Sedekah Tulus di Bulan Ramadhan

Oleh: Regina Dani Suhanda

Hari ini adalah hari pertama umat muslim menjalankan ibadah puasa bertepatan dengan jadwal Ujian Akhir Sekolah di kampusku.Aku adalah seorang mahasiswa semester enam di salah salah satu perguruan tinggi negeri di kota Surabaya.Pagi ini begitu cerah,aku bergegas untuk berangkat kuliah .Jalan menuju kampusku dekat dengan pusat perdagangan.Itu karena banyak toko dan pedagang kaki lima di sepanjang kanan dan kiri jalan.Ujian Akhir Semester menjadi sesuatu yang menakutkan bagi kami kaum mahasiswa,terutama aku yang tidak suka belajar.Setibanya di kampus aku bertemu dengan teman-temanku yang berbagi cerita menu sahur semalam.

“Regina, gimana puasanya?sahur apa semalam?”.Tanya Della dengan cara pengucapannya yang centil.

“Mau tau aja kamu sih Dell, aku cuma sahur penyetan tempe semalem”. Sahutku

Tak lama setelah kami berbincang-bincang,bell berbunyi pertandan ujian akan dimulai.Kami semua segera memasuki ruangan ujian masing-masing.Hingga tiba saatnya ujian selesai aku dan Della berjalan menuju parkiran sepeda motor untuk bergegas pulang.

Bulan Ramadhan selalu dinantikan oleh umat muslim untuk meningkatkan keimanan.Aku adalah tipe anak kos yang jarang pulang ke rumah karena letak rumahku yang harus menyebrangi pulau terlebih dahulu,rumahku di seberang sana.Meskipun akses Surabaya dan Madura sudah lebih mudah saat ini karena adanya Jembatan Suramadu tetap saja menurutku sering pulang akan semakin sering menghabiskan ongkos bensin pulan dan pergi. Hari semakin sore , pertanda bahwa waktu buka puasa akan tiba.Seperti tahun sebelumnya aku berbuka puasa tidak sendiri namun bersama teman kosku bernama Ainun.Dia satu kelas denganku juga letak kos kami yang berdekatan membuat kami sering melakukan kegiatan bersama.Hari pertama kami berbuka dengan menu yang sederhana,karena kami anak kos jadi kami tak segan untuk saling berbagi makanan.Ainun berbuka puasa di kosku,aku menyiapkan hidangan buka puasa berupa minuman teh hangat, nasi putih dan sayur bening kesukaanku sedangkan ainun membawa hidangan berupa tahu telor dan tempe.Saat adzan tiba kami hanya meneguk segelas teh hangat yang kusiapkan lalu sholat maghrib berjemaah sebelum buka puasa dengan hidangan berat.

“Nun maaf ya,makanannya seadanya.Hehehe”.Ucapku

“Apasih Re.Buat kita yang penting makan,enak ga enak tetep abis.”Sahut Ainun sambil tersenyum.

Setelah itu kami sholat tarawih berjemaah di masjid dekat kos.

Keesokan harinya ada yang membuat aku ingin menangis saat dalam perjalanan ke kampus.Tak seperti biasanya aku melihat seorang kakek tua yang menurutku jalannya pun sudah susah sedang berjualan di sisi kanan trotoar jalan bersama seorang balita perempuan yang masih kecil.Kakek itu berjualan penjepit jemuran yang terbuat dari kayu.Aku hanya memperhatikannya dari kejauhan karena bergegas untuk pergi ke kampus untuk ujian.Rasa penasaranpun datang dalam benakku .Muncul beberapa pertanyaan yang jawabannya masih misterius.

“Siapa ya kakek itu ?mengapa berjualan disitu?lalu anak itu siapa”.Dengungku dalam hati

Entahlah aku tidak bisa menemukan jawaban itu.Hingga sewaktu pulang kuliah Della bertanya padaku apa yang terjadi padaku karena menurutnya aku menjadi pendiam ,tak seperti biasanya yang cerewet.

“Eh Regina….kamu ini kenapa sih ? galau? Apa yang dipikirin?.Tanya Della sambil menepuk pundakku.

