Tak Berujung

Oleh: Pipin Veronika

Perkenalkan namaku Nadin Anggraini sekarang aku sedang berada di sebuah kafe bersama suamiku. Suamiku bernama Revan Anggara dia bekerja di salah satu perusahaan swasta di kota ini. Aku berbeda tempat kerja dengan suamiku namun kantor kita saling berdekatan. Aku tidak akan menceritakan bagaimana kita bisa menjadi suami istri mungkin akan menjadi sebuah buku yang sangat tebal.

Hari ini suasana senja begitu indah terdengar sayup-sayup adzan mulai berkumandang menandakan waktu berbuka telah tiba. Aku meminum minuman yang telah aku pesan tadi. Terasa sangat melegakan tenggorokan akhirnya puasa hari ini telah berakhir. Rasa syukurpun selalu kami ucapkan atas kelancaran puasa ini sampai akhir. Iya hari ini adalah puasa hari terakhir besok seluruh umat islam sudah merayakan hari kemenangan termasuk aku.

“Kok teman mas belum datang?” Aku sedikit mengerutu katanya mau berbuka bersama namun sampai jam segini belum juga datang.

“Sabar dong sayang masih di jalan nih katanya kena macet.”

“Ya udah deh kita pesan makanan dulu. Sudah lapar banget soalnya.”

“Ya udah panggil sana.”

“Mbak.” aku melambai memanggil pegawai kafe ini.

Akupun memesan makanan sedikit banyak. Enggak tahu kenapa aku sangat nafsu makan beberapa hari terakhir. Setelah memesan beberapa makanan aku ingin ke toilet dulu mau merapikan dandanan yang sudah sedikit berantakan sebelum teman suamiku datang.

Saat aku kembali ke meja tadi di sana sudah ada satu orang yang bergabung. Mungkin itu teman suamiku yang tadi mengajak jajian untuk berbuka bersama. Aku pun bergegas ke sana nggak enak kalau mereka sudah menunggu lama makannya pun sudah tersedia di atas meja. Apa aku tadi ke toilet sangat lama.

“Emmm maaf lama nunggunya.”

“Ow iya nggak apa-apa. Mbak Nadin?” dia sedikit tersentak menatapku. Dan apa tadi dia tahu namaku. Mungkinkah aku kenal sama dia tapi dimana aku kok lupa.

“Lho kamu sudah kenal sama istriku Arya?” tanya Revan ke dia dengan nada sedikit cemburu.

“Ini aku Mbak, Arya dari panti Kasih Ibu. Mbak masih ingat kan?”

“Ow kamu dari panti Kasih Ibu. Ow iya aku ingat kamu Arya yang pintar banget itu kan?”

“Mbak bisa aja.”

“Sebentar-sebentar gimana kalian bisa kenal?”

“Emang aku belum cerita sama kamu soal panti itu.”

“Pernah sih tapi aku lupa.”

“Kalau gitu aku cerita deh sambil mengingat masa lalu. Gini ceritanya…”

***

Waktu itu matahari hanya menyisakan senja di ufuk barat. Aku masih setia menyusuri perkampungan kumuh di pinggir kota itu. Sekitar lima tahun yang lalu aku masih duduk di bangku kuliah semester 4. Saat itu bertepatan dengan libur awal puasa, aku menyusuri kampung itu dengan lesu. Saat aku berjalan tanpa tujuan aku melihat ada sekitar 10 anak-anak sedang berisik bernyanyi dengan alat seadanya menciptakan nada-nada yang tidak beraturan. Aku pun menyapanya kenapa sore-sore begini masih berkeliaran di luar rumah padahal waktu berbuka sudah mau tiba.

“Hai kalian sedang apa? Kakak boleh gabung nggak nih?”

“Sedang latihan nyanyi kak.” Kata anak yang di ujung.

“Boleh kak gabung saja”  lanjut anak berambut keriting.

“Latihan nyanyi buat apa?”

“Buat ngamen kak.”

“Ow gitu. Kalian sekolah dimana?”

“Kami tidak sekolah.”

Aku sedikit tersentak kenapa masih ada anak-anak yang tidak sekolah. Padahal sekolah itu sangat penting untuk menata masa depan. Hatiku tersentuh untuk membantu anak-anak ini bisa membaca dan menulis meskipun mereka tidak mengenyam pendidikan di bangku sekolah setidaknya mereka bisa membaca dan menulis. Aku pun merangkul mereka sedikit air mataku menetes aku merasa kasihan dengan mereka.

