Tangan yang Mengubah

Oleh: Rafi Pratama

Suara azan pun berkumandang, menandakan waktu magrib telah masuk, sekaligus menandakan waktu berbuka puasa. Ini adalah hari pertamaku berpuasa di bulan suci ramadhan. Aku adalah seorang mualaf yang baru beberapa bulan yang lalu masuk islam, aku menjadi mualaf bukan karena ikut orang tua, tetapi berdasarkan keinginanku sendiri, aku mendapat hidayah, dari sang Khaliq, Allah Swt.Omong-omong namaku adalah Thonny Landries, tetapi semenjak aku menjadi seorang muslim, namaku langsungku ubah, menjadi Nur Al-Fajr, yang berarti “cahaya fajar”, tetapi aku lebih akrap di panggil Al atau Ali. Ke-2 orang tuaku juga menjadi muslim, ketika mereka menyadari kalau agama Islam itu adalah agama yang benar-benar indah dan membawa cinta serta perdamaian, dan tidak seperti padangan kami pertamanya.Hari pertamaku berpuasa ku jalani dengan hal-hal yang positif, aku mengikuti kegiatan pesantren-pesantren di masjid terdekat. Dari sana pengetahuanku tentang islam semakin lama semakin berkembang, tetapi kenapa remaja yang berasal dari keluarga islam asli dan menjadi islam sejak lahir tidak begitu baik prilakunya, mereka tak baik di pandanganku, suka berkelahi, suka membuli, berkata-kata yang kasar serta membicarakan hal yang seharusnya tidak mereka bicarakan, tetapi masalah buli adalah masalah nasional bangsa Indonesia, jadi buli memang biasa di kalangan remaja Indonesia.

Beberapa orang remaja, terutama remaja yang laki-laki di sana tidak menyukaiku, terutama karena aku adalah seorang mualaf, yang masih baru.Mereka terkadang merundung dan menghina agama pertama yang ku peluk, tetapi aku hanya bisa bersabar, karena sabar itu adalah hal yang baik, dan sabar tidak memiliki batas, dan jika ada orang yang mengatakan kalau sabar ada batasnya, berarti orang itu kurang beriman. Aku ingin sekali membalas semua kata-kata mereka, tetapi itu adalah dosa, lagi pula ini adalah bulan ramadhan, jadi tak baik jika membuat nilai puasa berkurang, apalagi sampai batal. Aku hanya bisa berkata di dalam hati saja, walaupun ku rasa itu juga menimbulkan dosa. Aku biasanya membalas mereka di dalam hati dalam bentuk penilaia, yang pertama adalah mereka yang membuliku, berasal dari keluarga yang…. poor atau berekonomi di bawah standar, orang tua mereka saja mungkin masih minjam-minjam atau minta-minta uang sama orang yang berekonomi di atas standar, tetapi anaknya malahnya menjadi preman, seperti orang yang tak tahu diri. Hal yang ke dua, um…, maaf yang ini terlalu menghina, yang ke dua adalah fisik. Mayoritas dari mereka itu adalah orang-orang yang berkulit gelap, berjerawat dan gusi hitam, mungkin itu menandakan kalau mereka itu adalah perokok. Hal yang ke tiga, pengetahuan tentang islam mereka kurang, aku yang baru 9 bulan masuk islam, sudah di bilang sudah mantap oleh ustadz yang membimbing pesantren ramadhan, jauh lebih mantap di bandingkan anak laki-laki disana yang sudah sering mengikuti pesantren, tetapi tidakpernah tidak pernah berumah, malah menjadi semakin lama semakin meningkat prilaku atau akhlak buruk mereka.Selama bulan ramadhan, aku selalu melakukan hal yang baik-baik, seperti mengaji, shalat sunah di perbanyak, selain itu, sedekah juga tak lupa. Aku sepulang pesantren, selalu di ajak oleh orang tuaku ke panti asuhan maupun jompo. Di sana, aku bersama dengan ke dua orang tuaku, membagi-bagikan makanan, kami selalu membagi-bagikan setiap harinya 40% rezeki yang kami dapat kepada orang-orang yang membutuhkan, karena kami tahu, di dalam rezeki besar yang kami dapatkan terdapat hak untuk mereka yang kurang mampu, jadi aku dan orang tuaku hanya melakukan kewajiban kami sebagai muslim.

