cerpen

Mengalun Adzan di Kolong Jembatan

Oleh: Aldy Pratama Kulihat mentari itu masih bersinar di ujung tombak langit. Sementara kulihat seorang wanita memapah bayinya, di dekat toko roti Kota Cemoro. Kuamati dengan seksama bagaimana ia duduk tersimpuh memandang angkasa. Berlinang peluh dan berhiaskan wajah yang pucat pasi. Sesekali sembari menyeka air mata bayinya, ia juga sibuk dengan mengusap air matanya sendiri. Merasuk […]

Mengalun Adzan di Kolong Jembatan Read More »

Warung Pak Supat

Oleh: Adi Lawe Jika suatu waktu kau berkunjung ke desa ini selagi matahari masih belum sempurna mengeluarkan semburat warna jingga yang kau juga pasti menyebutnya senja. Kau akan terperangah melihat hampir seluruh orang-orang berjalan lamban, silih berganti memadati warung Pak Supat, dengan wajah letih serta bibir-bibir mereka terlihat kering kerontang. Ya, warung Pak Supat yang setiap

Warung Pak Supat Read More »

Kekuatan Sedekah

Oleh: Lina Triwahyuni Dua minggu lalu kunikmati lembutnya sinar purnama dibawah naunagan jembatan perkasa. Sinarnya mempesona memanjakan netra seraya membuaiku memberikan semangat untuk merealisasikan impian. Aku ingin mengubah ironi itu menjadi kenyataan yang membanggakan. Walau dengan tangan yang kotor dan lemah tapi aku yakin pasti bisa menaklukkannya. Kini kidung merdu suara ayat-ayat suci ramai terdengar. Menjadi

Kekuatan Sedekah Read More »

Kado Kecil dari Tuhan, untuk Teh Ita

Oleh: Alfiyah Damayanti Ita Az-Zaki. Aku biasa memanggilnya dengan sebutan ‘teh ita’. Dia lebih tua dariku. Seorang wanita yang cerdas. Akhlaq yang baik. Selalu mengindahkan ajaran-ajaran agama. Puasa senin kamis tak luput dari jadwal mingguannya. Dia juga meraih juara pertama di kelas. Sayangnya. Ia tak berangkat dari keluarga yang bergelimang harta. Aku tau ketika ia menerima

Kado Kecil dari Tuhan, untuk Teh Ita Read More »

The Beuty of Sharing

Oleh: Irma Novi Damayanti Pukul 02.00 siang. Ruangan 6×8  ini ramai. Rapat penting. Begitu alasan Ketua OSIS tadi memanggil kami- yang tengah sibuk mendengarkan penjelasan guru, menuju ruangan 6×8  ini. Aku mendengus pelan saat itu. Lalu, dengan langkah gontai mengikuti Ketua OSIS yang sibuk memberikan penjelasan singkat tentang rapat hari ini. “Berderma di Bulan Ramadhan. Catat

The Beuty of Sharing Read More »

Safari Bus Ramadhanku

Oleh: Syailir Rohmah Ramadhan kini telah datang Tapi aku masih ada di negri orang Hanya sabar dan bisa bersabar Walau rindu menyiksa batinku Sungguh aku rindu keluargaku Saat ini saat seperti ini Apa lagi kan tiba hari fitri air mata tak terbendung lagi Nyanyian itu bergema ditelinga para penumpang bus, termasuk aku yang tepat berada di

Safari Bus Ramadhanku Read More »

Ramadanku Berkahku

Oleh: Ikhvi Manarotul Fatati Jika ramadanmu indah, aku yakin ramadanku lebih indah. Tidak perlu seberapa banyak materi yang kau beri, melainkan seberapa banyak keikhlasan yang kau berikan. Gema ramadan sudah terasa satu minggu sebalumnya. Di mana iklan sirup sebagai pertanda bahwa ramadan sebentar lagi. Sederhana namun istimewa. Apanya? Sahur… sahur…sahur… sahur. Saut paut orang mengucap kata

Ramadanku Berkahku Read More »

Pelangi Amal Ramadhan di Al Fatah

Oleh: Ivah Narianti Teringat tiga bulan lalu sebelum mesjid ini dibangun, aku melihatnya masih berupa pondasi-pondasi. Gemetar hati ini, ya Allah..Engkau wujudkan impianku untuk melihat rumahMu ada dilingkungan perumahan ini. Sudah lama aku perhatikan sejak kepindahanku ditahun 1994, hampir dua belas tahun aku perhatikan warga disini memang sangat guyub, damai dan saling hormat-menghormati, namun tak satupun

Pelangi Amal Ramadhan di Al Fatah Read More »

Mukmin Sejati Itu Dermawan

Oleh: Syinta Oktaviana R. Tolinggi “Besok sudah mulai puasa, Bu?” Tanya Humaira memastikan sambil membantu Ibu membawakan belanjaan sayuran yang baru saja dibeli dari tukang sayur keliling untuk persiapan sahur pertama nanti. “Iya, Nak. Besok umat Islam sama-sama akan menyambut kedatangan bulan yang selalu ditunggu-tunggu ini. Bulan yang di dalamnya terdapat banyak kemuliaan dan pahala yang

Mukmin Sejati Itu Dermawan Read More »

Mbah Misni

Oleh: Nurilla Kali ini, wajah Mbah Misni terlihat begitu lusuh. Tak menyapa siapa saja yang lewat depan rumah. Aku sendiri yang datang dari warung Miryah, tak disapa. Padahal, dia paling senang mengajakku mampir ke rumah berdinding gedhek itu. “Mbah kok sedih gitu?” sapaku ke Mbah Misni yang duduk di kursi rotan, di teras rumahnya itu. “Ah,

Mbah Misni Read More »