Sedekah yang Sederhana

Oleh: Fatimah Syafitri Masturo

“Risa, Bantuin Mama siapkan untuk buka puasa hari ini!” Kata Mama memelas melihat tingkah anak-anaknya yang sudah kelewat zaman now. Tak bisa menonton anime,drakor dan boyband korea di depan laptop maupun android canggih lainnya. Gak ada waktu untuk banggain mama malah keasyikan hobi baru si trio kwek-kwek.

“Sebentar saja ma, Masih tanggung nonton anime hits musim ini.” Risa menyibukkan mata cokelatnya ke arah laptop,sang pujaan hati untuk si jomblo Risa sedang memasuki masa kuliah. Mama menghela nafas lalu berkacak pinggang ketika tubuh gemulai sang mama di depan pintu dan menyandarkannya. Riri sedang senyum-senyum sendiri saat menonton drakor “That Man Oh Soo” sedangkan Rima teriak histeris melihat boyband korea  melakukan dance sambil menyanyi merdu di atas panggung dalam tabloit pintarnya.

Mama mengendus kasar. Jemari tangan milik Mama tidak sabaran ingin mencakar wajah buah hatinya yang sekarang mengikui zaman tidak jelas. Tiba-tiba, Pikiran mama menemukan ide cemerlang.

Mama membalikkan badannuya seratus delapan puluh derajat dan berkata,”Baiklah, Mama akan membuatnya sendiri dan kalian bertiga tidak dapat jatah untuk buka puasa pertama kalian. Terima kasih.”

Mendengar ancaman yang mengancam perut mereka bertiga, Sontak Risa,Riri dan Rima menghampiri Maama yang beranjak dari tempat tersebut.

“Iya deh ma. Risa bantuin Mama buka puasa. Iya kan, Riri,Rima?” Tanya Risa kepada Riri dan Rima lalu menyetujuinya pelan.

Mama tersenyum penuh kemenangan malam Ramadhan yang membawa berkah. Apalagi sang buah hatinya menurut dan patuh kepadanya. Hem, Enaknya kasih ancaman lain untuk memberhentikan aktivitas mereka yang dibilang *Mager? Akhirnya Risa meletakkan makanan buka puasa di ruang makan,Riri mengambil minuman teh hangat beserta gelas-gelas yang sesuai anggota keluarga dan Rima membantu Mama mengelap meja makan.

Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!!

Azan mengumandang dari masjid dekat rumah terdengar nyaring menandakan buka puasa dimulai. Mama senang mengucapkan alhamdulillah lalu membaca doa. Riri sigap mengambil kurma dengan lahap. Rima melihat sang *Ateng memakan kurma manis itu menatap bingung.

“Kakak udah minum tehnya?” Riri menangguk sebagai jawabannya. Irit kata saat seseorang sudah merasa terganggu acara makannya.

“Berati kakak makan dulu baru minum?” Sanggah Rima sambil menggelengkan kepalanya. Riri menepuk jidatnya keras mengakui kesalahannya sekarang. Risa sedang menahan tawa padahal Riri semangat banget tuh makan.

Mama berdiri dan mengambil makanan buka puasa dari tangan mereka bertiga. Risa,Riri dan Rima tidak menerima perlakuan Mama yang terbilang pelit mengasih makan dalam masa pertumbuhan minus Risa yang tidak berkembang sejak SMA. Bisa dikatakan  lebih pendek dari Riri.

“Mama nggak mau kalian mode kenyang terus tidak melakukan sholat mahgrib,sholat isya dan sholat tarawih malan ini.” Tutur Mama menjelaskan agar mereka mengerti. Mereka menuruti permintaan sang mama dengan sikap ogah-ogahan.

3 Jam kemudian, Mereka melipatkan mukena di tempat yang sudah ditentukan. Riri menggerutu tidak jelas mengenai lama sholat tarawih sehingga kedua kakinya sedikit kram dan membosankan. Riri melangkahkan kakinya ke arah Rima di ruangan keluarga untuk berkumpul yaitu tv besar yang dilengkapi sisi kanan dan kirinya ada sebuah pengeras suara.

“Kakak tuh pengen banget nonton drama korea nya eh malah lama lagi sholatnya tadi.” Ucap Riri mengambil makanan ringan di tangan mungil milik Rima sedang menonton acara kartun. Rima tidak terima langsung menjauhkan makanan tercintanya lalu menggeser tubuhnya di pojokan sofa berwana cokelat. Riri mendecih kesal sedangkan Risa menggelengkan kepalanya.