Pernah ada satu kejadian di dalam hidupku, yang-ku anggap itu sebagai tantangan. Pada hari itu seusai pesantren, yaitu seusai shalat ashar, aku pergi ke panti asuhan bersama dengan temanku, Ridwan. Ridwan adalah seorang muslim yang dari lahir memang muslim dan orang tuannya adalah muslim asli, tidak sama denganku. Sebelum kami pergi ke panti asuhan, aku dan Ridwan pergi ke rumahku dulu, untuk mengambil semua barang-barang yang akan kami bawa, dan hal yang akan kami bawa adalah ratusan nasi kotak. Aku dan Ridwan pergi ke panti asusan dengan menggunakan mobil pribadi milik keluargaku, kami hanya pergi berdua, dengan aku yang menyetir.Sesampainya aku dan Ridwan di panti, kami langsung keluar dari dalam mobil, kami langsung masuk ke dalam panti dan bertemu dengan pengurus panti. Pengurus panti tidak berbasa-basi, karena ia sudah tahu maksud kedatangan aku dan juga Ridwan ke panti, yaitu memberikan makanan gratis kepada penghuni panti, taka da basa-basi itu, aku hanya bisa tersenyum manis saja. Aku dibantu oleh beberapa orang pengurus panti, aku dan mereka mengangkut makanan, berupa nasi kotak yang telah complete isinya. Di saat urusanku dan Ridwan telah selesai di panti asuhan tersebut, tiba-tiba saja aku melihat Doni.  Doni adalah  seorang siswa yang satu sekolah denganku dan juga Ridwan, sekaligus merupakan santri yang satu pesantren denganku. Dia sangat terkenal dengan mulutnya yang selalu berdusta dan tentunya ia sangat nakal. Lalu aku berfikir, apa yang dilakukan si pendusta itu di panti? Apa dia juga melakukan hal yang baik, seperti yang banyak orang-orang lakukan di bulan ramadhan, lalu aku bertanya kepada Ridwan, tentang hal apa yang ia lakukan di panti asuhan tersebut, lalu Ridwan menjawab kalau Doni adalah penghuni panti, orang tuanya bercerai, dan mereka juga tak mau mengurus karena sifat Doni yang begitu “buruk”, jadi orang tuanya memasukannya kepanti asuhan, hal itu terjadi 9 tahun yang lalu, dan semenjak 9 tahun itu, orang tuanya tidak pernah terlihat.Mendengar semua hal yang di jelaskan oleh Ridwan, langsung membuatku mendapatkan senjata untuk melawan Doni ketika ia akan mengejekku. Kedengarannya Doni itu orang yang paling tidak tahu diri, sudah anak panti, nakal, akhlak buruk dan nilainya juga banyak yang anjlok, dan juga ia jarang puasa, ia sering ketahuan merokok di sekolah, jangankan di sekolah, di masjid, ia juga berani merokok, walaupun itu di wc, bukan di tempat yang terbukannya.Jika aku mengejeknya juga, itu berarti aku tidak ada bedanya dengannya, jadi lebih baik aku bersabar saja ketika ia mengejekku.Aku dan Ridwan pun pulang, lalu setelah itu azan magrib pun berkumandang, kami pun berbuka puasa dengan hal-hal yang manis. Singkat cerita, pada saat tharawih, aku bertemu dengan Doni, ia seperti biasanya mengejekku dengan mengejek agama pertamaku, aku hanya diam saja, pada saat itu aku sedang bersama Ridwan dan juga beberapa temanku, seperti Habib, Falah dan juga Fauzan, Ridwan hanya menyuruhku untuk tetap sabar. Seusai tharawih, aku bertemu dengan Doni, lalu seperti biasa lagi, dia mengejekku dengan ejekan yang sama, tetapi dengan cara yang lebih menyakitkan, lalu aku pun lepas kendali dan mengatakan kata-kata menghina, tetapi ku ucapkan dengan manis, “yang penting aku masih punya orang tua yang sama dengan ku, keluarga terhormat yang terdidik, bukan anak buangan. Sampah.”, mendengar kata-kata itu, teman-temanku langung terkejut, mereka nampaknya tak percaya dengan hal yang barusan ku katakana, madu yang beracun, manis tetapi mematikan, mungkin itu hal yang tepat untuk di katakana untuk kata-kataku tadi, walaupun aku tahu itu adalah kenyataan yang begitu menyakitkan untuk di dengarnya. Doni pun langsung marah mendengar aku berkata seperti itu, ia langsung melayangkan tinjunya ke arahku, tetapi ia tidak tahu kalau aku ini anak sangar bela diri, jadi aku langsung menahan tinjunya dengan tangan kiriku, sedangkan tangan kananku sedang fokos memegang Al-Qur’an, aku pun melempar tangannya, dan langsung pergi dari sana bersama dengan teman-temanku. Aku rasa mulutku memang berbisa juga, tetapi itu baru pertama kalinya hal itu aku lakukan di dalam hidupku, dan aku menjadi merasa bersalah pada Doni, karena aku baru saja menzolimi anak yatim, dan itu adalah dosa besar, tetapi apakah anak yatim seperti dia juga berdosa kita jika melawannya, anak yatim yang tak tahu diri. Apakah ia tidak tahu dari mana asalnya makanan buka puasa yang ia makan belakangan ini, apa makanan itu jatuh dari langit dan masuk ke dalam panti? Tidak.  Aku tidak ingin membuka banyak lagi kenyataan, karena kebanyakan kenyataan yang aku tahu adalah hal yang menyakitkan menurutnya, orang yang sering ia ejek adalah orang yang sering bermurah hati kepadanyaa setiap hari.

