja, tak mungkin aku putuskan menjelajahi hutan bersama adikku.

Lalu aku duduk disampingnya, kukatakan padanya “Apa kamu tidak khawatir!? Apa kamu tidak lapar dik ?!” namun dia terus mengatakan sesuatu, lalu dia memegang tanganku, dia berucap “Tenanglah kak, ucapkan nama Allah, kita dijaga Allah.” Jawabnya, aku hanya diam saat itu, aku malu namun aku masih tak percaya, kita bisa keluar dari masalah ini sendiri, bagiamana Allah dapat mendengarkan doaku, aku merasa yang kudoakan kepadanya belum juga terkabul.

Kukatakan dia kembali “Allah tidak memberimu makam bukan? Mana makanannya? Kamu bisa mati nanti.” Ucapku kesal, “Dzikir kak, aku sudah kenyang.” Balasnya, lalu dia kembali berdzikir dan memujurkan badannya kepohon itu. Aku masih bingung, perutku sangat lapar, aku putuskan untuk tidur.

Sangat susah untuk tidur, aku mencoba membuka mata, tidak! Kulihat adikku memakan sesuatu, seperti buah apel. Aku memukul tangannya, sampai-sampai apel itu terpental, “Oh! Kamu ingin yah kakakmu mati hah?!” Teriakku geram, adikku menanangis setelahnya, aku tak habis pikir saat itu, adik yang selama ini hanya terdiam ternyata selicik itu, tiba-tiba dia menjawab, “ Kakak jahat! kakak jangan menyia nyiakan makanan, aku ingin memberikan apel itu setengahnya kepada kakak nantinya!” aku masih tak percaya, aku sangat lapar.

Brug!

Aku langsung berlari kearah itu dan kutemukan sebuah apel, aku langsung makan semua bagian apel itu, adik hanya diam dan kembali berdzikir sepertinya. Entah apa yang dipikirkannya, memang hubungan kami tak seakrab kakak beradik lainnya karena adik adalah siswa pondokan yang mulai meninggalkan kami saat kelas satu SD, dan dia pulang untuk berlibur. “Kamu tidak lapar?” Tanyaku kepadanya namun tetap saja diam, lalu aku berdiri dan menyapu sekeliling, aku putuskan untuk berjalan menjauh beberapa meter berharap ada makanan, aku kemudian melihat keatas, aku duduk sebentar. “Kamu licik! Sini semua makanannya!” Teriakku kepada adik yang seeding makan, aku melihat banyak sekali buah disekilingnya sampai-sampai bisa memilih buah yang disukainya. “Tidak Kak, ini dari Allah, kakak tidak boleh seperti itu!” Jawabnya, aku kemudian mendekat dan memakan semua buah itu, kita bisa tidur semalaman dan selamat. Aku masih merasakan aneh dari kejadian itu, namun jawabannya baru kutemui hari ini, adikku telah menulis pesan bahwa dia tak pernah berhenti memberikan nasinya saat berbuka puasa dipondokan, adik juga menyematkan bahwa sebagian besar atau kecil yang kita berikan kepada orang lain dengan ikhlas akan berbalas dihari kemudian. Entah apa yang kulakukan saat itu, aku seperti hewan yang kelaparan, napsuku sangat besar, aku merasa seperti manusia yang sangat tak bersyukur, dan sekarang adik telah tiada, aku ingin bertemu denganmu pohon, aku sangat bersyukur kepada Allah.

Wassalamu Alaikum Wr. Wb.

Leave a Comment

Your email address will not be published.