Tubuh pendek milik Risa meyenderkan ke dinding warna gading ruang keluarga dan  melanjutkan mencari anime list yang lagi hits dibanyak penonton yang gemarnya sama. Mama menghela nafas. Kemudian, Ekor mata Mama melirik ke jam dinding yang menunjukkan tengah malam dan Papa akan pulang ke rumah setelah menyelesaikan acara lembur di kantor.

“Mana laptop,tablet dan hp kalian semua?” Tanya Mama pelan. Risa mendengar pertanyaan Mama mendadak beku. Tangan pucatnya menyelipkan hp nya di kantong celana olahraga yang dikenakan.

“Emangnya Mama nanyain gitu?”

“Mama sita barang kalian sebelum makin kumat tingkah kalian. Begitu saja kalian sudah malas apalagi sudah besar nanti. Masa’ Mama tetap kasih perintah agar membatasi waktu main dengan alat teknologi tersebut.” Perkataan Mama tegas sekaligus menusuk ke hati Risa,Riri dan Rima.

Riri teringat pelajaran guru agamanya untuk setiap umat manusia melakukan ibadah,perbuatan yang baik dan mematuhi apa yang dikatakan sang orang tua. Rima melihat mama memberikan nasehat sembari mematikan tv dalam menunda acara favoritnya selain boyband korea. Bisa dibilang untuk refleshing.

“Kalau kami enggak kasih apa yang mama minta?” Rima dalam mode ketus saat mamanya selalu menganggu kegiatan menarik miliknya hari ini. Risa dan Riri terdiam. Pasalnya kalau adiknya sudah mode itu, Aura di sekitarnya mendadak berubah. Mamanya mengerlingkan matanya dan melanjutkan tindakan tegas yang sudah dibicarakan bersama papa lewat whatsapp.

“Mama ambil ke kamar kalian. Oh ya jangan membantah perkataan mama ya Rima. Mama sita barang ini selama 3 hari. Mama berharap kalian semua berubah.” Mama membawa tubuhnya ke kamar yang luas milik anak mereka bertiga dan menemukan benda-benda yang dicarikan lalu melangkah pergi ke kamar Mama.

Risa menarik belakang baju tidur Mama dan sang empunya menoleh ke belakang. “Mama, Risa mohon sama Mama jangan sita barang-barang kami dan lagipula Mama memberikan waktu 3 hari seperti 3 tahun bagi kami.” Kata Risa memelas dengan mata imutnya. Tak lupa menunjukkan Endut –Nama kucing persia berumur 1,5 tahun berwarna kuning dan putih serta memiliki ukuran gendut- di kedua tangan Risa. Biar mirip kan endut anaknya Mama juga. Mama menggeleng tidak setuju saat melihat pemandangan tidak biasa sang sulung sedang menginjak bangku kuliah yang masih kekanak-kanakan.

“Maaf.” Cicit Mama menutup daun pintu terbuat dari kayu jati yang berkualitas. Riri menatap gusar karena rencana mereka tidak berhasil.

Mama membuka kembali pintu dengan memberikan kertas hvs berukuran A4. Ditulis sangat rapi lalu menggantungkan di pintu tersebut.

“NANTI MAMA CORET WAJAH KALIAN KALAU BERANI MENGAMBIL BARANG YANG TIDAK DIPERLUKAN DI DALAM KAMAR MAMA DAN PAPA DIAM-DIAM DENGAN SPIDOL ATAU CAT DINDING KALAU BISA PAKAI PILOX LALU MAMA TARUH KALIAN DI JALANAN. Sekian dan terima kasih.”

Riri mengetuk pintu sedangkan Risa menggedorkan pintu tak berdosa itu sekencang-kencangnya.

“Maafkan Rima ma. Rima khilaf tadi nggak bisa kontrol emosi.Please ma jangan kalau teman kami bertiga melihatnya langsung dibilang orang gila dan sinting terus diupload ke sosmed gimana? Kan Rima tidak mau wajah cantik dan selalu diam di kelas langsung kena gosip kayak gitu.” Rima membantu usaha sang kakak untuk membujuk dan mencopot hukuman yang dibilang tidak berperikemanusiaan kepada hak anak.