Esok harinya di masjid, aku dan teman-temanku pesantren, kami pesantren dari zhuhur ke ashar. Selama pesantren aku sering melihat Doni, di saat aku melihatnya, aku selalu melihatnya menatapku dengan tatapan marah atau tatapan menantang, tetapi aku lengah saja, menganggap dia itu tidak ada. Sepulang pesantren, aku bertemu dengannya, ia nampaknya sangat marah sekali, aku yang tak ingin mencari masalah langsung menghindar, bukan karena takut, tetapi karena aku tak ingin membuat puasaku batal. Tetapi di saat aku menghindar, dia malah memukulku di bagian kepala belakangku, aku langsung memegang kepalaku, karena rasanya memang cukup menyakitkan. Di  saat ia akan memukulku lagi, tiba-tiba saja seorang pengurus masjid yang sering di panggil buya pun datang, aku tidak membalas pukulan Doni, karena aku tahu yang baik akan mendapat perlindungan dari manapun. Di saat buya datang ia langsung melerai Doni dariku, ia menjauhkan Doni dariku, dan langsung menasehatinya dengan nada keras awalnya. “Doni! Kamu ngapain?!” tanya pak ustadz kepada Doni, “Dia yang mulai duluan..” Doni mencoba membela diri. “Maaf, bukan saya yang mulai duluan, tetapi dia, setiap kali saya lewat tanpa didepannya, dia selalu menghina saya, dengan hinaan yang kasar, lalu saya mengatakan kebenaran, seorang anak buangan, itu baru pertama kali saya membalas ucapan kasarnya, apa itu perlu ia permasalahkan?” kataku yang mengatakan kebenaran yang menyakitkan kembali. “Ali.. kamu jangan begitu…, kamu harus banyak bersabar… ini di bulan ramadhan, tidak baik kamu seperti itu.” “Dasar (agama) aneh!” “Doni! Mulut kamu itu yang salah, Ali ini jauh lebih baik dibandingkan kamu, dia orang baik, akhlaknya bagis, pintar, Al-Qur’an-nya jauh lebih lancar dari pada kamu.., kamu memang islam asli, sedangkan Ali hanya mualaf, tetapi Ali pengamalan agamanya jauh lebih baik, ia benar-benar mengamalkan apa yang diajarkan islam.” “Sudah pak, tak perlu di besar-besarkan, sebentar lagi mau buka puasa, nanti puasa bapak bisa batal.., lagi pula sebentar lagi, Ali mau mengantarkan  nasi kotak gratis lagi ke panti asuhan AL-Furqan. Lagi.” Mendengar kataku tadi, langsung membuat Doni sedikit kaget, karena ia mengerti dengan kata “lagi” yang keluar dari mulutku tadi. “Jangan bilang kamu kalau kamu yang datang pakai mobil putih kemarin.” “Memang, aku dan Ridwan, pakai mobil putih, mengantar nasi kotak grastis kemarin.” “Makanan haram” “Oh. Tidak, itu makanan halal.” Doni seakan tak terima dengan kenyataan itu, lalu