“Gimana kalau kalian belajar membaca dan menulis sama kakak, kalian mau?”

“Nggak usah lah kak kita ngamen saja.”

“Kakak beneran lho. Kakak ingin kalian semua bisa sukses di masa depan. Kalian juga masih bisa ngamen kok, gimana?”

“Boleh juga sih kak. Gimana teman-teman kalian mau kan?”

“Iya deh yang penting kita masih bisa ngamen.”

“Iya betul itu.”

“Kita mau kak.” Jawab mereka dengan kompak.

“Ya sudah besok sore kakak kesini lagi ya. Kalian selalu kumpul di sini kan?”

“Iya kak.”

Tidak berapa lama kemudian suara adzan berkumandang saling sahut menyahut begitu merdu. Aku pun mengajak mereka untuk berbuka di warung tenda sebrang jalan. Anak-anak itu begitu semangat saat tahu kalau mau aku traktir. Kamipun bercanda bersama tidak terasa sudah begitu lama aku dengan mereka aku harus pulang dan merencanakan bagaimana mengumpulkan buku-buku untuk mereka besok.

***

Keesokan paginya aku menemui beberapa temanku yang tadi malam aku kirim chat ke mereka untuk membantu mengumpulkan beberapa buku untuk anak-anak itu. Hari ini aku masih libur jadi bisa bebas berkeliling mencari buku-buku yang sudah tidak terpakai. Cuacapun tidak mendukung, hari ini sungguh cuaca sangat terik sekali membuat tenggorokanku kering.

Sore harinya aku datang ke tempat mereka kemarin berkumpul. Ternyata benar mereka selalu berkumpul di tempat itu. Aku pun langsung menghampiri mereka. Terlihat mereka sangat bersemangat meski ada sedikit guratan lelah di wajah mereka.

“Hai semuanya sudah siap?”

“Siap kak.” Jawab mereka dengan kompak.

“Sebelum mulai kakak ingin membagikan buku ini satu persatu jangan berebut ya. Ayo berbaris yang rapi terus kakak bagikan.” Mereka mengikuti instruksiku aku pun membagikan buku itu satu persatu.”Sebelum dimulai kakak ingin memperkenalkan diri dulu. Nama kakak Nadin Anggraini panggil saja kak Nadin. Di sini kakak akan mengajari kalian cara membaca dan menulis. Selanjutnya kalian perkenalkan diri kalian satu persatu supaya kakak mudah memanggil kalian dimulai dari sebelah kanan.” Mereka satu persatu memperkenalkan diri satu yang aku ingat dia Arya orangnya sangat cepat dalam menerima pelajaran dari anak-anak yang lain. Dia selalu aktif bertanya apa yang belum dia ketahui. Bukannya aku memuji dia berlebihan tapi aku begitu memahaminya karena dia selalu dekat denganku. Suatu hari dia bertanya sesuatu yang bisa membuatku menangis. Saat aku sedang duduk di pinggir jalan yang rindang tiba-tiba di duduk di sebelahku.

“Kak boleh aku tanya sesuatu?”

“Boleh, kamu mau tanya apa?”

“Gimana sih kak rasanya punya orang tua?” saat itu aku sangat bingung bagaimana caraku untuk menjawab pertanyaan tanpa membuat dia bersedih.

“Emmm… bahagia. Tapi kamu jangan sedih kakak tahu kamu pasti ingin mempunyai orang tua. Tapi percayalah sama kakak pasti orang tuamu sangat sayang sama kamu.” Aku merangkulnya untuk memeberikan sedikit ketenangan.

“Tapi kenapa mereka membuangku berarti kan mereka tidak sayang sama aku kak?” dia menangis sesengukan.

“Mungkin mereka punya alasan kenapa tidak merawatmu. Kamu kan sudah punya ibu panti anggaplah itu orang tuamu. Jangan bersedih kamu di sini punya banyak teman-teman yang sayang sama kamu kakak di sini juga menyayangimu. Jangan kawatir kamu tidak akan sendiri.”

“Tapi aku ingin merasakan kehangatan pelukan orang tua.”

“Kakak juga ingin dipeluk orang tua kakak, tapi itu juga tidak mungkin… orang tua kakak sudah berada di surga.”

“Jadi kita sama kak. Iya kak aku tidak akan bersedih lagi aku percaya sama kakak aku masih punya banyak kawan-kawan yang menyayangiku.”