Mama tertawa di dalam kamar dan mengiyakan permintaan sang bungsu. Memang sih bungsu diam di kelasnya yang pilihannya sendiri tetapi tiba di rumah langsung sifat aslinya.

“Masa’ Mama tega gitu.” Risa merasa pasrah ketika mama mengambil paksa hp andromax A nya padahal lagi mengunduh satu anime lengkap bergenre fantasy.

“Iya, iya. Mama bercanda. Mama tidak bisa tega melakukannya kepada anak-anak Mama ini. Kalau begitu kalian bertiga menunggu papa pulang. Daripada benar-benar mama buat gimana? bye~ Mama mau BOCAN.”

Risa, Riri dan Rima hanya memasang poker face,wajah imut dan pasrah melihat tingkah sok mengatur dari Mama tercinta.

***

-SAAT SAHUR-

“Loh mana kak Risa?” Tanya Rima baru bangun tidur. Riri menanggapinya tidak tahu sembari mengangkat kedua bahu. Kemudian, menuju ke ruang makan yang sudah tesedia.

Rima melihat gelagat sang sulung sangat aneh dan mengarah ke tempat yang tidak boleh masuk siapapun kecuali papa dan mama.

“Kak Risa lagi ngapain?”  Rima menanyakan dengan antusias soalnya tak biasa sang sulung itu mempunyai keberanian luar biasa di saat genting seperti ini. Jari telunjuk milik Risa menutup bibir Rima biar tidak ketahuan. Risa memberitahukan kegiatannya untuk mengambil laptop,hp dan tablet di kamar mama dan ia sudah tahu tempat yang cocok sebagai persembunyiannya. Akan tetapi kakaknya, Risa meminta bantuan kepada Rima.

Rima mengangguk kecil menandakan sudah paham jalan cerita si kakak. Riri melihat sang kakak dan adik yang tak kunjung datang ke ruangan makan menghampiri sekaligus menyuruh si Rima mengetahui kondisi sekarang.

“Rima, Tolong lihat mama dan papa masih tidur atau enggak kalau kak Riri mengambil spidol dan cat dindingnya. Kakak tahu dimana 2 benda yang mama maksud itu berada di garasi mobil. Lihat di jendela ya Rima?”

“Hm… Mirip seperti drama korea yang kutonton 2 bulan yang lalu.” Gumam Riri semangat. Risa mengamati kedua adiknya yang beranjak remaja terharu. Sikap dan perbuatan mereka lebih mulia daripada tingkahnya selama 18 tahun ini.

Risa mengambil kursi dekat kamar mama dan tertidur pulas. Hem, Enak kan punya adik yang senantiasa membantu ide kita tak terkecuali ini?!!!

“kak Risa, Mama lagi tidur:”Kata rima sebel.

“kak,bangun!!!” Kata Rima berteriak di telinga Risa.

“ee ayam ayam ayam ayam”kata risa terkejut setengah mati dan tidak elitnya tubuh kecilnya itu jatuh tersungkur ke lantai. Rima menertawakan sikap ceroboh sang kakak sembari memegang perutnya yang sakit. Risa mengaduh kesakitan ketika bokongnya menyentuh lantai yang keras.

“kak,mama lagi tidur dan Rima berhasil mengambil laptop,tablet,dan hp”kata Rima masih memegang perutnya dikarenakan efeknya belum reda. Merasa bodoh di depan sang adik, Risa melipat kedua tangan di depan dada sembari memiringkan wajahnya ke arah lain. Tak lupa, Bibirnya dimanyunkan tanda ngambek.

Riri memberikan pujian dengan mengacak rambutnya biar berantakan. Rambut Rima yang keriting menjadi kribo mendadak. Tiba-tiba, Hawa keberadaan yang familiar di belakang punggung Rima.

“Apa yang kalian rencanakan??? Ribut lagi.”

Risa diam seribu bahasa,Riri menyembunyikan alat hukuman ke arah belakang dan Rima melakukan hal yang sama seperti Riri. Mama menaikkan sebelah alisnya. Mama ragu atas jawaban yang menyita waktu terlalu lama.

“Enggak ada kok ma.” Risa dan Rima mencicit takut saat Riri memberikan jawabannya.

“Tuh, Belakang . Ada apa disana?”

“Mama tidak bisa lagi mencoret wajah kami karena Riri sudah mengambilnya.” Risa memantapkan hatinya untuk berbicara. Berani berbuat, Berani bertanggung jawab. Mama menghela nafas keberapa kalinya mendapatkan jawaban lantang si sulung. Hati Mama sedikit rapuh alias S.E.N.S.I.T.I.F.