“Gini lo Del,tadi pagi aku liat kakek-kakek wes tua sama balita perempuan jualan jepitan jemuran.Aku penasaran sekaligus kasian liatnya soalnya sudah tua masih jualan dan bawa balita pula,digendong gitu.Heran aja,kemana keluarganya?kan kasian”.Sahutku

“Oh kakek tua yang badannya bungkuk itu ya? Setauku beliau memang sudah lama berjualan di sekitar kosmu .Aku sering liat kalo pulang lewat daerah situ.Kata mbakku,kakek itu punya cucu yang ditinggal lantaran orang tuanya meninggal dunia dalam kecelakaan kereta api.Akhirnya kakeknya yang merawat karena ga punya sanak saudara.Istri si kakek juga sudah meninggal”.Kata Dela menceritakan kisah kakek itu.

Rasa iba,simpati,empati tiba-tiba muncul dalam benakku setalah aku mendengar cerita Della.Aku membayangkan bagaimana bila itu terjadi pada kedua orang tuaku atau sanak saudaraku.Seketika saat itu juga aku mengeluarkan air mata dan Della pun ikut menangis melihatku.

Semalaman aku tidak bisa tidur,teringat akan cerita Della.Terbayang-bayang akan sosok kakek itu yang  menggendong balita perempuan.Hingga akhirnya aku bertekad untuk bersedekan dan memberikan sebagian kecil yang aku punya untuk kakek dan balita kecil itu.Segera aku melihat isi dompetku lalu ku simpan rapi dalam amplop kecil.Kucari selimut yang kemarin ibuku belikan untukku,ingin ku derma kan saja pada kakek itu karena aku masih punya selimut yang layak pakai untukku sendiri.Aku juga berniat menberikan sekantong plastik beras .

Hari esok telah tiba,tanpa pikir panjang aku bergegas mencari kakek penjual jepitan jemuran itu.Dari kejauhan aku memperhatikannya dari keujahan.Hatiku terenyuh melihatnya.Memakai baju yang sudah lusuh dan menggendong balita perempuan di pangkuannya.Saat cucunya menangis,kakek itu dengan sabar menenangkan cucunya dengan bersenandung dan tetap tersenyum.Kakek itu menepuk tangan cucunya,memeluknya dengan hangat dan mengelus kepalanya.Aku tidak tega melihatnya,begitu besar rasa kasih sayangnya kepada cucunya yang malang itu.Akupun menemuinya

“Assalamualaikum,kek saya mau beli jepitan jemurannya 1 pcs’’.Ucapku sambil tersenyum menunjuk barang dagangan.

“Satu itu harganya Rp 15.000 neng” Sahut si kakek

Akupun mengambil uang lima puluh ribuan dalam kantong saku celanaku dan memberikannya pada kakek.

“Ini kembaliannya ya neng”.Ucap kakek sambil menunjukkan uang kembalian kepadaku.

Dengan nada menahan tangis akupun menolak dan berniat untuk memberikan kembaliannya pada kakek itu

“Tidak usah kek,untuk kakek dan adik saja untuk buka puasa.Saya juga ingin memberikan sedikit rejeki.Ini ada sedikiti uang,beras dan selimut.Mohon di terima ya kek”Ujarku sambil menatap iba si kakek dan balita.

Kakek penjual jepit jemuran itu seketika mengucap puji syukur kepada Tuhan.Rasa senang dan syukur terpancar dari raut mukanya.Aku senang melihatnya ,perasaan gundahku pun sudah perlahan hilang karena melihat kegembiraan si kakek tua.

“Terima kasih ya neng,sebenarnya keuntungan dari menjual jepitan jemuran tak seberapa,saya harus menahan lapar agar cucu saya ini dapat minum susu meski hanya susu murah.Saya berjualan disini sudah 17 tahun,namun sekarang orang-orang sudah tidak tertarik dengan jepitan jemuran dari kayu yang saya buat.Zaman sudah berubah,pendapatan saya juga sedikit ditambah lagi usia saya yang sudah tua seperti ini” Kata kakek itu.

Akupun bergegas pulang kembali ke kos,dalam perjalanan pulang aku berdoa semoga Tuhan memberikan rejeki dan kesehatan untuk kakek dan cucunya itu.Aku percaya bahwa rejeki Tuhan tidak akan tertukar,kuasa-Nya sungguh nyata.

لَّا خَيۡرَ فِي كَثِيرٖ مِّن نَّجۡوَىٰهُمۡ إِلَّا مَنۡ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوۡ مَعۡرُوفٍ أَوۡ إِصۡلَٰحِۢ بَيۡنَ ٱلنَّاسِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ ٱبۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِ ٱللَّهِ فَسَوۡفَ نُؤۡتِيهِ أَجۡرًا عَظِيمٗا

Artinya: Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma´ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (Q.S. An-Nisa: 114)

Leave a Comment

Your email address will not be published.