Warung Pak Supat

Oleh: Adi Lawe

Jika suatu waktu kau berkunjung ke desa ini selagi matahari masih belum sempurna mengeluarkan semburat warna jingga yang kau juga pasti menyebutnya senja. Kau akan terperangah melihat hampir seluruh orang-orang berjalan lamban, silih berganti memadati warung Pak Supat, dengan wajah letih serta bibir-bibir mereka terlihat kering kerontang.

Ya, warung Pak Supat yang setiap harinya menyediakan Kopi Tubruk, Tahu Isi, Tempe Jaket, Goreng Pisang atau segala kebutuhan dapur lainnya, selalu ramai baik dari perempuan, anak-anak keci, serta laki-laki yang hanya bercerita sesuka hati. Terkadang hasil panen, kadang pula pemilihan gubernur, atau bercerita peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi di desa ini. walaupun ada sebagian orang-orang yang ujung-ujungnya mengatakan “Pak, hutang dulu ya?” jawaban Pak Supat selalu saja ‘Iya’ sembari menyunggingkan senyum, kemudian mencatatnya pada buku yang hampir penuh dengan daftar nama orang-orang yang berhutang dari hari ke hari.

Akan tetapi pagi ini warung Pak Supat tertutup rapat-rapat, bahkan tak ada tanda-tanda warung itu sebentar lagi akan terbuka. Hanya ada beberapa orang-orang yang berlalu lalang untuk pergi ke ladang atau entahlah mereka akan kemana? Selebihnya warung yang berhimpitan dengan rumah Pak Supat itu terlihat sepi.

Tidak ada kejadian-kejadian aneh di pagi ini, semisal Pak Supat tiba-tiba saja mati, matahari tak lagi terbit dari timur, atau warung Pak Supat di segel karena kasus korupsi. Tidak. Semuanya berjalan sebagaimana biasanya. Namun, pagi ini kau tak akan menemukan orang-orang yang sedang merokok, meminum kopi di warung-warung, atau aroma masakan yang menyeruak dari dapur setiap rumah.

Di Surau-Surau kau akan mendapati beberapa anak remaja yang tengah mengikuti pengajian Kitab kuning, dari ketika matahari terbit hingga siang hari. Meski pada wajah-wajah mereka tampak goresan-goresan ke lelahan yang sangat, namun, setiap hari mereka akan tetap mengikuti pengajian Kitab kuning.

Sementara di Surau-Surau lainnya, kau pun akan mendapati anak-anak kecil, juga remaja yang sedang membaca Al-quran dengan suara sedemikian rupa, terkadang lembut, serak, atau ada yang masih tersenggal-senggal perlu untuk dibimbing.

Aroma masakan hanya akan tercium ketika sore menjelang, warung-warung di berbagai sudut desa ini juga akan terbuka, menyediakan segala kebutuhan untuk berbuka puasa.

Sebagaimana ceritaku tadi, kau akan terperangah melihat hampir seluruh orang-orang di desa ini silih berganti memadati warung Pak Supat. Mereka kebanyakan adalah perempuan dan anak-anak. Mereka datang bukan untuk membeli beberapa kebutuhan berbuka puasa. Namun mereka silih berganti untuk menerima takjil yang dibagi-bagikan di warung Pak Supat setiap hari pada bulan Puasa.

Tidak hanya itu, kau juga pasti akan menemukan beberapa buah-buahan atau gorengan setiap malam, setelah selesai salat tarawih yang di berikan cuma-cuma.

“Apakah Pak Supat orang kaya?” barangkali tanyamu tiba-tiba saja begitu.

Tidak. Pak Supat bukan orang kaya, dia sama dengan ke banyakan orang-orang di desa ini. Tidak punya rumah mewah, tanah luas dengan mobil berderet di depan rumah. Tidak. Pak Supat adalah orang yang biasa-biasa, namun memiliki kedermawanan hati yang tak dapat semua orang lakukan.

“Apakah dia tidak rugi membagi-bagikan takjil pada hampir semua orang-orang di desa ini?” lagi-lagi tanyanmu, mungkin kau masih belum percaya.

Ah, orang sepertimu ini terlalu dangkal pengetahuan. Tidak tahu bagaimana seharusnya menikmati pemberian Tuhan? Tidak tahu bagaimana rasanya kebahagiaan ketika memberi? Tanpa harus Pak Supat beritahu, dia setiap hari pasti menyisihkan penghasilannya ketika menjual segala macam di warungnya untuk bulan Puasa. Apalagi di bulan itu Tuhan akan melipat gandakan segala macam bentuk kebaikan.

Barulah kau sempat mengenalku ketika kau baru saja hampir menyelesaikan membaca cerita ini.

Ya, akulah salah satu orang-orang di desa ini yang sempat mencertikan semua ini pula ke padamu. Ketika itu, pada  bulan Puasa di tahun lalu, aku sedang berkeliling untuk membangunkan orang-orang untuk sahur. Saat itulah tanpa segaja aku melihat sekelebat cahaya dari langit yang melesat menuju warung Pak Supat. Entahlah, barangkali benar kata Ustaz ketika aku mengikuti pengajian Kitab kuning, bahwa cahaya itu adalah cahaya Lailatul Qadhar yang di turunkan di bulan puasa penuh berkah.

Leave a Comment

Your email address will not be published.