“bukan itu hukumannya melainkan kalian jalan jongkok ke ruang makan untuk sahur bulan ramadhan tahun ini.” Mama mengajak papa yang bingung melihat situasi ketika anak-anaknya menjalankan titah yang tak terbantah si ratu.

***

Langit biru yang tenang dan ditemani sang mentari hangat di Sabtu ini membuat aura yang menyenangkan sekaligus tenang di keluarga marga Pasaribu. Risa mengucek matanya sambil melirik pakaian piyama bergambar teddy bear warna hijau tua sedikit melorot. Sekejap saja Risa membetulkannya sebelum ada fitnah yang tidak mengenakan. Riri beranjak dari kasur menuju kamar mandi sedangkan Rima asyik menonton boyband korea secara live di TV yang berlokasi Jakarta. Sebenarnya, Rima meminta mama mengizinkan Rima membeli tiket konser tapi mama akan menambah hukuman yang acak. Jadi takut untuk membantahnya.

“Risa,Riri,Rima! Mau nggak mama ajak kalian nanti siang ke Mall lagi opening besar-besaran loh di Medan!!!” Teriak Mama tersenyum senang. Risa menatap mama sebuah keajaiban yang besar dan langka.

Riri menghampiri mama dan sudah menggantikan baju kemeja kotak-kotak waran hitam putih serta celana jeans hitam. Rima mengangguk kecil lalu membersihkan badannya di kamar mandi.

“Risa, Masih berdiri disitu kayak patung? Nggak mau ikut?” Risa refleks menerima kenyataan dan mengikuti persiapan di pagi hari.

Mama mengulum senyum. Sesekali mama mengecek tasnya yang di dalamnya barang-barang diperlukan.

“wah….banyak sekali orang ganteng disini”kata mereka bertiga.“tobat,tobat. Ingat masih ramaadhan nih.”kata mama memperingati tingkah laku sang anak.

“hehehe”kata mereka bertiga tersipu malu dang canggung. Mereka pun memasuki mall yang dimana memiliki toko-toko terkesan mewah,elegan dan sangat beragam. Risa melihat event Anime diujung toko lantai 3,Riri mengecek toko buku yang lagi diidamkan selama ini sedangkan Rima menatap kedua kakaknya tidak ambil pusing. Tangan mungil milik Rima memegang erat lengan baju blouse putih mama. Mama menelpon Risa dan nada telponnya terus berdering. Tidak terjawab, Hanya nada yang mengatakan kalau Risa tidak menanggapi Mama sedang khawatir.

Beberapa jam kemudian mereka pulang. Mama menghelas nafas berat. Pasalnya uang yang mereka tabung mulai sedikit dengan membeli baenda-benda seperti kaset/lagu anime dan film drakor yang completed. Mama mengambil hp lalu menekan aplikasi Grab dan mengklik GrabCar. Riri menggerutu tidak sabaran di depan parkir yang luas.

Orang-orang yang lalu lalang tidak ditanggapi Rima yang mode cemberut dewa tingkat tinggi. Manusia tidak pernah berubah, Pikiran Mama di dalam pikirannya. Rima  melihat pengemis meminta minta dan membawa bayi dalam dekapan gendongnya. Padahal cuacanya sangat ekstrem dan selalu berubah-ubah.

Rima  pun kesana.

“bapak butuh uang? Sudah berapa lama bapak tidak makan?” Tangan Rima terulur pelan. Mata hitamnya melihat sekilas bayi berumur 6 bulan itu badannya panas dan berkeringat.

“iya dek belum makan sebulan dan anak saya sakit. Mana ada uang jatuh dari langit untuk membayar obatnya.”kata pengemis itu memegang perutnya.

“yaudah ini saya kasih uang 10.000 nya pak. Maaf ya pak punya saya cuma segini. “kata rima sembari tersenyum tulus. Peningkatan mood nya berubah turun seperti biasa.

“makasih ya dek mudah-mudahan rezeki adek bertambahnya dek “kata bapak itu melihat uang yang disedekahkan sama Rima. Rima menanyakan apakah cukup atau tidak walau dia tahu itu tidak seberapa.

“cukup dek”kata bapak lalu pergi meninggalkan gang sempit di sebelah Mall.

Leave a Comment

Your email address will not be published.