“Gitu dong semangat kita harus bahagia.”

“Semangat juga kak. Ayo kak ke sana kita main sama-sama.”

Aku pun menghilangkan kesediahku dengan bermain bersama anak-anak itu. Tertawa adalah salah satu cara untuk melupakan sejenak masalah yang sedang menghampiri. Bahagia bisa mengenal mereka.

Beberapa tahun kemudian mereka sudah lancar membaca dan menulis. Aku juga sudah menyelesaikan pendidikanku. Begitu berat meninggalkan mereka tapi bagaimana lagi aku mendapatkan pekerjaan di luar kota. Setelah aku tidak mengajari mereka ada Kinan adik tingkatku yang ingin melanjutkan untuk mengajari mereka. Aku sangat berterima kasih ke Kinan yang telah bersedia untuk melanjutkannya. Dan setiap tahunnya murid di tempat itu semakin bertambah. Aku dapat informasi terakhir katanya mereka semua sudah di pindahkan ke sebuah yayasan. Aku tidak menyangka dari sebuah kepedulian membuat mereka sekarang bisa mengenyam pendidikan yang memadai.

“Dan sekarang kamu jadi orang yang sukses. Gimana ceritanya?” aku bertanya dengan penuh penasaran ke Arya.

“Waktu kakak harus meninggalkan kami. Aku sangat kehilangan sosok kakak, aku seperti nggak mau lagi untuk belajar. Tapi aku ingat pesan kakak untuk selalu giat belajar siapapun itu yang mengajari. Pengganti kakak waktu itu juga baik dia bisa merangkul kami untuk terus semangat mengejar cita-cita kami. Akhirnya aku semangat lagi dalam belajar. Ketika aku sedang ngamen aku bertemu dengan kakek-kakek yang ingin menyebrang jalan. Aku berusaha untuk membantunya, setelah aku bantu kakek itu malah menggapku seperti cucunya dan aku di suruh untuk ikut bersama kakek-kakek itu. Beberapa hari kemudia aku masih di rumah kakek itu ternyata kakek itu telah melakukan test DNA kepadaku dan hasilnya positif aku cucunya yang telah hilang. Sedangkan ke dua orang tuaku sedang terbaring koma di rumah sakit. Aku begitu terpukul mengetahui itu semua bagaimana takdirku seperti itu. Kemudian aku di sekolahkan ke yayasan milik kakekku aku mempunyai permintaan ke kakek untuk memasukkan teman-temanku ke yayasan tersebut dan ternyata kakekku mengizinkan.”

“Berarti yang memasukkan mereka ke yayasan itu kamu. Aku salut sama kamu, kamu masih memikirkan teman-teman kamu.”

“Aku telah menganggap mereka seperti saudaraku.”

“Terus bagaimana keadaan orang tuamu sekarang?”

“Masih koma di rumah sakit kak, semoga Tuhan mendengar doaku dan menyadarkan ke dua orang tuaku meskipun itu hari terakhirnya.”

“Iya semoga. Kamu harus kuat jalani semua ini mungkin ini adalah takdirmu.”

Setelah bercerita ini itu aku begitu merasa tubuhku lemas dan sedikit pusing. Padahal aku sudah makan begitu banyak kenapa tubuh ini masih lemah. Saat aku ingin izin ke toilet tiba-tiba aku pingsan.

“Selamat ya kak.” Arya masuk ke ruanganku katanya suamiku sedang mengurus biaya administrasi.

“Buat?” aku sedikit bingung kenapa Arya mengucapkan selamat padahal aku sedang sakit apa aku hamil.

“Kakak hamil.”

“Beneran?”

“Iya kak masa aku bohong sih.”

Aku bahagia banget mengetahui kabar ini. Ini adalah momen yang sangat aku nantikan dan sekarang baru mendapatkannya. Drt..drt..drt suara handphone bergetar aku mencari-cari mungkin itu punyaku ternyata itu bunyi handphone Arya.

“Aku angkat dulu ya kak..” dia pergi menjauh. Setelah selesai menelpon dia kembali ke ruanganku.

“Kak ibuku sadar aku akan pergi ke rumah sakit orang tuaku dulu ya kak.”

“Syukurlah. Iya kamu hati-hati ya.” Dia langsung berlari meninggalkan ruangan ini dengan wajah yang terlihat bahagia.

Leave a Comment

Your email address will not be published.