ia pergi menjauh sambil beberapa kali mengusap perutnya. Aku tahu pasti Doni tidak bisa terima hal itu, karena orang yang ia benci merupakan orang yang begitu baik, tetapi ia tidak bisa mengubahnya, karena itu adalah kenyataan.Aku tetap akan mengantar nasi kotak sore itu ke panti asuhan tempat Doni tinggal, aku akan terima saja jika hal buruk akan terjadi padaku, walaupun aku harus mendengar kata-kata kasardari mulut Doni lagi. Singkat cerita, pada saat aku sampai di panti asuhan yang di tinggali Doni dengan mengendarai mobil, aku langsung memberikan semua nasi kotak yang ada di dalam mobil kepada pengurus panti, setelah itu, aku pun kembali ke mobil dan hendak pulang. Di saat aku hendak pergi, tiba-tiba saja aku mendengar suara seseorang memanggil namaku, itu berasal dari  belakangku, dan ternyata orang yang memanggilku itu adalah Doni. Aku tentunya tidak akan berkata kasar kepadanya, karena aku tidak sama dengannya, aku hanya berbasa-basi dengan manis saja kepadanya, “Ada apa Don?” tanyaku sambil tersenyum, “Li…, a.. a…aku mau minta maaf.” “Apa?” “Aku mau minta maaf sama kamu.., selama ini aku selalu jahat sama kamu, padahal kamu itu orang yang sangat baik, mungkin jutaan kali lebih baik dibandingkan aku.” “Lupakan saja, lagi pula itu memang hal biasa, by the way, aku juga minta maaf apa yang-ku katakan kemarin.” “Tidak apa-apa, lagipula itu memang kenyata, walaupun hal itu menyakitkan.” “Ya” “Jadi.., kita baik?” “Ya.” Lalu setelah itu, aku dan Doni pun berteman, walaupun Ridwan membisik kalau ini hanya tipu daya Doni semata untuk mendapat makanan gratis, tetapi aku hanya tetap berfikir positif saja, karena tak baik menuduh yang bukan-bukan, karena itu adalah dosa.

Jadi.., pada akhirnya, Doni meminta maaf padaku, kini ia menjadi temanku dan memperbaiki segala akhlaknya, selain itu, keajaiban terjadi, orang tuanya rujuk dan mengambil Doni kembali dari panti asuhan. Aku rasa kebiasaan keluargaku yang sering memberi sumbangan kepada panti-panti telah membuat pandangan banyak orang berubah terhadap keluargaku, termasuk Doni, yang dulunya sifatnnya tidak baik, menjadi jauh lebih baik. Jadi, jika  anda adalah benar-benar seorang muslim, maka bertingkahlah seperti orang muslim yang sesungguhnya, jangan hanya mengaku islam saja, tanpa menjalankan tugas islam, tidak ada gunanya jika hanya islam di stasus saja di pakai, hati tidak menerimanya, dan jalan hidup akan selalu menyimpang.

Leave a Comment

Your email address will not be published.